OI MENANAM ROADSHOW 6 KOTA

ROADSHOW 6 KOTA – CIREBON

Oleh: Andri Oktavia

Roadshow “KESEIMBANGAN – Oi, Menanam! bersama Iwan Fals & Band”, di enam kota Pulau Jawa dimulai pada Senin (28/6). Keseluruhan rombongan berjumlah 50 orang, temasuk musisi, kru, perwakilan dari BPP Oi, reporter RRI, serta iwanfals.co.id. Rombongan menggunakan tiga kendaraan, yaitu bus panggung, bus pariwisata, dan kendaraan pribadi Iwan Fals dan keluarga. Namun sebelumnya, tim advance telah lebih dahulu berangkat untuk mempersiapkan seluruh keperluan di kota pertama yang akan dikunjungi: Cirebon, bersamaan dengan tim produksi yang membawa sound system dan barang-barang produksi. Bus bertolak meninggalkan Leuwinanggung pada pukul 11. Sementara di perjalanan semua tampak fresh. Rombongan sempat berhenti sejenak di Cikampek. Iwan Fals sejurus kemudian tampak naik ke bus rombongan meninggalkan bus panggung yang ditumpanginya. Apa gerangan? Hari itu tak terduga, salah seorang kru, Jay, begitu dia biasa disapa, berulang tahun.

Hadiahnya, sebuah roti buaya yang diberikan langsung oleh Iwan Fals kepadanya. Roti buaya tersebut tampaknya bermakna mendalam, karena di Tanah Betawi, roti buaya merupakan pelengkap pada pesta pernikahan atau lamaran. Namun, mengenai makna hadirnya roti buaya hari itu diatas bus? Mungkin Jay yang lebih pantas menjawabnya. Usai bersalam-salaman dan mengucap panjang umur, rombongan kembali tancap gas. Namun tak terasa, liku jalan, goyangan permukaan jalan yang kadang bergelombang bikin penat juga.

Sekitar tiga jam sudah rombongan berjalan, seputar wilayah Kandangan Indramayu, Iwan Fals tampak mengomandoi untuk ngopi bareng, di salah satu kedai kopi. Iwan tampak menikmati betul, istirahat sembari ngopi di tepi jalan sekitar pematang. Beberapa kru, diantaranya Dicky dan Sumanto malah menyempatkan diri memancing di pematang sawah. Sekitar 30 menit, rombongan beristirahat di kedai yang lokasinya persis di depan Kantor Polisi Indramayu, tim memutuskan jalan lagi. Sebelumnya Iwan sempat berfoto bersama dengan para polisi yang kebetulan ada di kedai tersebut. Rombongan Iwan Fals yang tiba pada pukul 17.30 sore hari di Kota Udang tersebut, pada malam harinya pukul 19.30 langsung sibuk. Iwan Fals langsung mengikuti wawancara eksklusif dengan salah satu radio swasta Cirebon. Selama lebih kurang 30 menit, di acara tersebut, Iwan banyak menjelaskan tentang album barunya, Keseimbangan. Sampai beberapa pertanyaan lainnya terutama terkait gelaran roadshow yang diikutinya. Iwan menilai, perkara lingkungan kini sudah menjadi penting dan memerlukan “kerja tim”, yang keuntungannya bisa dinikmati oleh orang di seluruh dunia. Menghidupkan “daya hidup” lewat pelestarian lingkungan jauh lebih penting ketimbang lainnya. “Kalau urusan mati, kita pasti mati. Sementara jauh lebih hebat mempersiapkan kehidupan,” urai Iwan. Pentingnya pelestarian lingkungan tersebut, yang membawanya jauh-jauh meninggalkan rumah menuju Cirebon. Hal ini karena menjadi pesan paling penting bagi kehidupan sekarang dan mendatang. Pada kesempatan tersebut, Iwan berharap, radio sebagai salah satu media informasi yang efektif, dapat meningkatkan intensitas penyiaran pada hal-hal yang bersifat seni, tradisi dan budaya. “Rasanya banyak kesenian Cirebon yang membedakannya dengan daerah lain, atau malah dengan bangsa lain namun tak diperhatikan,”tambahnya. Jika saja radio yang notabene corong informasi yang bisa diterima publik mampu mengambil peran tersebut, maka dia meyakini minat generasi muda untuk mendalami budayanya juga akan meningkat. Iwan beranggapan penting, untuk kembali mengangkat persoalan budaya dan tradisi, mengingat banyak budaya Indonesia, yang justru diakui oleh bangsa lain. Hal tersebut menurut Iwan sebagai konsekuensi logis dari tidak “terurusnya” seni dan tradisi lokal di daerah, sehingga malah “diurus” oleh bangsa lain. Menurut Iwan Fals, Cirebon yang memiliki tradisi Cirebonan, Sintren, Gembyung, Mocopatan, dan sebagainya, selayaknya memelihara kesenian dan tradisi tersebut. Iwan berpesan baik kepada Oi Cirebon, maupun anak-anak muda Cirebon pada umumnya, segera mengambil langkah dan upaya penyelamatan terhadap seni dan tradisi. “Tidak usah saling menunggu, penting mengambil tindakan cepat terkait hal ini,”urainya. Menjaga seni dan tradisi daerah bagi seorang Iwan Fals juga jadi hal penting dan mengemuka pada bincang-bincang tersebut. Sebab menurutnya, seni dan tradisi daerah juga menjadi inspirasi bagi karya-karya para musisi di tanah air, termasuk dirinya. Iwan bahkan berharap kepada para pencintanya, untuk memanfaatkan karya-karyanya yang akrab di telinga mereka, mengkolaborasikannya dengan musik tradisi daerah, sebagai upaya menjaga kelestarian budaya Cirebon. “Saya senang jika lagu Bento atau karya-karya saya yang lainnya, dikolaborasikan dengan musik daerah,” urai Iwan. Usai mengikuti wawancara dengan radio, rombongan segera mengarah ke diskusi yang digelar di Gedung Kesenian Cirebon. Acara sendiri dimulai pukul 8 malam.

Tak kurang 300 orang yang umumnya anggota dan pengurus Oi Cirebon, hadir di acara tersebut. Tampak pula para mantan pengurus Oi, seperti Chaerudin, Luthfi, serta Abot. Acara menampilkan pemaparan para narasumber yang diantaranya tampak hadir Mursyid (Bidang Pembangunan) BPPK Jabar, (Bidang Kesejahteraan Sosial) BPPK Cirebon, Iwan Fals, serta Ahmad Subhanudin Alwi (budayawan Cirebon). Diskusi yang mengambil tema “Rawat Adat Tradisi, Ruwat Bumi, Menyalami Alam, Menyelami Kebudayaan“ tersebut, berlangsung meriah dan hangat. Pemaparan yang disampaikan oleh para narasumber, serta sesi tanya-jawab yang diberikan oleh beberapa orang penanya berjalan tertib. Dikemukakan bagaimana seharusnya pengawasan pemerintah Cirebon terhadap ulah para penambang di salah satu kawasan (Ajimut -red), terutama para penambang bahan tambang galian, golongan C. Para penambang menurut peserta masih dengan tenang melakukan aktivitasnya, meski sudah dilarang oleh pemerintah daerah Cirebon. Demikian halnya dengan keluhan penebangan pohon-pohon produktif untuk penghijauan kota, di kawasan ramai pusat kota Cirebon, yang letaknya tak jauh dari RS Ciremai, menurut para penanya disamping tak jelas untuk alasan apa. Penebangan tersebut menggambarkan ambivalensi sikap dari pemerintah daerah Cirebon, dibanding semangat Go Green yang sedang digaungkan saat ini. Bahkan, upaya pemerintah daerah Cirebon untuk meraih Adipura juga disoroti oleh para penanya dengan sinisme. Bagi mereka, apa yang diperbuat untuk Adipura tersebut tak lebih sekedar retorika, mengingat tanpa ada penanganan yang jelas, beberapa lokasi bahkan di pusat kota, dengan mudah ditemui sampah mengonggok. Kendati tampak sepaham, Iwan Fals menyikapi semangat pelestaraian lingkungan, sampai perbaikan lingkungan dengan arif. Iwan menyatakan, sepantasnya aspirasi dari generasi muda Oi, disuarakan dengan militan namun disertai dengan cinta-kasih. Karena baginya, itulah inti dari kehidupan. Emosi dan energi kemarahan yang berlebih, menurut Iwan jika tidak dikelola dengan baik malah berimbas negatif bagi kesehatan generasi muda Oi. “Mesti dengan cinta kasih, namun Oi tetap harus militan menyuarakan pesan pelestaraian lingkungan termasuk penyelamatan budaya dan tradisi Cirebon,” tambahnya. Iwan juga berpesan kepada generasi muda Oi, untuk merawat apa yang dilakukan terutama pada program “Oi, Menanam!” dapat berkelanjutan, termasuk merawat pohon-pohon yang sudah ditanam. Bahkan, lebih jauh Iwan mengajak para fans fanatiknya tersebut untuk memberi “nyawa” pada Adipura Cirebon. “Mari kita menghidupkan Adipura, lewat kerja nyata,” urainya. Alwi yang pada kesempatan tersebut menyatakan Iwan Fals sebagai Wali-nya musisi Indonesia juga berharap agar kedepannya, perhatian pemerintah Kota Cirebon terhadap budaya lokal dapat meningkat. Lain Iwan Fals, lain pula dengan Karma Sulaeman. Menurut Karma, selama ini dia mengalami kesulitan untuk mengambil peran lebih besar lagi, terkait penyelamatan budaya Cirebon. ”Kami selaku BPPK kekurangan wewenang untuk melakukan hal tersebut,” urainya. Namun pihaknya selama ini tidak tinggal diam “mengawal” perbaikan pertumbuhan tradisi dan budaya Cirebon, dengan berbagai keterbatasan yang dimilikinya. Bahkan, kepada iwanfals.co.id, pihaknya mengaku sudah berupaya menggelar event-event budaya yang ditujukan membangkitkan minat masyarakat dan generasi Cirebon mencintai budayanya. Kedepannya, pihaknya bahkan sudah mensinergikan kerja BPPK yang terkait budaya terhadap sebuah kesenian rakyat Cirebon, agar masyarakat mau “menyewa” kesenian tersebut sehingga efek ekonominya bisa dirasakan oleh para musisi tradisi tersebut. Rencananya program tersebut akan diberlakukan secara bergilir kepada masyarakat Cirebon yang membutuhkan kehadiran tersebut. Model giliran tersebut akan dilakukan selama setahun. ”Kesenian tersebut diprogramkan hampir setiap hari ‘bermain’. Sehingga pemasukan bagi musisinya juga terus ada,” urainya. Roadshow ‘KESEIMBANGAN – Oi, Menanam! bersama Iwan Fals & Band’ di Kota Cirebon pada keesokan harinya (29/6) berlangsung meriah dan semarak. Acara yang gelarannya diisi dengan pentas tradisi Cirebon, bazaar, penanaman, hingga pentas Iwan Fals & Band tersebut “mengalahkan” hujan lebat yang menyiram arena pentas pada sore harinya. Oi Angkat Tradisi Cirebon Beberapa kesenian rakyat Cirebon sempat dipentaskan, diantaranya pergelaran Seni Tari Topeng yang dibawakan oleh Sanggar Sekar Pandan Keraton Kanoman Cirebon, yang disajikan lengkap dengan bodoran-nya. Selanjutnya juga dipentaskan kesenian Sintren, dan Tari Topeng Beling (Tari Kreasi, perpaduan Tari Topeng dan Debus -red). Yang melegakan sekaligus patut diapresiasi, pergelaran seni rakyat tradisional Cirebon tersebut, sebagian pementasannya diisi oleh BPK Oi Cirebon. Setelah pergelaran acara seni tersebut, “jeda waktu” diisi dengan sambutan dari para tokoh pemerintahan Cirebon, serta Iwan Fals. Kesemuanya merasa senang denagan adanya program penanaman, terutama karena sepaham bahwa pohon merupakan ujung tombak penyediaan oksigen yang amat dibutuhkan bagi kehidupan kini dan masa mendatang. Iwan bersama Rosana (istri) dan keluarga, sebelumnya sempat berkunjung, sekaligus menjemput Sultan Kanoman Cirebon XII (Sultan Raja Emirudin) di Keraton Kanoman, hingga menuju Alun-Alun Kanoman, guna mengikuti acara penanaman 2000 pohon sawo kecik secara simbolis. Sementara pohon sawo kecik lainnya tersebut akan ditanam di beberapa lokasi kota Cirebon, yang terutama akan dilakukan oleh para BPK Oi Cirebon. Acara simbolis penanaman pohon sawokecik yang ditanam persis di depan Keraton Kanoman Cirebon tersebut, keseluruhannya menyediakan lima liang tanam. Masing-masing penanamannya dilakukan oleh Sultan Raja Emirudin, Iwan Fals, Ano Sutrisno (Ketua BKPP), Bontot (Ketua BPK Oi Cirebon), serta AKBP Ir Ari Laksamana Wijaya (Kapolres Cirebon). Antusiasme masyarakat Cirebon, tampak membanjiri kawasan Alun-Alun Kanoman semenjak pagi hari. Saat acara digelar mereka tampak berebutan, sekaligus berdesakan melihat dari dekat “legenda hidup”, Iwan Fals. Usai acara simbolis penanaman, juga digelar pementasan musik. Beberapa band pengisi acara sempat tampil, diantaranya Band Semirang, yang para personilnya berasal dari BPK Oi Cirebon. Band Semirang menampilkan baluran musik tradisi dipadu dengan alat musik modern. Demikian pula dengan penampilan Digo Cs, yang membawakan beberapa buah lagu termasuk lagu Hio. Sementara itu, aktivis Oi yang ditemui iwanfals.co.id mengaku bahwa dukungan dan fasilitasi gelaran acara hari itu dapat berjalan lancar, tak lepas dari dukungan pihak Keraton Kanoman Cirebon. Bahkan untuk pengamanan jalannya acara, juga tampak para Hulu Balang Keraton yang aktif membantu gelaran tersebut. ”Tanpa bantuan hulu balang Keraton untuk pengamanan, keteteran juga kita,” urai seorang pengurus Oi. Pada sesi jumpa pers, Iwan menyatakan upaya yang dilakukannya merupakan upaya dari seorang anak bangsa yang mencintai negerinya. Dia merindukan tanah yang hijau dan oksigen untuk anak-anaknya kelak. Apalagi tambahnya,dia pernah berbincang dengan mantan Menteri Perhutanan (MS Kaban) yang dikatakannya sebagai perbincangan lima tahun yang lalu. “Usia hutan Indonesia jika kondisinya seperti saat ini, akan habis sekitar 15 tahun ke depan,” urainya mengutip MS Kaban. Khusus permasalahan perusakan alam termasuk hutan yang terjadi di Cirebon, hal tersebut menjadi tanggung jawab bersama. Hanya, peran pemerintah memang diperlukan lebih besar dari stakeholder lainnya. Termasuk mesti “tebal kuping”, jangan malah “tipis kuping”, kendati memang seperti menjadi hukum alam, dimanapun pemerintah memang akan selalu disalahkan. Yang jelas menurut Iwan Fals, upaya melestarikan alam diibaratkannya sebagai “kerja tim”, kerja bersama, sama halnya dengan upaya pelestarian seni dan budaya bangsa, juga merupakan kerja tim. Penghijauan Budaya Cirebon Uniknya, bagi masyarakat Cirebon penghijauan atau urusan menanam bukan barang baru. Ratu Raja Arimbi (kalangan dalam Keraton) menyatakan kepada iwanfals.co.id, disamping senang dan gembira, dengan adanya kunjungan roadshow Iwan Fals, dia juga merasa memiliki harapan positif, terutama karena yang dilakukan akan berkontribusi positif bagi lingkungan dan kehidupan manusia di masa mendatang. Dijelaskan lebih jauh, Cirebon juga memiliki “kearifan budaya lokal”, terkait penghijauan. Sudah semenjak beratus tahun silam, masyarakat Cirebon memiliki tradisi maupun etika dalam menanam atau memotong tanaman. Ketentuan mengenai penghormatan terhadap tanaman, yang didalamnya termasuk etika terhadap tumbuhan tersebut, berlangsung secara turun temurun. Etika tersebut tertulis semacam “primbon”. Ratusan tahun silam, “primbon” tersebut disusun, disadur, dan dibukukan sebagai sangu bagi generasi mendatang oleh Pangeran Arifin (Kakek Ratu Raja Arimbi). Ketentuannya masih banyak digunakan oleh kalangan Keraton atau masyarakat Cirebon hingga kini. “Primbon” tanaman tersebut diantaranya berisi etika terhadap tanaman, waktu yang pas untuk menanam, disesuaikan dengan musim agar tanaman tumbuh maksimal, bahkan ketentuan tersebut mengatur hingga perlakuan terhadap jenis-jenis tamanannya. “Jadi memang tidak asal menebang, demikian juga dengan penanaman,” tambahnya. Hujan Sambut Konser Pada sore harinya, pentas Iwan Fals & Band digelar di Alun-Alun Kanoman. Siraman hujan yang mengguyur tak henti hingga mendekati paruh waktu acara, jadi cerita menarik untuk disimak. Kesibukan kru pendukung konser jadi berlipat, Mame’ (FOH sound engineer) terlihat sempat berlarian ke arah panggung memastikan peralatan suara bekerja dengan baik. Begitupun dengan Ayub (monitor sound engineer), serta beberapa kru lain yang ikut mengamankan agar air hujan yang masuk ke panggung tak berpengaruh pada peralatan elektronik yang digunakan. Berkali, demi keamanan dari terjangan air hujan, tirai penutup muka panggung diturunkan begitupun sebaliknya digulung, mengikuti intensitas hujan yang berubah-ubah, ketika konser berlangsung. Tirai plastik transparan tersebut digunakan untuk menutupi panggung, dari terjangan air hujan yang jatuh bak ditumpahkan dari langit. Penonton awalnya tampak menahan diri, namun usai Iwan Fals menanggalkan bajunya dan bertelanjang dada, para penonton mulai menyerbu alun-alun, mereka mulai tertarik mengikuti pentas, mengingat hujan juga mulai tampak reda, meski genangan air di lokasi pentas sudah menyambut kedatangan mereka. Tembang-tembang seperti Hio, Hutanku, Malahayati, Kuda Coklat, Tanam Siram Tanam, Bento, Jendral Tua, Ya Allah Kami, Aku Menyayangimu, ^O^, Sepakbola, Mereka Ada di Jalan, dan lain-lain, dilantunkan Iwan Fals & Band sore itu. Jelas tampak kerinduan fans Iwan Fals untuk hadir dan mengikuti jalannya konser hingga tuntas. Beberapa kelompok fans datang tidak hanya dari wilayah kota Cirebon, mereka bahkan ada yang tinggal di luar kota Cirebon, hingga Indramayu. Menurut beberapa fans Iwan Fals yang hadir, kepada iwanfals.co.id, rata-rata mereka menyatakan kegembiraannya atas terselenggaranya rangkaian acara roadshow ini, karena bisa mengobati kerinduan mereka terhadap Iwan Fals. Disamping itu, menurut Akas (19) asal Kampus Pengampon-Cirebon, disamping mengobati kerinduan fans, dia jadi merasa termotivasi untuk melindungi dan merawat alam yang selama ini selalu dieksploitasi, hanya demi kepentingan manusia tanpa mempertimbangkan aspek kelestariannya. Tidak hanya Akas, Taufik (18) pemuda dari Cirebon lainnya mengaku puas dengan gelaran sore hari tersebut. Baginya disamping ada motivasi untuk menjaga kelestarian alam usai menyimak konser, sepantasnya para anak muda aktif melindungi lingkungan yang kian merosot daya dukungnya kini. Selanjutnya, Ucup (27) yang tampak sebagai pentolan fans Iwan Fals asal Indramayu menilai positif atas gelaran pentas dan acara penanaman yang digelar, apalagi pentas berjalan lancar tanpa adanya keributan yang berarti. Dia berpesan, disamping agar Iwan Fals tetap kritis, juga berharap agar acara serupa bisa digelar di kota Indramayu, karena cukup lama menurutnya Iwan Fals & Band belum mengunjungi kota mereka.

Sumber: http://www.iwanfals.co.id

Satu Tanggapan to “OI MENANAM ROADSHOW 6 KOTA”

  1. ruston nawawi Says:

    ingin aku turut serta, namun aku ta tau akan adanya organisasi itu……..
    kawan, bila ada organisasi lagi tolong kasi tau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: