Demi Sarjana dan Suamiku

Aku wanita yang terlahir dari keluarga sederhana, Aku anak pertama dari 3 bersodara. Selepas SMA aku pergi merantau ke Ibukota dengan harapan dapat mendapatkan pekerjaan yang baik dan bisa membantu perekonomian orang tuaku di kampung yang harus masih membiayai adik-adikku sekolah. Di Jakarta aku tinggal di kost’an temen yang kebetulan sudah bekerja di sebuah pabrik di kawasan Industri di Jakarta.

Setelah sebulan lamanya menunggu akhirnya pekerjaan itu datang menghampiriku, setelah selama sebulan pula mengirimkan ratusan lamaran ke perusahaan-perusahaan yang di rekomendasikan temen-temenku. Alhamdulillah aku di terima di sebuah perusahaan Surat Kabar terkemuka di Ibu kota, walau cuma staff biasa tapi aku sangat bersyukur dengan rejeki ini.

Hari-hari yang aku jalani begitu bergairah, pagi-pagi aku sudah terbangun dan siap berangkat kerja, pulang sore, begitulah kegiatanku setiap hari yang di jalani. Aku begitu semangat menjalani kehidupan dan rutinitas selama ini, karena apa yang di cita-citakan untuk membantu kedua adikku bisa bersekolah akhirnya bisa terlaksana.

Dua tahun sudah aku menjalani pekerjaan ini, dan selama setahun terakhir aku sedang dekat dengan seorang laki-laki yang gagah, tampan dan kaya. Dia seorang pengusaha muda yang tekun, dan selalu merasa Optimis dalam menjalani kehidupan ini.

Pria tampan itu berulang kali menyatakan kekagumannya akan kecantikanku, parasku yang ayu, dan senyumku yang manis yang menurut pengakuannya bahwa dia itu benar-benar mencintaiku dan ingin segera menyuntingku untuk mau di jadikan sebagai istrinya.

Aku tidak yakin dengan niat laki-laki itu, mana mungkin seorang pria tampan, gagah dan tajir mau sama perempuan sepertiku, tapi laki-laki itu selalu meyakinkanku bahwa dia benar-benar ingin segera menikahiku.

Akhirnya aku percaya dan bersedia menjadi isterinya, dan Alhamdulillah akhirnya aku resmi menjadi isterinya. Aku tak lagi tinggal di Kost’an seperti dulu lagi, dan aku juga berhenti bekerja dari Perusahaan Surat Kabar itu. Suami yang menyuruhku untuk menjadi seorang ibu rumah tangga aja dan focus mengurusi suami dan keluarga.

Setahun kemudian aku dikarunia seorang putera yang tampan seperti bapaknya, anugerah terindah yang tuhan kasih buat keluargaku. Terasa lengkap sudah aku menjadi manusia, kini aku sudah menjadi seorang isteri untuk suami yang begitu mengasihiku, juga menjadi seorang ibu buat anakku yang tampan ini. Keluargaku hidup dengan berkecukupan, dan usaha suamiku Alhamdulillah semakin berkembang pesat, dan kini semakin tambah bekerja keras dengan kehadiran seorang putera di keluarga kami ini.

Tapi kehidupan gak selalu berjalan mulus bak mata air dari hulu sampai ke hilirnya, Jujur sebenarnya suamiku begitu menyayangiku, menerima aku apa adanya, menerima semua kekurangan dan kelebihanku. Tapi di mata sodara-sodara suamiku aku selalu di kucilkan, katanya aku tidak bisa beradaptasi ketika kumpul dengan keluarga besar suamiku. Mereka bilang aku tak berpendidikan dan tak selevel dengan keluarga suamiku yang rata-rata semuanya menyandang gelar sarjana, sedangkan aku hanyalah lulusan SMA.

Tapi aku coba bertahan dengan situasi ini, aku hanya bisa terdiam dan tak bisa apa-apa karena memang kenyataannya seperti itu, aku yang hanya terlahir dari keluarga sangat sederhana, sedangkan mereka keluarga suamiku semuanya terlahir dari keluarga terdidik.

Sebenarnya perlakuan itu sudah aku rasakan sejak aku nikah sama suamiku dulu, tapi semakin sini malah semakin gak nyaman aja kalo mendengar omongan kakaknya suamiku itu, dia bilang orang itu bisa di hargai karena pendidikannya bukan karena kecantikannya. Sakit banget rasanya hati ini, mendengar kata-kata seperti itu, aku juga mau punya gelar sarjana seperti mereka, andaikan aku terlahir di keluarga yang mampu mungkin aku juga bisa menyandang predikat sarjana itu.

Suatu hari adik suamiku datang berkunjung ke rumahku, kebetulan hari itu hari minggu. Melihat ada adik ipar aku langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan buat suami dan adik iparku sekalian. Sedangkan suamiku dan adiknya asik bermain dengan si kecil di ruang keluarga.

Setelah masakan siap, aku panggil suamiku dan adiknya untuk segera sarapan. Di sela-sela sarapan adik iparku nyeletuk, kak kenapa dulu gak kuliah? Coba kalo dulu kakak kuliah, pasti mama dan papa akan bisa lebih nerima kakak ini.

Selera makanku jadi hilang seketika, kejadian seperti ini sudah berulang kali bahkan lebih dari ratusan kali terdengar singgah di kupingku. Seketika aku menghentikan sarapanku, dan langsung ngelooyor masuk kamar sambil memangku si kecil.

Sebenarnya suamiku dari dulu sudah sering kali menyuruhku untuk kuliah, agar keluarganya bisa nerima aku, karena di keluarga suamiku, yang bukan sarjana hanyalah aku seorang. Suamiku selalu meminta dengan sangat agar aku mau kuliah, karena saking sayangnya dia sama aku, tapi aku selalu beralasan otakku tidak akan mampu lagi untuk kuliah, apalagi sekarang sudah punya anak semakin repot aja.

Malam harinya suamiku berkata lagi, agar aku mau kuliah supaya keluarganya lebih welcome sama aku, coba kamu cari kampus-kampus swasta yang kira-kira kamu bisa. Aku yakin kamu mampu dan pasti bisa ucap suamiku setengah memaksaku untuk kuliah.

Setelah kupikirkan beberapa saat dan harus mengikuti keinginan suami akhirnya aku bersedia kuliah, tapi dengan catatan waktu untuk keluarga tak akan bisa full seperti dulu lagi, dan suamiku pun mengerti dan bisa memahami catatanku itu.

Singkat cerita mulai bulan depan aku sudah mulai kuliah di sebuah kampus swasta ternama di Ibukota. Aku ambil kelas karyawan yang malam hari, karena kalo siang aku harus mengurusi si kecil yang lagi sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayangku. Aku selalu berangkat dari rumah setengah 6 sore, karena perkuliahanku di mulai setengah 7 malam sedangkan perjalanan dari rumah menuju kampus sekitar 1 jam.

Semester pertama aku harus tertatih-tatih dalam mengikuti mata kuliah ini, apalagi ketika si dosen sudah memberikan tugas rumah, hampir semua tugas yang di berikan dosen itu gak pernah aku kerjain. Sehinga semester pertama ada beberapa mata kuliahku yang dapat nilai D dan E sehingga mau tidak mau aku harus mengulangnya lagi.

Bebanku semakin menghimpit, Otakku terasa mau pecah membagi tugas rumah tangga dan mengikuti kuliah membuatku seperti orang stress. Kejadian itu terus berlanjut dan semakin parah lagi sehingga semester 2 kejadiannya persis sama dengan semester satu dengan nilai yg hampir semuanya anjlok.

Akhirnya aku bicarakan dengan suami, aku minta ijin agar aku berhenti kuliah aja karena aku benar-benar merasa tidak mampu menjalaninya, tapi suamiku bilang kamu jangan menyerah seperti itu, coba kamu cari jalan untuk mengatasi masalah itu… Tanya teman2mu di kampus siapa tau ada jalan keluarnya. Suamiku hanya ingin gelar sarjana dari diriku, agar aku bisa di terima di tengah keluarga besarnya.

Setelah sharing dengan suami, besoknya di kampus coba cerita sama teman, berkeluh kesah dengan hasil nilai mata kuliahku yang jeblok, temanku menyarankan untuk menemui dosen-dosen yang ngasih nilai anjlok tersebut.

Mendengar masukan dari temen, akhirnya aku memberanikan diri menemui dosenku, setelah ketemu dengan sang dosen aku bercerita minta bantuan beliau agar nilaiku bisa di bantu, tapi bapak dosen itu malah suruh menemuinya besok malam, akhirnya aku pamit tapi ada sedikit harapan, mudah2an bapak dosen bisa membantu nilaiku menjadi baik ucap hatiku saat itu.

Sesampainya di kampus keesokan malamnya aku langsung menuju ruangan TU, untuk bisa ketemu dengan sang dosen yang kemarin menyuruhku menemuinya, tapi sial si dosen gak datang malam itu, dan akhirnya aku memberanikan diri meminta nomor telpon ke bagian TU, setelah dapat aku coba langsung menghubunginya. Ketika telponku di angkat sama beliau, dosen itu malah suruh menemui dirinya di sebuah Hotel karena lagi ada seminar katanya.

Dengan terpaksa aku langsung meluncur ke sebuah hotel yang di bilangin tadi sama si dosen, sesampainya di hotel aku langsung menemui beliau. Terus si dosen menyuruhku masuk ke sebuah kamar dan dipersilahkan duduk, Aku duduk di sebuah kursi dekat ranjang. Aku berkata tolong bantu nilai saya pak, jangan sampai sampai saya harus mengulang mata kuliah Bapak. Dosen itu hanya tersenyum. Saya bisa membantu kamu, tapi apa kamu bisa juga membantu saya? Bilang si dosen balik bertanya. “Apa yang bisa saya bantu pak?” tanyaku lagi penasaran, si dosen mendekatiku dan langsung memelukku tanpa berkata apa-apa lagi.

Aku kaget setengah mati mendapat serangan mendadak seperti ini, Pak kenapa kok begini tanyaku lagi sambil mencoba meronta untuk melepaskan diri dari pelukan si dosen tadi. Tapi pelukan si dosen malah semakin kuat dan mencoba terus menciumku dari segala arah, aku terus meronta tapi tenaga si dosen malah semakin kuat, semakin aku meronta semakin kuat cengkeraman si dosen itu dan akhirnya aku terkulai lemas di pelukan si dosen itu. Setelah dosen itu puas menggagahiku dia berkata,” terima kasih ya, besok kamu lihat nilai mata kuliahmu lagi dan saya jamin kamu dapat nilai bagus.

Setelah kejadian di hotel, akhirnya si dosen itu merasa ketagihan dan dia minta aku melayaninya seminggu sekali kalo mau nilaiku bagus terus, dan aku tak bisa apa-apa dan hanya bisa menuruti kemauan si dosen itu agar aku tetap mendapat nilai yang baik.

Sialnya lagi si Dosen itu mungkin cerita kepada rekan-rekan sesama dosen, dan jadilah aku budak napsu para dosen setiap aku ke kampus. Aku di jadikan piala bergilir oleh dosen-dosen keparat itu, Mala mini dosen A, besok Dosen B dan seterusnya, tapi aku tak bisa apa-apa dan hanya bisa mengelus dada walau hati kecilku menangis pilu.

Aku hanya ingin menuruti keinginan suamiku agar aku bisa menjadi sarjana dan bisa di terima dengan baik oleh keluarga suamiku, walau aku harus jadi piala bergilir para dosen biadab itu.

6 Tanggapan to “Demi Sarjana dan Suamiku”

  1. Arthabudhi Says:

    orang kyak gitu kok bisa jadi dosen ya…..????mungkin dulu dia dapat titelnya dibela-belain ngejual istrinya…..!!!!
    jadi dosen tapi kok kelakuannya kayak binatang,….
    hahahaha,…..INDONESIA MERDEKA,,,,,

  2. ah ga asik akhir nya

  3. memang bkan cm 1/2 orang dinas pendidikan yg spti i2 bhkan bnyak skali,.

  4. Pemikiran yang sempit banget. Mau ngelayanin dosen bejat gitu demi sarjana. Kalo lo berusaha juga bisa kali dapet sarjana

  5. Tidak berpikir 2 kali. Ambil jalan pintass

  6. day tripper Says:

    jika anda ada di posisi si suami,dan mengetahui semua pengalaman si istri,pada akhirnya.
    Apa yang anda fikirkan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: