Dua tahun sudah musim ini tak berkemarau

Otakku buntu untuk kerasnya berpikir
Otakku terus berdenyut hentakkan syaraf
Otakku beku tumpul dan sedikit berkarat
Otakku mulai meleleh bak aspal terkena jilat api

Congkak dengki bernyanyi brutal
Tinjuku melambungkan kepal amarah
Tunjuk angkasa membelah udara
Emosi bangkitkan buasku
Geram cakar meringkik nyeri

Camar lolongkan suara sumbangnya malam ini
Burung hantu tak mau ketinggalan melantunkan syair terjeleknya malam ini
Kucing mengeong syahdu
Anjing melolong membelah kesunyian
Akupun tak mau mengalah…
Jeritkan suara parauku yang tak pernah merdu sedari dulu

Hujan terus membasahi
Dua tahun sudah musim ini tak berkemarau
Selalu membasahi jiwa keringku
Membasahi dahagaku walau tak pernah tembus kuyup
Padahal rintikan air hujan saban hari selalu berbagi

Ah entahlah ini pertanda apa
AKu bukanlah seorang peramal yang ulung
Tapi sesuatu akan terjadi
Tapi aku sendiripun tak tahu apakah itu…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: