Iwan Fals Bernostalgia Cinta Untuk Jogja

Posted in IWAN FALS, Uncategorized on 2012/02/28 by chikal setiawan

Iwan Fals kembali mengadakan konser di Jogjakarta, kota budaya yang penuh kenangan sejarah bangsa Indonesia. Kali ini konser Iwan Fals memilih tema ‘Nostalgia Cinta Untuk Jogja’ yang diadakan di Grand Pacific Jogja pada Sabtu, 18 Februari 2012. Sebuah konser musik yang telah dipersiapkan matang sehingga menyenangkan dan memuaskan penonton. Sahabat-sahabat iwanfalsmania.com beruntung dapat kesempatan menyaksikan konser Iwan Fals Nostalgia Cinta Untuk Jogja yang gemanya sudah digaungkan sejak beberapa bulan yang lalu.

Berikut dibawah ini liputan konser beserta foto-foto ekslusifnya. “Ane ‘mbaca ceritanya bikin ngiler bro.. :P” (sb)

Iwan Fals Bernostalgia Cinta Untuk Jogja

Konser Iwan Fals kali ini dipromotori oleh Pacific Production bekerja sama dengan PT. Tiga Rambu sebagai Manajemen Iwan Fals. Konser ini diadakan didalam sebuah gedung menggunakan format penonton yang semuanya duduk dikursi dengan lokasi kursi yang dibedakan berdasarkan kelas dan harga tiket. Grand Pacific adalah sebuah Restaurant & Convention Hall yang terletak di Jl. Magelang Km.4,5 (depan TVRI) Jogjakarta.

Pacific Production, sebagaimana disampaikan oleh Tovic Raharja selaku project manager merupakan promotor musik baru dan ingin berbeda dengan promotor musik yang sudah ada dimana Pacific Production ingin ada unsur sosialnya untuk setiap konser yang dipomotorinya. Untuk itu Pacific Production memilih konser Iwan Fals sebagai event perdananya. Iwan Fals mempunyai komitmen bahwa setiap konser harus selalu diiringi dengan penanaman bibit pohon. Sebuah tindakan mulia yang menunjukkan bahwa konser musik bukan sekedar hura-hura namun juga membawa misi sosial bagi kelestarian lingkungan.

Untuk event kali ini Iwan Fals hadir ditemani istri dan anak lelakinya. Bersama Pacific Production yang didukung oleh BPW Oi Jogja melakukan penanaman ratusan bibit pohon buah-buahan yang berlokasi di desa Kinahrejo Cangkringan, Sleman. Tepatnya disekitar lokasi kediaman alm. Mbah Marijan di kaki gunung Merapi. Penanaman bibit pohon ini dilakukan sehari sebelum konser yaitu pada hari Jumat 17 Februari 2012. Dalam press releasenya, Pacific Production mengatakan bahwa selain manfaat oksigen yang dihasilkan, kelak masyarakat sekitar juga akan memetik hasil dari pohon yang ditanam tersebut.

Pada kesempatan tanya jawab saat jumpa pers di Grand Pacific Jogja, tanggal 17 Pebruari 2011, salah satu wartawan mempertanyakan mengapa lirik lagu-lagu Iwan Fals saat ini tidak kritis seperti dulu dan cenderung banyak yang bertema cinta. Iwan Fals menjawab bahwa lagu-lagu yang diciptakannya dulu masih relevan dengan kondisi saat ini dan sudah banyak media-media yang mengkritisi kondisi sosial saat ini, jadi apalah arti seorang Iwan Fals dibanding media yang banyak itu. Iwan Fals juga menyampaikan bahwa sebenarnya lagu-lagu pada album-album barunya ada beberapa yang bertema kritik sosial namun tidak diekspose, contohnya lagu Negara dan sebagainya.

Sabtu, 18 Pebruari 2012, menjelang konser dimulai, penonton yang memasuki gedung disambut dengan penampilan Orkes Keroncong Suara Minoritas yang memukau. Cukup banyak penonton yang datang dan memenuhi setiap sudut dalam gedung pertunjukan. Begitu juga diluar gedung, banyak penonton yang datang tanpa tiket berbaur bersama calo tiket yang mencari rezeki dari konser ini, syukurlah mereka tertib sebab panitia telah menyediakan layar LCD untuk penonton yang diluar gedung. Wajar penampilan Iwan Fals selalu dinanti oleh penggemarnya.

Dan saat yang ditunggu tiba, pukul 20.00 WIB, Iwan Fals yang diiringi band mengawali konser Nostalgia Cinta Untuk Jogja dengan membacakan syair Ronggo Warsito yaitu Singgo Sirah, kemudian Iwan Fals bercerita tentang kenangan saat pernah sekolah di Jogja dimana beberapa lagu cinta karyanya terinspirasi disini.

Lagu Jendela Kelas adalah lagu pertama yang dinyanyikan, sontak penonton ikut berdendang bersama. Maklum sebagai lagu pembuka lagu lama Iwan Fals ini cukup dikenal. Lagu demi lagu yang dibawakan hampir semuanya lagu lama dan sangat populer pada masanya mulai dari lagu Buku Ini Aku Pinjam, Kereta Tiba Pukul Berapa, Pesawat Tempur sampai lagu Bento.

Lagu-lagu penuh kenangan ini makin membuat penonton antusias ikut bernyanyi sebab sudah tidak asing lagi ditelinga. Koor penonton membahana didalam gedung sebab sebagian besar telah hafal lirik-lirik lagu Iwan Fals yang dibawakan malam itu. Penonton yang tertib dengan sabar menyimak paparan Iwan Fals sebelum setiap lagu dinyanyikan sehingga tercipta keakraban antara Iwan Fals dengan para penonton. Setting panggung, tata cahaya dan visualisasi yang berbeda pada setiap lagunya serta didukung oleh sound system yang seimbang membuat konser ini semakin menarik.

Sebanyak 17 buah lagu yang dibawakan, satu diantaranya lagu yang belum pernah dirilis berjudul “Negeri Ini Memang Kaya”. Iwan Fals bercerita bahwa lagu ini dibuat terinspirasi saat ziarah ke makam Bung Karno. Pada saat lagu ini dibawakan, lighting nuansa merah menghiasi panggung, para penonton tampak khidmat menyimak syair-syair kritis dalam lagu ini. Banyak penonton yang terdiam karena tidak pernah mendengar lagu ini, namun ada pula yang hafal dan lantang ikut bernyanyi.

Lagu ini sengaja dibawakan Iwan Fals selain sebagai bentuk kritik juga sebagai penghormatan kepada Sultan Hamengku Buwono X meski pada kesempatan ini beliau tidak bisa hadir karena sakit. Iwan Fals merasa terhormat dan berterima kasih karena Sultan pernah membacakan syair ini saat acara di Graha Sabha Pramana UGM (Universitas Gajah Mada) pada tanggal 19 Pebruari 2011. Dan pada kesempatan itu Iwan Fals tampil memeriahkan melalui konser musik dengan tema ‘Justice for Indonesia with Love’.

Lagu ‘Negeri Ini Memang Kaya’ (ada yang menyebut judulnya ‘Negeri Kaya’-red) memang lagu Iwan Fals yang belum dirilis. Lagu ini kerap dinyanyikan saat konser-konser saja sehingga rekaman mp3 maupun rekaman video yang beredar dikalangan fans Iwan Fals adalah rekaman alakadarnya versi berbagai konser. Lagu yang pada konser-konser dibawakan dengan gaya musik ‘blues’ ini menjadi salah satu lagu paling ‘gahar’ Iwan Fals yang belum diedarkan. Dan saat konferensi pers konser ini, Iwan Fals mengatakan saat ini sedang mengumpulkan materi untuk album baru dan lagu ini masuk dalam daftarnya. Wow, semoga lagu ini masuk album baru Iwan Fals dengan aransemen musik yang tidak jauh beda dengan versi konser. Beberapa lagu yang liriknya kritis dan cadas nampaknya dipilih sebagai pengimbang kelembutan konser bertema cinta kali ini. (Lirik lengkap lagu Negeri Ini Memang Kaya)

Disela-sela penampilan Iwan Fals saat membawakan lagu fenomenal saat bersama kelompok SWAMI yaitu Bento, masing-masing pemain band mendapat giliran menunjukkan kebolehannya. Dan penampilan mereka mendapat applause luar biasa dari penonton. Memang komposisi pemain band Iwan Fals yang digunakan sekarang terasa lebih ‘ganas’ dibanding format sebelumnya dan lebih attraktif berinteraksi sehingga memukau penonton.

Penonton yang memenuhi jajaran kursi yang telah tersusun rapi dalam gedung Grand Pacific beraneka ragam kalangan. Mulai dari Fals Mania (sebutan penggemar Iwan Fals secara umum), kawan-kawan Ormas Oi baik dari luar kota maupun dari kota Jogja sendiri, juga banyak sekali masyarakat umum yang hadir dengan mengajak pasangannya, kawan-kawannya dan bersama keluarganya. Format konser yang nyaman.

Bahkan menurut asisten project manager Pacific Production, Anggityas Sekarkinasih Putri, ada turis dari Jerman yang istrinya orang Aceh, mereka kebetulan sedang berlibur di Jogja tidak sengaja melihat promo event ini, mereka langsung memesan tiket hari itu juga. Turis ini mengaku sangat beruntung karena pas liburan ke Indonesia kebetulan sekali ada konsernya Iwan Fals. Menurut penjelasan turis tersebut terakhir dia nonton konser Iwan Fals 10 tahun yang lalu di Lombok dan katanya ngefans banget sama Iwan Fals.

Pada pertunjukan ini, tiket termurah dijual seharga Rp.100 ribu dan yang tertinggi seharga Rp.300 ribu. Maka untuk mengantisipasi penonton yang antusias ingin menyaksikan penampilan Iwan Fals namun tidak mampu membeli tiket dan juga ternyata tidak semua penonton suka dengan posisi duduk didalam gedung pertunjukan, Pacific Production menyediakan layar LCD besar di halaman Grand Pacific Hall. Ini disaksikan ratusan penonton dari berbagai kalangan baik dari dalam maupun dari luar kota Jogja. Alhasil suasana diluar gedung tak kalah meriahnya dengan didalam.

Sebelum lagu Pohon Kehidupan dinyanyikan, secara simbolis Iwan Fals memberikan bibit pohon kepada Ibu Lies Jenny sebagai pimpinan Grand Pacific. Bibit pohon ini sebagai pesan kampanye penghijauan di Grand Pacific khususnya dan Jogja pada umumnya.

Konser Iwan Fals Nostalgia Cinta Untuk Jogja ditutup dengan lagu Kemesraan, sebagian penonton maju ke depan panggung untuk ikut bernyanyi bersama atau sekedar mengambil foto Iwan Fals dari dekat. Dan akhirnya konser berakhir sekitar pukul 22.30 WIB yang membawa kepuasan bagi penontonnya berkat persiapan matang penyelenggara  dan performa prima Iwan Fals & band.

Pacific Production Proudly Present IWAN FALS ‘Nostalgia Cinta Untuk Jogja’ Sabtu, 18 Februari 2012 20.00 WIB GRAND PACIFIC RESTAURANT & CONVENTION HALL Jl. Magelang Km.4.5 (depan TVRI) Jogjakarta – INDONESIA

——————————————————————————-

Song List:

1. Jendela Kelas

2. Mata Indah Bola Ping Pong

3. Buku Ini Aku Pinjam

4. Ujung Aspal Pondok Gede

5. Guru Oemar Bakri

6. Ambulance Zig Zag

7. Ibu

8. Kereta Tiba Pukul Berapa

9. Sebelum Kau Bosan 10.

Kumenanti Seorang Kekasih

11. Aku Sayang Kamu

12. Pesawat Tempur

13. Bento

14. Hio

15. Negeri Ini Memang Kaya

16. Pohon Kehidupan

17. Kemesraan

Iwan Fals – vocal, accoustic guitar, harmonica Totok Tewel – lead guitar Edi Daromi – keyboard Ferry Lucky – bass Raiden Soedjono – drum ——————————————————————————-

sumber : http://www.iwanfalsmania.com/2012/02/iwan-fals-bernostalgia-cinta-untuk.html#more

Lekaslah Sembuh – Lagu Baru Iwan Fals Untuk Donny Fattah

Posted in IWAN FALS, Uncategorized on 2012/02/13 by chikal setiawan

Pada 10 Pebruari 2012 diadakan konser amal bertajuk “Dari Musisi Untuk Musisi” di Rolling Stone Cafe, Jakarta. Konser amal ini untuk membantu biaya pengobatan musisi Donny Fattah Gagola yang terkena serangan jantung. Donny Fattah, kelahiran Makassar 24 September 1949 adalah pemain bass band legendaris God Bless dan pernah bergabung dalam proyek Kantata. Saat konser ini diadakan kondisinya sudah semakin membaik.

Pada kesempatan itu Iwan Fals hadir diantara sekian banyak musisi yang tampil. Iwan Fals menyumbangkan sebuah lagu yang dibuatnya sehari sebelum acara ini berlangsung khusus untuk Donny Fattah. Lagu ‘Lekaslah Sembuh’ dinyanyikan Iwan Fals hanya dengan diiringi gitar akustik yang dimainkan sendiri. Iwan Fals menyanyikan lagu ini dengan menggelegar.. luar biasa!. Lagu ‘Lekaslah Sembuh’ menambah panjang deretan penampilan live Iwan Fals yang paling hebat..

Berikut dibawah ini lirik lagu ‘Lekaslah Sembuh’ dari Iwan Fals beserta video amatir dan foto-foto ekslusif penampilan Iwan Fals saat menyanyikannya. (sb)

Lekaslah Sembuh Iwan Fals (2012)

Dedicated for Donny Fatah – Live at Rolling Stone

Cafe Indonesia, February 10, 2012

Engkau yang selalu tersenyum

Membuat tenang orang yang ada didekatmu

Tubuhmu meliuk dialunan lagu lagu

Jemari hidupmu mencabik dalam diam

 

Bertahun sudah engkau lewati

Perjalanan hidup yang penuh pertanyaan ini

 

Namun kau tetap tegar tak goyah

Terhadap pilihan yang sedang kau jalani

Selalu terngiang terngiang-ngiang

Kata-katamu tentang ketegaran jiwa

 

Saat aku pernah merasa tergempur

Dan kini aku datang untukmu…

 

Dihormati kawan tak berlawan

Tuturmu yang lembut tak menyakitkan

Kini kau sedang sakit badanmu yang sakit

Tapi aku yakin ini hanya sementara

 

Lekaslah sembuh dan kembali manggung..!

 

Memang badan kan dimakan waktu

Setiap yang hidup begitu adanya

Cahaya jiwamu kian memancar

Menghangati yang beku dan kegelapan

 

Lekaslah sembuh dan kembali

Mengisi hidup yang sebentar ini…

 

Reff:

Tetap tegar dalam cobaan…

Sungguh kau tak sendirian…!

Tetap bersyukur sesulit apapun…

Sungguh kau tak sendirian…!

 

Tetap tegar dalam cobaan…

Sungguh kau tak sendirian…!

Tetap bersyukur sesulit apapun…

Sungguh kau tak sendirian…!

 

*)sumber : http://iwanfalsmania.blogspot.com/2012/02/lekaslah-sembuh-lagu-baru-iwan-fals.html#more

 

Jujur Saja, Iwan Fals Tetap Menjadi Magnet Pada Konser Kantata Barock

Posted in IWAN FALS, Uncategorized with tags , , , , , on 2012/01/09 by chikal setiawan
Panggung Konser (foto: @iwanfals)Konser Kantata Barock pada Jumat, 30 Desember 2011 akhirnya terlaksana dengan baik. Iwan Fals, Setiawan Djodi dan Sawung Jabo memberikan pertunjukan yang berkesan. Penampilan kelompok musik Kantata dipenghujung tahun ini sangat dirindukan oleh penggemarnya.
Iwanfalsmania.blogspot.com berkesempatan hadir menyaksikan konser yang tepat pada pukul 18.30 WIB dibuka oleh Band Kotak. Sebagian penonton festival yang “berhasil” menerobos pagar pembatas lapangan rumput Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta ikut bergoyang bersama menikmati 6 buah lagu yang dibawakan oleh band rock dengan vocalis perempuan ini.
Setelah Kotak turun panggung, tiba-tiba layar dibelakang panggung menampilkan slide perjalanan Kantata sejak awal dirumuskan hingga persiapan konser Kantata Barock. Ketika slide menampilkan sosok Iwan Fals, sontak seluruh penonton bergemuruh memanggilnya“Iwan… Iwan… Iwan…”. Jujur saja kita akui sebagian besar penonton yang hadir menyaksikan konser ini adalah penggemar Iwan Fals. Bisa Anda bayangkan konser Kantata Barock tanpa Iwan Fals?. Iwan Fals tetap menjadi magnet seperti konser-konser Kantata terdahulu.
Menyambung keinginan penonton yang sudah tidak sabar ingin melihat pertunjukan Kantata Barock, Faisal Basri didaulat memanggil personel Kantata Barock setelah bersama-sama menyanyikan lagu Padamu Negeri.
Sawung Jabo membuka persenyawaan akbar itu dengan sebait lirik Paman Doblang.“Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata…”. Tak lama berselang lagu Nocturno dinyanyikan oleh Iwan Fals. “Selamat datang di Republik Calo!”, ujar Iwan memulai orasi layaknya seorang capres dipanggung kampanye. Adegan apik dibawakan oleh Iwan Fals bersama personel lainnya.
Partai Bonek menjadi lagu kedua yang dibawakan oleh Kantata Barock. Setelah itu berturut-turut mengalun lagu Goro-Goro, Balada Pengangguran, Kemarin & Esok sertaMegalomania. Dipertengahan lagu Balada Pengangguran, Iwan Fals, Djody dan Jabo bergiliran membacakan puisi Kecoa Pembangunan. Puisi ini dulu pertama kali dibacakan oleh alm. WS Rendra ketika Kantata menggelar konser di Parkir Timur Senayan, 6 juli 1998.
Dibawah kilatan permainan sinar laser yang menurut majalah Rolling Stones sama dengan konser Pink Floyd, lagu Badut dan Mata Dewa membahana di GBK. Penonton semakin terpuaskan ketika lagu Tikus Ngongrong dan Panji-Panji Demokrasi dibawakan.
Setelah itu Band Kotak kembali naik keatas panggung berkolaborasi dengan Kantata Barock dan Once membawakan lagu Beraksi, Mujijat dan Barong Aku Bento. Yang menarik perhatian yaitu slide dibelakang panggung ketika lagu Mujijat dibawakan menampilkan proses operasi Setiawan Djody. Setelah itu Iwan Fals seakan diberi keleluasaan membawakan lagu lamanya berjudul Puing serta lagu berjudul Proyek 13 yang liriknya ditulis oleh Bram.
Pertunjukan terus berlangsung dengan semangat Djody membawakan lagu Nyanyian Jiwayang mendapat apresiasi yang luar biasa dari penonton. Lagu ini kata Djody merupakan lagu penyemangat ketika dirinya hampir mati akibat penyakit yang dideritanya. Tampak penonton menyalakan lighter (korek api gas) dan koor bersama menyanyikan lagu dari album Swami II ini. Penonton tambah bersemangat ketika Iwan Fals ikut mengalunkan suara khasnya di lagu ini.
Iwan Fals benar-benar menjadi magnet pertunjukan malam itu. Panggung tiba-tiba menjadi gelap dan lampu sorot hanya mengarah ke Iwan Fals, dia lalu bercerita kenangannya bersama WS. Rendra yang sempat berkeinginan membangkitkan kembali Kantata dengan nama Kantata Samudera. Sayang keinginannya tak sempat terwujud karena Rendra meninggal dunia. Iwan Fals lalu menyanyikan lagu baru yang diinspirasi dari keinginan almarhum. Lagu berjudul Ombak dibawakan secara akustik. Ekspresi Iwan Fals membius penonton yang mendadak hening menyimak lagu tersebut.
Kantata Barock malam itu seperti sengaja mengaduk-aduk emosi dan adrenalin penonton. Terlebih ketika lagu Pangeran Brengsek, Bongkar dan Nyanyian Preman dibawakan. Koor pun bergema diseluruh penjuru GBK.
Teriakan puluhan ribu penonton yang hadir malam itu seakan menjadi tambahan energi bagi Kantata Barock, romantisme konser Kantata Takwa tahun 1990 coba mereka bangunkan. Intro lagu Bento tiba-tiba terdengar, sontak seluruh penonton berteriak “Bento… Bento… Bento…”. Lagu legendaris ini seolah menjadi lagu wajib setiap pertunjukan Kantata maupun Iwan Fals. Ditengah usia yang tidak lagi muda, para personel Kantata Barock menunjukan performance yang sangat luar biasa diatas panggung. Energi mereka seakan tak pernah habis, semangat mereka membawakan lagu Cinta dan Hio sungguh luar biasa. Penonton dimanjakan oleh teriakan khas Iwan Fals, Jabo dan Djody.
Tiket (@beritaiwanfals)

Akhirnya setelah hampir 3 jam, pertunjukan itu pun diakhiri oleh lagu Kesaksian. Seluruh personel dan bintang tamu naik ke atas pentas bersama-sama penonton menyanyikan lagu fenomenal ini. Tampak diatas panggung Band Kotak, Once dan Piyu Padi.“Terima kasih kalian begitu luar biasa tertib, sudah dewasa menyaksikan pertunjukan tanpa keributan sedikipun. Kami bangga pada kalian, kita bertemu lagi nanti di sini setelah Pemilu, aku cinta padamu…!”, ujar Setiawan Djody menutup pagelaran akbar malam itu.

Namun sayang sekali menurut beberapa penonton yang hadir konser kali ini banyak kekurangan dari segi penyelenggara, padahal Kantata Barock bukan grup ‘kemarin sore’ yang baru manggung. Promo yang gencar (cenderung berlebihan) di sosial media ternyata tidak membuat orang berduyun-duyun menyaksikannya. Sound system yang digunakan kurang memadai, raungan gitar Setiawan Djody malah dianggap mengganggu, tata panggung yang ‘terlalu’ sederhana meninggalkan ciri khas panggung megah Kantata dengan patung Garuda diatasnya. Dengan harga tiket termurah seratus ribu rupiah, pertunjukan dirasa tidak sebanding dengan harga yang dibayar. Dan catatan yang tidak kalah pentingnya, dari keseluruhan lagu yang dibawakan, menurut sebagian penonton hanya lagu Ombak yang dinyanyikan Iwan Fals secara solo dengan iringan gitar akustiknya yang lebih bisa dinikmati. Ya, kekurangan yang seharusnya tidak terjadi mengingat Kantata cukup kenyang dengan konser megah.

Ooh masih ada lagi, rupanya konser Kantata Barock ini  membawa dan meninggalkan masalah. Pada siang harinya sebelum konser dimulai, ada jumpa pers berisi nota penolakan konser ini dari musisi Yockie Suryo Prayogo dan ahli waris penyair Rendra yang diwakili oleh Clara Shinta. Yockie SP dan Rendra termasuk yang membidani lahirnya Kantata Takwa, namun Yockie tidak terlibat dalam Kantata Barock dan Rendra telah meninggal dunia.
Berikut isi nota protes itu:
Bahwa semua karya cipta lagu atas album Kantata Takwa, Kantata Revolvere dan Kantata Samsara terutama yang terkait dengan adanya nama Yockie Suryo Prayogo sebagai pencipta, baik sendiri maupun secara bersama-sama, mempunyai legalitas hak ekonomi, hak eksklusif, hak moral, performing right (hal untuk mengumumkan) dan Mechanical Right (hak untuk memperbanyak), dimana dalam hal ini, pengertian “mengumumkan atau memperbanyak” termasuk kegiatan menerjemahkan, mengadaptasi, mengaransemen, mengalihwujudkan, menjual, menyewakan, meminjam, mengimpor, memamerkan, mempertunjukkan kepada publik, menyiarkan, merekam, dan mengkomunikasi ciptaan kepada publik melalui sarana apapun, sesuai dengan apa yang disebutkan UU No 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. 
Semoga permasalahannya lekas selesai dan tidak menimbulkan perselisihan berkepanjangan bagi yang berkepentingan. (fk|sb)


Pengalaman Glenn Fredly Nonton “KONSER KANTATA TAKWA ’91″ Senayan Jakarta

Posted in IWAN FALS on 2011/12/29 by chikal setiawan

Konser Kantata Barock tanggal 30 Desember 2011 di GBK nanti, akan menjadi pembuka dan penyambut tahun 2012, tahun kiamat rezim fasis hari ini power to the people. Jadi pengen berbagi pengalaman yang tak akan terlupakan menyaksikan konser Kantata Takwa tahun 1991 di GBK. Ok gua akan berbagi cerita tentang pengalaman nonton live konser kantata takwa tahun 1991 di GBK semoga tidak terlewat ya….

Konser Kantata Takwa di gelar April 1991 waktu itu saya masih duduk di bangku SMP kelas 2, saya bersama teman-teman sudah menanti konser ini karena niat banget pengen nonton saya dan teman-teman bersusah payah nabung cuma  buat beli tiket Kantata Takwa. IWAN FALS, SWAMI dan KANTATA TAKWA bagai Virus di masa saya SMP dan teman-teman seperti menjadi lagu wajib di saat-saat nongkrong bareng teman-teman di kelas, kantin, halte bis dll.

Saya tahu Kantata Takwa akan konser di Stadion Utama Senayan (sebelum GBK) itu bukan dari promo atau Baliho tapi justru dari Polisi. Kenapa dari Polisi?? Jadi sekolah SMP saya itu depannya adalah POLRES, mereka sering nongkrong di warteg deket sekolahan kami, dari obrolan mereka kami tau akan adanya konser kantata takwa itu.

Sejak bocoran dari Polisi mengenai konser Kantata Takwa itu, saya dan teman-teman terus mencari tahu lewat radio, koran, bahkan obrolan dari pengamen-pengamen jalanan tentang konser ini. Ya roh konser kantata takwa ’91 itu benar-benar terasa sekali dari sebelum promosi muncul luas di media, Social Media belum ada tapi kabar dari mulut ke mulut gokil.

Konser Kantata Takwa ’91 jadi sebuah konser paling dinanti oleh saya dan teman-tman,tidak jajan dan cari kerja tambahan dlakukan oleh saya dan teman-teman demi menyaksikan konser ini. Mulai dari ngamen di bis, jual botol dan koran bekas, saya dan teman-teman SMP lakukan untuk nabung beli tiket konser,terutama untuk temen-teman yg gak mampu kami gotong royong.

Hari Konser Kantata Takwa pun tiba, saya dan teman-teman pulang sekolah pagi langsung ganti baju bebas untuk menuju Senayan dari siang kami sudah berangkat ke Stadion Utama Senayan Jakarta. Kami anak SMP yg belagak jadi anak SMA dgn seragam bebas, kami semangat menuju Senayan tapi juga bercampur takut karena kepikiran rusuhnya.

Dalam perjalanan ke Senayan, saya melihat ada rombongan beberapa truk yg menyanyikan lagu “BONGKAR” yang pastinya juga menuju ke konser Kantata Takwa di Senayan. Akhirnya saya dan teman-teman sampe juga di area Senayan, kami belum masuk sampe di stadion tapi penjagaan di area Senayan seperti mau perang, penuh tentara.

Bersama teman-teman saya sepakat untuk bergabung dengan rombongan lain yang lebih ramai berjalan menuju Stadion senayan, ya.. kami gabung dengan teman-teman STM. Saya  lupa itu gabungan anak STM mana, yang jelas kami berasa aman saja berada ditengah mereka, karena kami ngaku anak STM juga,hahaha #KT’91.

Dari siang orang sudah berdatangan, sedangkan konser Kantata Takwa baru mulai setelah magrib, saya serta teman-teman mulai masuk dalam stadion sekitar jam3 sore. Penuh usaha untuk bisa masuk sampai kedalam stadion, dari pemeriksaan oleh tentara super ketat, antrian panjang sampe hilang dari rombongan temen-tman. Tapi kami berjumpa lagi di Tribun stadion, saya dan teman-teman bengong liat panggung raksasa berbentuk Rajawali, ini pengalaman saya nonton konser.

Konser Kantata Takwa ada opening act-nya Ikang Fauzi & Anggun C Sasmi dengan topi baretnya, Penonton menggila karena mau  Kantata Takwa segera mulai. Konser Kantata Takwa belum mulai suasana dalam stadion memanas, karena personil aparat senjata lengkap ditambah ke dalam stadion. Dari tribun stadion liat lautan manusia yang di kelas festival, hasrat ingin gabung untuk berada di festival muncul dan saya pun nekat ke festival. Akhirnya saya dan beberapa teman kita berada di festival, atas usaha ‘gila’, panggung makin dekat mata, diantara himpitan org kami menanti munculnya para personil Kantata Takwa. Oiya opening act selain ada Ikang fauzi dan Anggun C sasmi ada juga Nicky astria, nah saat Nicky astria nyanyi tribun bawah mulai rusuh. Stadion Senayan rasanya tidak cukup menampung lautan manusia dengan jiwa yg ‘haus’, belum lagi manusia diluar stadion yg tdk bisa masuk.

Konser Kantata Takwa jadi peristiwa budaya paling fenomenal di Indonesia, khususnya untuk Jakarta, semangat baru lahir di konser ini untuk melawan angkuhnya rezim Orba. Melihat penyair WS Rendra, Iwan Fals, Jabo, Jody dan musisi lain begitu tampil diatas panggung Rajawali raksasa itu, seperti peluru kendali siap luncur. Saya dan beberapa teman ‘terjebak’ ditengah lautan manusia dewasa yg menggila, konser Kantata Takwa pun mulai, ABG dtengah arus perlawanan.

Konser Kantata Takwa begitu mulai seperti bensin yang bertemu dgn api, saya bisa lihat raut muka aparat yg pucat dan panik, senjata mereka jadi sedotan. Lagu demi lagu mengalun dari Konser Kantata Takwa, nah ada kejadian listrik padam, kebayang nggak tegangnya stadion, pikiran disabotase meghinggapi pikiran kami waktu itu. Spontan, dipadamnya listrik, koor tanpa komando lagu ‘BONGKAR’ menggema buat bulu kuduk berdiri, saya bersama teman-teman tetap bertahan. Semua personil Kantata Takwa tetap gagah dan tenang menghadapi keadaan seperti itu, itu juga yang membuat penonton tambah smangat untuk tetap bernyanyi. Pada saat listrik nyala, kalo tidak salah lagu pamungkas ‘Bongkar’ dimainkan, benar-benar suara ratusan ribu penonton menghujam tembok penguasa. Lagu Paman Domblang, Rajawali, Suara pengangguran, Bento, bagai peluru yang menghujam jantung penguasa Orba Soeharto..bener-benar EPIC kawan!!#KT’91.

Ini link Suasana Konser Kantata Takwa’91 perform “Bongkar” http://www.youtube.com/watch?v=MmyDsX9kzns

Saya beruntung jadi saksi sejarah Konser KantataTakwa tahun ’91, ABG seperti saya dapat pelajaran berharga tentang sebuah perjuangan lewat budaya.

sekian

Cerita diatas adalah cerita nyata Glenn Fredly yang penulis ambil dari twitter beliau ” http://twitter.com/#!/GlennFredly semoga Glenn tidak keberatan Kicauannya di twitter penulis rangkum lagi dan dibagikan ke teman-teman yang lain dan semoga ada manfaatnya. Amin

Piramida di Jawa Barat Lebih Tua Dari Piramida Giza

Posted in Uncategorized on 2011/12/05 by chikal setiawan

JAKARTA - Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Alam dan Bantuan Sosial Andi Arief mengatakan bahwa tim katastropik purba yang melakukan penelitian intensif menemukan dugaan adanya bangunan berbentuk piramida di Desa Sadahurip dekat Wanaraja Garut, Jawa Barat menemukan fakta yang cukup mengagetkan.

“Dari hasil penelitian intensif dan uji karbon dipastikan bahwa umur bangunan yang terpendam dalam gunung tersebut lebih tua dari Piramida Giza,” kata Andi dalam pesan singkatnya kepada Okezone, Selasa (22/11/2011).

Andi menambahkan dari beberapa gunung yang di dalamnya ada bangunan menyerupai piramid, setelah diteliti secara intensif dan uji carbon dating, dipastikan umurnya lebih tua dari Piramida Giza.

Sekadar catatan, lanjut Andi, Piramida Giza selama ini dikenal sebagai piramida tertua dan terbesar dari 3 piramida yang ada di Nekropolis Giza. Dipercaya bahwa piramida ini dibangun sebagai makam untuk firaun dinasti keempat Mesir, Khufu dan dibangun selama lebih dari 20 tahun dan diperkirakan berlangsung pada sekitar tahun 2560 sebelum Masehi.

Dalam beberapa waktu ke depan, Tim Katastropik Purba akan melakukan paparan ke publik tentang temuan-temuannya tersebut. Tak hanya soal temuan piramida di Garut tersebut, tim ini nantinya juga akan memaparkan temuan istimewa di kawasan Trowulan, Batu Jaya, beberapa lokasi menhir di Sumatera dan lain-lain.

“Ada temuan mencengangkan tentang uji carbon dating pada 3 lapis kebudayaan di kawasan Trowulan yang terlanjur kita sebut Majapahit pada zaman sejarah masehi itu. Juga tentang temuan-temuan lapisan sejarah di Lamri Aceh dan sekitarnya,” ungkapnya.

Terhadap temuan ini, sambung Andi, Tim Katastropik Purba juga akan terus berkoordinasi dengan bidang kepurbakalaan, antropologi, arkeologi, pakar budaya, ahli sejarah dan lainnya. Disamping akan terus berkoordinasi lintas ilmu kebumian sehubungan dengan temuan-temuan sejarah bencana-bencana lokal dan global untuk dicari mitigasinya.

“Sekadar catatan, beberapa hasil penelitian Tim Katastropik Purba ini telah disampaikan kepada publik. Di antaranya, rekomendasi agar 3 gunung di Jawa Barat yakni  Gunung Kaledong, Gunung Putri, dan Gunung Haruman dijadikan sebagai cagar budaya,” ungkapnya.

Rekomendasi itu atas dasar penelitian melalui metoda ilmu kebumian, meneliti sumber-sumber bencana alam dan melacak informasi dari masa lalu yang berkaitan dengan kejadian bencana alam katastropik.

Obyek penelitian lain yang berada pada jalur-jalur patahan gempabumi dan gunung api di sepanjang Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa timur, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan sampai Papua, terus dikaji secara ilmiah. “Hasil penelitian-penelitian lanjutan tentang ini akan disampaikan ke publik,” pungkasnya.

(abe)

Sumber : http://news.okezone.com/read/2011/11/22/337/532902/piramida-di-jawa-barat-lebih-tua-dari-piramida-giza

Malaikat Surgaku

Posted in puisi, Uncategorized on 2011/11/18 by chikal setiawan

Ia yang dulu berbagi nafas denganku..
Sampai sekarang tetap begitu..
Ia yang dulu berbagi raga denganku..
Sampai sekarang kita menyatu..
Ia yang dulu berbagi lelah denganku..
Ketika ini ia tak mau..
Ia yang dulu berbagi nyawa denganku..
Ketika ini ia tak ragu..

Tiada yang seteduh laku pandangmu..
Membuatku tahu ada yang mereka sebut nirwana..
Hingga aku tak takut melangkah di dunia..

Ku dengar saatku tertidur..
Namaku kau sebut berulang kali hingga jatuh air matamu..
Ku yakin kau berbincang dengan penciptamu..
Sekali lagi ku yakin itu doa..
Doa tulusmu padaku..

Maaf aku hanya diam membatu..
Tak banyak membantu dalam hidupmu..
Malah nyenyak menyenderkan bahu..
Tanpa tahu bagaimana kau selalu bersenandung lagu tidur untukku..
Karena ku terlelap terlalu cepat..
Hingga tersenyum pun tak sempat..

 

Kini..
Aku bukan seseorang yang pantas merengek lagi..
Tidak seperti dulu aku yang tak mau tahu..
Kau..
Kau menangis saat rengekan pertamaku di dunia kau dengar..
Tangis bahagia..
Entah rengekan ku beberapa hari lalu..
Tak sampai hati jika kau kini sendu..

Aku kesal padamu..
Kau membuat sesuatumu kekal..
Sedang aku hanya orang tak tahu malu..
Malu akan sesuatu yang tulus..
O ia..
Mungkin selama ini..
Aku diam..
Karena memang tak ada kata yang sepadan untuk mu..
Kau..
Kau..
Adalah superior!!!
Karena perasaan mu merobek bahasa..
Tak kenal usia..

Di atas semuanya..
Aku hanya ingin berucap..

“Terima kasih”

Untuk ibuku..
Malaikat yang nyata bagiku..

 

“Nak”

Posted in ungkapanku on 2011/10/17 by chikal setiawan

Dunia terasa diam dan sepi
Melihat bayangan di atas wajahku
Termenung ku melangkah di hidup ini
Hanya ada renungan yang membayang di pikiranku

Wahai dunia, apakah ini yang sebenarnya
Sungguh indah di cahaya mata
Tapi ntahlah yang sebenarnya
Seakan sendiri melangkah pahitnya hidup ini

Mungkin aku tak sendiri
Seandainya kau ada di sini denganku
Berbagi rasa yang sama
Bercerita tentang layang-layang yang putus

Bercerita tentang ayahmu sewaktu muda

Bercerita tentang kenakalan ayahmu sewaktu bujangan

Akan seperti itu ayah ceritakan jikalau engkau ada

Tapi hanya sekedar bayangan yang selalu menemaniku
Hiasi malam sepiku, Hiasi setia hari-hariku

Walau sudah sekian lama aku berharap

Tapi engkau belum juga hadir “Nak”.

Aku sangat merindukan dirimu Nak
Hanya pikiran yang mematung tersirat
Syair ini seutas lintasan dalam pikiranku
Untuk diriku yang sudah ingin mendengar tangisanmu “Nak”

Smoga engkau cepat hadir tuk temani ayahmu ini

Nanti kita pergi ke kampung ayahmu

Disana kita bermain layang-layang dipinggir sawah

Disana nanti ayah ajarkan engkau mengaji

Disana nanti ayah ajak engkau nyekar di makam kakek dan Nenekmu Nak

Entahlah…
Seperti terbesit heningan diriku
Ya karim, Ya rahman
Hanya kepadamu aku berpulang dan menghiba
Tentang semua yang terjadi dalam hidupku
Sesungguhnya aku hanya sebidak catur dalam permainan catur
Yang telah engkau ciptakan..
Tapi semua akan aku jalani
Seperti rambut ini yang kian memutih
Menunggu dan menunggu sang buah hati
Smoga kau cepat hadir tuk temani ayahmu ini “Nak”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.