Kabulkan Do’aku Ya Allah

Posted in puisi on 2013/09/04 by chikal setiawan
Lima tahun sudah menanti sesuatu yang tak pasti
Lima tahun sudah selalu berdo’a, memohon pada-MU
Semua ikhtiar dan usaha tak pernah berhenti
Demi memohon kepercayaan dariMU ya Rabby
 
Kini cahaya kecil itu mulai menerangi
Menerangi lorong kegelapan selama 5 tahun
Aku mohon pada-Mu ya Rabby
Jangan pernah Engkau padamkan lagi cahaya itu
 
Jagalah cahaya itu
Janganlah redup apalagi sampai padam kembali
Aku mohon padaMU ya Rabb
 
Ya Allah ya Rabb
Aku berharap Engkau melindungi dan mengabulkan do’a2 hambamu ini
Amin..
 
 

 

Lima Tahun Berlalu

Posted in ungkapanku on 2013/08/30 by chikal setiawan
Lima tahun sudah kita lalui dan arungi bahtera hidup bersama
Semua suka dan duka kita rasakan berdua
Pahit dan manisnya kehidupan
Kita jalani apa adanya
 
Hampa rasanya, hambar menyelinap di ruang kalbu yg terdalam
Ketika sang buah hati yg di nanti tak pernah tiba
Seolah bahtera ini ada yang kurang
Seolah kehidupan ini ada yang ganjil
Belum lengkap
 
Banyak angan dan pikiran yang melanda
Menggoyahkan keyakinan yang ada
Melewati batas pemikiran
Menikam nurani
Ingin teriak dan berlari ikuti kata hati
 
Lima tahun berlalu
Waktu yang bukan sebntar bagiku
Menanti sesuatu yang tak pasti
Yang dimana setiap bulan selalu berharap dan berharap
Berharap impian bisa menjadi kenyataan
 
Tapi selama ini mimpi itu hanya sebatas mimpi
Mimpi panjang yang tak pasti
 

Wawancanda sore dengan IWAN FALS

Posted in IWAN FALS on 2013/06/26 by chikal setiawan

IWAN FALS BLOGKali kedua saya bertemu dengan Iwan Fals secara personal sambil tanya soal ini soal itu, di bilangan radio swasta di Jakarta 21/01/2013. Ketika Bertemu seperti biasa memberi salam kepada Bagoes AA dan Iwan Fals yang kala itu sedang berbincang santai…sambil mengenal kan diri kepada Iwan Fals..lalu sayalangsung ke pokok permasalahan (soalnya Iwan akan on air radio ).

beberapa pertanyaan tapi tepatnya sih konfirmasi kepada Iwan Fals soal karyanya tahun ’80an,
- soal judul panjang “doa Pengobral dosa”  yang tertera di PH menjadi “Doa Pengobral Dosa di Sudut Dekat Gerbong Butut” merupakan kesalahan dari pihak Label kata Iwan Fals, tetapi bagi kolektor.. ini menjadi unik
- lagu  “Menjelang Bobo/tidur” di album Wajib Belajar nya Rita Rubby Hartland dimana disitu tertera ciptaan Willy.S/RitaRubby/Iwan Fals, di sini Iwan bilang “LUPA” mungkin juga saat itu, kalo bisa lagu nya saya minta kayak apa lagu2 tersebut..ujar Iwan
- soal Lagu “KELUARGA DALAM BENCANA” di album EXAMASIST , “saya lupa tentang lagu tersebut, dan baru tau ada lagu saya disitu, itu grupnya Helmi dan Bambang setelah AMBURADUL saya ikut lomba Humor, Totok ke DEMOKRATIK ” kata Iwan
- lantas soal singkatan KPJ antara kaset dan PH Iwan bilang ” coba tanya ke Anto Baret, soalnya ada dua persepsi juga  antara Kelompok Pemusik Jalanan dan Kelompok Penyanyi Jalanan.. kalo penyanyi hanya bernyanyi, kalo pemusik lebih luas”
- Tentang lagu “Luka” dan “Annisa” yang tidak dimasukan ke album, ternyata Iwan sendiri gak tau kenapa tidak dimasukan dua lagu tersebut ” mungkin untuk lagu Annisa gak muat dikaset waktu itu (kaset c-45 kata Iwan).
- Lagu “Percayalah Kasih” dialbum Yockie – PENANTIAN, “tadinya suara cewek itu Yos, tapi saya gak setuju lalu digantikan oleh Vina Panduwinata”
Suara Cewek di lagu Damai Kami Sepanjang Hari  dan “Surat Buat Wakil Rakyat” merupakan suara mbak Yos (istri Iwan).dan suara anak kecil di lagu “Wakil Rakyat dan Kemesraan” versi awal itu suara anaknya Heiry Buchaeri dan suara cewek itu Titik Hamzah ketika saya tanya ke Bagoes AA.
ketika saya tanya soal Jingle Iklan, Iwan Bilang “ada tiga jingle iklan yang saya bikin, iklan jeans JOIN-IN , iklan vespa waktu dibandung awal 80-an dan tabloid “DETAK” (90an)..# wah punya Pe-er lagi nih iklan sebuah Vespa, hunting lageee…..

album2 awal Iwan Fals menurut beliau sendiri
1. Rekaman di Radio EH 8 (tidak diedarkan) dimana Iwan bermain sendiri
2. Kelompok Amburadul (Totok kebandung mengajak Iwan membentuk band dijakarta dan rekaman diwal 1979)
3. Yang Muda Yang Bercanda II (vakumnya Amburadul Iwan ikut lomba2 humor, Totok ke Demokratik)
4. Canda Dalam Ronda (bersama Pepeng, Krisna, Nana Krip)
5. Canda Dalam Nada (lagu yang di ambil dari dua album sebelumnya di bendera LHI)

Ketika Iwan bermain di Balai Sidang Jakarta ada pihak Musica Studio menawarkan nya Rekaman maka rilis album Sarjana Muda”
Sedikit Wawancanda bareng Iwan Fals dengan suasana yang hangat & santai, sebenar masih banyak yang saya ingin tanyakan, apadaya waktunya sangat pendek mungkin lain waktu  dialbum baru nya Iwan Fals yang akan edar medio 2013 ini….(abd)

 

Iwan Fals Album baru 2013

Posted in IWAN FALS on 2013/06/26 by chikal setiawan
Interview album baru Iwan Fals yang rencananya berjudul RAYYA
Wall of Fame at Hard Rock FM Anniversary 17 th
di Radio Hard ROck FM Jakarta, dari 24 lagu yang disodorkan ternyata hanya 18 lagu yang dimasukan kedalam album baru tersebut, kalo mau lebih tau atau pengen tau banged dengerin aja dibawah ini :D
Label: 

Kisah 8 Bulan Terakhir

Posted in ungkapanku on 2013/06/13 by chikal setiawan

Sudah lama tak menulis di blogku ini, karena berbagai macam alasan dari sibuk dengan kerjaan, mengelola bisnis kecil-kecilan dll. Banyak sekali yang ingin ku tuliskan dalam waktu 8 bulan tak pernah lagi mencoretkan keluh kesah ini dalam blogku ini yang tulisan terakhir yaitu bulan Oktober 2012 dan sekarang udah Juni 2013.

Banyak cerita dan kisah selama 8 bulan yang tak tertuang dalam blog ini, dan selama 8 bulan itu saya sebagai penulis punya kegiatan baru dibalik pekerjaan rutin yang selama ini di jalani yaitu mencoba belajar berbisnis online dengan menjual produk-produk Jersey, Jaket, Hoodie, Kaos Distro, Syal Sepakbola klub-klub TOP EROPA dengan membuka sebuah website sebagai sarana untuk tempat berjualan : http://hitamputihstore.com juga di Fanspages Facebook yang beralamat di : http://www.facebook.com/pages/Hitam-Putih-Store/356145037802493 juga di blog http://hitamputihstore.wordpress.com dan Alhamdulillah bisnisku berjalan lancar dan pembeli berdatangan dari seluruh penjuru negeri ini. Dengan niat tulus dan modal kejujuran alhamdulillah sampe saat ini belum ada yang komplain dari para customer, apalagi kalo barang pesanan tidak sampe ke tangan pembeli itu belum pernah terjadi sekalipun.

HITAM PUTIH STOREDalam waktu 8 bulan belajar bisnis online itu, Alhamdulillah ekonomi keluarga menjadi lebih baik dan bisa terpenuhi mungkin lebih dari cukup buat saya dan isteri yang sampe detik ini ini belum juga dikasih momongan. Jujur sejak merintis bisnis online  ini banyak perubahan dalam ekonomi keluarga, yang sebelumnya selalu kekurangan walau kerjaku dikantoran tapi penghasilan dari kerja kantoranku itu tidak seberapa dibandingkan dengan hasil dari bisnis onlineku ini. Tuhan memang selalu ngasih jalan kepada setiap hambanya yang mau berusaha, berdoa, Jujur dan tidak pernah mengenal putus asa.

Kunci bisnis online itu yang penting kita jujur, care dengan customer, Aktif komunikasi dengan customer, persuasif yang elegan dan menyajikan produk-produk yang berkualitas dengan harga yang lebih kompetitif dibandingkan dengan para pesaing atau kompetitor lainyan.

 

IWAN FALS DAN PARA KORUPTOR

Posted in IWAN FALS on 2012/10/18 by chikal setiawan

Iwan Fals Dan Para Koruptor

Perhatian kita sekarang terus dinodai dengan tingkah parakoruptor. Kalau saja hukum di negara ini bisa tegas, tentu tidak akan ada yang berani ‘ngembat duit rakyat buat kesenangan pribadi. Tapi tahu sendiri kan yang terjadi dengan semua ini..?
Iwan Fals sudah sering menyindir tingkah busuk para koruptor dalam lagu lagunya, bahkan dia juga memotret perlakuan spesial yang dinikmati koruptor yang sudah dipenjara sekalipun. Mari simak apa sebagian cerita Iwan Fals dalam lagu-lagunya tentang para koruptor itu….

Ini bukan rahasia lagi seperti kata Iwan Fals, negeri kita ini surganya para penipu. Akibat ancaman hukuman yang tidak tegas, pemimpin yang memble, akhlak yang bejat… dan secara tidak langsung ‘didukung’ juga oleh beberapa dari kita sendiri yang kadang tak ambil pusing dengan semua itu, yang penting tidak diusik, perut kenyang keluarga senang, peduli maling berkeliaran.

Tiga Bulan
Karya ini merupakan salah satu lagu lama dimasa awal karir Iwan Fals sekitar awal 80-an. Saat lagu ini beredar dalam album berjudul sama, 3 Bulan, dia belum begitu populer. Lagu ini berkisah mengenai diskriminasi perlakuan dan putusan hukum antara maling telur ayam dan koruptor uang negara senilai seratus juta rupiah.
Si maling telur dalam pengadilan mendapatkan perlakuan tegas. Dan dia akhirnya dihukum selama tiga bulan penjara karena mencuri seratus butir telur ayam di pasar. Lalu bisa dipastikan dia semakin tersiksa dalam penjara dengan adanya bait lirik yang tertulis,“bibir sumbing gigi rompal dapat kupastikan”.
Bagaimana dengan si koruptor. Ternyata perlakuan dalam persidangan jauh lebih ‘santun’ ketimbang si maling telur tadi. Kamu bisa baca dalam bait, “Palu kayu bapak hakim berbunyi pelan terdengar sumbang”. Itu bisa kita artikan sendiri kalau si hakim tidak tegas dan menjadikan pengadilan untuk koruptor ini hanya sebagai permainan belaka. Dan hasilnya koruptor itu juga ditahan selama tiga bulan penjara. Hebat kan, maling telur dan koruptor hukumannya sama. Makin hebat lagi ketika Iwan Fals berkata, “dalam rumah dalam penjara tiada beda…”. Kamu bisa memahami lirik itu kan?. Kalau kita rajin mengamati berita-berita tentang lucunya putusan pengadilan sekarang, ternyata peristiwa yang dinyanyikan Iwan Fals pada awal tahun 80-an ini masih sering kita dapatkan di masa sekarang.Lirik lengkap lagu Tiga Bulan 

Pemborong Jalan
Ini juga karya Iwan Fals di tahun 80-an saat dia masih belum populer. Lagu ini terdapat dalam album Perjalanan.
Lagu ini berisi mengenai kritikan Iwan Fals pada kualitas pembangunan di negeri ini yang hanya bertahan sebentar saja lalu rusak lagi. Dia memberi contoh pada sebuah jalan yang baru saja diaspal, setelah sehari terkena hujan, aspal itu rusak lagi. Apakah yang terjadi? apakah dana proyek itu dikorupsi? kemungkinan itu sangatlah besar.
Kemudian Iwan Fals menghubungkan dengan uang pajak. Rakyat yang sudah bayar pajak tinggi tetapi mendapatkan fasilitas yang minim. Iya benar, kita bisa meyakini semuanya dikorupsi. Uang pajak dikorupsi, lalu yang dipakai hanya tinggal sisa-sisanya untuk pembangunan fasilitas publik yang hasilnya asal-asalan. Lalu para pekerja pembangunan itu hanya diupah rendah, mereka tak ubahnya hanya menjadi sapi perahan saja oleh pemenang tender proyek yang biasanya sudah diatur. Inilah ironisnya negeri kaya raya yang bernama Indonesia ini. Korupsi dimana-mana.

Lirik lengkap lagu Pemborong Jalan

Sapuku Sapumu Sapu Sapu

Karya ini ada dalam album Opini tahun 1982. Sebenarnya lagu ini mengangkat tema tentang profesi tukang sapu. Pekerjaan kecil ini kadang luput dari perhatian kita, padahal jasa tukang sapu sangat besar untuk kebersihan dan kesehatan lingkungan yang kerap kita lewati.

Lalu dimana hubungannya dengan koruptor? Simak bait ini: “Tukang sapu bawa sapu masuk di kantor bersihkan yang kotor… Cukong kotor mandor koruptor semua yang kotor… awas kena sensor..”. Dalam kacamata saya, tukang sapu disini bermakna kita sebagai bagian dari rakyat yang menginginkan negeri ini bersih dari korupsi. Lalu kita memasuki area-area yang sering menjadi sarang para koruptor. Kita bersihkan semua koruptor yang bertengger disana. Lalu Iwan Fals mengingatkan ‘awas kena sensor’. Peringatan itu bermakna kalau kita rajin membersihkan para tukang korupsi tersebut, kita bisa dibasmi juga.

Lirik lengkap lagu Sapuku Sapumu Sapu Sapu

Politik Uang

Lagu yang ini ada dalam album Manusia Setengah Dewa tahun 2004. Sebuah album Iwan Fals yang sarat dengan kritik sosial. Album ini pula yang saat itu menjawab kerinduan penggemar terhadap sosok kritis dan kesederhanaan lagu-lagu dari penyanyi ini.

Lagu ini berkisah mengenai dunia politik dengan banyaknya partai yang terdaftar untuk ikut pemilihan umum. Disitu Iwan Fals berkata asalkan punya uang banyak, sebuah partai bisa memenangkan pemilu. Dengan apa? Dengan menyuap para pemilih untuk memilih partai politik yang ditentukan. Mereka (partai politik) kampanye dengan menawarkan berbagai program kerja kepada rakyat. Tetapi itu rupanya hanyalah seperti dongeng karena kenyataannya hanya cuma omongan yang tidak jelas pelaksanaannya. Namun banyak penonton cukup senang karena mereka mendapat keuntungan materi dengan menghadiri kampanye politik.

Dalam lagu ini Iwan Fals berkata uang adalah bahasa kalbu, uang adalah santapan rohani mulai birokrat, rakyat jelata bahkan wakil rakyatnya. Meski tidak semuanya tetapi banyak yang suka. Mungkin maksudnya dengan uang (kotor) bagi siapa saja yang suka, apapun bisa dilakukan, bahkan untuk memperoleh kekuasaan politik. Lalu dia melanjutkan dengan bait, “Jangan heran korupsi menjadi jadi… Habis itulah yang diajarkan… Ideologi jadi komoditi… Bisa diekspor ke luar negeri”. Masih mau membantah kalau korupsi tidak diajarkan dalam keseharian beberapa dari kita…?

Lirik lengkap lagu Politik Uang

 
Dan Orde Paling Baru

Lagu ini masih dalam album Manusia Setengah Dewa. Dulu kita mengenal istilah Orde Lama. Kemudian kita mengenal lagi istilah Orde Baru sebagai pengganti istilah sebelumnya. Dan setelah kekuasaan Orde Baru digulingkan dengan demonstrasi besar-besaran tahun 1996, kita mengenal dengan Orde Reformasi. Namun Iwan Fals menyebutnya Orde Paling Baru.

Dalam lagu ini Iwan menyindir tidak banyaknya perubahan setelah Orde Baru digulingkan. Lagu ini langsung menghentak dengan bait “KKN berkembang biak sampai kelurahan”. Istilah KKN semakin kita kenal pada masa demonstrasi besar-besaran menuntut reformasi. KKN adalah singkatan dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Kondisi penuh KKN ini merajalela dimasa Orde Baru sehingga menjadi salah satu pemicu pergolakan besar yang kemudian meruntuhkannya. Namun ternyata sampai masa Orde Paling Baru praktek tersebut tidak berkurang, bahkan malah semakin menjadi. Apakah benar yang dikatakan Iwan Fals?. Coba saja kamu main ke berbagai kantor kelurahan untuk membuktikannya. Setidaknya apa yang dikatakan Iwan Fals dalam lirik lagu ini memuat kebenaran. Sungguh mengerikan kondisi seperti ini, sehingga Iwan Fals melanjutkan dengan kalimat “Perlu pemimpin yang demokratis tapi bertangan besi” untuk memberantas praktek KKN itu. Apakah pemimpin yang sekarang seperti itu..?.

Lirik lengkap lagu Dan Orde Paling Baru 

Ngeriku

Negeriku yang ngeri, mungkin itu maksud Iwan Fals membuat lagu yang masih berada dalam album Manusia Setengah Dewa ini. Disini Iwan Fals mengajak kita turut serta bersih bersih negeri dari para penipu ini. Negeri para penipu? Iya benar, masih tidak percaya lagi?. Cobalah menengok keluar.Kata Iwan Fals negeri ini surganya para penipu. Dan memang benar itu yang terjadi, dinegeri ini para penipu berkeliaran bebas tanpa ada ancaman hukum yang tegas. Mulai penipu kelas teri yang kalau apes digebuki sampai mati dijalanan… penipu kelas bandengyang jika dipermalukan media massa lalu terpaksa dicopot jabatannya karena tekanan publik tapi bebas berdarmawisata ke luar negeri… sampai penipu kelas kakap yang antri untuk dicium tangannya bolak balik oleh para pejabat tinggi negara. Dan tidak ada ancaman hukum yang membuat jera terhadap perilaku mereka. Koruptor juga masuk kedalam golongan penipu, maling dan sejenisnya dan hal diataslah yang kita tonton setiap hari.

Kita sebagai rakyat yang takut akan dosa dan pembalasan di akhirat hanya bisa mengutuk dan mencibir ulah para penipu ini, namun biasanya yang terlalu keras sindirannya akan disikat. Disikat demi kepentingan kelompok atau golongannya. Disikat dengan sikat yang dibeli dari uang kotor hasil korupsi. Ngeri… Iwan Fals dalam lagu ini mengajak kita bersih-bersih negeri ini dari gerombolan penipu… sebelum kita yang dibersihkan oleh mereka.

Lirik lengkap lagu Ngeriku 

Masih banyak lagu-lagu Iwan Fals baik solo maupun bersama grup band yang memuat lirik tentang korupsi dan sebangsanya. Kita semua memang jenuh dengan kondisi seperti ini. Kita menjadi saling curiga dan tidak bisa mudah mempercayai siapa / lembaga apa saja yang berkicau. Kita semua seperti dipaksa bersabar dan hanya disuruh duduk manis disofa menjadi penonton kebusukan-kebusukan ini dari layar TV. Apakah kita harus ramai-ramai turun ke jalan untuk merobohkan setan yang berdiri mengangkang….?
(sb-iwanfalsmania.com)

Kalau cinta sudah di buang, jangan harap keadilan akan datang.
Kesedihan hanya tontonan, bagi mereka yang diperkuda jabatan.
Sabar sabar sabar dan tunggu, itu jawaban yang kami terima.
Ternyata kita harus ke jalan, robohkan setan yang berdiri mengangkang.
Penindasan serta kesewenang wenangan, banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan. 
Hoi hentikan, hentikan jangan diteruskan.
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan.
Dijalanan kami sandarkan cita cita. Sebab dirumah tak ada lagi yang bisa dipercaya.
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia.
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta.
BONGKAR !!!

Konser Iwan Fals – PLASTIK

Posted in IWAN FALS on 2012/09/10 by chikal setiawan
Liputan Kons3R #2 Iwan Fals. Tema: ‘Plastik’. Leuwinanggung, 8 September 2012.

Konser Iwan Fals - PlastikIni adalah edisi ke-2 konser Iwan Fals di Panggung Kita, Leuwinanggung yang juga rumahnya. Setelah sebelumnya pada 21 Juli 2012 telah menyelenggarakan konser #1 dengan tema ‘Sampah’ di tempat yang sama. Konser Iwan Fals #2 dengan tema ‘Plastik’ kali ini berlangsung pada hari Sabtu, 8 September 2012 sore hari dengan bertabur bintang tamu para musisi profesional. Iwanfalsmania.com berkesempatan menyaksikan konser ini sekaligus silaturahim dengan sahabat-sahabat pengakses blog ini diarea konser.

PT. Tiga Rambu atau biasa disebut 3R, perusahaan milik Iwan Fals dan keluarga seperti biasa menjadi penyelenggara konser-konser Iwan Fals terutama yang dilangsungkan di rumahnya. Konser #2 edisi ‘Plastik’ adalah salah satu bentuk keprihatinan Iwan Fals terhadap begitu bahayanya sampah plastik. Dekorasi panggung pun didominasi oleh sampah-sampah plastik.

Diiringi Totok Tewel (gitar), Edi Darome (keyboard), Raden (drum) dan Ferry (bass), Iwan Fals & Band membuka kons3R sore itu dengan lagu Esek-Esek Udug-Udug. Perlahan para fans Iwan Fals yang tergabung dalam Oi, Fals Mania dan Komunitas Tiga Rambu mulai menyemut sekitar arena konser. Setelah itu berturut-turut lagu Ada Lagi Yang Mati dan Guru Zirah dibawakan. Komposisi Iwan Fals & Band kali ini benar-benar menyuguhkan irama yang cukup ‘ngerock. “Wah, kalo main kayak gini baru tiga lagu dah kelar nih!”, seloroh Iwan Fals.

Bintang tamu pertama yang menemani Iwan Fals adalah Balawan, permainan gitaris jazz tersebut sangat menyatu dalam lagu PHK. Lagu ini menjadi sangat energik dan unik ketika permainan gitar Balawan dan Totok Tewel saling bersahutan, mengingatkan kita pada konser-konser G3 yang terdiri dari 3 gitaris handal dunia yakni Joe Satriani, Steve Vai & John Petrucci.

“Bumi terancam polusi, kalo plastik-plastik itu dipakai untuk dipakai membungkus bumi maka mencapai 10x lipatan ukuran bumi. Penyumbang terbesar sampah plastik adalah supermarket, plaza-plaza, pasar. Belum lagi harga-harganya yang semakin membumbung tinggi”, ujar Iwan Fals sesaat sebelum ia membawakan lagu Mimpi Yang Terbeli.

Permainan gitar Balawan sangat ciamik di lagu ini, seperti melody-melodi jazz menggerayangi lagu Iwan Fals. Bisa kita bayangan permainan rock Totok Tewel ditaburi oleh permainan jazz Balawan. Kombinasi yang nyaris sempurna, begitupun ketika laguDesa mereka bawakan. Salut !

Kenapa Balawan menjadi salah satu bintang tamu sore itu? Iwan Fals memberikan alasan yaitu karena salah satu lagunya yakni Buku Ini Aku Pinjam menjadi salah lagu yang menginspirasi seorang Balawan untuk lebih mendalami alat musik gitar. Balawan pun diberi kesempatan oleh Iwan Fals untuk memainkan instrumental lagu Buku Ini Aku Pinjam. Sorak penonton pun membahana mengiringi permainan Balawan. “Semoga Mas Iwan Fals diberikan kesehatan dan panjang umur sehingga bisa menginpirasi kawan-kawan yang lain”, ucap Balawan sesaat sebelum ia meninggalkan panggung.


  
Video Mimpi Yang Terbeli & Buku Ini Aku Pinjam (insrumental) – Balawan
Pangggung Kita 8 September 2012

Iwan Fals Feat. Momo Geisha
Setelah disuguhi 6 lagu yang bertempo cepat dan rock, pada lagu kedelapan Iwan Fals membawakan lagu Izinkan Aku Menyayangimu ditemani oleh vokalis band Geisha yakni Momo. Duet Iwan Fals dan Momo Geisha membuat lagu ini semakin terasa manis dan romantis. Kehadiran Momo Geisha menjadi kejutan karena tidak dipublikasikan luas oleh Tiga Rambu kepada penonton.
Setelah itu, Momo didaulat oleh Iwan Fals untuk menyanyikan lagu Jika Cinta Dia“Ini lagu galau, saya ingin lihat Oi bisa ngga menyanyikan lagu galau”, seloroh Momo Geisha sebelum ia membawakan hits dari bandnya tersebut. Ternyata beberapa fans Iwan Fals banyak yang hapal lagu tersebut. Momo pun terlihat surprise dengan tepukan dan nyanyian para penonton.
“Lagu Takkan Pernah Ada dari Geisha menjadi lagu favorit saya”, ujar Iwan Fals. Momo lantas berucap, “Iwan Fals pernah bilang padanya  bahwa lagu ini mengingatkan Iwan Fals tentang Tuhan”. Kembali kolaborasi manis ini membuat penonton berdecak kagum atas penampilan mereka.
Iwan Fals, Iwang Noorsaid, Gilang Ramadhan
Tiba-tiba para personel Iwan Fals Band, satu per satu undur meninggalkan panggung dan penonton pun terkejut ketika dari arah kiri dan kanan panggung keluar secara slide dua buah instrument musik yang “wah”.Ternyata kedua istrumen tersebutlah yang akan digunakan oleh Iwang Noorsaid dan Gilang Ramadhan. Inilah puncak dari konser sore itu, permainan asyik mereka bertiga membuat penonton berdecak kagum. Permainan drum yang rancak dari Gilang Ramadhan, jari jemari Iwang Noorsaid yang menari diantara tuts-tuts keyboard dan suara gelegar Iwan Fals menjadi sebuah kolaborasi yang sangat menakjubkan. Irama-irama yang mereka mainkan sangat kaya dengan beragam jenis musik dari mulai tradisional, rock, ballads, jazz hingga kontemporer.
Kolaborasi mereka menghasilkan lagu Potret Panen + Mimpi Wereng, lagu baru dengan judul Sampah (lagu ini pertama kali dibawakan Iwan Fals saat konser #1 edisi Sampah 21 Juli 2012 di Panggung Kita), Tikus-Tikus Kantor, Mata Indah Bola Pingpong, Ringkik Kuda Betina, Kasacima, Pulanglah, dan sebuah lagu ciptaan Gilang Ramadhan yaitu Aku Pahlawan.


Video Potret Panen + Mimpi Wereng 

Iwang Noorsaid, Gilang Ramadhan & Iwan Fals
Panggung Kita, 8 September 2012
Diantara lagu-lagu tersebut beberapa kali Iwan Fals berorasi tentang sampah plastik, korupsi, koruptor, kekeringan, nasib petani hingga wanita. “Itulah perempuan bisa ditebak tapi sulit dicerna, seperti plastik, kalo tidak bisa mengolahnya bisa bahaya !!! ”, ujar Iwan Fals. Bahkan lagu Tikus Kantor dibuat seperti orkestra dan Iwan Fals bernyanyi seperti yang biasa dibawakan oleh Djaduk Ferianto dengan Sinten Remen-nya.
Iwan Fals Konser Plastik
Diakhir lagu Aku Pahlawan karya Gilang Ramadhan, Iwan Fals mengajak semua musisi untuk naik ke panggung dan mengucapkan terima kasih kepada semua kru yang terlibat mulai dari Direksi Tiga Rambu hingga seksi kebersihan. Satu per satu nama mereka disebutkan Iwan Fals. “Maaf bagi yang belum tersebutkan, Terima Kasih !!!’, kata Iwan Fals menutup konser sore itu. (fendi – iwanfalsmania.com)
Konser Iwan Fals Panggung Kita Leuwinanggung
KONS3R #2 PLASTIK
Panggung Kita
Ds. Leuwinanggung no. 19 Tapos, Depok, Indonesia 16956
8 September 2012
Jam 15:15
Iwan Fals & Band
Iwan Fals – vocal, accoustic guitar
Totok Tewel – lead guitar
Edi Darome – keyboard
Ferry – bass
Raden – drum
Bintang Tamu:
Balawan
Momo ‘Geisha’
Iwang Noorsaid
Gilang Ramadhan
Daftar lagu:
1. Esek-Esek Udug-Udug
2. Ada Lagi Yang Mati
3. Guru Zirah
4. P.H.K. (feat. Balawan)
5. Mimpi Yang Terbeli (feat. Balawan)
6. Desa (feat. Balawan)
7. Buku Ini Aku Pinjam (instrumental – Balawan)
8. Izinkan Aku Menyayangimu (feat. Momo Geisha)
9. Jika Cinta Dia (feat. Momo Geisha)
10. Takkan Pernah Ada (feat. Momo Geisha)
11. Potret Panen + Mimpi Wereng (feat. Iwang Noorsaid & Gilang Ramadhan)
12. Sampah (feat. Iwang Noorsaid & Gilang Ramadhan)
13. Tikus-Tikus Kantor (feat. Iwang Noorsaid & Gilang Ramadhan)
14. Mata Indah Bola Pingpong (feat. Iwang Noorsaid & Gilang Ramadhan)
15. Ringkik Kuda Betina (feat. Iwang Noorsaid & Gilang Ramadhan)
16. Kasacima (feat. Iwang Noorsaid & Gilang Ramadhan)
17. Pulanglah (feat. Iwang Noorsaid & Gilang Ramadhan)
18. Aku Pahlawan (feat. Iwang Noorsaid & Gilang Ramadhan)

Silahkan follow akun twitter partner kami ->> @BeritaIwanFals untuk mendapatkan update terkini mengenai Iwan Fals. (unofficial account dari fans)

Tabir Kehidupan

Posted in ungkapanku on 2012/08/28 by chikal setiawan

Kadang hidup itu tak seperti apa yang kita inginkan

Kadang kehidupan itu seolah tak berpihak kepada kita

Kadang hidup itu seperti pertaruhan

Kadang hasilnya juga tak seperti yang kita harapkan

 

Tapi tak pernah sedikitpun takdir itu tanpa makna

Tak pernah sedikitpun hidup itu tanpa inspirasi

Tapi seringkali kita menilai sempitnya arti kehidupan

Padahal di semua lini kehidupan terselip sebuah rahasia

Dimana yang punya kehidupan yang sudah mengatur semuanya

 

Sementara kita tak temukan apapun selain keluhan  dan ratapan.

Padahal kita akan temukan makna di setiap cerita hidup.

Ketika kita berani menatap luas kehidupan ini.

Ketika kita berani membuka tabir setiap kejadian

Lalu mengaplikasikan dalam kehidupan nyata

Menatap luas setiap cerita yang kita lalui.

Pasti aka nada hikmah yang akan terangi jalan kehidupan kita

 

Selasa 31 Juli 2012

Posted in ungkapanku on 2012/08/14 by chikal setiawan

Setumpuk harapan yang sudah menggunung

Selusin keinginan yang sudah menganga

Ternyata Tuhan punya rencana lain

Dua garis itu belum menjadi sebuah kehidupan yang baru

Belum belum dan entah sampai kapan harus menunggunya lagi..

 

Waktu terus berlari menjemput mimpi-mimpi

Ku coba pahami waktu

Masa terus berganti merajut khayal

Ku coba Ikhlaskan rasa

Bertafakur mencari jati diri

Memunajat pada yang punya kehidupan

 

Ku tapaki dan ku panjatkan lagi doa2ku padaMU

Semoga waktu itu tak akan lama lagi

Semoga Dua Garis itu akan kembali

Menyapa  Mahligai yang sepi

Memberi setitik harapan dan keinginan kami

 

Aku yakin waktu itu akan tiba

Aku yakin rencanaMU yang Maha Mulia

Aku yakin dan sangat yakin

Bahwa waktu itu akan ada Untukku dan Kehidupanku

DUA GARIS ISTIMEWA

Posted in ungkapanku with tags on 2012/07/31 by chikal setiawan
Mimpi yang selama ini terus menghantui
Khayal yang selama itu terus menggelayuti
Keinginan dan harapan yang tinggi
Seolah terjawab ketika sang pajar menantang pagi

Apakah ini jawaban dari doa-doa selama ini?
Semoga saja iya dan memang itu yang aku harap
Apakah benar impian itu akan segera terwujud
Ya aku harap demikian

Kesempurnaan hidup akan segera terlengkapi
Menuai mahligai dalam buah biduk yang aku kayuh
Menerobos celah-celah hari yang teramat sepi
Membongkar nuansa romantika
Datanglah wahai sang rembulan

Terbitlah wahai sang perkasa
Tinjulah congkaknya dunia
Dua garis adalah awal sebuah kehidupan baru
Dua garis semoga menjadi nyata
Amin…

Asaku

Posted in puisi on 2012/06/28 by chikal setiawan
Bimbang bercampur amarah meledak
Membawa nista yang tiada jawab..
Mengubur luka menganga di ujung biru hari kelabu
Tancapkan hunusan pedang yang menghamburkan darah terasa pilu
Sungguh amat pilu menusuk dan kadang menggerogoti nyawa

Tak bertulang bagai lidah
Tak bercahaya seperti bulan
Gelap dalam hamparan padang
Menjuntai harapan tak terurai realita
Hanya serpihan angan yang ku coba ku satukan lewat kekuatan
Jiwa-jiwa perkasa dan semoga Illahi meridhai…..

12 Hal yang mungkin anda belum tau tentang Iwan Fals (sekedar share)

Posted in IWAN FALS, Uncategorized on 2011/09/08 by chikal setiawan

1. Sebelum album ‘Sarjana Muda’ (1981), Iwan Fals sebenarnya sudah pernah rilis beberapa  album. Tetapi sekarang tidak ada satupun yang bisa ditemukan di record store. Semuanya jadi collector item yang diburu para penggemar fanatiknya. Karya-karya yang musik dan liriknya sangat sederhana tersebar dibeberapa album yaitu ‘Yang Muda Yang Bercanda’, ‘Canda Dalam Nada’, ‘Canda Dalam Ronda’, ‘Perjalanan’ dan ‘Tiga Bulan’. Bisa dihitung hanya beberapa yang masih memiliki dan merawat album-album ini.

2. Sebelumnya nama Iwan Fals memiliki ejaan yang berubah-ubah. Dalam beberapa album lamanya pernah memakai ejaan IWAN FALES, IWAN PALES, IWAN FALLS, IWAN FALSE. Hingga akhirnya disederhanakan oleh pihak recording menjadi Iwan Fals saja. Pada album lamanya juga pernah dicantumkan nama asli (Virgiawan Listanto) sebagai pencipta lagu.

3. Iwan Fals pernah membuat lagu berjudul ‘Anissa’ yang intinya bercerita tentang kelahiran putri keduanya (Anissa Cikal Rambu Bassae) dimana banyak peristiwa yang terjadi selama masih didalam kandungan. Sedianya lagu ini masuk dalam album ‘Aku Sayang Kamu’ pada tahun 1986. Namun tidak jadi dimasukkan dengan alasan pihak recording (Musica Studio) tidak mau mengambil resiko menampilkan lagu dengan lirik yang keras. Kalau kita baca sampul album ‘Aku Sayang Kamu’, pada bagian penata musik terdapat kata-kata Anissa namun lagu ini tidak pernah ada. Lagu ini sempat diputar di radio tetapi hanya sebentar. Beberapa fans fanatik beruntung bisa mendapat rekamannya dan menjadikan koleksi yang berharga.

4. Lagu ‘Kemesraan’ adalah karya dari Franky dan Jhony Sahilatua yang pada awalnya dinyanyikan oleh duet legendaris Franky & Jane. Namun pada masa itu lagu ini tidak terlalu populer. Kemudian Iwan Fals ditawari untuk menyanyikan kembali bersama Titiek Hamzah. Lagi-lagi karya ini tidak terlalu dikenal. Baru kemudian pada tahun 1988 lagu ini dinyanyikan bersama-sama penyanyi lain yang tergabung dalam Musica Studio seperti Chrisye (alm), Rafika Duri, Betharia Sonata dan sebagainya dan menjadi lagu yang populer dan legendaris. Lagu Kemesraan versi terakhir ini adalah titik awal populernya lagu gaya ‘keroyokan’ di Indonesia yang saat itu memang sedang menjadi trend. Karya ini sampai sekarang menjadi lagu ‘wajib’ perkumpulan ibu-ibu atau acara seremonial lainnya.

5. Iwan Fals pernah mengusulkan nama ‘Septiktank’ sebagai nama grup band yang akan dibentuk pada tahun 1989 bersama Jabo, Yockie, Naniel, Nanoe, Innisisri, Totok Tewel dan Tatas. Namun beberapa personil menolaknya sehingga dilakukan lotere. Dan terpilihlah nama ‘Swami’ yang merupakan usulan dari Jabo. Ini plesetan dari kata ‘suami’ karena mereka semua sudah beristri. Nama Swami dan Iwan Fals tidak bisa dilepaskan dan melahirkan single hits yang begitu fenomenal sepanjang masa yaitu lagu ‘Bento’.

6. Pitat Haeng, sebuah nama yang mungkin asing ditelinga kita. Tapi tahukah anda, nama ini adalah nama samaran yang digunakan Iwan Fals. Nama ini dipakainya ketika menciptakan lagu yang cukup terkenal di era 90-an berjudul ‘Pak Tua’ untuk Elpamas sebuah grup band, dan pernah digunakan ketika membantu album ‘Bukan Debu Jalanan’ (1991) milik Sawung Jabo. “Pitat Haeng itu bahasa slengnya Jogja untuk Iwan Fals. Pitat itu Iwan, Haeng itu Fals. Dia pake nama itu karena nggak mau orang lain membeli album saya karena ada namanya. Dia punya pikiran yang baek”, kata Jabo. Iwan Fals suka membuat karya untuk orang lain dengan nama samaran. Dan kemungkinan masih ada beberapa nama yang belum pernah diketahui.

7. Album ‘Cikal’ (1991) adalah salah satu album solo paling dahsyat dalam sejarah karir Iwan Fals. One of Iwan Fals’s loose albums. Terdapat sentuhan jazz dalam beberapa lagu seperti ‘Proyek 13’ dan ‘Cendrawasih’. Kemampuan Iwan Fals menulis lirik disini benar-benar mengagumkan. Album ini hanyalah sebagian dari kejeniusan seorang Iwan Fals. Ini adalah album dimana Iwan Fals menanggalkan bayang-bayang Bob Dylan, dan dia melakukan dengan sempurna.

 8. Album ‘Hijau’ adalah album Iwan Fals yang ‘melawan arus’. Namun album yang keluar pada tahun 1992 ini sangat istimewa, baik pengerjaan musik, lirik, maupun kisah dibalik prosesnya. Iwan Fals sempat akan membakar master album ini sebelum diproduksi. Alasannya Iwan Fals merasa tersinggung albumnya ditawar-tawar oleh dua produser dari Harpa Record dan Prosound yang bersaing ketat membeli master album ini. Setelah album ‘1910’ (1988), Iwan Fals tidak dikontrak lagi dengan Musica Studio. Akhirnya master album ini dibeli oleh Prosound seharga Rp.365 juta termasuk sampul yang dibuat Dik Doang dan video klip. Bayangkan nilai segitu pada 1992. Sayangnya album yang mengusung musik kontemporer berkualitas tinggi ini tidak terlalu laku. Bukan album yang mudah dikonsumsi telinga pendengar biasa. Dan lebih tepatnya bisa dibilang hanya yang mengerti musik yang bisa mengatakan album ini luar biasa.

9. Iwan Fals hanya membutuhkan gitar akustik dan harmonika untuk menghasilkan sebuah album yang mengagumkan dan luar biasa. Pada album ‘Belum Ada Judul’ (1992) dia kembali ke gaya awal. Walaupun karya Iwan Fals di album ini mengingatkan kembali pada karya-karya Bob Dylan, terutama tiupan harmonikanya, tetap saja kalau bicara soal album akustik ini adalah karya Iwan Fals yang paling maksimal dari yang pernah ada. Album ini direkam secara live hanya selama 6 (enam) jam.

10. Iwan Fals kembali mengusulkan nama nyeleneh untuk grup band barunya. Ia pernah mengusulkan nama ‘Duda’ untuk band yang formasinya tidak jauh beda dengan grup ‘Swami’ yang telah lama vakum. Namun usul itu ditolak, dan akhirnya sepakat menggunakan nama ‘Dalbo’ yang berarti anak genderuwo. Album ini meluncur pada tahun 1993.

11. Album ‘Manusia Setengah Dewa’ (2004) adalah sebuah album akustik Iwan Fals yang mengingatkan kembali kepada album ‘Belum Ada Judul’ (1992). Album ini sempat mendapat protes karena tampilan gambar di covernya. Album ini dikerjakan secara live dan memakan waktu 2 (dua) bulan. Yang menarik disini adalah, setelah proses rekaman sudah final dan siap diproduksi, Iwan Fals baru sadar kalau dia lupa memainkan harmonika. Untuk mengulang lagi jelas memakan waktu, akhirnya album ini total hanya menampilkan permainan gitar akustik Iwan Fals.

12. Kalau diperhatikan, beberapa tahun terakhir ini kita tidak pernah mengetahui apa merk gitar atau alat musik lainnya yang digunakan oleh Iwan Fals juga musisi pendukung dalam setiap konsernya. Semua merk atau logo baik yang ada di alat musik dan sound system selalu ditutupi atau dihilangkan. Hal yang sama juga berlaku pada background panggung yang bersih dari sponsor.

**Sumber : http://iwanfalsmania.blogspot.com/

Demi Sarjana dan Suamiku

Posted in Uncategorized on 2011/08/18 by chikal setiawan

Aku wanita yang terlahir dari keluarga sederhana, Aku anak pertama dari 3 bersodara. Selepas SMA aku pergi merantau ke Ibukota dengan harapan dapat mendapatkan pekerjaan yang baik dan bisa membantu perekonomian orang tuaku di kampung yang harus masih membiayai adik-adikku sekolah. Di Jakarta aku tinggal di kost’an temen yang kebetulan sudah bekerja di sebuah pabrik di kawasan Industri di Jakarta.

Setelah sebulan lamanya menunggu akhirnya pekerjaan itu datang menghampiriku, setelah selama sebulan pula mengirimkan ratusan lamaran ke perusahaan-perusahaan yang di rekomendasikan temen-temenku. Alhamdulillah aku di terima di sebuah perusahaan Surat Kabar terkemuka di Ibu kota, walau cuma staff biasa tapi aku sangat bersyukur dengan rejeki ini.

Hari-hari yang aku jalani begitu bergairah, pagi-pagi aku sudah terbangun dan siap berangkat kerja, pulang sore, begitulah kegiatanku setiap hari yang di jalani. Aku begitu semangat menjalani kehidupan dan rutinitas selama ini, karena apa yang di cita-citakan untuk membantu kedua adikku bisa bersekolah akhirnya bisa terlaksana.

Dua tahun sudah aku menjalani pekerjaan ini, dan selama setahun terakhir aku sedang dekat dengan seorang laki-laki yang gagah, tampan dan kaya. Dia seorang pengusaha muda yang tekun, dan selalu merasa Optimis dalam menjalani kehidupan ini.

Pria tampan itu berulang kali menyatakan kekagumannya akan kecantikanku, parasku yang ayu, dan senyumku yang manis yang menurut pengakuannya bahwa dia itu benar-benar mencintaiku dan ingin segera menyuntingku untuk mau di jadikan sebagai istrinya.

Aku tidak yakin dengan niat laki-laki itu, mana mungkin seorang pria tampan, gagah dan tajir mau sama perempuan sepertiku, tapi laki-laki itu selalu meyakinkanku bahwa dia benar-benar ingin segera menikahiku.

Akhirnya aku percaya dan bersedia menjadi isterinya, dan Alhamdulillah akhirnya aku resmi menjadi isterinya. Aku tak lagi tinggal di Kost’an seperti dulu lagi, dan aku juga berhenti bekerja dari Perusahaan Surat Kabar itu. Suami yang menyuruhku untuk menjadi seorang ibu rumah tangga aja dan focus mengurusi suami dan keluarga.

Setahun kemudian aku dikarunia seorang putera yang tampan seperti bapaknya, anugerah terindah yang tuhan kasih buat keluargaku. Terasa lengkap sudah aku menjadi manusia, kini aku sudah menjadi seorang isteri untuk suami yang begitu mengasihiku, juga menjadi seorang ibu buat anakku yang tampan ini. Keluargaku hidup dengan berkecukupan, dan usaha suamiku Alhamdulillah semakin berkembang pesat, dan kini semakin tambah bekerja keras dengan kehadiran seorang putera di keluarga kami ini.

Tapi kehidupan gak selalu berjalan mulus bak mata air dari hulu sampai ke hilirnya, Jujur sebenarnya suamiku begitu menyayangiku, menerima aku apa adanya, menerima semua kekurangan dan kelebihanku. Tapi di mata sodara-sodara suamiku aku selalu di kucilkan, katanya aku tidak bisa beradaptasi ketika kumpul dengan keluarga besar suamiku. Mereka bilang aku tak berpendidikan dan tak selevel dengan keluarga suamiku yang rata-rata semuanya menyandang gelar sarjana, sedangkan aku hanyalah lulusan SMA.

Tapi aku coba bertahan dengan situasi ini, aku hanya bisa terdiam dan tak bisa apa-apa karena memang kenyataannya seperti itu, aku yang hanya terlahir dari keluarga sangat sederhana, sedangkan mereka keluarga suamiku semuanya terlahir dari keluarga terdidik.

Sebenarnya perlakuan itu sudah aku rasakan sejak aku nikah sama suamiku dulu, tapi semakin sini malah semakin gak nyaman aja kalo mendengar omongan kakaknya suamiku itu, dia bilang orang itu bisa di hargai karena pendidikannya bukan karena kecantikannya. Sakit banget rasanya hati ini, mendengar kata-kata seperti itu, aku juga mau punya gelar sarjana seperti mereka, andaikan aku terlahir di keluarga yang mampu mungkin aku juga bisa menyandang predikat sarjana itu.

Suatu hari adik suamiku datang berkunjung ke rumahku, kebetulan hari itu hari minggu. Melihat ada adik ipar aku langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan buat suami dan adik iparku sekalian. Sedangkan suamiku dan adiknya asik bermain dengan si kecil di ruang keluarga.

Setelah masakan siap, aku panggil suamiku dan adiknya untuk segera sarapan. Di sela-sela sarapan adik iparku nyeletuk, kak kenapa dulu gak kuliah? Coba kalo dulu kakak kuliah, pasti mama dan papa akan bisa lebih nerima kakak ini.

Selera makanku jadi hilang seketika, kejadian seperti ini sudah berulang kali bahkan lebih dari ratusan kali terdengar singgah di kupingku. Seketika aku menghentikan sarapanku, dan langsung ngelooyor masuk kamar sambil memangku si kecil.

Sebenarnya suamiku dari dulu sudah sering kali menyuruhku untuk kuliah, agar keluarganya bisa nerima aku, karena di keluarga suamiku, yang bukan sarjana hanyalah aku seorang. Suamiku selalu meminta dengan sangat agar aku mau kuliah, karena saking sayangnya dia sama aku, tapi aku selalu beralasan otakku tidak akan mampu lagi untuk kuliah, apalagi sekarang sudah punya anak semakin repot aja.

Malam harinya suamiku berkata lagi, agar aku mau kuliah supaya keluarganya lebih welcome sama aku, coba kamu cari kampus-kampus swasta yang kira-kira kamu bisa. Aku yakin kamu mampu dan pasti bisa ucap suamiku setengah memaksaku untuk kuliah.

Setelah kupikirkan beberapa saat dan harus mengikuti keinginan suami akhirnya aku bersedia kuliah, tapi dengan catatan waktu untuk keluarga tak akan bisa full seperti dulu lagi, dan suamiku pun mengerti dan bisa memahami catatanku itu.

Singkat cerita mulai bulan depan aku sudah mulai kuliah di sebuah kampus swasta ternama di Ibukota. Aku ambil kelas karyawan yang malam hari, karena kalo siang aku harus mengurusi si kecil yang lagi sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayangku. Aku selalu berangkat dari rumah setengah 6 sore, karena perkuliahanku di mulai setengah 7 malam sedangkan perjalanan dari rumah menuju kampus sekitar 1 jam.

Semester pertama aku harus tertatih-tatih dalam mengikuti mata kuliah ini, apalagi ketika si dosen sudah memberikan tugas rumah, hampir semua tugas yang di berikan dosen itu gak pernah aku kerjain. Sehinga semester pertama ada beberapa mata kuliahku yang dapat nilai D dan E sehingga mau tidak mau aku harus mengulangnya lagi.

Bebanku semakin menghimpit, Otakku terasa mau pecah membagi tugas rumah tangga dan mengikuti kuliah membuatku seperti orang stress. Kejadian itu terus berlanjut dan semakin parah lagi sehingga semester 2 kejadiannya persis sama dengan semester satu dengan nilai yg hampir semuanya anjlok.

Akhirnya aku bicarakan dengan suami, aku minta ijin agar aku berhenti kuliah aja karena aku benar-benar merasa tidak mampu menjalaninya, tapi suamiku bilang kamu jangan menyerah seperti itu, coba kamu cari jalan untuk mengatasi masalah itu… Tanya teman2mu di kampus siapa tau ada jalan keluarnya. Suamiku hanya ingin gelar sarjana dari diriku, agar aku bisa di terima di tengah keluarga besarnya.

Setelah sharing dengan suami, besoknya di kampus coba cerita sama teman, berkeluh kesah dengan hasil nilai mata kuliahku yang jeblok, temanku menyarankan untuk menemui dosen-dosen yang ngasih nilai anjlok tersebut.

Mendengar masukan dari temen, akhirnya aku memberanikan diri menemui dosenku, setelah ketemu dengan sang dosen aku bercerita minta bantuan beliau agar nilaiku bisa di bantu, tapi bapak dosen itu malah suruh menemuinya besok malam, akhirnya aku pamit tapi ada sedikit harapan, mudah2an bapak dosen bisa membantu nilaiku menjadi baik ucap hatiku saat itu.

Sesampainya di kampus keesokan malamnya aku langsung menuju ruangan TU, untuk bisa ketemu dengan sang dosen yang kemarin menyuruhku menemuinya, tapi sial si dosen gak datang malam itu, dan akhirnya aku memberanikan diri meminta nomor telpon ke bagian TU, setelah dapat aku coba langsung menghubunginya. Ketika telponku di angkat sama beliau, dosen itu malah suruh menemui dirinya di sebuah Hotel karena lagi ada seminar katanya.

Dengan terpaksa aku langsung meluncur ke sebuah hotel yang di bilangin tadi sama si dosen, sesampainya di hotel aku langsung menemui beliau. Terus si dosen menyuruhku masuk ke sebuah kamar dan dipersilahkan duduk, Aku duduk di sebuah kursi dekat ranjang. Aku berkata tolong bantu nilai saya pak, jangan sampai sampai saya harus mengulang mata kuliah Bapak. Dosen itu hanya tersenyum. Saya bisa membantu kamu, tapi apa kamu bisa juga membantu saya? Bilang si dosen balik bertanya. “Apa yang bisa saya bantu pak?” tanyaku lagi penasaran, si dosen mendekatiku dan langsung memelukku tanpa berkata apa-apa lagi.

Aku kaget setengah mati mendapat serangan mendadak seperti ini, Pak kenapa kok begini tanyaku lagi sambil mencoba meronta untuk melepaskan diri dari pelukan si dosen tadi. Tapi pelukan si dosen malah semakin kuat dan mencoba terus menciumku dari segala arah, aku terus meronta tapi tenaga si dosen malah semakin kuat, semakin aku meronta semakin kuat cengkeraman si dosen itu dan akhirnya aku terkulai lemas di pelukan si dosen itu. Setelah dosen itu puas menggagahiku dia berkata,” terima kasih ya, besok kamu lihat nilai mata kuliahmu lagi dan saya jamin kamu dapat nilai bagus.

Setelah kejadian di hotel, akhirnya si dosen itu merasa ketagihan dan dia minta aku melayaninya seminggu sekali kalo mau nilaiku bagus terus, dan aku tak bisa apa-apa dan hanya bisa menuruti kemauan si dosen itu agar aku tetap mendapat nilai yang baik.

Sialnya lagi si Dosen itu mungkin cerita kepada rekan-rekan sesama dosen, dan jadilah aku budak napsu para dosen setiap aku ke kampus. Aku di jadikan piala bergilir oleh dosen-dosen keparat itu, Mala mini dosen A, besok Dosen B dan seterusnya, tapi aku tak bisa apa-apa dan hanya bisa mengelus dada walau hati kecilku menangis pilu.

Aku hanya ingin menuruti keinginan suamiku agar aku bisa menjadi sarjana dan bisa di terima dengan baik oleh keluarga suamiku, walau aku harus jadi piala bergilir para dosen biadab itu.

Sejarah Lahirnya Kantata Takwa

Posted in IWAN FALS on 2011/07/29 by chikal setiawan

Kantata Takwa, nama kelompok musik legendaris beranggotakan para musisi-seniman berkualitas tinggi yang dimiliki Indonesia. Banyak dari kita cuma mengenal lagu-lagunya saja dan cukup puas melihat konser atau rekamannya, jarang kisah awal mula berdirinya kelompok musik ini diketahui.

 Maka dari itu saya angkat kembali tulisan lama dari Yockie Suryo Prayogo mengenai Sejarah Lahirnya Kantata Takwa. Artikel ini tampil utuh di iwanfalsmania.blogspot.com dengan seijin langsung dari penulisnya. Mungkin sudah ada yang pernah membacanya, namun saya yakin ada pula yang belum tahu. Semoga bisa menambah wawasan kita dan menjadi dokumentasi berharga musik Indonesia. (sb)

 —————————————————————————–

Sejarah Lahirnya KANTATA TAKWA

 oleh: Yockie Suryo Prayogo

 —————————————————————————–

Sejarah lahirnya Kantata Takwa (Bagian 1)

Kantata Takwa, begitu panjang kisahnya yang bisa saya tulis mengenai kelompok musik tersebut. Karena itu pula saya terpaksa harus membagi-bagi tulisan Kantata dengan versi 1- 2 -3 dan selanjutnya nanti. Pada bagian ini saya hanya akan mengungkapkan kisah perkenalan saya dengan mas Djody hingga terbentuknya kesepakatan kelompok kerja kesenian tersebut, yang akhirnya disebut Kantata Takwa.

Pada tahun 1989, saat itu saya sedang gencar melakukan promo tour bersama kelompok Godbless bagi album kami yang bertajuk ”Semut Hitam”. Saat itu saya masih tinggal di sebuah rumah (kontrakan) di daerah Kebon Jeruk, tepatnya di jalan Anggrek no.52 Kelapa Dua Kebon Jeruk – Jakarta Barat.

 Disela-sela kegiatan tour, saat sedang istirahat (jadwal kosong) kami semua selalu pulang kembali ke Jakarta. Suatu hari saya ditelpon oleh Jelly Tobing (drummer) mengajak saya untuk menemani dia berhura-hura (jam-session’an) main musik dirumah seorang kenalannya. Tidak ada target atau tujuan jangka panjang tertentu selain hanya untuk ”bersuka-cita”, bermusik sekedar hepi-hepian mengisi waktu yang luang saja. Temannya tersebut adalah penghobbi musik yang punya fasilitas latihan/nge-band dirumahnya. Lazimnya orang tajir-lah …intinya .. :) .

 Saya sendiri setelah diberitahu oleh Jelly Tobing, bahwa orang tajir tersebut namanya Setiawan Djody rasanya sudah tidak asing terdengar dikuping saya. Siapa sih yang nggak kenal dia saat itu…, maksudnya dilingkungan teman-teman lama saya (di tahun 1970’an) yang saat itu banyak berkecimpung di ranah bisnis “puncak gunung”, nama Setiawan Djody adalah jaminan kertas bernilai yang nggak ber-seri istilahnya hehehe.. (sumpah ngga ngaruh.., saya nggak matre’..!).

Kebetulan juga tempat tinggalnya diwilayah Kemanggisan Raya – Kebon Jeruk, yang notabene tidak berapa jauh dari rumah kontrakkan saya sendiri (10 kilometer-an lah kira-kira jaraknya). Maka disuatu hari Minggu, melalui telpon setelah janjian sama Jelly Tobing saya bersedia dateng ke alamat tersebut… ber “jreng-jreng” ria.

 Singkat kata kemudian saya menelusuri jalan Kemanggisan raya yang “krodit” penuh dengan oplet dan pedagang kaki lima dikanan kirinya. Saya mencari-cari nomer rumah yang diberikan pada saya……..fuih..! nggak keliatan jek! Abis kiri kanannya penuh toko-toko bangunan serta deretan warung dan kios-kios lainnya.

 Barulah akhirnya saya lihat ada sebongkah pintu gerbang besar berwarna ijo, nyelip diantara warung gudeg dan bakul-bakul rokok pinggiran jalan lainnya. Hm…ini mungkin pikir saya. Lalu sesuai dengan ”petunjuk Jelly Tobing”, bahwa: ”Klakson aja” kalau sudah ketemu gerbang ijo tersebut. Maka saya klaksonlah pintu gerbang ijo tersebut dua kali saja, ”tin…tiiin” gitu bunyi BMW 520 (yang juga masih belom lunas kreditan-nya) hehehe.

Sekejap pintu besar tersebut dibukakan oleh dua orang bertubuh tegap berambut klimis berwajah sangar ..hihihi. Mereka yang kemudian saya kenal akrab bernama pak Parno dan lainnya huehehe. Begitu hidung mobil masuk pintu pagar, terbentang ruang parkiran luas yang kira-kira mampu menampung 12 mobil banyaknya. Masih dari dalam mobil saya melihat dua ekor patung macan Afrika (item dan guwedhe) yang terbuat dari batu semen, sepertinya emang bertugas untuk menyambut kedatangan tamu yang hadir disana. Ck..ck..ck..kagumnya saya… (ndesit tenan..!).

Ruang parkiran tadi adalah bagian terpisah yang dibatasi dengan tembok tinggi untuk memasuki ruang bangunan rumah yang sebenarnya. Maka setelah melewati tembok pintu besar (melewati macan-macan tadi) …semakin takjub saya dibuatnya…. Rasanya tidak sedang berada seperti di Jakarta, namun lebih mirip saya sebut seperti sedang di daerah Bali (mis: Ubud/Gianyar, dsb). Sementara bangunan rumahnya sendiri bergaya klasik aristokrat Eropa yang rada-rada serem dan mencekam (paling nggak buat saya… kebayang sih.. gimana kalau malam..) apalagi disana sini banyak dibangun semacam ”pura” lengkap dengan sesajen2nya. Tetapi sekejap ke-takjub’an saya sirna oleh suara bising ”gedebak.. degebug… nguinngg nguuueinng.. suara gitar bertalu-talu ..hehehe..” (koq gitar bertalu-talu sik?..salah yaakk…biarin deh..).

Tampak Jelly Tobing (biasa…super heboh..) dengan beberapa rekan musisi yang sudah saya kenal seperti Ferry Asmadibrata (musisi terkenal asal Bandung) dan juga ada seorang promotor kawakan… Sofyan Ali namanya ..wah ..seru…(Bla..bla..ba..). Lalu saya dikenalkan ke Setiawan Djody oleh Jely Tobing dan sejenak kami terlibat pembicaraan “ngalor ngidul” sebelum akhirnya saya ikut-ikutan gunjrang-gunjreng nge-berisikin tetangga…: ”JUMP!” by Van Hallen…eh’..tak begitu lama kemudian nongol Renny Jayusman (rocker wanita yang selalu kalungan se-lemari banyaknya..) hehehe.. Datang langsung nyamperin microphone… ”ohh yeeeaahhh…Jumppp!!!” hayaaahh…

Kelompok/pergaulan awal tersebutlah yang kemudian melahirkan gagasan untuk membiayai rekaman bagi ”Mata Dewa” nya Iwan Fals dengan arranger-nya Ian Antono. Yang juga kemudian melahirkan pemikiran Sofyan Ali untuk mendirikan join perusahaan bersama Setiawan Djody yang bernama ”AIRO”. Semenjak saat itulah hubungan pergaulan saya dengan Setiawan Djody kian hari kian akrab, sebagai sesama orang yang mencintai dunia kesenian (khususnya di musik).

Barulah pada tahap-tahap berikutnya akan saya ceritakan proses bergabungnya teman-teman musisi yang lain seperti Iwan Fals / Sawung Jabo dan lainnya.

Sejarah lahirnya Kantata Takwa (Bagian 2)

Semenjak itu saya kerap kali ditelpon mas Djody untuk membicarakan berbagai hal tentang perkembangan musik di Indonesia. Saya katakan bahwa pada intinya musisi ’alternatif’ (non industri) di Indonesia ini membutuhkan “uluran tangan” dari berbagai pihak yang ”peduli”, yang bukan hanya mikirin rumus dagang saja tapi juga mikir tentang “berkesenian” dalam artian yang lebih luas lagi.

Saya melihat ada ”concern” dari dia untuk mau berdialog dengan saya panjang lebar tentang hal tersebut. Maka ketika suatu kali dia menceritakan gagasannya yang ingin bekerja sama dengan AIRO (saat itu perusahaan tersebut masih menjadi milik Sofyan Ali) secara spontan saya langsung mendukungnya.

Dan pada saat itu hubungan kerjasama antara Sofyan Ali dengan Iwan Fals memang sudah berjalan (lewat berbagai konser Iwan sendiri saat-saat itu). Maka ketika konser 100 kota yang akan dimulai di Sumatra (Palembang) tersebut dicekal, Sofyan Ali berkeinginan untuk mengajak Iwan masuk studio guna rekaman.

Rekaman Iwan Fals tersebut akhirnya berlangsung dibawah management AIRO yang bekerjasama dengan SD (Setiawan Djody). Dan seingat saya sebelum masuk ke studio, SD pernah pergi berdua dengan Iwan ke Bali, dimana mereka pada akhirnya berhasil menciptakan lagu ”Mata Dewa”. SD sendiri mengatakan bahwa Mata Dewa adalah ”Sunset” yang mereka lihat ketika mereka gitaran berdua di pantai Kuta.

Maka berikutnya, ketika Iwan Fals sedang sibuk merekam Mata Dewa, saya sendiri mulai sering mengawal SD untuk bermain musik, baik itu dirumahnya atau terkadang beberapa kali ikut konser bersama dipanggung-panggung musik di Ancol. Formasinya waktu itu antara lain Jelly Tobing dsb. Kami hanya memainkan repertoar-repertoar bule. Umumnya lagu-lagu dari Led Zepllin dan U2 ada satu atau dua sih lagunya Van Hallen. Maklum kelompok tersebut memang bukan band serius, tapi hanya sekedar ”gathering” atau kelompok gaul dan per-temanan saja.

Jujur saja, lama-lama saya merasa ”eman” atau sayang kalau melihat kemampuan ”finansial” yang dimiliki hanya untuk ”proyek” kesenangan pribadi saja. Maka secara bertahap perlahan tapi pasti, saya mulai ”meracuni” isi otak pikiran SD agar mau membantu kondisi musik rock yang saat itu emang sudah mulai ”terkapar” tak berdaya.

Hanya ada satu orang di Indonesia kala itu yang secara spesifik berkutat di bisnis musik rock kita, yaitu Log Zelebour yang kebetulan juga mengelola management Godbless. Namun keberadaan Log Z. lebih pada pendekatan bisnis pragmatis, sedangkan yang saya anggap diperlukan musisi rock Indonesia adalah figur sponsor yang berfungsi sebagai seorang ”maesenas”. (yang nggak berpikir harus untung melulu).

Album Mata Dewa

Maka berikutnya, ketika Iwan Fals merilis album Mata Dewa dengan konsep (terobosan) ”direct sale” di Parkir Timur Senayan, sekali lagi saya meyakinkan SD agar melihat peluang kesempatan yang bisa dilakukan demi perkembangan musik rock di tanah air. Konsep terobosan diatas yang saya maksud adalah: kaset Mata Dewa tidak dijual oleh Sofyan Ali (AIRO) melalui agen-agen yang sudah ada (resmi) namun langsung dipajang di mobil-mobil box saat konser di Parkir Timur Senayan. Konsep tersebut terbukti ampuh serta membuka mata banyak orang, bahwa dominasi “Glodog” bisa dipatahkan asalkan ada sebuah sistem distribusi yang direncanakan secara matang.

Beberapa bulan kemudian setelah kaset tersebut terbilang ”sukses”, maka Setiawan Djody mengundang kita semua (saya, Iwan Fals dan WS.Rendra serta Sawung Jabo) guna ngobrol membicarakan segala kemungkinan kesepakatan yang bisa dicapai. Perkenalan antara WS.Rendra (mas Willy) dengan SD sudah terjalin semenjak lama sebelum saya sendiri hadir disana. SD selama itu memang bertindak sebagai maesenas bagi kebutuhan “Bengkel Teater” Rendra, bahkan sudah sempat mengadakan pementasan di New York dan beberapa kota di luar negeri dan sebagainya. Sedangkan Sawung Jabo sendiri adalah salah satu anggota dari Bengkel Teater tersebut.

Singkat kata, kami hampir menemukan kesepakatan untuk saling bekerja-sama, namun harus melewati satu masalah lagi atau anggap saja satu persyaratan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Yaitu, Iwan Fals bersama S.Jabo dan kawan-kawan yang lain ternyata sedang membuat lagu-lagu, dan sedang merencanakan untuk bisa direkam di studio dan sebagainya. Persyaratan tersebut meminta agar SD juga bersedia menangani masalah management recording bagi mereka. Agar saat nanti, bila kita bisa bekerja sama maka “master” dari produk rekaman tersebut tidak kemana-mana, alias dikelola oleh satu management saja.

SD menyetujui persyaratan tersebut dan bersedia bersama-sama Sofyan Ali untuk mengelola dibawah bendera/label AIRO. Disanalah awal mula gagasan besar tersebut beranjak. Saya pribadi sebenarnya juga tertarik untuk terlibat dalam rekaman yang akan mereka lakukan tersebut, namun saat itu saya lebih berfikir ”taktis” agar lebih berkonsentrasi ”mengawal” SD agar tidak berubah pikiran ..hehehe…, maklum ”roang tajir” kadang-kadang suse’ dipegang buntutnya. Saya sering menemani dia untuk workshop dirumahnya, sekaligus memberi masukan-masukan dan yang terpenting adalah melengkapi peralatan musik yang nanti dibutuhkan .

Singkat cerita, beberapa bulan kemudian rampunglah rekaman Iwan dan teman-teman tersebut (di GIN studio), lalu program jangka pendek berikutnya adalah ”launching” serta dilanjutkan dengan konser (promo).

Sayang, entah mengapa tiba-tiba saya mendapat berita bahwa Sofyan Ali mengundurkan diri dari kelompok kerja tersebut. Dan menyerahkan AIRO untuk dikelola sendiri oleh management SD yang saat itu bernama Multy Setdco. Saya sempat kecewa dengan hal tersebut…. sebab dimata saya belum ada orang Indonesia saat itu yang mampu mengelola bisnis pertunjukan musik dengan baik sekaliber Sofyan Ali.

Album Pertama SWAMI

Bertempat disebuah cafe di wilayah Kuningan tepatnya di Gedung milik Wisma Bakrie, maka launching album bertajuk SWAMI diluncurkan disana. Saya sendiri turut terlibat untuk ikut main secara live pada acara peluncuran album tersebut, padahal sewaktu proses rekamannya saya tidak terlibat. Kami (SWAMI) kemudian sempat pula konser di GOR Kridosono Jogjakarta sebelum pada akhirnya saya, Iwan, Jabo dan Rendra berkumpul lagi untuk melanjutkan pembicaraan guna merealisasikan ”kesepakatan awal” tentang kolaborasi bersama-sama. .

Hari-hari itu… adalah hari-hari dimana Bento dan Bongkar “menggelegar” bagaikan hendak memecah angkasa Indonesia.

Sejarah lahirnya Kantata Takwa (Bagian 3)

Sayang sekali saya tak ingat kapan persisnya pertemuan antar kami berlima terjadi, namun bisa dipastikan bahwa kami semua berkumpul ditempat kediaman SD di wilayah Kemanggisan Raya – Kebon Jeruk tersebut.

Satu hal yang cukup penting harus saya katakan disini, bahwa sebenarnya ada satu nama lagi yang saya usulkan diantara kami berlima yang sudah ada, saya usulkan untuk bergabung dalam kolaborasi tersebut. Yang bersangkutan sendiri secara prinsip bersedia serta sudah beberapa kali juga hadir disana untuk membahas dan membicarakan berbagai hal (dialog non teknis lainnya) sebagai persiapan untuk merumuskan konsep dan bentuk yang akan dirancang. Orang tersebut adalah salah satu sahabat saya sendiri, Harry Roesli (almarhum). Yang juga dijuluki sebagi Musisi mBeling dari kelompok DKSB.

Namun karena Harry Roesli seperti yang sudah kita ketahui bersama domisilinya berada di Bandung, maka hanya sesekali saja yang bersangkutan bisa hadir membicarakan berbagai hal, sedangkan kami berlima yang lainnya lebih sering dan intens untuk berkumpul . Maklum jarak antara Jakarta – Bandung saat itu harus ditempuh selama 4 jam’an lebih. Sebab belum ada jalan tol seperti sebagaimana kondisi saat ini.

Hari-hari berikutnya adalah disepakatinya kegiatan workshop secara rutin di Kebon Jeruk. Jelly Tobing beberapa kali turut hadir disana dan menemani kita untuk memainkan drum ketika datang. Komposisi orang-orang yang terlibat workshop di awal-awalnya adalah saya di keyboard, SD di gitar listrik, Iwan gitar akustik, Jabo di cuap-cuap, Jelly Tobing di drum, serta Edmond (seorang musisi ”lawas” asal kota Solo, yang dulu pernah tergabung bersama SD di Band Terencem pada tahun 70’an).

Figur yang terakhir ini adalah orang yang cukup ”unik” dimata kita semua. Selain gemar guyonan ”khas Jawa”, yang bersangkutan juga sering kita anggap sebagai ”guru spiritualnya” SD selama ini yang khusus untuk menemani SD main gitar sehari-hari sebelum kita semua ada dilingkaran pergaulan di Kebon Jeruk.. (hehehe).

Kegiatan tersebut dilakukan seminggu dua kali (kalau tidak salah) saya tidak ingat lagi tepatnya setiap hari apa kita berkumpul dan bermusik bersama. Yang pasti itu dilakukan disela-sela kegiatan konser promo bagi album Swami (Bento, Bongkar dll.).

Dalam suasana workshop diatas, secara tehnis kami semua sepakat untuk tidak mengacu kepada satu kredo-kredo tertentu, atau warna musik tertentu namun lebih kepada ”mengalir saja” seperti air. Bisa dibayangkan bagaimana suasana ”riuh” yang terdengar disana.

Riuh yang saya maksudkan adalah… gegap gempitanya suara drum yang menggebu dengan ditimpali oleh suara lengkingan gitar yang sangat dominan, serta teriakan-teriakan tanpa kalimat (sekedar na..na..na dsb) dari Iwan Fals dan Jabo. Ditambah lagi dengan tidak adanya ”jalur kord” yang sudah disepakati sebelumnya, alias 3 jurus plus. (nah…”plus” nya itu yang bisa 10 bisa 20 bisa 30… pokoke sak matek’e lah..) hehehe..

Saya sendiri menganggap suasana hiruk pikuk tersebut sangatlah dibutuhkan, agar saya bisa menangkap ”esensi” dari keinginan serta karakter ekspresi masing-masing personal yang ingin disampaikan. Walaupun harus saya akui seringkali saya terpaksa harus ”melindungi” kedua belah lobang dikuping saya dengan jari tangan… supaya dia nggak pecah atau paling tidak enggak jadi ”kendor” selaputnya .. hehehe. Terutama dari bunyi freqwensi yang dihasilkan dari perangkat Soldano nya SD, yang luar biasa tingginya serta keras suaranya.

Bayangkan saja, Soldano tersebut di-distribusikan ke 4 pasang Speaker Marshal 200 lewat 4 buah power tersendiri untuk memenuhi kebutuhan 4 stack speaker Marshall tadi. (seperti kita ketahui bahwa satu stack terdiri dari dua buah speaker). Artinya suara gitar SD disalurkan lewat 8 buah speaker dalam ruangan workshop yang hanya seluas sekitar 5 X 12 meteran. Sedangkan kami yang lainnya, apalagi saya… hanya bersandarkan pada satu buah amplifier ukuran kecil sekelas Fender Jazz Chorus untuk keybord, demikian juga yang lainnya.

Gubbraaakk.. Gedubrakkss… nguinggg.. nGGuuing… CiiaaTT.. wwwAAAAA..!!!, gitu deh’…kira-kira bunyinya dalam bentuk tulisan di huruf……hahaha..!

Sementara mas Willy saya lihat tampak sering hanya mampu bertahan sebentar didalam ruangan lalu berjalan kearah pintu untuk kemudian cukup melihat dan mendengar dari luar tempat latihan tersebut…sambil sesekali dahinya mengkerut… mungkin mencoba menangkap suasana yang cukup liar… lalu menuliskan sesuatu diatas kertas. Ya… saya baru sadar kemudian, rupanya mesin produksinya langsung terpicu dan langsung juga bekerja sebagai penulis naskah.

Hingga akhirnya saya putuskan didalam pertemuan berikutnya, bahwa program workshop selanjutnya haruslah dilakukan secara lebih sistemik. Tidak bisa lagi kita terus-terusan hanya mengeksplorasi suasana tanpa ada kemampuan dan keinginan untuk menangkap/merumuskan “esensi” dalam bentuk sebuah konsep agar lebih “real” dan konkrit. Saya mengusulkan agar latihan-latihan berikutnya cukup terdiri dari beberapa orang saja dari kami guna terciptanya lagu-lagu yang diinginkan.

Disepakati kemudian bahwa saya ditunjuk sebagai komandan untuk berhak memutuskan segala sesuatunya yang berkaitan dengan bunyi-bunyian musik. Rendra sebagai penulis teks dan lirik untuk melengkapi lagu. Sawung Jabo sebagai “tong sampah” yang berfungsi menampung berbagai “aspirasi” keinginan yang ingin disampaikan oleh semua pihak. Iwan Fals sebagai juru terompet yang mewakili suara semua pihak lewat suara nyanyian. Dan SD sebagai penyedia sarana dari berbagai hal teknis yang diperlukan.

Hari-hari berikutnya hanya saya, Iwan Fals, Sawung Jabo dengan ditemani oleh Robin (musisi warga Philipina) yang lebih bertugas merekam draft lagu-lagu kedalam computer lewat “cakewalk” nya. Kami bertigalah yang akhirnya bekerja secara detail untuk mengarang lagu secara kolaboratif bersama.

Demikianlah sejarah awal dari terbentuknya kelompok musik KANTATA TAKWA yang bisa saya rekam dalam tulisan. Semoga tulisan ini suatu saat bisa terus diperbaharui atau ditambahkan lagi berbagai kekurangannya atau bahkan dikoreksi bila diperlukan, agar bisa melengkapi kisah-kisah yang harus disimpan dalam ruang-ruang perpustakaan perjalanan musik di Indonesia pada umumnya.

Saya prihatin mengingat system per-dokumentasian kita yang sampai detik ini belum juga berfungsi sebagaimana seharusnya. Orang hanya diajarkan untuk melihat “hasil” dan menutup mata kepada “proses” serta dasar “filosofi” yang melatar belakanginya.

Selamat pagi Indonesia , hari sudah menjelang sore….

Teks asli artikel ini diposting pada 8 Juli 2008, oleh Yockie Suryo Prayogo

Diambil dari: http://jsops.multiply.com/reviews/item/22

 —————————————————————————–

Kantata Takwa

oleh: Yockie Suryo Prayogo

 —————————————————————————–

Kantata Takwa, adalah sebuah proses interaksi berbagai ego-ego besar yang dipayungi WS.Rendra sebagai penasehat spiritual dan penulis sajak/lirik, Setiawan Djody sebagai fasilitator untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan pembiayaan dan lainnya, Iwan Fals sebagai peniup trompet atau juru vocalnya, Sawung Jabo menyediakan dirinya dengan istilah “tong sampah” untuk menampung segala uneg-uneg bersama yang suatu saat harus ditampung dan didistribusikan secara demokratis, saya sebagai designer musik atau bahasa asingnya arranger.

Karena posisi masing-masing diatas sudah sangat jelas, maka bagi saya selaku arranger, garis batas ruang kerja saya juga tampak semakin jelas.

Proses kerja :

Dua minggu pertama, hanya saya, Sawung Jabo dan Iwan yang melakukan eksplorasi suara untuk membuat lagu. Kami bertiga ‘ngarang’ bersama di Kebon Jeruk (piano dan 2 buah akustik gitar). Saya mencatat semua kemungkinan-kemungkinan dan ambience yang muncul dari eksplorasi tersebut.

Setelah selesai 2 mingguan (kurang lebihnya), saya sendirian melakukan proses kerja awal Studio (saat itu Gin Std). Saya menterjemahkan ulang bahasa lagu yang telah kita hasilkan bertiga lewat piano, tentunya juga dengan pendekatan sebuah aransemen. (untuk menyelesaikan musik dasarnya saya dibantu: Donny F, Totok T, Eet S, Reidy Noor, Budi Haryono, Innsisri dan lain-lainnya).

Setelah musik dasar selesai, saya merekam “guide vocal” sebagai panduan nada bagi Iwan Fals dan Sawung Jabo. Selanjutnya mereka relatif harus mengikuti alur melody lagu yang saya contohkan.

Sebab sudah pasti mereka juga sudah lupa akan bentuk lagu yang masih mentah, seperti saat kita gonjrang-ganjreng latihan sebulan (atau lebih) yang lalu. Apalagi Iwan Fals, hari ini dia nyanyi seperti itu besok bisa jadi sudah lain lagi atau sudah jadi lagu yang baru lagi hehehe.. (berubah terus….sak mate’k ‘e.., demikian celoteh kata Sawung Jabo).

Jadi saya bertugas selaku arranger untuk membatasi segalanya, dan itu wewenang serta hak saya yang semua pihak dengan patuh mentaatinya.

Demikian juga dengan ‘fill in’ lead guitar, bahkan saya menentukan running note yang harus dilakukan, dan punya hak untuk membatasi wilayah-wilayah yang tak boleh dilanggar. Semua itu berjalan dengan sebuah kesepakatan yang sudah disetujui bersama secara demokratis.

Bahkan saya juga bisa minta pendapat WS Rendra untuk merubah sebahagian kata-kata dalam tulisan sajaknya, agar lebih kompetibel masuk dalam ruang-ruang musik dan lagu.

Tapi proses itu bukan tanpa konsekwensi, karena memang akhirnya banyak pihak yang tidak merasa puas menyalurkan keinginannya. Jelas, karena memang dibatasi dengan aturan-aturan Music Arranger.

Salah satu yang merasa tak puas adalah mas Djody, dia merasa terkekang dengan notasi yang saya buat, “itu bukan saya yang sesungguhnya” (*katanya*), yah mungkin juga sih. Anda bisa mendengarkan rekaman-rekaman beliau setelah itu, nah itulah mungkin yang beliau maksudkan, tentang keinginan serta karakternya. Dan memang saya harus menghormati karakter tiap-tiap individu. Bukan masalah selera, suka atau tidak.

Lalu, disepakatilah untuk rekaman berikutnya tidak ada lagi arranger seperti saya dulu menanganinya. Semua boleh jadi arranger, supaya semua puas… dan juga atas nama demokrasi ‘baru’ yang coba untuk kita jalani.

Begitulah..jadinya… (anda yang berhak menilai , bukan saya).

Teks asli artikel ini diposting pada 27 Maret 2008, oleh Yockie Suryo Prayogo

Diambil dari: http://jsops.multiply.com/reviews/item/3

Dari kiri ke kanan: Yockie Suryo Prayogo, WS Rendra (alm), Setiawan Djody, Iwan Fals dan Sawung Jabo – Pada konser Kantata Takwa ‘Kesaksian’ tahun 2003

 —————————————————————————————————

Lirik lagu ‘Kesaksian’

Kesaksian (Kantata Takwa)

Aku mendengar suara… Jerit makhluk terluka…

Luka… luka… hidupnya… Luka…

Orang memanah rembulan… Burung sirna sarangnya…

Sirna… sirna… hidup redup… Alam semesta… luka…

Banyak orang hilang nafkahnya… Aku bernyanyi menjadi saksi…

Banyak orang dirampas haknya… Aku bernyanyi menjadi saksi…

Mereka dihinakan… Tanpa daya…

Ya tanpa daya… Terbiasa hidup sangsi…

Orang orang harus dibangunkan… Aku bernyanyi menjadi saksi…

Kenyataan harus dikabarkan… Aku bernyanyi menjadi saksi…

Lagu ini jeritan jiwa… Hidup bersama harus dijaga…

Lagu ini harapan sukma… Hidup yang layak harus dibela…

  —————————————————————————————————

Catatan redaksi:

 Setelah album Kantata Takwa yang posisi vocal didominasi Iwan Fals, selanjutnya rilis album kedua berjudul Kantata Samsara dimana porsi vocal Iwan Fals berkurang. Lalu muncul album ketiga yaitu Kantata Revolvere, disini Iwan Fals tidak bergabung. Dan kini (2011) dibentuklah Kantata Barock, kali ini Iwan Fals bergabung namun Yockie Suryo Prayogo tidak ikut dan WS Rendra telah meninggal dunia pada 6 Agustus 2009.

 —————————————————————————————————

Artikel dibawah ini diambil dari “Pikiran Rakyat”

KANTATA TAKWA

AKHIR dekade 1980-an lahir sebuah kelompok musik bernama Kantata Takwa. Grup ini merupakan kumpulan tokoh-tokoh yang memiliki kharisma di bidangnya masing-masing. Mereka adalah Iwan Fals dan Sawung Jabo, pengarang lagu dan penyanyi berbobot dengan jutaan penggemar; Setiawan Djody, pengusaha sukses sekaligus musisi ternama; WS Rendra, penyair dan dramawan yang berwibawa; Jockie Suryoprayogo, arranger dan pemain keyboard senior; Donny Fatah, pemain bas musik rock yang ulung; dan Innisisri, seorang pemain drum dan perkusi yang kreatif.

Tahun 1990, mereka mengelurkan album perdana bertitel Kantata Takwa. Dari album yang juga menghadirkan permainan gitar Eet Sjahranie dan Raidy Noor, gebukan dram Budhy Haryono serta tiupan saksofon Embong Rahardjo ini, melejit nomor Kesaksian yang sangat ekspresif

Meskipun merupakan grup musik, Kantata mempunyai kekhasan dibanding grup-grup lain. Kantata lebih tepat disebut sebagai sebuah forum komunikasi, diskusi, dan pengejawantahan kreativitas dari sensitivitas sosio-estetik para personilnya. Visi yang kuat akan kondisi sosial budaya menjadikan mereka sebagai wujud representasi baru atas perjalanan panjang serta dinamika kehidupan masyarakat kita.

Bagi Kantata musik adalah sarana untuk mengomunikasikan lirik hasil perjalanan tersebut. Oleh karena itu, Kantata tidak mengikrarkan diri sebagai wakil dari jenis musik tertentu. Hal terpenting adalah meramu musik mana yang paling pas untuk mengiringi lirik masing-masing lagu mereka. Melodi lagu-lagu mereka tidak berniat membuai orang hingga lupa akan maknanya, tetapi cenderung lugas hingga pesan yang dikandung dalam lirik menjadi transparan.

Maka ketika kita mengapresiasi nyanyian Kantata, yang terbentang adalah potret-potret kehidupan, mulai dari yang religius hingga yang tragis. Simak, misalnya, lagu Kesaksian yang menggambarkan berbagai tregedi yang harus dikabarkan atau Orang-orang Kalah yang menggambarkan daya hidup “wong cilik”. Sementara itu, lagu Kantata Takwa sendiri merefleksikan kepasrahan manusia di hadapan Tuhan.

Sukses dengan album perdana yang terjual ratusan ribu keping, Kantata lantas membuat gebrakan di dunia pertunjukan. Malam itu, 23 Januari 1990 di Stadion Utama Senayan Jakarta berkumpul ratusan ribu penikmat musik untuk menikmati konser akbar Kantata. Konser tersebut tercatat sebagai salah satu konser terbesar dalam catatan sejarah musik Indonesia, baik dari segi kuantitas penonton maupun dalam kualitas penyelenggaraan.

Beberapa bulan kemudian, Kantata melakukan konser tur yang tak kalah akbarnya ke berbagai daerah, antara lain konser di Surabaya pada 11-12 Agustus 1990 dan konser di Solo pada 11-12 September 1990.

Setelah sukses dengan album perdana dan serangkaian turnya, Kantata Takwa tak terdengar lagi kabarnya. Para personilnya lebih terfokus pada aktivitas masing-masing. Iwan Fals menggarap album solonya, yakni Cikal, Belum Ada Judul, Hijau, dan Orang Gila. Setiawan Djody juga sibuk menggarap album solo perdananya, Dialog. Sedang-kan Sawung Jabo bersama kelompok Sirkus Barock menggarap album Fatamorgana.

Sebenarnya, beberapa dari personil Kantata tetap berkolaborasi, hanya saja mereka mengibarkan bendera yang berbeda. Iwan Fals, Sawung Jabo, Innisisri dan beberapa musisi lain sempat tergabung dalam kelompok Swami dan Dalbo. Pada 1994, Iwan Fals dan Sabung Jabo bahkan mengelurkan album duet berjudul Anak Wayang.

Indikasi kemunculan kembali Kantata baru terlihat pada awal 1995. Saat itu mereka manggung untuk kalangan terbatas di Hardrock Cafe Jakarta. Tak lama kemu-dian, tanggal 15 Oktober 1995 Kantata kembali menggelar konser akbar di lapangan terbuka di Surakarta. Hasil rekaman pertunjukan yang dijejali sekitar 300.000 penonton itu ditayangkan oleh TPI. Kini, lagu-lagu dari konser tersebut secara bergantian biasanya hadir pula pada acara Panggung Mania di TPI setiap Minggu malam.

Kantata nampaknya memang bertekad untuk kembali menghangatkan jagad musik Indonesia. Terbukti, menjelang akhir 1996 mereka berkumpul di Camping Lawu Resort, Tawangmangu, Solo, Jawa Tengah. Di bumi perkemahan seluas 14 hektar milik setiawan Djody ini Kantata menggarap album kedua.

Mereka yang berkumpul tidak banyak berubah dari album pertama. Mereka adalah Iwan Fals (gitar/harmonika/vokal), S. Djody (gitar/vokal), Sawung Jabo (gitar/timpani/vokal), WS Rendra (lirik), Jockie S. (music director /keyboard/vokal), Innisisri (drum/perkusi), dan Donny Fatah (bas). Sedangkan yang terbilang sebagai pendatang baru adalah Totok Tewel (gitar) dan Doddy Katamsi (vokal).

Maka pada awal 1997 keluarlah album mereka, Kantata Samsara. Seperti kata Setiawan Djody, lahirnya Kantata Samsara berangkat dari keinginan untuk menghidupkan kembali Kantata Takwa. Oleh karena itu, kata Samsara diambil yang dalam bahasa Sanskerta berarti “lahir kembali”.

Secara umum, Kantata Takwa dan Kantata Samsara memiliki kepekaan, daya kritis, dan totalitas daya hidup yang sama. Meskipun demikian, di antara keduanya memiliki tema yang agak berbeda. Kantata Samsara lebih berbicara tentang obsesi dan revitalisasi menyongsong tantangan abad XXI. Dalam konteks ini, Kantata berpihak pada keadilan dan kepastian hukum dengan berpegang pada solidaritas dan kebersama-an. Simak, penggalan lirik lagu Samsara berikut ini: “…Keadilan, kehidupan, ditegakkan / Kebersamaan, kemakmuran, dilautkan / Apakah masih ada angin cinta kebersamaan / gerhana meratap jiwa membara / kesatuan berbangsa, digemakan / Samsara…”

Hal yang juga agak berbeda bahwa lagu-lagu pada album Kantata Samsara terasa lebih kontemplatif serta banyak menggunakan bahasa simbol yang liris. Permenungan yang mendalam dan bahkan menyayat, begitu terasa pada lagu Anak Zaman, Songsonglah, dan Lagu Buat Penyaksi. Sementara itu, ramuan bahasa simbol dapat dinikmati pada lagu Nyanyian Preman, Asmaragama, dan Langgam Lawu. Kantata juga membuat lagu berlirik Inggris, For Green and Peace, sebuah lagu yang merefleksikan harapan akan kesejahteraan dan kedamaian.

Memasuki awal 1998, Kantata kembali hadir dengan mengeluarkan album ketiga, Kantata Takwa Samsara. Sebenarnya album ini merupakan kompilasi dari dua album sebelumnya. Walaupun demikian ada sedikit perbedaan. Untuk lagu Gelisah yang diambil dari album pertama mendapat penambahan aransemen pada intronya dan untuk lagu Kesaksian yang juga diambil dari album pertama ditambah dengan narasi WS Rendra.

Tahun 1999, tanpa didukung Iwan Fals, Kantata kembali melahirkan album berjudul Kantata Revolvere yang diproduksi Kantata Bangsa Foundation.

Mereka kembali bergabung, termasuk Iwan Fals yang beberapa tahun sebelumnya menyatakan keluar, menggelar konser di Parkir Timur Senayan, 30 Agustus 2003. Konser yang diberi title Konser Kantata Takwa: Kesaksian 2003 ini menghadirkan personil asli yang terbentuk di awal Kantata. Secara jumlah penonton yang mencapai 150-an ribu, konser ini bisa dibilang sukses.

sumber : http://iwanfalsmania.blogspot.com/

Selamat Datang Kantata Barock !

Posted in IWAN FALS on 2011/07/11 by chikal setiawan

Hari Minggu, 10 Juli 2011 malam, di Jl. Kemanggisan Raya, Jakarta, Setiawan Djody mengadakan konferensi pers dikediamannya. Acara ini tentang bangkitnya kembali Kantata Takwa. Setiawan Djody bersama Iwan Fals dan Sawung Jabo menamakannya Kantata Barock.

Jika diawal munculnya Kantata menggunakan nama Kantata Takwa (1990), kemudian Kantata Samsara (1998) lalu ada Kantata Revolvere (tanpa Iwan Fals) dan kini Kantata Barock hadir tanpa WS Rendra yang sudah meninggal dunia dan tanpa salah satu motor Kantata Takwa, yaitu Yockie Suryoprayogo yang menurut Setiawan Djody sedang sibuk dengan pekerjaannya.

Acara yang dihadiri oleh para wartawan, undangan dan kerabat dekat Setiawan Djody dimulai sekitar pukul 20.30 WIB. Diawali oleh penampilan Band Kotak yang membawakan lagu Selalu Cinta, Cuci Mata dan Pelan Pelan Saja. Keterlibatan Band Kotak dalam Kantata pernah diutarakan Setiawan Djodi pada saat acara A Masterpiece of Erwin Gutawa beberapa bulan lalu, dan saat ini Djodi membuktikannya.

Setelah Band Kotak, sedikit diberikan pengantar tentang latar belakang Kantata Barock. Kemudian Setiawan Djody, Iwan Fals, Sawung Jabo, Doddy Katamsi, Totok Tewel, Edi Daromi, Ikmal Tobing (anak dari Jelly Tobing) dan beberapa personil Sirkus Barock tampil dengan membawakan lagu berjudul “Cinta”. Seperti biasa Iwan Fals menyanyikan lagu ini selalu dengan penuh penghayatan.

Disusul dengan beberapa lagu diantaranya Barong Aku Bento (lagu Bento versi baru yang pernah dibawakan pada dialog malam TVRI beberapa bulan lalu), Mukjizat (lagu baru Setiawan Djody), Hio, Ombak (lagu baru Iwan Fals), Bongkar dan beberapa lagu lainnya yang dibawakan oleh Setiawan Djody, Sawung Jabo, Doddy Katamsi, Kotak dan Once.

Lagu baru Mukjizat dibuat Djody karena dia bisa pulih dari sakit kanker hati yang telah dideritanya. Lagu baru Ombak dibuat Iwan Fals terinspirasi oleh rencana Willy (alm WS Rendra) yang mempunyai rencana membuat Kantata Samudra, namun tidak dapat terlaksana karena Willy telah meninggalkan kita.

Direncanakan konser besar Kantata Barock akan dilaksanakan bulan November 2011 dan Maret 2012. Tapi apakah tanpa kehadiran alm. WS Rendra dan Yockie Suryoprayogo, Kantata Barock akan sesukses Kantata Takwa dan Kantata Samsara? Apakah kekuatan lirik dan aransemen musiknya akan semegah dahulu?. Kita tunggu saja.

sumber: http://iwanfalsmania.blogspot.com

 

 

“Barong! Aku Bento”

(Kantata Barock)

 

Namaku Barong, rumahku langit

Hidup berjuang, memburu belantara

Aku mau jujur, kucari hidup

Ayo… oh Bento, Barong belantara!

Ooh…ooh… memburu harmoni cinta

Ooh…ooh… ayo… menggelinding… berjuang!

Berani jantan, sadar berontak

Sekali lirik kau jatuh cinta

 

Bisnisku berjuang

Lawan apa saja yang penting

Aku menang kucing senang kurcari kenyang

Persetan tikus politik, protes!

Karena ku selalu setia dengan cinta…oooh…oooh..

Memburu doa, Barong merapi

Aku Bento, Oh Barong Maridjan

 

Mengoceh kebenaran

Khotbah keadilan, sarapan hariku

Aksi kucing lapar

Makan apa saja…ooh jagonya

Maling papan atas, bandit kelas tikus

Itu mangsa kucing!

Siapa mau ikut berjuang?

Bongkar sarang tikus

 

Aku Bento, Barong belantara

Aku Bento, kucing gungu! Ayo makan tikus

Barong Marijan, cinta belantara… Ooh… Ooh… Ooh… Oooh

Aku Bento, kucing gunung! Ayo makan tikus!

Barong Maridjan, cinta belantara… Ooh.. Ooh.. Ooh… Ooh

Merapiku murka!

 

 

KONSER IWAN FALS DI PRJ 2011

Posted in IWAN FALS on 2011/06/16 by chikal setiawan

Dalam rangka HUT DKI Jakarta yang ke 484, Musisi legendaris Iwan Fals ikut meramaikan konser 32 hari nonstop di hajatan tahunan Pekan Raya Jakarta (PRJ) Rabu tanggal 15 Juni 2011.

Sebelum konser berlangsung MC memberikan waktu kepada penonton untuk bertanya langsung kepada idola mereka yang menyaksikan konser Iwan Fals malam itu, diantara para penonton yang bertanya ada ibu-ibu yang lagi hamil ada di barisan terdepan dan mengajukan permintaan kepada sang maestro, ” Bang Iwan suami saya kan penggemar bang Iwan, kebetulan sekarang saya lagi hamil, bagaimana kalo saya minta bang Iwan untuk memegang perut saya biar anak saya bisa seperti bang Iwan, “kata si ibu yang bertanya tadi. “Iwan Fals hanya bisa tersenyum dan berkata terima kasih, tapi saya doakan semoga anaknya lahir dengan selamat dan bisa menjadi anak yang soleh itu juga sama doa, pungkas bang Iwan sambil tersenyum. Ada juga penonton yang bertanya langsung kepada Iwan Fals malam itu, ” Kapan mau manggung bareng “SWAMI” lagi, ” SWAMI sudah gak ada lagi, SWAMI hanya bertahan 3 tahun saja, Tapi kami masih terus komunikasi dengan Jabo juga dengan yang lainnya, malah ada rencana kita mau ngadain reunian dengan KANTATA, ” jawab Iwan menjelaskan.

Konser musik yang berlangsung sekitar satu setengah jam itu dibuka dengan ‘Lagu Satu’ di panggung utama area PRJ. Sedikitnya 10.000 penggemar Iwan Fals yang menamai dirinya sebagai ‘Oi’ hadir meramaikan pertunjukan hingga larut malam.

Tak hanya dari golongan muda, tua anak-anak, dan wanita yang berasal dari berbagai wilayah Jabodetabek ikut menyaksikan konser Iwan Fals itu.
Para penonton pun diajak bernyanyi bersama saat Bang Iwan membawakan lagu ‘Mimpi yang Terbeli’. Mereka semua terlihat asyik menikmati lantunan lagu-lagu Iwan yang sebagian besar bertemakan kritik sosial. Tak hanya itu, saat membawakan lagu ‘Entah’ penonton pun ikut bernyanyi bersama dengan diselingi canda tawa Iwan Fals bersama Toto Tewel (gitaris) di atas panggung. Di tengah-tengah pertunjukan ketika Iwan Fals selesai membawakan lagu “Robot Bernyawa”  Iwan Fals  bercerita, semoga pemerintah kita mau mendengar teriakan kita malam ini, disambut dengan tepuk tangan dan teriakan para Oi yang hadir memberikan dukungan atas ucapan Iwan Fals tadi.  Namun tiba-tiba di tengah kerumunan para penonton terjadi keributan yang membuat sebagian penonton lari ketakutan, smpai Iwan Fals berhenti bicara menyaksikan kejadian itu, lalu Iwan fals bilang, ” Tolong kita hormati dulu kepada orang yang berantem, biarkan mereka berantem dulu setelah selesai baru kita lanjutkan lagi, kata Iwan Fals, Di sambut teriakan daripara penonton dengan teriakan “Kampungan” “Kampungan” Kampungan.

Para Oi sebutan untuk para penggemar Iwan Fals, merasa trerganggu dengan adanya keributan itu, mereka menganggap bukan anak Oi sejati jika melakukan keributan dikala Konser Iwan Fals, mereka menganggap yang melakukan itu norak dan kampungan. Setelah keributan berhasil di redam Konser pun di mulai lagi. Para penonton pun kembali bernyanyi bersama sang legenda ini. Tak terasa lagu demi lagu terus mengalir dari Iwan Fals dan Band yang mengiringi konser malam itu sampai pada ujung pertunjukan. Iwan pun mengucapkan terima kepada para penonton yang telah hadir malam itu itu, dan dia berpesan agar ketika membubarkan diri harap memungut sampah yang ada di sekelilingnya. Penampilan Iwan malam itu mampu mengobati kekecewaan penonton yang sebelumnya hadir di panggung kita .  Hingga tepat tengah malam, konser pun ditutup dengan membawakan lagu  “Selamat Tinggal Malam”. Ia pun berpamitan kepada seluruh Oi yang hadir dari berbagai penjuru di tanah air. Iwan Fals dan Band memberikan hormat terakhirnya dan menyudahi konser dengan bersujud bersama-sama seluruh pengisi acara band Iwan Fals. Sementara itu seluruh Oi yang hadir bernyanyi dan mengucapkan salam perpisahan. Sudah kebiasaan dimanapun Iwan Fals konser, para penggemar Iwan Fals selalu mendendangkan lagu Do’a (Album Suara Hati 2002) buat Iwan Fals sebelum meninggalkan mereka, mau tidak mau Iwan dkk pun ikut bernyanyi bersama Oi, Lagu itu seolah sudah menjadi lagu wajib yang harus di nyanyikan di setiap akhir episode konser Iwan Fals dimanapun konser itu di adakan oleh anak - anak Oi.

‘DOA’

” Berjamaah

Menyebut asma ALLAH

Saling asah saling asih saling asuh
berdo’alahSambil berusaha
Agar hidup jadi tak sia sia

Badan sehat
Jiwa sehat
Hanya itu yang kami mau

Hidup berkah
Penuh gairah
Mudah mudahan ALLAH setuju

Inilah lagu pujian
Nasehat dan pengharapan

Dari hati yang pernah mati
Kini hidup kembali

Sumber : http://music.detikhot.com

KONSER IWAN FALS EDISI “TANAH”

Posted in IWAN FALS on 2011/06/13 by chikal setiawan

Sabtu 11 Juni 2011 Panggung Kita yang terletak di kediaman Iwan Fals kembali mengadakan Konser lanjutan dari Keseimbangan yang bertema “TANAH”.  Konser kali ini pun tak seperti biasanya, soalnya pintu gerbang sudah mulai di buka sejak pukul 13.30 Wib dikarenakan ada pementasan kebudayaan Daerah Khas Bengkulu. Penonton pun sudah mulai bisa memasuki arena lapangan dengan panggung sederhana untuk pementasan tersebut.

Pukul 15.00 Wib acara pementasan kebuadayaan dari Bengkulu pun berakhir, Penonton langsung merangsek ke Pintu Gerbang Utama dimana akan dilangsungkan konser Iwan Fals, para penonton sudah gak sabar ingin segera melihat aksi sang maestro beraksi dengan suara dan petikan gitar ciri khas’nya.

Pukul 15.30 Wib Acara pun di mulai, dengan penampilan 2 Band Pembuka yang tiada lain adalah  Band-band pemenang kompetisi Festival Band yang di adakan oleh manajemen Iwan Fals dan Tiga Rambu.

Penampilan Band pertama berasal dari Sumedang Jawa Barat, Mereka membawakan 2 lagu satu ciptaan mereka sendiri, dan satunya lagu karya Iwan Fals Yaitu ” Lagu Satu”. Penonton begitu terpukau dengan alunan suara sang Vokalis yang bernama “Herri” yang hampir mirip dengan suara Iwan Fals. Tak Biasanya Penonton begitu terpesona melihat aksi Band pembuka, apalagi yang belum punya nama seperti Band “BADAI” asal Sumedang Jawa Barat ini.Tapi penonton kali ini memberikan Applause yang begitu meriah untuk penampilan Band ini.

Para penonton berdecak kagum mendengar lengkingan suara sang Vokalis yang benar-benar pas banget saat mendendangkan “lagu satu” yang diambil dari Album Hijau milik sang legenda itu.

 

Yang tak kalah menarik dari Band ini adalah, salah satu personel Band ini adalah penyandang Cacat. Dia Adalah “Yana” sang gitaris Band ini yang begitu Fenomenal, Yana tak mempunyai kaki dan hanya mempunyai kedua tangan itupun tak begitu sempurna. Karena kedua tangan Yana ini mengalami kecacatan yang luar biasa dan sangat terbatas untuk bisa melakukan aktivitas. Tapi Kecacatan tak menyurutkan langkah Yana untuk bisa mengembangkan kemampuannya bermain gitar dan sangat terbukti permainan gitar yana sangat-sangat luar biasa. Penonton bertepuk tangan sambil berdiri memberikan apllause kepada Yana dan rekan-rekan “Badai” Band ketika permainan mereka sudah selesai.

Band kedua pun tampil dipanggung, dengan gaya yang wah, para penonton mulai mengoceh dan tak begitu menghiraukan penampilan Band kedua ini padahal Band ini adalah Band pemenang Festival itu.

Setelah Kedua Band Pembuka berlalu, Sambutlah Iwan Fals kata sang MC sambil disusul keluarnya sang legenda yang sudah di tunggu sejak dari tadi oleh para penonton. Iwan Fals menyapa para penonton dan mengucapkan terima kasih telah mau hadir di Panggung Kita. Iwan terus berbicara bahwa Bumi ini terdiri dari tanah maka kita harus terus menjaganya, Para penonton yang sudah tidak sabar dari tadi terus berteriak dan menyoraki Iwan yang mau ngomong. “Iwan akhirnya ngomong, Tadinya skenarionya saya ngomong dulu mau menceritakan sejarah saya beli tanah disini, tapi di sorakin mulu ya udah sekarang nyanyi aja deh… Petikan gitar Iwan pun terus  mengalun di iringi Alunan harmonika. Penonton pun dengan penuh antusias berdiri dan menyambut dengan koor yang bagi penonton sudah tak asing lagi, ya.. lagu pembuka dari Iwan pun berjudul “Ujung Aspal Pondok Gede” Mereka ikut berteriak bernyanyi bersama sang legenda dengan gagah nya.

Lagu Ujung Aspal pun berakhir, Iwan berbicara lagi tapi penonton kembali berteriak lanjuttttttt… Iwan pun hanya bisa melempar  senyummelihat para penonton yang tak sabar ingin bernyanyi lagi, “Saya pikir, ngapain orang-orang tinggal di Jakarta. Jakarta cuma tempat cari duit, kalau duit sudah terkumpul mending hijrah ke kampung. Jakarta sudah habis,” ujar Iwan Fals.

Usai berkata demikian, Iwan Fals langsung menyambut dengan lagu kedua, “Jakarta Sudah Habis”, yang bercerita tentang tanah Jakarta yang semakin rusak, hidup di Jakarta yang kian berdesakan, air dan sungai kotor serta makin tercemar.

Saya yakin kalian tak akan tahu dengan lagu ini ujar iwan sambil memetik gitar… Tapi Bukan anak Oi namanya kalo gak hapal dengan fasih diluar kepala ketika mendengar petikan gitar sang maestro mereka pun langsung ikut bernyanyi bersama, ” Lagu 2 (Jakarta).

Diantara banyaknya para penonton, ada sosok unik yang selalu hadir dan berpakaian compang camping yang dikalangan anak Oi sudah tak asing lagi, dia adalah Opals yang selalu berpakaian nyentrik bak orang gila, tapi dia sebenernya begitu baik. Penulis sempet mengabadikan berpoto bersama dengan beliau, satu kebanggaan bagi penulis bisa poto bareng dengannya. Ketika diajak salaman sama penulis Opals langsung memeluk hangat dan dengan jiwa yang sederhana beliau merangkul kami dan menganggap kami adalah bagian dari keluarga. Sangat tersentuh sekali ketika mengenalnya, tak seperti model pakaiannya yang compang camping tapi jiwanya ternyata begitu bersahaja. Opals adalah sahabat sejati kami, Opals adalah sosok penggemar panatik sang legenda Iwan Fals yang selalu hadir dimanapun Iwan Konser.

Lagu keduapun berakhir, Iwan Fals memanggil group Band Gigi dimana di serial konser kali ini Iwan menggandeng Group Band tersebut.

Arman Maulana pentolan Group Band menyapa para penonton dengan pekikan Oi.. disambut meriah dan dibalas dengan pekikan yang sama, Iwan pun sempet berbincang-bincang dengan para personel Gigi, tapi para penonton malah menyorakinya, apalagi ketika Basis Band Gigi mencoba berbicara tentang kekaguman dia kepada Iwan Fals, penonton malah semakin tak terkendali. Akhirnya Gigipun langsung bernyanyi, tapi anehnya para penonton malah terdiam, tak ada yang berjingkrak-jingkrak seperti pas Iwan bernyanyi tadi justru para penonton malah duduk semua. Bak di Komando semua penonton dari yang terdepan sampai yang terbelakang semuanya pada duduk khidmat dan tak menyimak lagu yang lagi dibawakan Arman Maulana dkk. Sungguh suatu kejadian yang aneh dan luar biasa menurut penulis, Salah satu Band terbesar di negeri ini seperti “GIGI” malah di cuekin habis-habisan sama para Oi.

Para penonton semakin cuek dan tak memperdulikan lagi keadaan di panggung pada saat Arman Maulana lagi beraksi, sampai-sampai ketika lagu pertama usai, kita lanjut ke lagu berikutnya pekik “Arman” tapi para penonton masih saja terdiamdan duduk santai, kalian yakin gak mau berjoget?? pekik “Arman kepada penonton, tidakkkkkkkkkkkkkkk jawab penonton serentak membahana memenuhi lapangan tempat konser berlangsung. Kelompok Gigi pun langsung meluncur dengan Hitsnya yang berjudul “JOMLO” Tapi penonton tetap tak tertarik dengan dentuman dan hentakan music yang di sajikan Arman Maulana dkk itu. Berturut-turut gigi membawakan lagu-lagu milik albumnya sendiri, Tapi para penonton malah berteriak kencang sambil memanggil manggil Iwan Iwan Iwan pekik penonton semakin membuncah. Teriakan penonton terus seperti itu dan akhirnya Iwanpun hadir lagi di panggung.

Kemunculan Iwan bisa meredam emosi penonton yang sudah membuncah tadi, dan Iwan pun langsung bernyanyi bersama Gigi di iringi deru koor para penonton yang terus mengikuti setiap kata dari syair-syair yang dinyanyikan Iwan dan Gigi. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 17.30Wib, Iwanpun lalu membawakan sebuah lagu penutup yang berjudul “Kebaya Merah” Para penonton begitu khidmat membawakan lagu itu, diantara penonton bahkan ada yang sampai menitikan air mata mendengar nyanyian itu. Konser hari itu pun selesai sudah, tapi banyak diantara para penonton yang tidak puas menyaksikan konser itu, dikarenakan Iwan hanya nyanyi beberapa lagu aja, malah banyakan bintang tamunya dibanding Iwan. Para Penonton berharap Iwan tak lagi menggandeng bintang tamu lagi di setiap konsernya, kami datang jauh-jauh bukan untuk menonton bintang tamu, tapi kami ingin melihat aksi dan nyanyianmu bang, teriak salah satu penonton.

Para

SEJARAH JUVENTUS

Posted in JUVENTUS on 2011/06/07 by chikal setiawan

1897 AWAL MULA

Dari Bangku Cadangan Pemain Setiap legenda mempunyai cerita dimana pada suatu hari yang cerah, tepatnya 1 November 1897, sekelompok pemuda dari daerah Liceo D’Azeglio yang tengah duduk di bangku pemain di Corso Re Umberto memutuskan untuk membentuk tim olah raga dengan berfokus kepada permainan sepakbola. Mereka ini hanyalah sekelompok anak-anak yang saling berteman dan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan bersama dan bersenang-senang serta melakukan berbagai hal positif. Lalu, mereka merencanakan untuk bermain sepakbola di sebuah taman besar bernama Piazza d’Armi, dimana tempat ini biasa digunakan untuk lari dan berkuda. Selain itu, karena tempatnya yang cukup luas, tidak sulit bagi mereka untuk menemukan tempat bermain sepakbola di sana.

Itulah kira-kira gambaran kisah yang diceritakan oleh salah satu pendiri klub, Enrico Canfari: “Kami dulu menganggap perlu untuk bentuk sebuah tim dan kami memutuskan hal itu saat musim salju di tahun 1897.”Itulah kira-kira kisah awal terbentuknya Juventus, walau kisahnya sedikit kurang jelas, mungkin dikarenakan markas Canfari bersaudara di 42 Corso Re Umberto, tempat awal pertemuan memang sangat gelap.;. Usia mereka rata-rata 15 tahunan, yang tertua berumur 17 dan lainnya di bawah 15 tahun. Setelah itu, hal yang mungkin tidak jadi masalah sekarang ini tapi merupakan hal yang terberat bagi pemuda-pemuda tersebut saat itu ialah:mencari markas baru! Canfari bersaudara memutuskan untuk mencarinya sendiri dan akhirnya mereka menemukan salah satu tempat; sebuah bangunan yang memiliki halaman yang dikelilingi tembok, mempunyai 4 ruangan, sebuah kanopi dan juga loteng dan keran air minum.

Canfari, Ketua Pertama

Selanjutnya, Canfari menceritakan tentang bagaimana terpilihnya nama klub, segera setelah mereka menemukan markas baru. Akhirnya, tibalah pertemuan untuk menentukan nama klub dimana terjadi perdebatan sengit di antara mereka. Di satu sisi, pembenci nama latin, di sisi lain penyuka nama klasik dan sisanya netral. Lalu, diputuskanlah tiga nama untuk dipilih; “Societa Via Port”, “Societa sportive Massimo D’Azeglio “, dan “Sport Club Juventus”.Nama terakhir belakangan dipilih tanpa banyak keberatan dan akhirnya resmilah nama klub mereka menjadi “Sport Club Juventus”.

Eugenio Canfari, kakak dari Enrico Canfari yang mengisahkan kepada kita asal-usul klub di atas. Setelah itu, markas klub berpindah tempat di Via Piazzi 4, distrik Crocetta, sebuah bangunan dengan 3 ruangan.

1898 – 1905 DARI MULAI TERBENTUK HINGGA SCUDETTO PERTAMA

Seragam Merah Jambu Juventus akhirnya resmi terbentuk. Sekali lagi, Enrico Canfari menceritakan kenangannya saat memainkan pertandingan pertamanya. Torino FC, klub sekota mengundang mereka melakukan pertandingan persahabatan. Awalnya, mereka tidak mengira sebuah klub terkenal mengajak mereka bertanding, namun pertandingan akhirnya dilaksanakan. Hasilnya bisa ditebak, tim Juve kalah telak! Namun permainan individual – karena mereka fokus berlatih dengan bola secara individu – mereka dipuji lawan. Segera setelah melalui pertandingan pertama, juga telah menemukan susunan sebelas pemain tetap, mereka mulai mulai rutin bertanding sampai pada suatu waktu mereka membentuk sebuah turnamen untuk membuktikan kapasitas mereka di Turin. Akan tetapi, masalahnya mereka saat itu belum mempunyai seragam klub. Selain itu, sulit untuk memilih bahan yang akan dipakai, apakah terbuat dari katun, flannel, atau wol. Sampai pada akhirnya, mereka memilih memakai kostum dari bahan katun tipis dan halus berwarna merah jambu yang mereka kenakan hingga tahun 1902, kostum yang terlupakan seiring berjalannya waktu.

Di tahun 1899, klub berganti nama menjadi Juventus Football Club. Mulai tahun 1900, mereka ambil bagian dari liga professional. Pertandingan resmi pertama mereka adalah saat kalah dari FC Torino pada tanggal 11 Maret. Di tahun 1901, mereka berhasil mencapai semifinal dan di tahun 1903 dan 1904, mereka kalah dari Genoa di final.

Juara Italia

Tahun 1905 adalah momen ajaib bagi tim putih-hitam-warna dari seragam klub yang mengadopsi warna Klub Inggris, Nottingham, yang popular sampai sekarang. Durante berada di posisi penjaga gawang; Armano dan Mazzia di posisi bek sayap; Walty, Goccione, dan Diment sebagai bek tengah; Barberis, Varetti, Forlano, Squire, dan Donna berada di baris penyerangan. Setelah menjuarai grup Piedmont, mereka kandaskan Milan dua kali dan menahan seri Genoa, yang hanya bermain imbang dengan Milan, untuk menjadi juara Italia dan berada di atas tim-tim dari daerah Liguria. Pada waktu itu istilah scudetto belum diperkenalkan, namun Federasi Sepakbola Italia memberi mereka pelat juara.

Alfred Dick adalah pimpinan klub saat itu sekaligus sebagai penyandang dana. Secara keseluruhan tim menjadi lebih kuat, sebagian besar akibat pengaruh pemain asing yang bekerja di pabrik tekstil miliknya. Tim ini hampir saja memenangi title kedua di tahun 1906, namun mereka tidak bersedia tampil di final melawan Milan sebagai bentuk protes mereka karena pertandingan tersebut dilakukan di Milan bukan di tempat netral seperti keinginan mereka. Selain itu, banyaknya pemain asing di tim membuat suasana kurang harmonis dan kepemimpinan Dick mulai dipertanyakan hingga ia memutuskan untuk hijrah ke Torino serta membawa beberapa pemain yang menjadi teman dekat dirinya.

1906 – 1923 SEBELUM DAN SESUDAH MASA PERANG DUNIA I

Tahun-tahun sulit

Setelah merengkuh gelar pertama, dimulailah masa-masa sulit bagi klub. Chairman Dick meninggalkan posisinya diikuti para pemain asing mereka yang memaksa klub merevisi target. Saat itu, keadaan klub sangat buruk dan mereka juga kedatangan lawan tangguh baru yaitu tim Pro Vercelli dan Casale. Kedua klub tersebut menjadi lawan menakutkan dan saling bersaing merebut posisi teratas. Musim 1913/1914 adalah musim terakhir sebelum masa Perang Dunia I. Musim selanjutnya lebih buruk dimana pada musim itu kompetisi ditunda pada 23 Mei 1915 karena Italia ikut ambil bagian dalam perang.

Majalah “Hurra Juventus” diterbitkan

Beberapa pemain dan official juga terjun dalam perang antar Negara itu dan kebanyakan dari mereka gugur atau menghilang. Untuk tetap mengetauhi keberadaan mereka, dibuatlah majalah “Hurra Juventus” yang ditulis oleh seorang editor, Corradino Corradini. Sampul majalah memperlihatkan moto: “Kemenangan akan menjadi milik yang terkuat dan percaya akan kekuatannya.

” Perang berakhir pada 11 November 1918 dan klub kehilangan beberapa pilar penting dalam perang itu namun keinginan untuk menang masih tetap hidup. Pada 12 Oktober 1912, klub kembali ke lapangan pertandingan untuk mengikuti kompetisi liga. Saat itu, Juventus diperkuat sang kiper, Giacone-yang tidak lama kemudian dipanggil masuk ke timnas Italia-kiper legendaris yang merupakan pemain Juventus pertama dalam sejarah yang dipanggil timnas Italia. Selain kiper, ada dua full back, Novo dan Bruna yang mempelopori duet bek tangguh dan diikuti oleh duet lainnya mulai dari Rosetta-Caligaris sampai Foni-Rava. Selain mereka, kekuatan tim juga bergantung kepada determinasi yang diperlihatkan Bona dan Giriodi. Semua pemain tersebut memberi kekuatan pada tim untuk meraih hasil maksimal, seperti kemenangan atas Casale pada 7 Maret 1920. Selain itu, mereka juga berhasil meraih hasil maksimal saat mengalahkan Genoa pada babak final Grup Utara, pada 16 Mei yang ditandai dengan hattrick dari Bona walau saat itu mereka tidak berhasil menjuarai Liga yang jatuh ke tangan Internazionale.

Debut Combi

Selanjutnya, orang-orang mulai membicarakan sepakbola sebagai fenomena baru olah raga. Para pendukung antusias mendukung klub walau hasil pertandingan tidak sesuai keinginan mereka. Di tahun 1921, klub tereliminasi pada fase pertama grup bahkan pada 1922 dan 1933, klub berada pada posisi klasemen yang buruk di Grup Utara. Namun semua itu perlahan-lahan mulai berubah. Adalah Marchi II, seorang mantan pemain yang pensiun dan menjadi pelatih karena alasan kesehatan, menemukan sesuatu yang hebat. Hal itu terjadi saat ia menyaksikan sebuah pertandingan junior dan terkesima dengan penampilan seorang kiper. Namanya: Giampiero Combi! Segera setelah itu, ia direkrut dan pada umur 18 tahun di tahun 1923, ia telah berhasil masuk sebagai tim inti.

1923 – 1929 AWAL TAHUN ’20-AN DAN GELAR KEDUA

Presiden klub Edoardo Agnelli

Pada 24 Juli 1923 Edoardo Agnelli, anak dari pendiri FIAT, terpilih sebagai presiden klub. Pada masa itu, klub mempunyai lapangan sepakbola pribadi selama kurun waktu setahun yang terletak di Corso Marsiglia, lengkap dengan tempat duduk terbuat dari batu bata. Tim menjadi lebih kuat dari sebelumnya dimana tim kedatangan bek hebat, Viri Rosetta dari Pro Vercelli. Tim terdiri dari kiper Combi, winger Munerati, Gabbi dan Bigatto, dan seorang penyerang tengah lincah Pastore (yang akhirnya beralih profesi menjadi aktor). Sementara itu, klub pertama kali dalam sejarah ditangani seorang manajer yaitu Jeno Karoly yang berasal dari Hungaria.

Scudetto Kedua

Manajer Karoly boleh saja sebagai dalang dari kesuksesan klub, namun aktor penting dibalik itu semua ada pada diri seorang pemain Hungaria, Hirzer. Selain itu, dalam perebutan title melawan Bologna, Juve harus memainkan partai ulang setelah di dua partai final sebelumnya kedua tim bermain seri. Pada 2 Agustus bertempat di Milan, Juve akhirnya berhasil memenangi gelar setelah menglahkan Bologna 2-1. Namun kegembiraan tidak berlangsung lama karena beberapa hari sebelumnya, Karoly, sang manajer meninggal dunia secara mengejutkan karena serangan jantung.

Dari Hirzer ke Orsi

Musim selanjutnya berjalan hampir mirip dengan musim sebelumnya. Setelah beberapa kali memetik kemenangan, namun akibat penampilan buruk di semifinal group, Juve terpaksa merelakan posisi pertama kepada Torino. Selain itu, Juve juga kehilangan sang aktor, Hirzer, akibat terganjal peraturan liga. Masuknya Cavenini III, yang sebelumnya cemerlang bersama Inter tidak banyak membantu karena usianya yang sudah uzur. Walau penampilan mereka tidak bisa dibilang jelek, Juve tetap saja tidak mampu menyaingi keperkasaan Bologna dan Inter Milan di 2 musim berikutnya.

Pada akhir tahun 20-an, Liga Serie A berubah format menjadi 1 grup. Ini membuat sepakbola menjadi semakin kompetitif dan dampaknya bagi Juve sangat signifikan. Mereka melihat ini sebagai peluang untuk kembali ke persaingan juara. Untuk itu, mereka menambah beberapa amunisi baru seperti, Caligaris, Cesarini, dan Raimundo Orsi. Nama terakhir merupakan pemain kelahiran Argentian namun mempunyai darah Italia dan ia terkenal setelah bermain bagus bersama timnas di ajang Olimpiade.

1930 – 1935 LIMA TITEL BERUNTUN (1930 – 1935)

Bergabungnya Ferrari, Vecchina dan Varglien II

Dalam rentang periode antara 1930-1935, sepakbola Italia menjadi saksi lahirnya sebuah klub yang mampu memenangi 5 gelar scudetto berturut-turut: Juventus. Tim ini menjadi legenda se-antero Italia dengan sebutan “Italy’s girlfriend”. Di bawah kepemimpinan Agnelli dan wakilnya, Baron Giovanni Mazzonis di Pralafera, Juve menjelma menjadi klub populer. Perubahan format kompetisi menjadi 1 grup (Liga Serie A) membawa perubahan signifikan bagi sepakbola Italia, pun bagi Juve. Dengan skuad yang terdiri dari beberapa pemain hebat seperti; Mumo Orsi, Cesarini, Varglien, Giovanni Ferrari, Vecchina dan trio legendaries Combi-Rosetta-Caligaris, Juve menjadi tim solid yang siap menyaingi keperkasaan Ambrosiana Inter (nama lama Inter Milan).

Di musim beikutnya, Juve melesat sendirian memimpin klasemen. Salah satu kejutan terbesar ialah saat mereka kalah 0-5 dari Roma pada 15 Maret 1931. Namun, tim segera melupakan kekalahan tersebut dan berhasil bangkit berhasil meraih titel juara setelah sebelumnya mengalahkan Inter di Turin.

Monti: sang penguasa pertahanan

Musim selanjutnya, tim di bawah asuhan manajer Carcano hanya perlu sedikit perubahan karena tim yang sudah ada tetap solid. Di lain pihak, Juve berhasil mendatangkan pemain anyar berposisi bek sayap: Luisito Monti. Dengan karakter pekerja keras dan tangguh, Monti menjelma menjadi salah satu bek tertangguh di Serie A musim ini. Di sisi lain, Juve menghadapi perlawanan ketat dari tim lain yang menjadikan mereka tim yang harus dikalahkan. Perlahan tapi pasti, mereka mulai menemukan bentuk permainan terbaik dan berhasil menduduki posisi pertama klasemen. Sementara itu, dalam pertandingan penting melawan Inter pada 17 Januari 1932, Oris dkk. berhasil memukul telak lawannya 6-2 dilanjutkan dengan membantai Roma 7-1 pada 6 Maret 1932. dan, pada 1 Mei , kemenangan 3-2 atas Bologna membawa Juve merebut scudetto 2 musim berturut-turut dan Orsi menjadi top skorer Liga dengan 20 golnya.

Musim berikutnya, Juve merekrut bek Bertolini dan pemain sayap Sernagiotto. Namun, pemain yang paling menyita perhatian muncul dari tim junior mereka: Felice Placido “Farfallino” Borel. Penyerang ini selalu membuat gol-gol penting bagi timnya dan di musim ini Juve berhasil finish di posisi pertama dengan 54 poin. Borel sendiri bermain fantastis dengan rekor 29 gol dalam 28 penampilan yang belum dapat disamakan hingga saat ini.

Stadion Baru dan gelar lanjutan

Musim 1933/1934, Juve sekali lagi sukses merebut scudettonya yang ke-empat secara beruntun dengan kontribusi Borel yang mencetak 31 gol dan 4 poin di atas Inter. Gelar di musim ini juga terasa lebih bermakna karena pesaing utama, Inter, merupakan tim terkuat saat itu termasuk bagi Juve yang tidak bisa mengalahkan mereka dalam duel langsung. Sementara itu, pada Februari 1934, Juve mempunyai stadion baru: New Comunale Stadium. Terakhir, di musim 1934/1935, Juve merebut gelar scudettonya yang kelima beruntun bersamaan dengan Italia yang menjadi juara Piala Jules Rimet. Gelar terakhir dalam 5 tahun ini sayangnya tidak bisa dinikmati Combi yang telah gantung sepatu.

1935 – 1949 SEBELUM DAN SESUDAH PERANG DUNIA II

Musim 1937/1938, Juve bersama trio pertahanan mereka; Amoretti-Foni-Rava berjuang merebut titel dari Inter namun mereka akhirnya harus puas menjadi runner-up. Di musim ini mereka sukses menjuarai Piala Italia pertama mereka setelah di final mengalahkan Torino.

Debut Parola

Selanjutnya, setelah musim berikutnya bermain buruk dan hanya finish di posisi 8, Juve berhasil memperbaiki posisi menjadi ketiga di musim selanjutnya. Salah satu hal yang penting di musim ini adalah debut dari salah seorang pemain muda mereka yang berposisi bek: Carlo Parola. Setelah berada di posisi 6 musim 1940/1941, mereka merebut Piala Italia kedua mereka di musim berikutnya. Di periode ini, Italia ikut Perang Dunia II dan ini membuat jalannya Liga menjadi terhambat.

Liga pada masa Perang

Sepakbola Italia terus berlangsung saat masa perang berjalan. Pada 1944, Juve ikut serta dalam sebuah turnamen lokal, yang akhirnya urung diselesaikan. Pada 14 Oktober, Liga kembali bergulir dan ditandai dengan derby Torino v Juventus. Torino yang saat itu mendapat sebutan “Grande Torino” kalah 2-1 dari Juventus. Namun di akhir musim justru Torino berhasil juara. Pada jeda musim panas, sebuah peristiwa penting terjadi di Juve pada 22 July 1945, Giannin Agnelli mengambil alih posisi presiden klub, meneruskan tradisi keluarga Agnelli. Dalam kepempinannya, Agnelli mendatangkan Giampiero Boniperti dalam jajaran staffnya. Ditambah amunisi baru seperti, Muccinelli dan tombak asal Denmark John Hansen.

1949 – 1957 GELAR PERTAMA BONIPERTI

Gelar juara telah diukir

Musim panas 1949, tragedy menimpa Torino. Para anggota tim mereka tewas dalam kecelakaan pesawat yang dikenal dengan “tragedy Superga”. Hal ini membuat Juventus mengambil alih kekuasaan liga. Dengan kedatangan skuad baru seperti, kiper Giovanni Viola, bek Bertucelli,Piccini, dan penyerang Vivolo, mereka mencoba merebut juara liga. Setelah merengkuh serangkaian kemenangan, pada 5 februari 1950 mereka menderita kekalahan telak 7-1 dari AC Milan di depan public sendiri. Namun, Juve berhasil bangkit dan berhasil memenangi gelar liga ke 8 mereka 4 minggu sebelum musim usai dengan torehan 100 gol/musim dan kemasukan 43; penyerang Hansen menjadi top skorer dengan 28 gol.

Martino pergi, Juve lakukan tur ke Brazil

Tahun berikutnya keadaan sedikit memburuk dengan hengkangnya sayap mereka, Martino ke Argentina. Lalu, perjalanan mereka di liga domestik tidak mulus dan banyak membuang poin di pertandingan mudah. Bulan Juni, mereka melakukan tur uji coba ke Brazil dan mencapai final sebelum kalah dari Palmeiras di Maracana.

Gelar di tahun 1952 bersama pemain Hungaria Sarosi

Juve mengganti manajer mereka dengan pria Hungaria, Sarosi. Di tahun ini, Juve berhasil memenangi scudetto ke 9 mereka dengan koleksi 60 poin, 98 gol dan 34 kemasukan. Dua musim berikutnya skuad bertambah kuat namun mereka harus merelakan elar liga kepada Inter karena banyaknya pemain yang cedera dan kondisi tim yang tidak kondusif.

Puppo dan para pemain muda

Gianni Agnelli meninggalkan klub pada 18 September 1954. Tahun ini periode gelap Juve dimulai dengan hanya mampu finish di posisi 7. Musim berikutnya, di bawah arahan manajer Puppo yang mengandalkan skuad muda Juve mulai mencoba bangkit. Setelah serangkaian kekalahan karena skuad yang belum matang, pada November 1956 kabar baik berembus dengan masuknya Umberto Agnelli sebagai komisioner klub. Skuad menjadi kuat dengan kedatangan beberapa pemain hebat seperti Omar Sivori dan John Charles.

1957 – 1961 CHARLES AND SIVORI

Sivori dan Charles (1957 – 1961)

Kedatangan kedua pemain di atas menjadikan Juve semakin solid di bawah arahan manajer Ljubisa Brocic. Musim 1957-58 Juve meraih gelar juara ke-10 dengan kontribusi Sivori dan Charles. Charles juga dinobatkan sebagai top skorer dengan 28 gol. Musim berikutnya berjalan sebaliknya. Juve bermain inkonsisten dan hanya mampu finish di posisi 4, walau berhasil meraih gelar Piala Italia.

Kembalinya Cesarini

Renato Cesarini yang pernah menangani klub pada musim 1959-1960 kembali ke klub. Dan hasilnya bisa ditebak, Juve merebut kembali scudetto ke-11 mereka dengan 55 poin. Sivori kembali hebat dengan raihan 27 gol.

Musim 1960-1961 penuh dengan kejutan. Juve kedatangan lawan berat, Inter di bawah asuhan pelatih legendaries Helenio Herrera. Paruh pertama musim merupakan kabar buruk bagi Juve. Namun di paruh kedua mereka membuat kejutan dengan berhasil mempertipis jarak menjadi 1 poin dengan pimpinan klasemen,Inter. Di pertandingan penentu, Juve mengalahkan Inter dalam perebutan scudetto. Juve juara untuk ke-12 kalinya.

1961 – 1969 TAHUN “MOVIMIENTO” (MOVEMENT/PERGERAKAN)

Perpisahan Boniperti dan lahirnya formasi 4-4-2

Musim ini jadi musim terakhir Boniperti. Juve mencoba peruntungan di kejuaraan Eropa namun terhenti oleh Real Madrid. Umberto Agnelli tinggalkan klub dan digantikan oleh seorang insinyur bernama Vittore Catella. Agustus 1962, Amaral dari Brazil menjadi manajer dan Juve bermain dengan formasi anyar 4-4-2. Namun di liga, mereka terpuruk di urutan kedua di bawah Inter.

Sejarah

1897  AWAL MULA
Dari Bangku Cadangan Pemain

Setiap legenda mempunyai cerita dimana pada suatu hari yang cerah, tepatnya 1 November 1897, sekelompok pemuda dari daerah Liceo D’Azeglio yang tengah duduk di bangku pemain di Corso Re Umberto memutuskan untuk membentuk tim olah raga dengan berfokus kepada permainan sepakbola. Mereka ini hanyalah sekelompok anak-anak yang saling berteman dan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan bersama dan bersenang-senang serta melakukan berbagai hal positif. Lalu, mereka merencanakan untuk bermain sepakbola di sebuah taman besar bernama Piazza d’Armi, dimana tempat ini biasa digunakan untuk lari dan berkuda. Selain itu, karena tempatnya yang cukup luas, tidak sulit bagi mereka untuk menemukan tempat bermain sepakbola di sana.

Itulah kira-kira gambaran kisah yang diceritakan oleh salah satu pendiri klub, Enrico Canfari: “Kami dulu menganggap perlu untuk bentuk sebuah tim dan kami memutuskan hal itu saat musim salju di tahun 1897.” Itulah kira-kira kisah awal terbentuknya Juventus, walau kisahnya sedikit kurang jelas, mungkin dikarenakan markas Canfari bersaudara di 42 Corso Re Umberto, tempat awal pertemuan memang sangat gelap.;. Usia mereka rata-rata 15 tahunan, yang tertua berumur 17 dan lainnya di bawah 15 tahun. Setelah itu, hal yang mungkin tidak jadi masalah sekarang ini tapi merupakan hal yang terberat bagi pemuda-pemuda tersebut saat itu ialah:mencari markas baru! Canfari bersaudara memutuskan untuk mencarinya sendiri dan akhirnya mereka menemukan salah satu tempat; sebuah bangunan yang memiliki halaman yang dikelilingi tembok, mempunyai 4 ruangan, sebuah kanopi dan juga loteng dan keran air minum.
Canfari, Ketua Pertama

Selanjutnya, Canfari menceritakan tentang bagaimana terpilihnya nama klub, segera setelah mereka menemukan markas baru. Akhirnya, tibalah pertemuan untuk menentukan nama klub dimana terjadi perdebatan sengit di antara mereka. Di satu sisi, pembenci nama latin, di sisi lain penyuka nama klasik dan sisanya netral. Lalu, diputuskanlah tiga nama untuk dipilih; “Societa Via Port”, “Societa sportive Massimo D’Azeglio “, dan “Sport Club Juventus”. Nama terakhir belakangan dipilih tanpa banyak keberatan dan akhirnya resmilah nama klub mereka menjadi “Sport Club Juventus”.

Eugenio Canfari, kakak dari Enrico Canfari yang mengisahkan kepada kita asal-usul klub di atas. Setelah itu, markas klub berpindah tempat di Via Piazzi 4, distrik Crocetta, sebuah bangunan dengan 3 ruangan.
1898 – 1905  DARI MULAI TERBENTUK HINGGA SCUDETTO PERTAMA

Seragam Merah Jambu

Juventus akhirnya resmi terbentuk. Sekali lagi, Enrico Canfari menceritakan kenangannya saat memainkan pertandingan pertamanya. Torino FC, klub sekota mengundang mereka melakukan pertandingan persahabatan. Awalnya, mereka tidak mengira sebuah klub terkenal mengajak mereka bertanding, namun pertandingan akhirnya dilaksanakan. Hasilnya bisa ditebak, tim Juve kalah telak! Namun permainan individual – karena mereka fokus berlatih dengan bola secara individu – mereka dipuji lawan. Segera setelah melalui pertandingan pertama, juga telah menemukan susunan sebelas pemain tetap, mereka mulai mulai rutin bertanding sampai pada suatu waktu mereka membentuk sebuah turnamen untuk membuktikan kapasitas mereka di Turin. Akan tetapi, masalahnya mereka saat itu belum mempunyai seragam klub. Selain itu, sulit untuk memilih bahan yang akan dipakai, apakah terbuat dari katun, flannel, atau wol. Sampai pada akhirnya, mereka memilih memakai kostum dari bahan katun tipis dan halus berwarna merah jambu yang mereka kenakan hingga tahun 1902, kostum yang terlupakan seiring berjalannya waktu.

Di tahun 1899, klub berganti nama menjadi Juventus Football Club. Mulai tahun 1900, mereka ambil bagian dari liga professional. Pertandingan resmi pertama mereka adalah saat kalah dari FC Torino pada tanggal 11 Maret. Di tahun 1901, mereka berhasil mencapai semifinal dan di tahun 1903 dan 1904, mereka kalah dari Genoa di final.
Juara Italia

Tahun 1905 adalah momen ajaib bagi tim putih-hitam-warna dari seragam klub yang mengadopsi warna Klub Inggris, Nottingham, yang popular sampai sekarang. Durante berada di posisi penjaga gawang; Armano dan Mazzia di posisi bek sayap; Walty, Goccione, dan Diment sebagai bek tengah; Barberis, Varetti, Forlano, Squire, dan Donna berada di baris penyerangan. Setelah menjuarai grup Piedmont, mereka kandaskan Milan dua kali dan menahan seri Genoa, yang hanya bermain imbang dengan Milan, untuk menjadi juara Italia dan berada di atas tim-tim dari daerah Liguria. Pada waktu itu istilah scudetto belum diperkenalkan, namun Federasi Sepakbola Italia memberi mereka pelat juara.

Alfred Dick adalah pimpinan klub saat itu sekaligus sebagai penyandang dana. Secara keseluruhan tim menjadi lebih kuat, sebagian besar akibat pengaruh pemain asing yang bekerja di pabrik tekstil miliknya. Tim ini hampir saja memenangi title kedua di tahun 1906, namun mereka tidak bersedia tampil di final melawan Milan sebagai bentuk protes mereka karena pertandingan tersebut dilakukan di Milan bukan di tempat netral seperti keinginan mereka. Selain itu, banyaknya pemain asing di tim membuat suasana kurang harmonis dan kepemimpinan Dick mulai dipertanyakan hingga ia memutuskan untuk hijrah ke Torino serta membawa beberapa pemain yang menjadi teman dekat dirinya.
1906 – 1923  SEBELUM DAN SESUDAH MASA PERANG DUNIA I

Tahun-tahun sulit

Setelah merengkuh gelar pertama, dimulailah masa-masa sulit bagi klub. Chairman Dick meninggalkan posisinya diikuti para pemain asing mereka yang memaksa klub merevisi target. Saat itu, keadaan klub sangat buruk dan mereka juga kedatangan lawan tangguh baru yaitu tim Pro Vercelli dan Casale. Kedua klub tersebut menjadi lawan menakutkan dan saling bersaing merebut posisi teratas. Musim 1913/1914 adalah musim terakhir sebelum masa Perang Dunia I. Musim selanjutnya lebih buruk dimana pada musim itu kompetisi ditunda pada 23 Mei 1915 karena Italia ikut ambil bagian dalam perang.


Majalah “Hurra Juventus” diterbitkan

Beberapa pemain dan official juga terjun dalam perang antar Negara itu dan kebanyakan dari mereka gugur atau menghilang. Untuk tetap mengetauhi keberadaan mereka, dibuatlah majalah “Hurra Juventus” yang ditulis oleh seorang editor, Corradino Corradini. Sampul majalah memperlihatkan moto: “Kemenangan akan menjadi milik yang terkuat dan percaya akan kekuatannya.”

Perang berakhir pada 11 November 1918 dan klub kehilangan beberapa pilar penting dalam perang itu namun keinginan untuk menang masih tetap hidup. Pada 12 Oktober 1912, klub kembali ke lapangan pertandingan untuk mengikuti kompetisi liga. Saat itu, Juventus diperkuat sang kiper, Giacone-yang tidak lama kemudian dipanggil masuk ke timnas Italia-kiper legendaris yang merupakan pemain Juventus pertama dalam sejarah yang dipanggil timnas Italia. Selain kiper, ada dua full back, Novo dan Bruna yang mempelopori duet bek tangguh dan diikuti oleh duet lainnya mulai dari Rosetta-Caligaris sampai Foni-Rava. Selain mereka, kekuatan tim juga bergantung kepada determinasi yang diperlihatkan Bona dan Giriodi. Semua pemain tersebut memberi kekuatan pada tim untuk meraih hasil maksimal, seperti kemenangan atas Casale pada 7 Maret 1920. Selain itu, mereka juga berhasil meraih hasil maksimal saat mengalahkan Genoa pada babak final Grup Utara, pada 16 Mei yang ditandai dengan hattrick dari Bona walau saat itu mereka tidak berhasil menjuarai Liga yang jatuh ke tangan Internazionale.

Debut Combi

Selanjutnya, orang-orang mulai membicarakan sepakbola sebagai fenomena baru olah raga. Para pendukung antusias mendukung klub walau hasil pertandingan tidak sesuai keinginan mereka. Di tahun 1921, klub  tereliminasi pada fase pertama grup bahkan pada 1922 dan 1933, klub berada pada posisi klasemen yang buruk di Grup Utara. Namun semua itu perlahan-lahan mulai berubah. Adalah Marchi II, seorang mantan pemain yang pensiun dan menjadi pelatih karena alasan kesehatan, menemukan sesuatu yang hebat. Hal itu terjadi saat ia menyaksikan sebuah pertandingan junior dan terkesima dengan penampilan seorang kiper. Namanya: Giampiero Combi! Segera setelah itu, ia direkrut dan pada umur 18 tahun di tahun 1923, ia telah berhasil masuk sebagai tim inti.
1923 – 1929  AWAL TAHUN ’20-AN DAN GELAR KEDUA

Presiden klub Edoardo Agnelli

Pada 24 Juli 1923 Edoardo Agnelli, anak dari pendiri FIAT, terpilih sebagai presiden klub. Pada masa itu, klub mempunyai lapangan sepakbola pribadi selama kurun waktu setahun yang terletak di Corso Marsiglia, lengkap dengan tempat duduk terbuat dari batu bata. Tim menjadi lebih kuat dari sebelumnya dimana tim kedatangan bek hebat, Viri Rosetta dari Pro Vercelli. Tim terdiri dari kiper Combi, winger Munerati, Gabbi dan Bigatto, dan seorang penyerang tengah lincah Pastore (yang akhirnya beralih profesi menjadi aktor). Sementara itu, klub pertama kali dalam sejarah ditangani seorang manajer yaitu Jeno Karoly yang berasal dari Hungaria.

Scudetto Kedua

Manajer Karoly boleh saja sebagai dalang dari kesuksesan klub, namun aktor penting dibalik itu semua ada pada diri seorang pemain Hungaria, Hirzer.  Selain itu, dalam perebutan title melawan Bologna, Juve harus memainkan partai ulang setelah di dua partai final sebelumnya kedua tim bermain seri. Pada 2 Agustus bertempat di Milan, Juve akhirnya berhasil memenangi gelar setelah menglahkan Bologna 2-1. Namun kegembiraan tidak berlangsung lama karena beberapa hari sebelumnya, Karoly, sang manajer meninggal dunia secara mengejutkan karena serangan jantung.


Dari Hirzer ke Orsi

Musim selanjutnya berjalan hampir mirip dengan musim sebelumnya. Setelah beberapa kali memetik kemenangan, namun akibat penampilan buruk di semifinal group, Juve terpaksa merelakan posisi pertama kepada Torino. Selain itu, Juve juga kehilangan sang aktor, Hirzer, akibat terganjal peraturan liga. Masuknya Cavenini III, yang sebelumnya cemerlang bersama Inter tidak banyak membantu karena usianya yang sudah uzur. Walau penampilan mereka tidak bisa dibilang jelek, Juve tetap saja tidak mampu menyaingi keperkasaan Bologna dan Inter Milan di 2 musim berikutnya.

Pada akhir tahun 20-an, Liga Serie A berubah format menjadi 1 grup. Ini membuat sepakbola menjadi semakin kompetitif dan dampaknya bagi Juve sangat signifikan. Mereka melihat ini sebagai peluang untuk kembali ke persaingan juara. Untuk itu, mereka menambah beberapa amunisi baru seperti, Caligaris, Cesarini, dan Raimundo Orsi. Nama terakhir merupakan pemain kelahiran Argentian namun mempunyai darah Italia dan ia terkenal setelah bermain bagus bersama timnas di ajang Olimpiade.

1930 – 1935  LIMA TITEL BERUNTUN (1930 – 1935)

Bergabungnya Ferrari, Vecchina dan Varglien II

Dalam rentang periode antara 1930-1935, sepakbola Italia menjadi saksi lahirnya sebuah klub yang mampu memenangi 5 gelar scudetto berturut-turut: Juventus. Tim ini menjadi legenda se-antero Italia dengan sebutan “Italy’s girlfriend”. Di bawah kepemimpinan Agnelli dan wakilnya, Baron Giovanni Mazzonis di Pralafera, Juve menjelma menjadi klub populer. Perubahan format kompetisi menjadi 1 grup (Liga Serie A) membawa perubahan signifikan bagi sepakbola Italia, pun bagi Juve. Dengan skuad yang terdiri dari beberapa pemain hebat seperti; Mumo Orsi, Cesarini, Varglien, Giovanni Ferrari, Vecchina dan trio legendaries Combi-Rosetta-Caligaris, Juve menjadi tim solid yang siap menyaingi keperkasaan Ambrosiana Inter (nama lama Inter Milan).

Di musim beikutnya, Juve melesat sendirian memimpin klasemen. Salah satu kejutan terbesar ialah saat mereka kalah 0-5 dari Roma pada 15 Maret 1931. Namun, tim segera melupakan kekalahan tersebut dan berhasil bangkit berhasil meraih titel juara setelah sebelumnya mengalahkan Inter di Turin.
Monti: sang penguasa pertahanan

Musim selanjutnya, tim di bawah asuhan manajer Carcano hanya perlu sedikit perubahan karena tim yang sudah ada tetap solid. Di lain pihak, Juve berhasil mendatangkan pemain anyar berposisi bek sayap: Luisito Monti. Dengan karakter pekerja keras dan tangguh, Monti menjelma menjadi salah satu bek tertangguh di Serie A musim ini. Di sisi lain, Juve menghadapi perlawanan ketat dari tim lain yang menjadikan mereka tim yang harus dikalahkan. Perlahan tapi pasti, mereka mulai menemukan bentuk permainan terbaik dan berhasil menduduki posisi pertama klasemen. Sementara itu, dalam pertandingan penting melawan Inter pada 17 Januari 1932, Oris dkk. berhasil memukul telak lawannya 6-2 dilanjutkan dengan membantai Roma 7-1 pada 6 Maret 1932. dan, pada 1 Mei , kemenangan 3-2 atas Bologna membawa Juve merebut scudetto 2 musim berturut-turut dan Orsi menjadi top skorer Liga dengan 20 golnya.

Musim berikutnya, Juve merekrut bek Bertolini dan pemain sayap Sernagiotto. Namun, pemain yang paling menyita perhatian muncul dari tim junior mereka: Felice Placido “Farfallino” Borel. Penyerang ini selalu membuat gol-gol penting bagi timnya dan di musim ini Juve berhasil finish di posisi pertama dengan 54 poin. Borel sendiri bermain fantastis dengan rekor 29 gol dalam 28 penampilan yang belum dapat disamakan hingga saat ini.
Stadion Baru dan gelar lanjutan

Musim 1933/1934, Juve sekali lagi sukses merebut scudettonya yang ke-empat secara beruntun dengan kontribusi Borel yang mencetak 31 gol dan 4 poin di atas Inter. Gelar di musim ini juga terasa lebih bermakna karena pesaing utama, Inter, merupakan tim terkuat saat itu termasuk bagi Juve yang tidak bisa mengalahkan mereka dalam duel langsung. Sementara itu, pada Februari 1934, Juve mempunyai stadion baru: New Comunale Stadium.

Terakhir, di musim 1934/1935, Juve merebut gelar scudettonya yang kelima beruntun bersamaan dengan Italia yang menjadi juara Piala Jules Rimet. Gelar terakhir dalam 5 tahun ini sayangnya tidak bisa dinikmati Combi yang telah gantung sepatu.

1935 – 1949  SEBELUM DAN SESUDAH PERANG DUNIA II

Musim 1937/1938, Juve bersama trio pertahanan mereka; Amoretti-Foni-Rava berjuang merebut titel dari Inter namun mereka akhirnya harus puas menjadi runner-up. Di musim ini mereka sukses menjuarai Piala Italia pertama mereka setelah di final mengalahkan Torino.
Debut Parola

Selanjutnya, setelah musim berikutnya bermain buruk dan hanya finish di posisi 8, Juve berhasil memperbaiki posisi menjadi ketiga di musim selanjutnya. Salah satu hal yang penting di musim ini adalah debut dari salah seorang pemain muda mereka yang berposisi bek: Carlo Parola. Setelah berada di posisi 6 musim 1940/1941, mereka merebut Piala Italia kedua mereka di musim berikutnya. Di periode ini, Italia ikut Perang Dunia II dan ini membuat jalannya Liga menjadi terhambat.
Liga pada masa Perang

Sepakbola Italia terus berlangsung saat masa perang berjalan. Pada 1944, Juve ikut serta dalam sebuah turnamen lokal, yang akhirnya urung diselesaikan. Pada 14 Oktober, Liga kembali bergulir dan ditandai dengan derby Torino v Juventus. Torino yang saat itu mendapat sebutan “Grande Torino” kalah 2-1 dari Juventus. Namun di akhir musim justru Torino berhasil juara. Pada jeda musim panas, sebuah peristiwa penting terjadi di Juve pada 22 July 1945, Giannin Agnelli mengambil alih posisi presiden klub, meneruskan tradisi keluarga Agnelli. Dalam kepempinannya, Agnelli mendatangkan Giampiero Boniperti dalam jajaran staffnya. Ditambah amunisi baru seperti, Muccinelli dan tombak asal Denmark John Hansen.

1949 – 1957  GELAR PERTAMA BONIPERTI

Gelar juara telah diukir

Musim panas 1949, tragedy menimpa Torino. Para anggota tim mereka tewas dalam kecelakaan pesawat yang dikenal dengan “tragedy Superga”. Hal ini membuat Juventus mengambil alih kekuasaan liga. Dengan kedatangan skuad baru seperti, kiper Giovanni Viola, bek Bertucelli,Piccini, dan penyerang Vivolo, mereka mencoba merebut juara liga. Setelah merengkuh serangkaian kemenangan, pada 5 februari 1950 mereka menderita kekalahan telak 7-1 dari AC Milan di depan public sendiri. Namun, Juve berhasil bangkit dan berhasil memenangi gelar liga ke 8 mereka  4 minggu sebelum musim usai dengan torehan 100 gol/musim dan kemasukan 43; penyerang Hansen menjadi top skorer dengan 28 gol.

Martino pergi, Juve lakukan tur ke Brazil

Tahun berikutnya keadaan sedikit memburuk dengan hengkangnya sayap mereka, Martino ke Argentina. Lalu, perjalanan mereka di liga domestik tidak mulus dan banyak membuang poin di pertandingan mudah. Bulan Juni, mereka melakukan tur uji coba ke Brazil dan mencapai final sebelum kalah dari Palmeiras di Maracana.

Gelar di tahun 1952 bersama pemain Hungaria Sarosi

Juve mengganti manajer mereka dengan pria Hungaria, Sarosi. Di tahun ini, Juve berhasil memenangi scudetto ke 9 mereka dengan koleksi 60 poin, 98 gol dan 34 kemasukan. Dua musim berikutnya skuad bertambah kuat namun mereka harus merelakan elar liga kepada Inter karena banyaknya pemain yang cedera dan kondisi tim yang tidak kondusif.
Puppo dan para pemain muda

Gianni Agnelli meninggalkan klub pada 18 September 1954. Tahun ini periode gelap Juve dimulai dengan hanya mampu finish di posisi 7. Musim berikutnya, di bawah arahan manajer Puppo yang mengandalkan skuad muda Juve mulai mencoba bangkit. Setelah serangkaian kekalahan karena skuad yang belum matang, pada November 1956 kabar baik berembus dengan masuknya Umberto Agnelli sebagai komisioner klub. Skuad menjadi kuat dengan kedatangan beberapa pemain hebat seperti Omar Sivori dan John Charles.
1957 – 1961  CHARLES AND SIVORI

Sivori dan Charles (1957 – 1961)

Kedatangan kedua pemain di atas menjadikan Juve semakin solid di bawah arahan manajer Ljubisa Brocic. Musim 1957-58 Juve meraih gelar juara ke-10 dengan kontribusi Sivori dan Charles. Charles juga dinobatkan sebagai top skorer dengan 28 gol. Musim berikutnya berjalan sebaliknya. Juve bermain inkonsisten dan hanya mampu finish di posisi 4, walau berhasil meraih gelar Piala Italia.
Kembalinya Cesarini

Renato Cesarini yang pernah menangani klub  pada musim 1959-1960 kembali ke klub. Dan hasilnya bisa ditebak, Juve merebut kembali scudetto ke-11 mereka dengan 55 poin. Sivori kembali hebat dengan raihan 27 gol.

Musim 1960-1961 penuh dengan kejutan. Juve kedatangan lawan berat, Inter di bawah asuhan pelatih legendaries Helenio Herrera. Paruh pertama musim merupakan kabar buruk bagi Juve. Namun di paruh kedua mereka membuat kejutan dengan berhasil mempertipis jarak menjadi 1 poin dengan pimpinan klasemen,Inter. Di pertandingan penentu, Juve mengalahkan Inter dalam perebutan scudetto. Juve juara untuk ke-12 kalinya.

1961 – 1969  TAHUN “MOVIMIENTO” (MOVEMENT/PERGERAKAN)

Perpisahan Boniperti dan lahirnya formasi 4-4-2

Musim ini jadi musim terakhir Boniperti. Juve mencoba peruntungan di kejuaraan Eropa namun terhenti oleh Real Madrid. Umberto Agnelli tinggalkan klub dan digantikan oleh seorang insinyur bernama Vittore Catella. Agustus 1962, Amaral dari Brazil menjadi manajer dan Juve bermain dengan formasi anyar 4-4-2. Namun di liga, mereka terpuruk di urutan kedua di bawah Inter.
Piala Alps dan perpisahan Sivori

Musim panas 1963, Juve merebut Piala Alps, gelar internsional pertama mereka, di Swiss. Amaral hengkang digantikan oleh Eraldo Monzeglio dan pada 1964 diganti lagi oleh orang Paraguay, Heriberto Herrera. Ia menerpkan latihan keras dan suatu pola baru yang yakni moviento (pergerakan tanpa bola). Mereka berhasil merebut Piala Italia. Musim selanjutnya, Sivori pindah ke Napoli dan Juve berjuang di papan atas namun mengakhiri kompetisi di posisi kelima.

Musim 1966, Juve merebut gelar ke-13 mereka di saat-saat akhir dengan menyalip Inter Milan. Mereka juga bermain di kompetisi Eropa namun kembali gagal.

1969 – 1976  AWAL TAHUN 70-AN

Awal tahun 70-an

19169: pelatih Heriberto Herrera digantikan Luis Carniglia dan beberapa pemain baru, Marchetti, Morini, Furino, Roberto Vieri dan Lamberto Leonardi, direkrut. Tim berjuang dari awal untuk beradaptasi dengan taktik baru. Setelah beberapa lama, terjadi perubahan besar di tim, Boniperti naik sebagai Direktur Pelaksana dan Italo Alodi sebagai Direktur Umum sementara Ercole Rabitti menggantikan Carniglia. Tim mulai beranjak naik memperbaiki posisi dan berusaha mengejar Cagliari dengan berhasil menorehkan 8 kemenangan beruntun. Namun hal itu sudah terlambat karena Cagliari dengan andalannya Gigi Riva hanya butuh hasil seri saat melawan Juve untuk meraih titel dan mereka berhasil melakukannya.

Pada musim selanjutnya, tim dirombak. Haller dan Salvadore menjadi satu-satunya pemain yang dipertahankan dan Juve merekrut beberapa pemain muda seperti, Spinosi, Capello dan Landini dari Roma. Sementara itu, Franco Causio dan Roberto Bettega pulang dari masa pinjamannya di Palermo dan Varese. Armando Picchi didaulat sebagai manajer tim namun tidak lama kemudian ia mengundurkan diri karena sakit.

Paruh pertama musim, Juve belum stabil dalam permainan dan di paruh kedua mereka berhasil kembali ke performa terbaik terutama saat mencapai final Fairs Cup (cikal bakal Piala UEFA) namun kalah dari Leeds United. Saat itu, Juve ditangani manajer Vycpalek. Musim 1971/72, pekan ke-4, Juve kalahkan AC Milan 4-1 di San Siro ditandai permainan apik Bettega dan Causio. Namun beberapa saat kemudian, mesin gol Bettega harus istirahat karena sakit dan posisi pertama klasemen milik Juve menjadi terancam. Untungnya mereka berhasil konsisten dan merebut scudetto ke-14 mereka.

Musim selanjutnya mereka kedatangan kiper legendaries Dino Zoff dan Jose Altafini dari Napoli. Di musim ini, Juve dihadapkan pada jadwal pada Liga dan kompetisi Eropa. Setelah berjuang samai menit akhir, Juve berhasil menyalip AC Milan, yang secara mengejutkan kalah dipertandingan terakhir mereka, dan merebut scudetto ke-15. Namun, di kompetisi Eropa, mereka kalah dari Ajax yang domotori Johan Crujff di Final Piala Champions di Belgrade.
Kembalinya Parola

Musim 1973/74: Juve mengawali musm dengan buruk, dan ditambah tereliminasi di kompetii Eropa walau telah merekrut Claudio Gentile dari Varese. Di akhir musim, Juve finish kedua di bawah Lazio. Akan tetapi di tahun berikutnya, Juve kembali ke puncak. Setelah kembalinya eks pemain mereka Carletto Parola sebagai manajer ditambah pemain baru, Damiani dan Scirea, Juve merebut scudetto pada 18 Mei saat menhancurkan Vicenza 5-0. di musim 1975/76, keadaan sama persis: Juve memimpin dan tim lain berusaha mengejar, diantaranya Torino. Setelah musim berjalan mendekati akhir, Juve kehilangan konsentrasi dan terpaksa merelakan gelar kepada Torino.

1976 – 1982  GELAR TRAPATTONI

Rekor Gelar

1976-77. Torino sebagai juara bertahan mendapat lawan sepadan dari Juventus yang hampir seluruh timnya dirombak. Trappattoni masih menjadi manajer klub dengan Boninsegna dan Benetti sebagai pemain baru menggantikan Anastasi dan Capello. Juventus memulai musim dengan baik namun Torino berhasil menyalip pada saat keduanya betemu di derby. Akan tetapi, pada pekan 12, Juventus berhasil menyamakan poin dengan Torino. Keduanya bertarung ketat hingga akhir musim. Pada pekan ke 26, poin kedua tim sama dan pekan berikutnya Juventus berhasil unggul satu poin dan mempertahankannya sampai akhir musim. Pada akhir musim, melalui gol Bettega dan Boninsegna saat melawan Sampdoria membuat Juventus merebut scudetto dengan 50 poin unggul 1 poin atas Torino. Beberapa hari sebelumnya, Juventus baru saja memenangi Piala UEFA pertama mereka dengan mengalahkan Bilbao.
1978, masih pertama

Musim berikutnya, 1977-1978, Juventus yang ikut serta kembali di kejuaraan Eropa, mendatangkan beberapa muka baru seperti, Virdis, Fanna, dan Verza. Juventus bermain konsisten dan hanya Vicenza yang menguntit mereka. Paruh pertama musim, Juve unggul 2 poin dari Torino, 3 poin dari Vicenza, dan 4 poin dari AC Milan. Setelah itu mereka bermain dengan baik dan bermain seri saat derby, menahan 2-2 Inter Milan setelah tertinggal 2-0 pada 8 April. Akhirnya, hasil imbang dengan Roma satu pekan sebelum akhir musim membawa mereka merengkuh scudetto ke 18 mereka.
Dua tahun masa transisi

Musim panas musim 1978, Juventus kehilangan kesempatan untuk merekrut Paolo Rossi, salah satu pemain terbaik Piala Dunia asal Argentina, dari Vicenza. Musim ini tidak seperti musim sebelumnya dimana mereka memulai musim dengan buruk baik di liga maupun di kejuaraan Eropa. Juventus berhasil mencuri 3 poin dari AC Milan dengan kemenangan 1-0 namun sesudahnya mereka kembali bermain tidak konsisten dan akhirnya menyerahkan gelar juara ke tangan AC Milan. Pada musim selanjutnya, Juventus merekrut Bodini, Tavola, Prandelli, dan Marocchino dari Atalanta. Paruh pertama musim, Juve berada di papan tengah namun berhasil mengejar Inter dengan empat kemenangan beruntun. Akan tetapi, Inter akhirnya sulit dikejar dan sekali lagi gelar juara lepas dari genggaman.  1980-1981, Juventus mulai membangun kekuatan di awal bulan Desember dengan menahan seri Roma 0-0. Pekan ke-20, Roma berhasil menguntit Juve di posisi puncak dan Napoli juga mengejar.

Pada 10 Mei, Juve dan Roma bermain seri dalam pertandingan yang sarat kontroversi, dan setelahnya Juve berhasil menang atas Napoli dan Fiorentina sekaligus merebut gelar di detik-detik terakhir.1981-82, salah satu musim terbaik Juve. Dimulai dengan enam kemenangan beruntun, Juve mulai meninggalkan jauh lawan-lawannya. Namun, akibat serangkaian hasil buruk mereka mulai kedodoran. Pada akhirnya, Juve dan Fiorentina yang mempunyai poin sama hingga sampai pekan terakhir mereka harus memainkan partai penentu. Di pertandingan itu, Juve berhasil menang atas Catanzaro melalui penalty Liam Brady sedang Fiorentina ditahan seri Cagliari. Dengan hasil ini, Juve kembali merebut scudetto.

1982 – 1986  ERA PLATINI

Kekecewaan di Athena

Setelah 6 pemainnya ikut andil dalam timnas Italia yang menjuarai Piala Dunia 1982, ditambah dengan kedatangan mega bintang Prancis Michele Platini, Juventus kembali difavoritkan di musim 1982-83. Namun Juventus yang juga disibukkan dengan jadwal kejuaraan Eropa memulai kompetisi dengan lambat. Hal itu ditunjukkan dengan menelan kekalahan dari Sampdoria di pertain pembuka musim serta menag dengan tidak meyakinkan atas Fiorentina dan Torino. Sementara di Eropa, mereka berhasil menyingkirkan Hvidovre (Denmark) dan Standard Liege (Belgia) di penyisihan. Akan tetapi, Juventus kembali ke trek juara di musim dingin bersamaan keberhasilan mereka menembus perempat final Liga Champions. Selanjutnya, kemenangan atas Roma melalui 2 gol dari  Platini dan Brio membuat jarak keduanya berselisih 3 poin dengan Roma di posisi puncak. Namun, karena konsentrasi Juve terpecah antara Serie A dan Liga Champions akhirnya tidak berhasil mengejar AS Roma yang menjadi juara. Juventus seharusnya bisa menumpahkan kekecewaannya di Liga saat mereka bertemu Hamburg di final Liga Champions tapi hal itu tidak terjadi. Berada di posisi kedua di kompetisi domestic dan Eropa, Juventus akhirnya berhasil merebut gelar penghibur saat menjuarai Piala Italia dan Piala Interkontinental.
1984- Sejarah gelar ganda

Musim panas 1983, Juve kehilangan dua pilar inti mereka. Dino Zoff gantung sepatu di usia 41 tahun sedangkan Bettega beralih ke Kanada untuk mengakhiri karirnya di sana. Pemain lain seperti Fanna, Galderisi, Morocchino dan Virdis juga meninggalkan klub. Juve merekrut kiper baru dari Avellino: Stefano Tacconi dan Beniamino Vinola dari klub yang sama. Sementara Nico Penzo menjadi pendampong Rossi di lini depan. Juve pada saat itu berkonsentrasi penuh di dua kompetisi, Liga dan Piala Winner. Hasilnya, melalui penampilan yang konsisten sepanjang musim, Juve merengkuh gelar liga satu minggu sebelum kompetisi usai. Dan gelar ini ditambah gelar lainnya di Piala Winner saat mereka mengalahkan Porto 2-1 di Basel pada 16 Mei 1984. Dua gelar ini sangat bersejarah dan merupakan prestasi bagi kapten klub Scirea dan kawan-kawan.

Raja di kompetisi Eropa

1984-85. Juve kedatangan banyak muka baru diwakili Briaschi dan Favero. Namun permainan mereka menjadi inkonsisten. Kekalahan dari Inter pada 11 November membuat mereka memutuskan untuk berkonsentrasi di Eropa. Pada bulan Januari, Juve merengkuh gelar Piala Super Eropa setelah mengandaskan Liverpool 2-0. Di Liga Champions, Juve berhasil melaju sampai final. Kembali ke liga, kemenangan Juve atas Inter dan Torino membuat Verona, tim kejutan musim itu, menjuarai liga. Dan akhirnya pada 29 Mei 1985, bertempat di Bruxelles, Juve mementaskan partai final Liga Champions. Setelah sebelumnya diwarnai tragedi berdarah antar supporter, Juve akhirnya berhasil meraih trofi Eropa melalui penalty Michael Platini di malam yang penuh dengan tragedi.

1985-86. Juve memulai musim dengan sempurna melalui 8 kemengan beruntun. Hasil ini membuat persiapan mereka di Piala Interkontinental pada 8 Desember di Tokyo, Jepang menjadi maksimal sekaligus merebut gelar di sana. Di liga, Juve bersaing ketat dengan Roma hingga poin keduanya sama di sisa 2 pekan terakhir. Namun kejutan terjadi saat Roma menelan kekalahan dari tim yang sudah terdegradasi, Lecce sementara Juve menang atas AC Milan. Pekan terakhir tidak merubah apapun dan Juve merebut gelar juara liga dengan Platini menjadi top skorer klub dengan 12 gol.

1986 – 1990  JUVENTUS ARAHAN ZOFF: RATU PIALA

Musim terakhir Platini

1986-87. Trapattoni meninggalkan Juventus dan bergabung ke Inter setelah melatih selama 10 tahun. Posisinya digantikan oleh Rino Marchesi. Dampaknya, beberapa perubahan terjadi di skuad Juve; Vignola kembali dari masa pinjaman, bek Solda direkrut dari Atalanta dan bocah 17 tahun Renato Buso didatangkan dari tim junior klub. Sementara ikon klub, Platini yang kelelahan sehabis membela negaranya di Piala Dunia Meksiko menandatangani kontrak 1 tahun dan akan pensiun saat kontraknya berakhir pada akhir musim. Di liga, Juve memulainya dengan 3 kemenangan dan hasil seri lawan AC Milan. Sementara di Liga Champions, setelah melewati hadangan klub medioker Valur, Juve bertemu lawan super berat, Real Madrid yang dihuni oleh bintang-bintang seperti Butragueno, Sanchis dan Gordillo. Juve pun akhirnya menyerah melalui adu penalti. Kembali ke liga, Juve masih terkena dampak tereliminasi di kejuaraan Eropa dan menelan kekalahan dari Napoli yang saat itu diperkuat megabintang Diego Maradona. Hasil ini menjadi factor penentu karena saat keduanya kembali bertemu di San Paolo, Juve kembali kalah dan gelar Scudetto direbut Napoli yang merupakan gelar pertama bagi mereka. Musim itu, Juventus finish di posisi kedua.
Dari Rush hingga  kembalinya Zoff.

1987-88. Setelah kehilangan Platini, Juve juga kehilangan Lionel Manfredonia yang kontraknya tidak diperpanjang serta Aldo Serena yang kembali ke klub lamanya, Inter. Sementara itu, pemain baru banyak berdatangan seperti Alessio dan Bruno dari Como, Tricella dan De Agostini dari Verona, dan Magrin dari Atalanta serta yang paling utama: Penyerang tengah Wales Ian Rush dari Liverpool.

Akan tetapi, musim ini merupakan kekecewaan bagi Juventus. Setelah tereliminasi dari UEFA Cup di musim gugur, Juventus tersendat di liga. Akhirnya, dengan susah payah mereka berhail merebut tiket ke Eropa setelah menang adu penalti di play-off lawan Torino.

1988. Dino Zoff meninggalkan posnya di timnas Olimpiade Italia dan bergabung sebagai manajer baru Juventus. Sementara, Ian Rush, Vignola, Alessio dan Bonini dijual ke klub lain. Posisi mereka digantikan pemain baru seperti Rui Barros asal Portugal, Altobelli, pemain muda menjanjikan Marocchi, dan pemain Rusia pertama di Italia, Alexandr Zavarov. Musim dimulai, Juve langsung melesat sebelum akhirnya takluk dari Napoli 5-3. untuk beberapa saat, Juve membuntuti dengan ketat posisi puncak dan akhirnya kehilangan konsentrasi. Hal itu karena mereka harus membaginya dengan perjuangan mereka di Piala UEFA saat bertemu sesame Italia, Napoli di perempat final. Hasilnya, mereka tersingkir di babak perpanjangan waktu dan harus puas di posisi 4 klasemen liga.
Gol-gol Schillaci

1989-90. Juve merekrut pemain baru diantaranya: pemain timnas Rusia, Alejnikov, penyerang Schillaci dan Casiraghi, mantan bek timnas Dario Bonetti dan gelandang Fortunato. Sementara, Laudrup, Mauro, Magrin dan Favero dilego. Pemain baru yang menjadi perhatian adalah Schillaci. Atas kontribusinya, Juve melesat memimpin klasemen liga sebelum mereka kalah dari AC Milan. Walau berhail bangkit dengan menaklukkan Inter dan membalas AC Milan 3-0, pada akhir kompetisi mereka hanya mampu finis ketiga di belakang Napoli dan AC Milan. Namun keadaan berbalik 180 derajat di kompetisi Eropa. Tim arahan Zoff ini berhasil sampai ke final UEFA Cup untuk bersua tim sesame Italia, Fiorentin dalam all Italian final. Hasil akhir, Juve merebut gelar Piala UEFA kedua mereka dan menambahnya dengan gelar juara Piala Italia setelah mengalahkan AC Milan di final pada25 April melalui gol Galia.
1991 – 1994  AWAL TAHUN 90-AN

Maifredi yang meragukan

Piala Dunia yang berlangsung di Italia memunculkan nama bintang Juventus, Toto Schillaci sebagai pahlawan. Juve sendiri memulai musim kompetisi dengan menderita kekalahan telak dari Napoli 5-1 pada ajang Piala Super Italia. Pada musim ini, terjadi beberapa perubahan dimana Luca Cordero di Montezemolo ditunjuk sebagai wakil presiden. Juve mempunyai manajer baru bernama Gigi Maifredi dan skuad kedatangan pemain seperti Roberto Baggio, Thomas Haessler asal Jerman, bek Brazil Julio Cesar, Di Canio, Luppi dan De Marchi serta pemain muda potensial Corini dan Orlando.

Di musim ini, AC Milan menjadi klub yang menghentikan ambisi Juve menjadi juara. Di sisa akhir musim, mereka kalah dari Sampdoria di Marassi dan untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka gagal lolos ke Eropa setelah hanya mampu bertengger di posisi ketujuh klasemen. Sementara di Piala Winner, Juventus terhenti di semifinal dari tangan Barcelona.
Kembalinya Trapattoni dan direkrutnya Kohler

Musim panas 1991 menjadi saksi kembalinya Giampiero Boniperti sebagai presiden Juventus. Sementara Trapattoni kembali menjadi manajer dan membawa beberapa perubahan di tim dengan keluarnya Haessler dan Fortunato. Sementara Juve membeli pemain asal Jerman Juergen Kohler dan Steffan Reuter selain Carrera, Conte, dan kiper muda Peruzzi. Dengan lini pertahanan yang kembali solid, Trap berhasil membawa Juve memuncaki klasemen liga. Selanjutnya, mereka bermain konsisten dan berhasil menahan imbang AC Milan. Akan tetapi, petaka dating saat mereka kalah dari Sampdoria dan meraih rentetan dua hasil imbang. Hal ini membuat AC Milan menyalip mereka dan menjauh. Juve finis di posisi kedua klasemen. Hal yang sama terjadi di Piala Italia dimana setelah berhasil menyingkirkan AC Milan di semifinal, mereka kalah dari Parma di final.

Piala UEFA, Vialli dan Roberto Baggio

Juve memulai musim ’92-’93 dengan target sama di musim sebelumnya. Nama besar seperti Schillacci, Tacconi dan Julio Cesar keluar dari tim. Sementara, Gianluca Vialli datang dari Sampdoria bersamaan dengan Moeller, Platt, dan Ravanelli serta Dino Baggio. Peruzzi dipromosikan sebagai kiper utama dan pemain berpengalaman Rampulla sebagai kiper cadangan. Namun, Juve tetap kehilangan konsistensi seperti musim lalu. AC Milan berhasil merebut banyak poin dan Juve tidak mampu mengejar mereka. Juve akhirnya berkonsentrasi penuh di Piala UEFA. Hasilnya tidak pun mengecewakan. Mereka melaju sampai final setelah sebelumnya mengalahkan PSG yang diperkuat George Weah. Di final yang memainkan system Home and Away, mereka tidak menemui kesulitan melawan klub Jerman, Borussia Dortmund dan trofi ketiga Piala UEFA masuk ke lemari klub. Sementara di liga, Juve finis di posisi empat dibelakang Inter dan Parma serta AC Milan yang menjadi juara.

Musim 1993-94, Juve memulainya dengan baik dan berhasil menundukkan Sampdoria yang diprkuat Ruud Gullit serta memenangi derby dengan Torino 3-2. Juve makin mantap mengejar posisi puncak melalui gol-gol Roberto Baggio, Moeller dan Ravanelli. Namun, setelah permainan  spektakuler di paruh partama liga, Juve ditaklukkan pemuncak klasemen AC Milan dan hasil ini membuat mereka gagal menyalip dan melepas gelar juara ke klub kota Milan tersebut. Akan tetapi, di bagian akhir musim, pemuda 19 tahun milik Juve bernama Alessandro Del Piero memainkan partai debut di tim utama dan mencetak gol perdananya saat melawan Genoa. Hasil manis didapat Juve di akhir-akhir kompetisi dengan mengalahkan Inter 1-0 dan Lazio 6-1 untuk memastikan posisi runner-up.
1995 – 1998  KEMENANGAN LIPPI

1995, Debut Lippi

Musim panas 1994, Marcelo Lippi ditunjuk sebagai manajer baru Juventus. Ferrara, Paulo Sousa dan Deschamps merupakan wajah baru tim sedangkan Del Piero dipromosikan dari tim junior. Musim dimulai dengan cukup baik, dimulai dengan hasil imbang dan 2 kemenangan atas Bari dan Napoli. Lalu kemenangan dalam pertandingan yang cukup alot melawan Sampdoria lewat gol tunggal Di Livio. Juve mengakhiri paruh pertama musim dengan memimpin klasemen. Di paruh kedua, keadaan menjadi lebih baik bagi tim, dengan kemenangan tandang atas Sampdoria dan AC Milan, Juve terlihat akan memenangi liga dengan mudah. Namun, hal itu menjadi berantakan akibat tiga kekalahan beruntun yang membuat Parma berhasil menguntit ketat. Walau begitu, Juve berhasil lolos dari kejaran Parma saat keduanya bertemu di Delle Alpi dan Juventus meraih kemenangan mutlak 4-0 sekaligus memastikan gelar juara. Parma terbukti menjadi lawan tangguh saat itu dimana keduanya kembali bertemu di final Piala UEFA. Saat itu giliran Juventus yang harus menyerah. Juventus membalas di Piala Italia saat Vialli dkk. mengalahkan Parma di pertemuan mereka yang ke-2 di final.

Musim berikutnya, Juventus harus kehilangan Kohler yang kembali ke Jerman dan menggantikannya dengan bek berumur namun penuh pengalaman, Vierchowood. Kali ini mereka berkonsentrasi di kompetis domestik dan Eropa. Hal ini membuat perjalanan mereka di liga agak tersendat. Dan, setelah imbang 1-1 dengan AC Milan, mereka memutuskan untuk berkonsentrasi penuh di Liga Champions. Setelah menyingkirkan Madrid di perempatfinal dan Nantes di semifinal, mereka berjumpa Ajax pada 22 Mei 1996. Di pertandingan  tersebut, kedua tim yang bermain imbang 1-1 selama 120 menit, hasil akhir harus ditentukan dengan duel adu penalty. Juventus menang 4-2 dan berhasil mengangkat trofi Liga Champions yang mereka idamkan. Setelahnya, mereka berhasil menambah trofi setelah merebut Piala Super Italia di bulan Januari, saat mengandaskan Parma 1-0 di Delle Alpi.

1997, Dari Boksic ke Vieri

Musim panas 1996 membawa beberapa perubahan bagi Juventus. Vialli dan Ravanelli pergi, dan Boksic, Vieri dan Amoruso menggantikan posisi mereka. 2 pembelian penting ada di posisi bek dan gelandang serang melalui Montero dan Zidane. Di musim ini, Juve berhasil meraih Piala Interkontinental di Tokyo, setelah gol tunggal Del Piero berhasil menyudahi perlawanan wakil Argentina, River Plate. Trofi bertambah setelah Juve meraih Piala Super Eropa saat membungkam wakil Prancis, Paris St. Germain. Kembali ke liga, dengan diwarnai kemengana sensasional 6-1 atas AC Milan, mereka kembali meraih scudetto setelah hasil imbang lawan Parma di Delle Alpi. Sayangnya, hasil ini tidak diikuti di Liga Champions dimana mereka kalah di final yang berlangsung di Munich oleh wakil Jerman Borussia Dortmund yang diperkuat mantan pemain mereka, Moeller dan Paulo Sousa.
1998, Del Piero dan Inzaghi: lumbung gol Juve

Pippo Inzaghi dan Edgar Davids merupakan pemain anyar Juventus di musim ’97-’98. Rival terberat mereka saat itu ialah Inter Milan yang diperkuat pemain terbaik dunia, Ronaldo. Hasil penentu terjadi saat lima kemenangan beruntun, dan hasil positif lawan AC Milan (4-1) dan gol semata wayang Del Piero dari titik putih saat lawan Inter membuat mereka secara matematis memenangi scudetto dua pekan sebelum musim berakhir. Sementara kejadian musim lalu terulang di Liga Champions saat mereka takluk dengan skor tipis 0-1 dari Real Madrid.
1999 – 2001  MASA KEPEMIMPINAN ANCELOTTI

Dari Lippi ke Ancelotti

Musim1998-1999: Juventus tidak banyak berubah namun para rival mereka, Inter dan AC Milan serta Lazio memperkuat skuadnya. Setelah memenangi dua pertandingan pertama, mereka kalah dari Parma namun berhasil bangkit dengan menglahkan Inter untuk kembalim memimpin klasemen. Pada 8 November saat bersua Udinese, Juve yang unggul 2-0 harus rela kehilangan 3 poin di menit-meint akhir. Situasi bertambah parah karena kapten tim, Del Piero cedera parah dan harus absen di sepanjang musim. Hasilnya bisa ditabak, permainan tim anjlok dan Juve hanya bisa berkutat di papan tengah walau saat itu sempat membeli Juan Esnaider dan Thierry Henry yang masih belia. Dan, hanya 2 kemenangan atas Lazio dan Fiorentina yang membuat posisi mereka aman di papan tengah. Di sisi lain, Juve harus rela bermain di Piala InterToto akibat kalah di play-oof lawan Udinese. Di akhir musim yang buruk ini, Lippi mengundurkan diri dan diganti Carlo Ancelotti yang sebelumnya sukses bersama Parma.

Selanjutnya di musim panas 1999, Juve memulai petualangan di bawah arahan Ancelotti di Piala InterToto. Beberapa nama baru direkrut: kiper asal Belanda, Van Der Sar, sayap belia Zambrotta, pemain Nigeria Oliseh dan bomber Serbia Darko Kovacevic. Seterusnya, setelah start di awal musim yang baik, Juve berhasil meneruskan performanya dengan mengandaskan Roma dan Inter Milan dan berhasil memimpin klasemen. Di lain pihak, Lazio menjadi rival terberat saat itu. Saat keduanya bertemu di Delle Alpi, pada 1 April 2000, mereka kalah dan terus kehilangan poin setelahnya. Akibatnya, posisi puncak diambil alih Lazio. Di pekan terakhir, Juve bertandang ke Perugia. Di pertandingan yang diwarnai hujan lebat, Juve harus menyerah dan membiarkan Lazio menyalip mereka ke tangga scudetto.

Musim berikutnya tidak jauh berbeda. Dengan Ancelotti masih memberi arahan dari bangku cadangan, Juve membeli penyerang asal Prancis David Trezeguet dari Monaco. Kompetisi saat itu didominasi oleh tim asal Roma lainnya, AS Roma. Juventus bermain inkonsisten dan meraih terlalu banyak hasil imbang. Akibatnya, Juve tidak berhasil mengejar Roma. Di saat keduanya berjumpa pada 6 Mei, Juve yang telah unggul 2-0 berhasil dikejar dan hasil akhir menjadi imbang 2-2. Sesudahnya, walau berhasil memenangi 5 pertandingan terakhir, Juventus tetap tidak bisa mengejar dan Roma menjadi juara dengan 75 poin, unggul 2 poin atas mereka. Sementara bomber anyar Juve, Trezeguet menjadi satu-satunya hal positif dengan berhasil mencetak 14 gol di sisa 6 pertandingan terakhir.
2002 – 2003  MEMASUKI MILLENIUM BARU

2002, Juve  salip Inter Milan di detik-detik terakhir untuk meraih scudetto

Musim panas 2001: Juve merombak tim dengan Marcello Lippi kembali menangani tim. Buffon, Thuram, Nedved dan Salas merupakan pembelian terpenting saat itu. Namun, mereka harus kehilangan sang maestro, Zidane yang pindah ke Real Madrid.

Juventus memulai musim dengan 3 kemenangan namun terpeleset saat lawan Roma dan ditahan Torino 3-3. Setelah mengalami naik turun dan pada akhirnya tibalah saat penentuan. Di akhir musim, dua kemenangan atas Piacenza dan Brescia membuat jarak mereka dengan pimpinan klasemen Inter hanya tinggal 1 poin. Di pekan terakhir, Inter bertandang ke Lazio sedangkan Juve bertamu ke Udinese dan Roma, yang secara matematis masih bisa juara ditantang Torino di Delle Alpi. Hasilnya sungguh di luar dugaan: Juve tancap gas dan menutup pertandingan di lima belas menit awal, sedangkan Inter berjuang mengejar ketertinggalan atas Lazio namun hasil akhir tak berubah. Inter takluk dari Lazio dan Juve menjadi juara di detik-detik terakhir sekaligus menorehkan sejarah di scudetto ke-26 mereka.

2003, Nedved sang pemimpin

September 2002, juara bertahan Juventus memulai musim dengan beberapa perubahan. Mereka membeli Di Vaio di saat akhir penutupan transfer. Inter dan AC Milan memulai lebih baik namun pada bulan November mereka berhasil disalip. Juventus babat AC Milan 2-1 dan hancurkan Torino 4-0. Di penghujung musim, Juve menang atas Parma sedang Inter takluk dari Chievo dan Milan ditahan Lazio. Juve semakin dekat ke gelar juara saat mereka menang 3-1 atas Como dan 3-0 atas Inter arahan Cuper. Akhirnya, gelar juara itu diraih juga pada 10 Mei setelah hasil seri 2-2 dengan Perugia, 2 pekan sebelum musim berakhir, cukup membuat mereka merengkuh scudetto ke-27 mereka. Sementara itu, Juve hampir saja mencetak sejarah double winner saat berhasil menaklukkan Real Madrid untuk melaju ke final Liga Champions melawan AC Milan dalam All Italian Final. Sayangnya, tim asuhan Lippi tersebut kalah beruntung melalui adu penalty di final yang dilangsungkan di Old Trafford, Manchester itu.
Presiden Chiusano Wafat 

Pada 15 Juli 2003, Juve membeli hak dari Stadion Delle Alpi untuk 99 tahun mendatang dari Dewan Kota Turin sehingga mereka berhak membangun stadion pribadi. Pada bulan Agustus, mereka berangkat ke USA untuk memainkan partai Piala Super Italia lawan AC Milan. Skor 0-0 setelah 90 menit, 1-1 setelah perpanjangan waktu, namun kali ini Juve memenangi duel adu penalty. Akan tetapi, kegembiraan klub tidak berlangsung lama. Sebuah kabar mengejutkan datang: Presiden klub Vittorio Caissotti di Chiusano meninggal dunia. Ia lalu digantikan oleh Franzo Grande Stevens, Wakil presiden dari FIAT. Setelah merengkuh Piala Italia, musim liga dimulai dengan buruk. Setelah bermain baik di paruh pertama musim, mereka tertinggal di belakang AC Milan dan AS Roma. Juventus juga kehilangan konsentrasi di Liga Champions, yakni tersingkir dari tim asal Spanyol Deportivo La Coruna dan juga gagal di final Piala Italia setelah kalah lawan Lazio. Di sisi lain, setelah kehilangan Chiusano, Juve juga kehilangan seorang figur penting klub: mantan presiden Umberto Agnelli meninggal pada 27 Mei 2004 akibat kanker paru-paru.
2004 – 2006  DUA GELAR TAMBAHAN

Emerson, Cannavaro dan Ibrahimovic

Musim panas 2004, Lippi pergi dan digantikan oleh Fabio Capello. Juve banyak merekrut pemain baru mulai dari Emerson (Roma), Cannavaro (Inter), Blasi (Parma) dan pemain Prancis Zebina (Roma) serta yang terpenting ialah bomber Swedia Ibrahimovic (Ajax). Juve memulai kompetisi dengan baik; Brescia ditaklukkan, Atalanta dan Sampdoria tidak berkutik dan satu hasil seri sebelum rentetan kemenangan. Di akhir November, Juve kehilangan 3 poin saat Inter berhasil mengejar ketertinggalan 0-2 menjadi 2-2 dan juga saat ditahan tim sekota Inter, AC Milan pada 18 Desember. Namun terlepas dari hasil ini, laju Juventus tak terhentikan. Kemenangan tandang atas AS Roma mendekatkan mereka ke gelar juara. Tapi Juve tersendat setelah kalah dari Inter di kandang dan pertandingan lawan AC Milan pada 8 Mei menjadi penentu gelar juara. Juventus menang melalui gol Trezeguet sekaligus merebut scudetto dengan unggul 7 poin atas posisi kedua, AC Milan dan 14 poin atas posisi ketiga, Inter Milan.
9 kemenangan beruntun

Setelah menambah amunisi dengan mendatangkan Mutu dan Chiellini serta Vieira, Juve memulai musim 2005-2006 dengan performa lebih baik. Mereka berhasil membukukan 9 kemenangan beruntun sebelum berakhir di tangan AC Milan. Segera setelahnya, para pemain Juve menunjukkan performa apik di awal musim dengan menundukkan Roma 4-1 dan Fiorentina 2-1 sekaligus meninggalkan para pesaing terdekatnya. Pada   Februari 2006, Juventus yang saat itu berada di posisi pertama memenangi pertandingan super penting lawan Inter. Mereka hanya butuh hasil imbang lawan AC Milan di pertandingan berikutnya untuk memastikan gelar juara.

Sementara itu di Liga Champions, mereka harus takluk di perempatfinal dari tangan Arsenal (finalis saat itu) 0-2 dan 0-0. Di sisi lain, pada sisa akhir musim, Juventus dinyatakan terlibat dalam sebuah investigasi yang melibatkan petinggi mereka, Luciano Moggi dan Antonio Giraudo. Hal ini terbukti dari terungkapnya beberapa percakapan telepon oleh kedua orang tersebut kepada petinggi Federasi Sepakbola Italia. Skandal ini terungkap media dan segera public mengenalnya dengan nama skandal Calciopolli. Sementara itu, Moggi mengundurkan diri dari klub sehari setelah liga berakhir diikuti dengan Giraudo beberapa hari kemudian. Hal ini membuat perubahan besar-besaran di jajaran manajemen klub. Giovanni Cobolli Gigli terpilih sebagai presiden klub, dan Jean-Claude Blanc menjabat rangkap sebagai Direktur Pelaksana dan Direktur Umum. Skandal Calciopolli terus terkuak dan Juventus didakwa turun kasta ke “divisi lebih rendah dari Serie B”. Juve juga kehilangan gelar scudetto musim 2004-2005 dan 2005-2006. Dan, setelah melalui beberapa proses investigasi, Juve akhirnya terdegradasi ke Serie B dengan pengurangan 30 poin di awal musim, yang mana dikurangi menjadi 17 dan, setelah mendapat rekomendasi Komite Olimpiade Nasional, berkurang menjadi “hanya 9 poin” untuk musim 2006-2007.
2006 – 2007  KEMBALI KE JALUR JUARA

Kedatangan Didier Deschamps

10 Juli 2006: Juventus yang harus bermain di Serie B akibat skandal Calciopolli mendapat seorang manajer baru sekaligus mantan pemain mereka, Didier Deschamps. Beberapa pemain banyak yang hengkang namun tak sedikit yan bertahan seperti: Buffon, Del Piero, Trezeguet, Nedved dan Camoranesi. Pelatih Prancis ini juga mempunyai stok pemain muda yang mumpuni dalam diri Paro, Marchisio, Palladino dan Giovinco.

Juventus memulai petualangan pertama mereka di Serie B dengan hasil yang kurang mulus. Hal itu disebabkan lantaran mereka buta akan kekuatan lawan, pun dengan pengurangan 17 poin di awal kompetisi. Baru pada pekan ketiga semua hal itu berubah dimana mereka berturut-turut mengalahkan Crotone, Modena, Piacenza, Treviso, Triestina, Frosinone dan Brescia. Hasil ini membuat mereka beranjak ke posisi teratas dan semakin mendekati zona promosi ke Serie A.

Akan tetapi, sebuah tragedi naas terjadi saat mereka tengah meretas jalan kembali ke Serie A. Pada 15 Desember 2006, tepat sebelum pertandingan antara Juve melawan Cesena, 2 pemain muda mereka yaitu gelandang Alessio Ferramosca dan kiper Riccardo Neri mengalami kecelakaan saat tenggelam di danau buatan tempat latihan klub, dan membuat mereka meninggal seketika. Dengan kesedihan mendalam atas kejadian ini, Juve kembali ke lapangan dan berhasil meraih kemenangan atas Bologna yang didedikasikan kepada kedua pemuda tersebut.

Di bagian akhir musim, Juve mulai nyaman memimpin klasemen. Selain itu, dua rival terberat mereka Napoli dan Genoa mereka taklukkan masing-masing 2-0 dan 3-1. Dan, pada 19 Mei 2007, kemenangan besar atas Arezzo membuat mereka secara matematis promosi ke Serie A dan diikuti dengan kemenangan kandang atas Mantova yang membuat mereka memastikan menjadi juara Serie B. Di lain pihak, Deschamps memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya dengan Juventus. Giancarlo Corradini dipilih menangani tim sampai akhir musim dan pada 4 Juni, Juventus mengumumkan bahwa mereka telah mendapatkan manajer baru: Claudio Ranieri.
2007 – 2008  KEMBALI KE PAPAN ATAS

Kedatangan Ranieri

Musim panas 2007: Claudio Ranieri terpilih sebagai manajer baru Juve yang beru saja kembali ke Serie A dan bertugas membawa kembali klub ke kasta teratas liga secepatnya. Sementera dalam hal skuad terdapat banyak nama baru. Di pertahanan ada nama Criscito, Andrade, Grygera, Molinaro, sementara Tiago, Almiron, Nocerino, Salihamidzic mengisi lini tengah dan penyerang haus gol, Vicenzo Iaquinta. Juve memulai musim dengan menghancurkan Livorno 5-1 dan menunjukkan kepada lawan determinasi dan ketajaman lini depan mereka. Sepekan setelahnya, determinasi kembali ditunjukkan Juve saat menaklukan Cagliari 3-2. Namun setelahnya, mereka terpeleset setelah kalah di kandang sendiri dari Udinese melalui gol tunggal Di Natale. Akan tetapi, kekalahan tersebut tidak menggoyahkan mental Juve dan di pekan selanjutnya mereka sukses menahan favorit juara AS Roma 2-2 dan membantai Reggina 4-0. setelahnya lebih manis, mereka memenangi derby pertama musim itu melalui gol tunggal Trezeguet.
Menahan  sang pimpinan klasemen

Laju kemenangan Juve terhenti pada 27 Oktober, yaitu saat kalah dari Napoli. Namun kekalahan tersebut dinilai lebih berbau kontroversial karena keputusan wasit yang tidak memberi penalti. Sesudahnya, Del Piero dkk. dengan cepat bangkit dan membungkam Empoli 3-0 dan, dengan permainan yang brillian, menahan laju kemenangan beruntun sang juara bertahan Inter Milan 1-1.
2008, start lambat Juve

Pada awal 2008, Juve mulai kehilangan poin penting saat melawan Catania, Sampdoria dan Cagliari. Namun akhirnya kembali meraih kemenangan atas Udinese dan AS Roma. Di transfer paruh musim, Juve merekrut Sissoko dari Liverpool untuk menambah daya gebrak lini tengah mereka. Masuknya pemain ini membuat Juve berhasil mempersempit jarak hanya menjadi satu poin dengan posisi kedua, AS Roma. Namun, di Reggio Calabria, sebuah keputusan controversial wasit lagi-lagi membuat mereka takluk dari Reggina 1-2. Hasil ini membuat mental tim jatuh dan hasil imbang di derby dan takluk dari Fiorentina di kandang sendiri membuat posisi mereka untuk ke Liga Champions musim depan terancam. Akan tetapi, memasuki bulan Maret, situasi berubah positif. Diawali kemenangan atas Genoa, lalu Napoli, dan bahkan mereka berhasil mengalahkan pimpinan klasemen Inter Milan 2-1 dengan penampilan yang luar biasa.

Di akhir musim, Juve meraih hasil beragam. Kalah dari Palermo (diantaranya ditentukan oleh peforma bagus dari pemain masa depan Juve, Amauri), lalu menang atas AC Milan yang saat itu baru saja menjuarai Piala Dunia Antar Klub. Setelahnya, tiga kemenangan atas Parma, Atalanta dan Lazio mengamankan tempat ketiga buat mereka. Sementara kapten Juve, Del Piero ditahbiskan menjadi top skorer dengan 21 gol, satu gol lebih banyak dari tandemnya, David Trezeguet.

Nike Bet Click Balocco

Single Baru Iwan Fals Feat. Blackout – Tergila-Gila

Posted in IWAN FALS on 2011/05/31 by chikal setiawan

Iwan Fals & Blackout
Ini adalah single paling baru Iwan Fals feat. Blackout ditahun 2011 yang berjudul Tergila-Gila. Kabarnya sudah gencar kita dengar sejak sekian bulan yang lalu, video clipnya juga sudah diproses dan saat pembuatannya diliput banyak media. Blackout juga sudah tampil sepanggung dengan Iwan Fals di sebuah konser mempromosikan lagu ini. Lalu benarkah dalam waktu dekat single ini akan launching?.. entah… Yang jelas makin banyak yang penasaran.
Lirik lagu Tergila-Gila Iwan Fals feat. Blackout ini asyik, musiknya riang, oke didengarkan sambil goyang.. haha. Kolaborasi yang pas antara vokal berat Iwan Fals dan musik keren dari Blackout. Dan yang bikin ane terkejut, ada harmonikanya!!. Oi.., harmonika khas Iwan Fals…! Lagu ini lumayan mengobati kerinduan tiupan harmonika seperti di lagu-lagu Iwan era 90-an.
Single Tergila-gila Iwan Fals feat. Blackout ini diproduksi oleh label Falcon Music. Disini ane kasih liriknya dan ada juga video preview lagu ini yang dinyanyikan oleh Blackout, minus Iwan Fals. (sb)

Tergila-Gila
Iwan Fals feat. Blackout – Single 2011
Cipt: Azizi
Falcon Music
Sudah lama aku sendiri
Tak ada cinta di hati
Uuu yeah… Uuu yeah…
Uuu yeah… Uuu yeah..
Uuu yeah… Uuu yeah…

Saat bertemu dengan dia
Hatiku jadi bahagia

Dimanapun aku ada

Disitupun kamu ada
Dimana-mana kamu ada

Kau membuatku jadi gila
Kau membuatku tak berdaya
Bila bersama dengan dia
Kuingin hidup selamanya

Wo.. o.. o.. o….!

Dengan dirimu aku bahagia
Tanpa dirimu terasa hampa
Karena dirimu sudah membuat

Aku jatuh cinta…!
Kau membuatku jadi gila.. Ooooohh…
Kau membuatku tak berdaya
Bila bersama dengan dia
Kuingin hidup selamanya
Wo.. o.. o.. o….!
Woo o… Woo o… Woo o… Woo o…
Woo o… Woo o… Ya ya ya yaee… haha…
Gila… jadi gila… jadi gila… jadi gila…
Gila… jadi gila… jadi gila… oooooohhh….
Gila… jadi gila… jadi gila… jadi gila…
Oooooooohhhhh…….!!!
——————————-
Ingin dengar seperti apa lagu Tergila-Gila?. Berikut ini adalah video preview lagu Tergila-Gila yang dibawakan secara akustik oleh Blackout, minus Iwan Fals. Sumber dari Youtube. Kita tunggu saja versi jualannya.
Sumber : http://iwanfalsmania.blogspot.com/2011/05/single-baru-iwan-fals-feat-blackout.html#more

Batas Tak Berbatas – Iwan Fals – OST Film ‘Batas’ 2011

Posted in IWAN FALS on 2011/05/31 by chikal setiawan

Batas Tak Berbatas‘ adalah judul single terbaru Iwan Fals di tahun 2011. Lirik dibuat oleh Slamet Rahardjo Djarot, dan digubah menjadi lagu oleh Iwan Fals. Lagu ini menjadi original soundtrack film Batas yang rilis bulan Mei 2011.
BATAS TAK BERBATAS 
Theme Song : OST BATAS
Penyanyi : Iwan Fals
Ciptaan : Iwan Fals
Lirik : Slamet Rahardjo Djarot
Sendiri menanti pagi
Setitik embun bergantung di ujung daun
Sang dara melamun
Mimpi menelan matahari
Reff :
Suci embun segar perawan
Bergaun cahaya
Melintas batas
Ambisi dan kenyataan
Melambung tinggi, jauh
Ke alam impian
Bridge :
mana sungai dan pepohonan
Berkelindan menganyam kehidupan
Jejak telah dilangkahkan
Seribu kehendak harus terlahirkan
Urai jerat keangkuhan
Melepas belenggu
Rasa tahu berlebihan
Reff :
Memang gaun ini mesti berganti
Cahaya tak lagi menyilaukan
Dan menjelma menjadi pelurus hati
Kini sang dara menyanyi lagi
Bridge :
Tak lagi dia mau merasa sepi
Tak lagi dia mau merasa sendiri
Segar perawan berdandan
Atas cermin bercahaya kenyataan
Mimpi indah adalah
Fatamorgana
Walau samar cakrawala
Adalah kenyataan
Tampak jauh untuk ditempuh
Tapi itulah batas
Dari kehendak manusia yang tak berbatas
Oooh.. hmmmmm..
Reff :
Suci embun segar perawan
Bergaun cahaya
Melintas batas ambisi dan kenyataan
Melambung tinggi, jauh
Ke alam impian
Bridge :
Dimana sungai dan pepohonan
Berkelindan menganyam kehidupan
Dimana sungai dan pepohonan
Berkelindan menganyam kehidupan
————————-
BATAS
a film by Rudi Soedjarwo
produced by Marcella Zalianty
coming to theatres
12 Mei 2011

Dua tahun sudah musim ini tak berkemarau

Posted in puisi on 2011/05/30 by chikal setiawan

Otakku buntu untuk kerasnya berpikir
Otakku terus berdenyut hentakkan syaraf
Otakku beku tumpul dan sedikit berkarat
Otakku mulai meleleh bak aspal terkena jilat api

Congkak dengki bernyanyi brutal
Tinjuku melambungkan kepal amarah
Tunjuk angkasa membelah udara
Emosi bangkitkan buasku
Geram cakar meringkik nyeri

Camar lolongkan suara sumbangnya malam ini
Burung hantu tak mau ketinggalan melantunkan syair terjeleknya malam ini
Kucing mengeong syahdu
Anjing melolong membelah kesunyian
Akupun tak mau mengalah…
Jeritkan suara parauku yang tak pernah merdu sedari dulu

Hujan terus membasahi
Dua tahun sudah musim ini tak berkemarau
Selalu membasahi jiwa keringku
Membasahi dahagaku walau tak pernah tembus kuyup
Padahal rintikan air hujan saban hari selalu berbagi

Ah entahlah ini pertanda apa
AKu bukanlah seorang peramal yang ulung
Tapi sesuatu akan terjadi
Tapi aku sendiripun tak tahu apakah itu…..

IWAN FALS : SELAMAT JALAN FRANKY

Posted in IWAN FALS on 2011/04/25 by chikal setiawan

Pada hari Rabu 20 April 2011, Franky Sahilatua meninggal dunia karena sakit. “Selamat Jalan Franky”, begitulah status yang diketik Iwan Fals di akun twitternya. Franky adalah penyanyi legendaris yang sangat populer di Indonesia. Bersama adiknya Jane, Franky kerap menyanyikan lagu bertema alam dan kehidupan. Banyak karyanya yang masih sering dinyanyikan sampai sekarang.

Iwan Fals adalah salah satu penyanyi yang beberapa kali berkolaborasi dengan Franky Sahilatua. Dan rata-rata lagu karya mereka berdua cukup populer. Franky juga pernah memberi lagu untuk dinyanyikan Iwan, begitu juga sebaliknya. Berikut beberapa lagu yang berhubungan dengan Franky Sahilatua dan Iwan Fals.

KEMESRAAN (1988)

Siapa yang tidak mengenal lagu ini. Lagu ini adalah karya dari Franky dan Jhony Sahilatua yang pada awalnya dinyanyikan oleh duet legendaris Franky & Jane. Namun pada masa itu lagu ini tidak terlalu populer. Kemudian Iwan Fals ditawari untuk menyanyikan kembali bersama Titiek Hamzah. Lagi-lagi karya ini tidak terlalu dikenal. Baru kemudian pada tahun 1988 lagu ini dinyanyikan bersama-sama penyanyi lain yang tergabung dalam Musica Studio seperti Chrisye (alm), Rafika Duri, Betharia Sonata dan sebagainya yang menjadi lagu yang populer dan legendaris. Lagu Kemesraan versi terakhir ini adalah titik awal populernya lagu gaya ‘keroyokan’ di Indonesia yang saat itu memang sedang menjadi trend. Karya ini sampai sekarang seperti menjadi lagu ‘wajib’ pada berbagai acara seremonial.

TERMINAL (1994)

Lagu ini karya Iwan Fals yang dinyanyikannya bersama Franky Sahilatua dan musik oleh Ian Antono. Kabarnya single ini dimunculkan sebagai rasa terima kasih Iwan Fals kepada Franky S yang pernah memberikan lagu Kemesraan untuk dinyanyikannya.

ORANG PINGGIRAN (1995)

Single yang dinyanyikan Iwan Fals bersama Franky ahilatua dan musik oleh Ian Antono. Merupakan lanjutan kerjasama mereka setelah meluncurkan single Terminal yang sukses dipasaran.

DIBAWAH TIANG BENDERA (1996)

Dari historynya lagu ini tidak direkam untuk diedarkan secara komersial, melainkan hanya dibuat klipnya sebagai proyek “penyuluhan” bagi masyarakat. Proyek ini dibiayai oleh dua perusahaan rokok besar dari Jawa Timur. Klipnya mengambil setting di Gunung Bromo Jawa Timur. Lagu ini diciptakan pada tahun 1996, dengan latar belakang peristiwa 27 Juli. Dinyanyikan oleh Iwan Fals, Franky dan artis Musica. Musik oleh Ian Antono.

MENANGIS (1999)

Lagu ini adalah karya Iwan Fals yang kemudian dinyanyikan sendiri oleh Franky Sahilatua.

BUNGAKEHIDUPAN

Ini lagu karya Iwan Fals yang musiknya dikerjakan oleh Ian Antono. Lagu ini dinyanyikan oleh ‘Kelompok Solidaritas’ yang merupakan kumpulan artis-artis Musica. Disini Franky juga ikut bernyanyi pada beberapa bait liriknya.

Dari Wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Franky_Sahilatua

Franky Hubert Sahilatua (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 16 Agustus 1953 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 20 April 2011 pada umur 57 tahun) adalah penyanyi balada asal Surabaya, Indonesia. Franky memiliki dua adiknya yaitu Jane Sahilatua dan Johnny Sahilatua.Namanya dikenal publik sejak paruh kedua dekade 1970-an, ketika ia berduet bersama adiknya, Jane Sahilatua, dengan nama Franky & Jane. Duet ini sempat menghasilkan lima belas album, semuanya di bawah Jackson Record.

Setelah duet ini mengakhiri kerja samanya, karena Jane kemudian menikah dan hendak memusatkan diri pada keluarga, Franky lebih banyak bersolo karier.

Lirik lagu karya Franky pada masa Franky & Jane cenderung pada pemujaan alam pada awalnya, misalnya pada lagu Musim Bunga dan Kepada Angin dan Burung. Namun demikian, seperti kebanyakan penulis lagu balada lain, Franky gemar pula “bercerita” mengenai kehidupan orang sehari-hari, seperti Perjalanan atau Bis Kota. Franky pernah menulis dan menyanyikan lagu-lagu soundtrack untuk film Ali Topan.

Sejak tahun 1990-an hingga sekarang, Franky banyak terlibat dalam aksi-aksi panggung bertema sosial dan nasionalisme. Ia aktif terlibat dalam masa peralihan politik dari Orde Baru menuju Reformasi.

sumber: http://iwanfalsmania.blogspot.com/2011/04/iwan-fals-selamat-jalan-franky.html

Biarkan Matahari Terbit di Pagi hari

Posted in puisi on 2011/04/21 by chikal setiawan

Tersembunyi dibalik tirai sehelai kain
Kau begitu anggun
Pancarkan cahaya tak terhingga
Engkau adalah mahluk terindah yang kutemui
Engkaulah Bidadari dalam khayalku
Mengenalmu adalah siksa

Kenapa waktu baru mempertemukan
Disaat semuanya tak mungkin ku raih
Ketika suasana sudah berubah
Ketika status menjadi penyekat
Tatkala Matahari sudah mulai terbenam
Dan tak mungkin kembali diputar siang

Terkadang berontak menyelinap
Mengendap bagai maling
Lumpuhkan pondasi hati
Terkena erosi
Sedikit tapi pasti rasa itu menjelma
Bak raja yang menjadi juara di istana

Benar kata bang Iwan Fals
Keinginan adalah sumber penderitaan
Keinginan yang tak mungkin terealisasi
Semuanya tak mungkin terjadi
Tak mungkin
Dan sangat tak mungkin….

Biarlah matahari terbit dipagi hari
Dan biarkan pula pulangnya di senja hari
Biarkan semuanya berjalan apa adanya
Janganlah berpikir untuk merubahnya
Semua biarkan berada pada jalurnya
Biar kehidupan tetap berlanjut…

Daratan itu Masih Jauh…

Posted in puisi, Uncategorized on 2011/04/20 by chikal setiawan

Gelap masih juga belum beranjak
Sunyi sepi tak ada suara
Jerit rintih memaki
Inikah Taqdir garis ini
Ataukah ini secuil kisah
Menuju singgasana

Ketika hidup berjalan tanpa arahan
Ketika kedua orang tua yang dicintai telah tiada
Ketika banyak masalah menerpa
Ketika semuanya datang tiba-tiba

Tak ada lagi yang bisa membuatku tersenyum
Tak ada lagi yang bisa membuatku bahagia
Tak ada seorangpun selain kalian wahai yang udah tinggal nama
Tak ada dan tak akan ada lagi…

Perahu ini kian oleng
Sudut-sudutnya mulai terisi air
Terkatung-katung ditengah laut lepas
Angin semakin kencang menerpa
Sedangkan daratan masih jauh dipelupuk mata

Ah….
Kenapa selalu irama ini yang hadir
Tak pernah jemukah
Tak pernah bosankah
Sumbang tak merdu ini setia menemani

Hadirlah, datanglah..
Wahai mujizat sang penguasa
Disini aku menghiba
Belai kasihmu…
Tunjukanlah…
Tunjukanlah….

Sendiri dikegelapan

Posted in puisi, Uncategorized on 2011/04/18 by chikal setiawan

Sekian waktu berjalan
Putari waktu langkahi realita
Coba ku lawan Taqdir
Ku ingin taqdir bertekuk lutut bersama waktu
Ku ingin Engkau buka matamu sebelum hari senja….
Kuingin Engkau terbangun sebelum matahari terbit..

Lingkaran ini kian menghimpit
Kian terjal, curam dan dan berdebu
Gelap, sepi, tak ada suara
Diantara keheningan itu ..
Hanya ada aku, napasku, dan segenggam cita-citaku

Pahit yang kutelan
Adalah sedikit gambaran garis lintang kehidupan
Tak terbujur kaku, tak terbentang panjang
Terduduk di sudut pojok sepi
Sedikit daya yang tak pernah mati
Menjadi energy diri
Untuk melanjutkan perjalan ini…
Adalah sebongkah harapan dan cita-cita yang tak pernah mati

Aku sendiri disini
Seolah aku tak punya siapa-siapa lagi
Tak ada lagi cahaya lilin itu
Tak ada lagi… tak ada lagi

Si Anjing yang kuselamatkan

Posted in ungkapanku on 2011/03/29 by chikal setiawan

Setiap hari Asep bekerja siang dan malam bahkan sampai tak mengenal waktu cuma untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga yang kian hari kian terasa semakin menghimpit, dalam benaknya sangatlah indah jikalau bisa melihat anak semata wayangnya yang lagi lucu-lucunya bisa tersenyum manis setiap hari. Rasa lelah dan cape setelah seharian keliling mencari rejeki sirna sudah ketika mendapati rengekan sang buah hati yang meronta ingin di gendong atau pengen diajak jalan-jalan keliling. Kebetulan dari hasil rejeki yang Asep dapat sedikit demi sedikit dikumpulin dan kini Asep sudah bisa mencicil rumah sangat sederhana yang bagi Asep itu adalah Istana terindah bagi keluarga kecilnya itu.

Asep kian hari kian terpacu semangatnya dalam mencari rejeki, apalagi setelah pindah di rumah barunya itu. Disingkirkan rasa lelah dan capenya, Asep tak pernah mengenal hari hujan ataupun panas yang menyengat, dalam hatinya hanya berharap bisa membawa rupiah untuk anak dan isteri tercinta yang selalu setia menantinya di rumah.

Rumah tangga asep begitu tenteram, tak pernah ada persoalan yang membuat mereka sampai bertengkar hebat. Apalagi setelah lahirnya sang buah hati yang mereka dambakan, membuat rumah tangganya semakin lengkap dan terasa semakin sempurna.

Tak terasa sudah 7 tahun Asep membina rumah tangga dengan sang isteri tercinta, sang buah hatipun kian hari kian besar dan kini sudah menginjak 5 tahun. Semakin ganteng, semakin pintar, semakin menggemaskan dengan tingkah polahnya sehari-hari.

Suatu hari mertua Asep menelpon dari kampoeng bahwa sodara jauhnya minta dicarikan kerja di Jakarta, karena dikampung gak ada yang bisa dikerjakan dan teramat sulit untuk mencari pekerjaan di kampung dan mertua Asep memohon agar Asep bisa mencarikan pekerjaan buat sodara jauhnya itu.

Seminggu kemudian sodara mertua Asep pun datang ke rumah Asep. Asep menerimanya dengan senang hati kedatangan sodara dari mertuanya itu. Asep berjanji akan mencarikan pekerjaan buat sodara mertuanya itu, tapi asep bilang harus sabar menunggu karena di Jakarta sendiri tak semudah seperti anggapan orang dalam hal mencari pekerjaan apalagi di kota sebesar Jakarta ini.

Sambil menunggu dapat pekerjaan kamu tinggal aja disini, bantu apa saja yang kamu bisa kerjakan di rumah ya,”ujar Asep kepada sodara mertuanya itu, iya om, jawab ”Ari singkat. Asep semakin semangat dalam bekerja, pagi-pagi sudah berangkat dan coba mulai bertanya ke teman-teman kenalannya barangkali ada lowongan pekerjaan buat si Ari sodara jauh mertuanya itu.

Hampir sebulan sudah Ari tinggal di rumah Asep, Ari numpang segala-galanya di rumah Asep, dari makan, tidur dan segala-galanya. Bahkan dengan kebaikan Asep, jikalau pulang membawa  rejeki lebih Asep selalu membawakan makanan dan sebungkus rokok buat Ari sodara dari mertuanya itu.

Menginjak bulan kedua Ari tinggal di rumah Asep, Asep malam itu pulang dari tempat kerjanya dengan membawakan beberapa bungkus makanan dan sebungkus rokok buat Ari. Asep senang sekali karena setelah hampir dua bulan berusaha mencarikan pekerjaan buat Ari akhirnya Asep mendapatkan pekerjaan itu. Besok kamu sudah bisa mulai kerja ri,” ujar Asep kepada Ari. Iya Om terima kasih banyak atas bantuannya selama ini kata Ari sambil menghisap sebatang rokok.

Seminggu setelah Ari mulai kerja, Ari bilang mau kost biar bisa belajar mandiri dan tidak merepotkan Om lagi, “ ujar Ari kepada Asep memulai obrolan malam itu. Kalo kamu belum sanggup untuk Kost biar kamu tinggal aja disini dulu gak apa-apa kok Ri, “ucap Asep kepada Ari. Gak kok Om, Ari ingin belajar mandiri aja dan tempat Kostnya sudah ada, “ Timpal Ari kepada Asep. Ya kalo kamu maunya seperti itu ya Om gak bisa maksa, tapi yang penting kamu bisa jaga diri baik-baik ya,” kata Asep sambil sedikit ngasih wejangan kepada Ari.

Keesokan harinya Ari mulai bergegas membawa barang-barang keluar dari rumah Asep, Ari pamit ya Om, Ujar Ari kepada Asep. Iya Ri,” Asep menjawabnya. Mbak,” Ari pamit juga ya,” kata Ari kepada isteri Asep sambil sun tangan isteri Asep. Iya hati-hati ya Ri,” balas isteri Asep kepada Ari. Asep mengeluarkan isi dompetnya diambilnya uang ratusan ribu tiga lembar dan dikasihkan ke Ari, nih Ri buat bekal kamu atau buat nambah-nambah bayar kost kamu,”ujar Asep sambil nyodorkan uang itu kepada Ari.

Sepeninggalnya Ari dirumah, Asep terus beraktivitas seperti biasanya. Berangkat pagi dan pulang malam sudah menjadi rutinitas Asep setiap hari dalam melakukan pekerjaannya. Tak pernah dia mengeluh dalam menjalankan tugas sebagai kepala rumah tangga untuk mencari rejeki, walau hari-harinya Asep habiskan di jalanan dalam teriknya matahari.

Suatu malam ketika Asep sampe di rumah, seperti biasanya Asep langsung menghampiri sang buah hati dan langsung diajaknya bermain dan becanda, Hilang rasanya cape seharian ketika bisa berkumpul dengan keluarga dan anak tercinta. Menjelang malam sang buah hati sudah mulai terlelap dalam mimpi, sang isteripun sudah mulai tertidur pulas.

Asep tak seperti biasanya, malam itu matanya susah sekali untuk di pejamkan, pikirannya melayang kemana-kemana dia hanya terduduk di ruangan tengah rumahnya sambil menghisap rokok. Dia menatap ke meja yang ada di depannya, yang dia lihat cuma pas bunga dan sebuah asbak. Ada yang aneh, biasanya Hp punya isteri tercinta selalu tergeletak disitu tapi kok malam ini gak ada. Dia lantas masuk kedalam kamar dan melihat HP isterinya itu ada di bawah bantalnya, perlahan Asep dengan mengendap-endap coba mengambil HP itu, lalu dia membawa HP itu keruangan tempat tadi Asep melamun.

Dibuka satu persatu polder demi polder yang ada di HP isterinya itu, yang ada hanya poto-poto anak dan isterinya serta lagu-lagu yang dulu Asep isiin, maklum HP itu pemberian dari Asep dahulu.  Asep terus mengutak ngatik isi HP dari isterinya itu. Ketika dia membuka satu polder yang teramat jauh dan tersembunyi dia kaget bukan kepalang, bak disambar petir disiang hari melihat sebuah poto yang ada di polder tersembunyi itu.

Tak terasa air mata Asep mulai meleleh dipipinya, walaupun ia seorang laki-laki namun ia tak sanggup melihat apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, dalam polder itu terpampang satu buah poto isterinya yang lagi berciuman bibir dengan seorang pria mesra sekali. Pria itu adalah Ari, sodara jauh dari mertuanya yang kemarin sempet tinggal di rumahnya itu selama hampir dua bulan.

Amarah dan emosi yang memuncak membawa Asep menghabiskan malam itu sendirian, Asep tak mau gegabah dan menghakimi sang isteri yang lagi tertidur pulas. Walaupun emosi sudah di ubun-ubun tapi Asep coba menahannya, dia tak mau anak semata wayang yang lagi tertidur pulas terbangun. Sampai Adzan subuh berkumandang tak sekejap pun Asep memejamkan matanya.

Sang Isteri pun terbangun dan langsung menyiapkan kopi, Asep coba menahan amarah dan coba tetap tak memperlihatkan ada yang aneh. Setelah meneguk kopi Asep pamitan mau berangkat pagi-pagi dengan alasan ada kerjaan yang harus diselesaikan pagi-pagi.

Asep pagi itu langsung meluncur ke Kost tempat dimana ari tinggal. Sesampainya di tempat Kost Ari, Asep langsung membangunkan ari yang masih terlelap tidur. Ada apa Om,” kata ari sambil bangun dan membukakan pintu. Ri…. kebetulan saya lewat sini karena ada pekerjaan yang mendadak dan harus diselesaikan pagi ini juga, tapi ketika saya mau telpon ternyata pulsaku habis, jadi saya mau pinjem sms sama kamu Ri, “ujar Asep. Oh… Ari langsung membukakan HPnya dan dia langsung membuka polder pesan untuk mengetik pesan baru lalu memberikan HP itu sama Asep.

Ketika HP ari dikasihkan, Asep langsung menyambutnya dan melemparkan sekeras-kerasnya ke tembok, hancur berantakan HP punya ari tercecer kemana-kemana, Asep lantas mengambil Memory Cardnya, dan disimpennya dalam saku Asep. Kamu punya salah gak sama saya? Tanya Asep kepada Ari, “Ari menjawab gak ada salah apapun Om. Darrrrrrrrr Tinju Asep mengena di dagu Ari, Ari pun tersungkur di tanah, melihat Ari tersungkur di tanah, kaki Asep langsung melayang dan mendarat manis di kepala Ari,” Braghkkkkkkkkkk……. Ampunnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn…..,” jerit Ari mengerang kesakitan. Ada hubungan apa kamu sama isteriku??????? tanya Asep mendesak sambil melemparkan bogem mentah lagi ke kepala Ari,” Beummmmmmmm… tinju Asep mengena lagi dan membuat wajah Ari berlumuran darah.  Gak ada hubungan apa-apa Om, Mbak baik banget sama Ari Om…. Dan sudah ku anggap Mbak aku sendiri jawab Ari sambil mengerang kesakitan. Melihat ulah Ari yang tak mau ngaku, membuat emosi Asep semakin membuncah, di injeknya berulang kali kepala Ari sambil ditendangnya berulang-ulang. Ari tergolek tak berdaya ditanah, ia terkapar dan tak sadarkan diri setelah bertubi-tubi kena bogem mentah dari Asep. Para penghuni kost mengerumuni Asep dan bertanya ada apa semua ini. Asep bilang sama yg empunya Kost, bahwa Ari adalah sodaranya dan Asep bertanggung jawab kalaupun Ari sampe mati ujar Asep kepada yang empunya Kost tersebut.

Setelah melihat Ari tergolek lemah tak berdaya di tanah sambil bercucuran darah, Asep lantas beranjak pergi. Dalam perjalanan di berhenti dulu disebuah warung sambil memesan segelas kopi. Kemudian Asep mengeluarkan Memory card milik ari yang tadi disimpan di sakunya itu, dan dimasukannya ke dalam Hp Asep. Satu persatu Asep coba  mencari dan membuka buka folder – folder yang ada.

Sampai pada suatu folder dan asep coba membukanya, tapi ketika folder itu dibuka, masya Allah mata asik terbelalak melihat poto2 mesum Ari dengan isterinya berdua di dalam kamar. Hati Asep timbul tenggelam melihat kejadian itu, Emosi dan amarah sudah tak bisa di tahan lagi. Setelah membayar kopi, Asep langsung beranjak pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah dia langsung datangi sang isteri yang lagi nonton tv di ruang tengah.

Tangan Asep langsung mendarat di pipi kanan dan kiri sang isteri. Apa yang telah kamu perbuat dengan si Ari dua bulan ini? Tanya Asep kepada sang isteri,” gak ada hubungan apa-apa Mas,’ Sahut sang isteri sambil menahan rasa sakit . Lalu poto-poto ini poto siapa????? Bentak Asep lagi sambil menunjukan poto-poto sang isteri yang lagi bugil berdua sama si Ari. Melihat poto-poto yang di tunjukan Asep, isterinya langsung bilang Ampunnnnnnnnnnnnnnnnnn mas,” aku dipaksa untuk melakukannya. Gak mungkin,”bentak Asep lagi. “Kalo kamu di paksa gak bakalan kamu menikmati seperti apa yang ada dalam poto ini, Bentak Asep lagi sambil menampar pipi sang isteri untuk yang kesekian kalinya. “Ampunnnnnnnnnnnn Masssssssssssssssssssss jerit sang isteri lagi menahan sakit dari tamparan yang bertubi-tubi mendarat di pipinya itu. Coba kamu jawab, sudah berapa kali kamu melakukan hubungan laknat ini,”Tanya Asep lagi coba mendesak sang isteri. Sang isteri hanya terdiam. Kamu kalau gak mau ngaku, saya akan laporkan kamu ke polisi,”bentak Asep lagi. Sudah berapa kali kamu melakukannya Anjinggggggggggggggggggggggggggggggggggggg teriak Asep lagi sambil,” plakkkkkkkkkkkkk plakkkkkkkkkkkkkkk tangan kekar Asep mendarat lagi di kedua pipi sang isteri. Kamu tak kasihan sama anak kita, kamu malah ngajarin yang sesat buat anak kita, kamu benar-benar anjinggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggg teriak asep lagi.

Setelah berulang kali Asep meminta isterinya untuk menjawab, akhirnya isterinya mengakui semua perbuatannya itu, ternyata selama sekitar dua bulan Ari tinggal di rumah Asep dia melakukan itu pada siang hari, tatkala Asep tak ada di rumah dan dengan sangat leluasa dia melakukan perbuatan terlarang itu di dalam kamar bersama isteri Asep.

Asep menghela napas panjang, Arggggggggggggggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhh ternyata orang yang selama ini aku tolong kok tega berbuat seperti itu pada keluargaku. AKu kasih makan, tempat tinggal dan pekerjaan kok balasannya malah membuat rumah tanggaku hancur lebur,” desis Asep merasa menyesal.

Kini rumah tangga Asep dengan sang isteri sudah tak bisa dipertahankan lagi, Asep langsung menjatuhkan talak tiga kepada sang isteri. Rumah tangga yang sekian tahun adem ayem kini hancur lebur gara-gara kejadian itu.

 

 

SISI INI

Posted in ungkapanku on 2011/03/21 by chikal setiawan

Termegap-megap jalani sisi ini
Begitu curam dan terjal terasa
Tapi langkah tak surutkan itu
Mata tetap menatap ke depan
Pulau itu smoga cepat ku hampiri

Tak kuhirau sesak ini
Tak kurasa lelah ini
Kerikil dan debu
Keringat bau menyengat
Teman setia jalani sisi ini…

Cape dan lelah..
Ya… aku hanya manusia biasa

Berharap dalam sanubari
Bisa kunikmati akhir dari sisi ini
Walau dengan tertati
Aku ingin bisa sampai
Aku ingin cepat temui
Makna dari sisi ini…

Jangan-jangan

Posted in puisi on 2011/02/16 by chikal setiawan

Temaram kecil berayun tertiup semilir angin

Terang redup menari-nari

Biaskan aroma pesing

Hantamkan dosa dimasa silam

Gelayuti pikiran lambungkan aroma pesimis

Gerogoti jiwa luluh lantak terdampar dipojok sunyi..

 

Tuhan…

Jangan Kau hukum aku dengan kenyataan pahit

Jangan Kau bunuh semangat hidupku seperti itu

Biarkan aku hidup sewajarnya orang hidup

Biarkan aku tersenyum disela riang tawa para malaikat kecil

Jangan Kau ambil hak ku untuk bisa bahagia

 

Apakah aku harus percaya pada sesuatu yang tak mungkin?

Apakah aku harus tutup telinga biar tak kudengar kata-kata itu?

Atau apakah aku harus percaya pada diriku sendiri?

Atau apakah aku harus terus berharap sampai aku jemu?

 

Arghhhhhhhhhhhhhh…

Perbincangan dengan Iwan Fals

Posted in IWAN FALS on 2011/02/10 by chikal setiawan

Angin pagi dan rintik hujan membasahi lapangan Simpruk, Kompleks Pertamina, Kebayoran Lama. Sosok lelaki berbadan tegap itu menatap dengan nanar lapangan sepak bola yang dilumuri rintik hujan. Dia biarkan kumis dan jenggotnya tak beraturan, dengan tinggi badan 175 cm dan berat 65 kg. Juga rambutnya yang panjang. “Kita pulang saja. Cuaca tak memungkinkan kita latihan pagi ini,” ujarnya lirih, sambil membuka pintu mobilnya. Mobil Troover tahun 1992 warna metalik itu pun bergerak perlahan. Dan di antara deru mesin mobil, juga tegur sapa para penjaja koran, sayup-sayup terdengar nyanyian:
Hutanku rusak langitku bocor makanan yang aku makan tercemar …

Suara dalam
lirik lagu Hijau yang agak berat dan parau itu keluar dari lelaki bernama
Virgiawan Listanto , yang lebih dikenal dengan Iwan Fals itu.

Lagu dan album Hijau itu, yang ia buat hanya beberapa jam, konon album termahal yang pernah ada dalam industri musik kita. Kabarnya album Hijau itu laku Rp 300 juta. “Entahlah. Aku nggak tahu kalau sudah masuk ke persoalan itu. Laguku laku atau tidak, itu soal kedua. Yang pertama, fungsiku mencipta dan menyanyikannya,” tutur Iwan ketika didesak soal kebenaran angka jutaan pada album Hijau. Sosok Iwan Fals memang tak bisa lepas dari rimba perbincangan musik Indonesia kontemporer. Terutama syair yang ia tebarkan ke wilayah publik, yang selalu diwarnai kegalauan, kegamangan jiwa, dan pemberontakan hati nurani yang tulus terhadap gejolak yang ada di sekitarnya. Dan respons yang ia berikan, adalah jelmaan dari pengembaraan hati nurani yang jujur, tanpa pretensi dan gangguan beban dari kekuatan yang ada di sekelilingnya.

Maka, tak heran, akibat kejujuran yang ia sebar melalui syair-syairnya itu, Iwan sering berbenturan dengan “tembok-tembok kekuasaan”. Ia pun “dicekal” di mana-mana. Puncak perbenturan itu terjadi pada 1989, saat tur pertunjukkan 100 kota Iwan digagalkan oleh Kapoltabes Palembang. Air mata Iwan pun menggenang saat membuka lembaran kelabu di tahun 1989 itu. Dan ia mendesah dengan suara yang agak parau, “Buatku sungguh aneh. Aku kan cuma bawa gitar kayu dan tali senar. Tak ada bahayanya dibanding tank,” ujarnya ketika menutup pintu mobil, sambil mempersilakan kami berbincang di ruang tamu rumahnya, di kawasan Bintaro.

Di Garasi rumah itu, tampak mobil lain Iwan, Daihatsu Taft, warna biru. Pemegang Dan II Karate ini cuma ingin bersaksi bahwa lirik lagu yang ia ciptakan bukan anggur atau jeantonic yang dapat memberikan kenikmatan bagi peminumnya, melainkan hanya setetes air putih penyuci akal yang tanpa hati. Dan ia tak berpretensi apa-apa. “Kalau mau dicekal, silakan saja. Tapi itu tidak akan mencekal imajinasi dan kreativitasku,” papar Iwan dengan nada tegas.

Bagi suami Rossana (36), serta ayah Galang Rambu Anarki (14) dan Anisa Cikal Rambu Bassae (11), kejadian itu memberikan kekuatan baru dalam menapaki garis hidup yang ia tempuh –garis hidup di jalur musik. Sosok yang pernah diklaim sebagai Bob Dylan-nya Indonesia ini makin yakin bahwa musik adalah sesuatu yang serius dan penuh dengan irama kehidupan yang menghentak. Ziarah Batin. Kehidupan jalanan membawa Iwan terdampar di setiap lembah yang penuh kemuraman. “Aku sempat terbuai minuman, mabok-mabokan, dan ganja. Tapi itu dulu. Hanya saja aku selalu menemukan jalan keluar. Hubunganku dengan Dia lebih kuat dari semuanya. Aku bisa nangis dan sujud sama Dia,” ujar Iwan. Sekarang? “Ya, tidak rutin-lah. Sekarang perutku agak tidak tahan dengan minuman.”

Iwan merasakan betul sentuhan batin Rendra. “Aku lebih baik dibilang terpengaruh Mas Willy (panggilan akrab Rendra –Red. ) ketimbang siapa pun, termasuk Bob Dylan.” Iwan memang pernah terlibat di Bengkel Teater Rendra. Menurut Iwan, “Mas Willy dan teman-teman Bengkel Teater juga memberi ingatan perihal detail dan soal kedalaman pada lagu-laguku.”

Memasuki paruh tahun 1990-an, Iwan kelihatan makin “alim”. “Aku mulai shalat. Meski masih cemang-cemong (bolong-bolong), ya.. paling tidak shalatku merupakan bagian kontemplasiku,” ungkap penyanyi yang menjadi idola anak muda ini. Hanya saja, sampai sekarang, menurut pengakuan Iwan, ia masih sulit bangun pagi untuk shalat Subuh. “Yos panggilan sang istri yang rajin shalat. Bahkan, untuk kegiatan lain, seperti setiap Senin sore, di rumah ada guru mengaji, aku nggak ikut. Hanya Yos, Galang, dan Cikal saja. Kalau aku ikut, bisa-bisa aku yang ngajarin guru ngaji untuk nyanyi,” ucapnya, diiringi derai tawa dan kepulan asap rokok kretek Djarum 76-nya.

Dunia Ngamen. Lewat pergulatan panjang dan benturan-benturan hidup yang dilaluinya, Iwan Fals, yang dilahirkan 3 September 1961 di Jakarta, dan menikah pada usia 19 tahun, menjalani hidup penuh kontroversi. Anak kelima dari sembilan bersaudara pasangan Kol (Purn.) Harsoyo dan Lies ini meminati dunia tarik suara sejak masa kanak-kanak. Harmonika yang diberi oleh uyut , neneknya ibu, adalah awal perkenalan Iwan dengan perangkat musik. Ia pun menyanyi dan mencipta syair lagu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Tamat SD, ia sempat mukim di Jeddah, selama 9 bulan, mengikuti orang tua angkat. “Aku sempat sekolah di sana. Muridnya cuma tiga. Karena muridnya sedikit, aku nggak bisa nyontek . Bosan, dan akhirnya kembali ke Indonesia,” papar Iwan sambil bercanda.

Di bangku SMP 5 Bandung, gitar hadiah orang tuanya juga memberi andil dalam perjalanan hidup Iwan. “Dunia ngamen aku jalani ketika masih duduk kelas satu SMP. Itu karena uang saku bulanan cuma Rp 10.000. Itu kurang sekali waktu itu. Terpaksa ngamen . Dari pagi sampai magrib bisa dapat Rp 4.000. Lalu keterusan,” aku Iwan mengenang masa lalunya. Suatu ketika ia ngamen di kompleks Akabri, Jalan Sahardjo, Jakarta, di satu rumah yang ramai oleh ibu-ibu arisan, Iwan tersentak. Ternyata ibunya salah satu dari peserta arisan di kompleks Akabri tersebut. Ia pun dihardik. Namun ayahnya mendukung aktivitas Iwan. “Aku dapat dukungan dari Bapak, meski mulanya dia juga nggak suka. Dia nanya , apa aku yakin dengan jalan hidup yang kuambil. Aku bilang, ‘Ya.'”

Usai SMP, Iwan sempat mengenyam SMA di Yogyakarta, meski akhirnya menyelesaikan di ibu kota pada tahun 1979. Dan ngamen jalan terus. “Aku pernah disiram kopi panas, ketika ngamen di daerah Bandung. Ya.. aku terima saja. Kita kan nggak diundang. Harus siap menghadapi risiko,” kenang Iwan sambil mengumbar senyum. Iwan pun sempat menikmati bangku kuliah di Sekolah Tinggi Publi~sistik, Jakarta (kini IISIP) tak selesai sembari terus ngamen . Sejak di sarang wartawan inilah namanya mulai menghiasi halaman media massa. Dan album
pertamanya, Oemar Bakri (1981), meledak.

Suara azan di siang hari ikut serta menyemarakkan perbincangan kami. Yos bergegas ke kamar mandi, membasuh wajah dan menyucikan bagian badannya yang lain, untuk shalat Zuhur. Cikal pulang sekolah. Dan Galang, sudah empat hari tak terlihat di rumah. Dua pembantunya, mondar-mandir. Sementara di luar rumah, dua orang pekerja kebun memunguti daun-daun yang berserakan di taman, sambil memangkas ranting-ranting pohon. “Meski rumah kontrakan, aku betah. Insya Allah, enam bulan lagi kami pindah ke rumah sendiri, di Desa Leuwinanggung, ” ungkap Iwan, yang sedang membangun rumah bertingkat dua di area tanah seluas 3.000 meter. Ia ingin tenang menjelang pemilu. Menyaksikan perubahan. “Banyak orang bilang aku Golput. Padahal setiap pemilu, aku tusuk semua gambar kontestan yang ada. Karena kebetulan aku suka warna dasar kuning, hijau, dan merah…,” gurau
Iwan, menutup perbincangan kami.

Edy A. Effendi

2010 in review

Posted in IWAN FALS on 2011/01/02 by chikal setiawan

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 8,800 times in 2010. That’s about 21 full 747s.

 

In 2010, there were 24 new posts, growing the total archive of this blog to 44 posts. There were 45 pictures uploaded, taking up a total of 2mb. That’s about 4 pictures per month.

The busiest day of the year was May 24th with 88 views. The most popular post that day was iwan fals.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were facebook.com, search.conduit.com, id.wordpress.com, google.co.id, and jonathansofian.wordpress.com.

Some visitors came searching, mostly for iwan fals, iwan fals muda, keluarga iwan fals, cikal rambu basae, and annisa cikal rambu basae.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

iwan fals August 2009
17 comments

2

KISAH CINTA IWAN FALS DENGAN ROSSANA March 2010
13 comments

3

Album Iwan Fals 2010 ” KESEIMBANGAN” March 2010
7 comments

4

Konser Launching Album Baru Iwan Fals: ‘Keseimbangan’ March 2010
4 comments

5

DEWA DARI LEUWINANGGUNG February 2010
2 comments

Entahlah

Posted in puisi on 2010/12/17 by chikal setiawan

Berliku menyelimuti awan sore ini
Terendap tepiskan lara
Tengadahkan nurani
Tinju congkak angkuhku
Kepalkan harapan
Semua menjadi sumbang

Kenyataan pahit robohkan angkara
Tatkala realita berbicara
Ketika hati bertekuk lutut pada keinginan
Sementara waktu tak bisa menyatukan
Gundah gayuti isi lamunanku
Menyapa tanpa pernah ada jawabnya

Ingin kulangkahkan kakiku
Untuk bisa menggapainya
Untuk kubawa terbang ke cakrawala
Bercerita indah diangkasa
Berdua bersamanya
Nyanyikan lagu Cinta

Arghhhhhh
Smua terlalu indah untuk di ceritakan
Terlalu manis untuk kugambarkan
Semuanya hanya gara-gara dirinya

Taukah dia apa yang aku rasa
Ngertikah dia apa yang aku mau
Pahamkah dengan situasi hatiku
Entahlah….

Bukan lagi 10 tahun yang lalu

Posted in ungkapanku on 2010/11/28 by chikal setiawan

Sempit jalan sedang ku lalui
Lorong gelap sedang ku jalani
Perihnya hidup lagi kurasa
Tak mudah tuk melewatinya

Hanya sepatah kata yang singgah
Dikuping kiriku hingga kini terngiang
Aku ingin membuktikan pada mereka
Bahwa aku juga bisa

Tak apa semua ku rela
Tak apa semua terasa luka
Tak apa aku bukan siapa-siapa
Tak apa biarkan aku menjadi nyata

Sedangkan waktu bukanlah lagi madu
Tak seperti dulu
Tak seperti sepuluh tahun yang lalu
Semua sudah berlalu
Semua Sudah berubah
Semua Sudah tak ada siapa2 lagi..

Kini aku hanyalah sebatang kara
Patah dan tumbuh kembali
Melewati waktu berdebu
Melangkah peluh yg terus kutelusuri
Walau masih jauh..

Entah sampai dimana
Perjalanan ini akan hinggap
Satu yang kuharap
Aku bisa menjadi diriku
Dan aku bisa berdiri diatas kakiku sendiri

Tataplah
Songsonglah
Hari esok yang lebih baik
Semangat…
Jiwamu pasti kembali

“Cinta takkan datang kalau tidak dicari”

Posted in puisi on 2010/10/26 by chikal setiawan

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya. Kisah silam tidak perlu diungkit lagi, kiranya kamu benar-benar mencintainya setulus hati.

Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehingga kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna penyesalan karena perginya tanpa berkata lagi.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu, hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Hawa diciptakan dari rusuk Adam, bukan dari kepala untuk dijunjung, bukan dari kaki untuk dijadikan alas, melainkan dari sisinya untuk dijadikan teman hidup, dekat dihati untuk dicintai…

Jika kamu memancing ikan, setelah ikan itu terlekat di mata kail, hendaklah kamu mengambil ikan itu, janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja…. Karena ia akan sakit oleh karena bisanya ketajaman mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup… Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang, setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya, janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja… Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu, dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingatimu…

Cinta akan menyakitkan ketika kamu berpisah dengan seseorang, lebih menyakitkan apabila kamu dilupakan oleh kekasihmu, tapi cinta akan lebih menyakitkan lagi apabila seseorang yang kamu sayangi tidak tahu apa yang sesungguhnya kamu rasakan.

Rangka sayapku

Posted in ungkapanku on 2010/10/04 by chikal setiawan

Tak akan lagi aku sanggup
Mengepak sayap mengitari bumi
Menyibak kabut di pagi hari
Sungguh aku tak akan sanggup
Walau hanya memandang dunia

Sebab badan ini
Menanggung sakit tiada bertabib
Menanggung lara tiada pelipur
Dirangka sayapku yang patah
Melawan badai tadi siang

Sebab badan ini
Menanggung sakit tiada bertabib
Menanggung lara tiada pelipur
Dihati yang tersayat oleh rasa
Melawan benci diruang cinta

Sebab badan ini
Menanggung sakit tiada bertabib
Menanggung lara tiada pelipur
Dijantung yang tertusuk duri
Hingga aku tiada tersadar lagi
Bahwa aku telah mati

Kupersembahkan smua ini kepadanya
Dia yang mengajari aku tentang cinta
Yang mengajari aku tentang kebencian
Yang mengajariku tentang Kerinduan
Yang mengajariku tentang arti hidup..

Berkat dirinya pula aku ingin membuktikan
Bahwa aku mampu dan bisa seperti mereka
Berkat dirinya juga aku ingin membuktikan
Bahwa aku tak seburuk pandanganmu….

KONSER NGABUBURIT IWAN FALS DI TANGERANG RICUH

Posted in IWAN FALS, Uncategorized on 2010/09/03 by chikal setiawan

Tangerang Kamis, 2 September 2010

Konser Ngabuburit Iwan Fals dalam rangka perjalanan religi Iwan Fals dan Ki Ageng Ganjur di Lapangan Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (2/9) petang, berlangsung ricuh. Ribuan penonton yang kebanyakan remaja terlibat saling serang dan pukul menggunakan kayu dan batang bambu.

Kericuhan ini dipicu saling senggol di antara para penonton yang didominasi kaum remaja. Minimnya aparat kepolisian dari Kepolisian Sektor Curug kabupaten Tangerang di tengah kerumunan penonton, membuat kericuhan meluas dan menjadi tawuran massal. Penonton terlibat saling lempar batu dan saling serang menggunakan batang bambu.

Tawuran berhasil diredam setelah Iwan Fals ikut menenangkan amarah penonton. Konser bertajuk Ngabuburit Iwan Fals pun dilanjutkan. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Aparat Polsek Curug juga tidak menangkap penonton yang dianggap menjadi provokator.

*sumber: metrotv.com

Iwan Fals di Mata Acep Zamzam Nur (Penyair & Budayawan): “Wajar Jika Karya Iwan Bakal Abadi!”

Posted in IWAN FALS, Uncategorized on 2010/08/18 by chikal setiawan

Kembang Pete, Bongkar, Bento, Ambulance Zig Zag, Proyek 13, bahkan hingga Tince Sukarti, adalah beberapa contoh lagu karya Iwan Fals yang tetap mampu menjawab perkembangan jaman sejak dulu hingga kini. Sepak terjang Virgiawan Listanto tersebut rupanya tak lepas dari pengamatan dan penilaian Acep Zamzam Noor, penyair sekaligus Budayawan Jawa Barat. iwanfals.co.id sempat mewawancarai penyair, Putra KH Ilyas Ruchyat, dari Ponpes Cipasung ini, di sela roadshow ‘KESEIMBANGAN – Oi, Menanam! bersama Iwan Fals & Band’, di kota Tasikmalaya, beberapa waktu silam. Dia mempunyai penilaian sendiri terutama terhadap karya-karya Iwan Fals, karena dia mengaku, juga merupakan pengoleksi album Iwan Fals. Besar Karena Kelugasan dan Aktualitas Sesungguhnya, kekuatan Iwan Fals dalam bermusik ada pada lirik lagunya yang lugas dan langsung. Jika kemudian di sana terkandung pesan kritis, termasuk pesan lingkungan, karena kelugasannya pasti akan sampai kepada masyarakat manapun yang dimaksudnya. Bahkan, di awal-awal album Iwan Fals kesan yang timbul adalah lirik lagu yang frontal. Hal ini karena masyarakat pada saat itu membutuhkan syair-syair bersifat frontal. Mulai berkolaborasi dengan Kantata Takwa, syair lagu Iwan cenderung tetap keras, namun lebih kontemplatif. Puncak kontemplatif Iwan, terdapat di album Suara Hati. Suara Hati, bagi Acep Zamzam Noor merupakan album Iwan Fals yang paling disukainya, karena di album tersebut banyak tersirat puitis, yang merupakan bagian dari kontemplasi ketika seorang Iwan melihat ke “dalam”. Padahal, di album-album sebelumnya, lebih tampak sebagai penilaian Iwan “keluar”. Sementara di album Keseimbangan (yang terbaru -red), meski dia mengaku belum memahami secara khusus, tampaknya Iwan Fals memiliki konsep kontemplasi seperti album Suara Hati. Salah satunya yang terlintas di pikirannya adalah lagu Suhu. Musisi Sekaligus Seniman Melihat seorang Iwan Fals, menurut Acep tampaknya mesti memahaminya sebagai seorang seniman. Dan karyanya yang lahir pun, keluar dari sebuah kejujuran. Tak heran, jika karyanya lahir berhubungan dengan situasi dan kondisi bangsa, karya-karya yang lugas dari seorang Iwan Fals itu, terutama lahir di era orde baru. Jadi, menurut Acep karya Iwan Fals kini memang lebih mendalam, hingga butuh perenungan terlebih dahulu bagi yang mendengarkannya. Kelugasan yang lahir pada karya-karya Iwan Fals, menurutnya tetap lebih soft kini, namun lebih mendalam dari sebelumnya. Demikian pula dengan ditemuinya karya-karya yang sebetulnya religius, dari seorang Iwan Fals, yang menurutnya memang tidak mesti formal karena berhubungan dengan agama, sejak awal di album-albumnya sudah ada. Harapannya terhadap Iwan Fals, dari konteks urgensi hidup berbangsa, Indonesia amat membutuhkan guru-guru bangsa dari berbagai bidang. Setelah lewat era Gus Dur dan Rendra. Dari kalangan musisi, dia berharap pada Iwan Fals, untuk terus melakukan gerakan-gerakan positif yang langsung bersentuhan dengan kehidupan bangsa, termasuk gerakan kampanye lingkungan, gerakan penyadaran sosial dan sebagainya. Karena diyakininya, cara-cara seperti itu akan memberikan inspirasi kepada masyarakat, meski hasilnya tidak akan langsung. Dia mengamati, ada yang terinspirasi dengan tema album ‘Keseimbangan’ Iwan, terutama yang melihat penampilannya. Inspirasi tersebut minimal berguna untuk kehidupan mereka. Ketika sebuah karya menjadi punya manfaat bagi penikmatnya, itu yang utama bagi seorang seniman, ketimbang tujuan-tujuan besar lainnya. Bahkan, dia berpendapat, apa yang dilakukan oleh Iwan Fals termasuk dari karya-karya lagunya, hikmahnya mesti bisa diambil oleh para elit politik, yang memegang kebijakan. “Para elit justru mesti menjadi apresiator pertama bagi karya-karya membangun tersebut,” tambah penerima anugerah South East Asian (SEA) Write Award dari Kerajaan Thailand (2005) ini. Hanya memang, dikeluhkannya sikap politisi sendiri selama ini tampak tidak banyak terinspirasi oleh karya para seniman-seniman besar. Hal ini pun dikeluhkan oleh Acep. “Ya itulah mereka, tampaknya hanya melewatkan saja,” urai peraih Khatulistiwa Literary Award (2007) ini, sembari menyatakan yang ‘menangkapnya’ justru masyarakat. Kendati sudah dimulai, gerakan besar untuk melakukan sebuah “perubahan”. memang akan membutuhkan waktu yang sangat panjang. Tetapi, karya-karya semacam ini, semisal Iwan Fals, Rendra, selalu dibutuhkan oleh jaman atau bangsa ini. Di matanya, Iwan Fals, bukan sekedar artis seperti penyanyi lain, dia adalah seorang seniman, bahkan legenda. Lebih dari pada itu, Iwan Fals bisa disejajarkan dengan Bob Dylan, yang juga pemusik sekaligus penyair. Karena memang dia (Iwan Fals -red) berkarya atas tuntutan hati, dengan karya yang tak lepas dari pengamatan, rasa, pikiran, dan selalu terkait dengan lingkungan di sekelilingnya, yaitu Indonesia. Iwan Fals dan Rendra? Untuk pernyataan ini, Acep hanya mengatakan keduanya punya tempat berbeda, Iwan Fals sebagai musisi dan seniman, sementara Rendra adalah budayawan. Namun benang merahnya, keduanya terbesar di bidangnya masing-masing. Dia juga percaya, karya-karya yang dibuat oleh Iwan, akan abadi, karena selalu aktual. Apalagi persoalan kebangsaan memang sebetulnya berputar di masalah yang itu-itu saja, karya Iwan Fals akan menjadi “pengingat” di segala situasi, bahkan ketika kemapanan telah hadir di bumi Indonesia. Berani Tawarkan Konsep Aktual Diakuinya, di dunia musik soal tema karya atau album, memang jadi penting. Tema yang populer saat ini memanglah tema cinta. Namun menurutnya di tangan Iwan Fals, karya bertema apapun tetap akan populer. Karena menurutnya, Iwan Fals sudah sangat kokoh, demikian pula secara artistik juga mumpuni. “Mau ‘bermain’ di tema apapun, bagi seorang Iwan sudah dengan sendirinya pesan yang akan disampaikan mengena ke pendengarnya,” tambahnya. Menariknya di album Keseimbangan, adalah sebuah gerakan yang melatari album itu sendiri, dengan mengadakan perjalanan ke berbagai kota dan melakukan penghijauan, tidak sekedar “kampanye” album. Iwan Fals dengan Tiga Rambu dan Oi sudah mencontohkan ada kampanye yang lebih besar, ketimbang sekedar album, yaitu kampanye penyelamatan lingkungan, kampanye penyadaran diri, bahwa bangsa ini ada di posisi krisis, namun tetap memiliki harapan. Pohon hanyalah metafora dari kehidupan. Dengan sendirinya, menanam pohon berarti menumbuhkan lagi kehidupan, ini yang mesti ditangkap. Menurutnya kalangan Oi juga mesti bisa menangkap hal ini dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat luas, untuk jadi inspirasi, hikmah, atau hidayah bagi orang lebih banyak lagi. “Menanam” bagi Acep yang dipersonifikasikannya lewat kegiatan menanam adalah sebuah metafora yang dahsyat. Demikian pula dengan penyelesaian masalah-masalah kebangsaan besar, niscaya bisa diselesaikan lewat entry point kegiatan menanam. Menanam menurutnya menimbulkan kesadaran untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi kehidupan. Dari menanam menurutnya, masyarakat bisa belajar untuk mandiri. Diakuinya, lagu di album Keseimbangan, Iwan Fals cukup komunikatif, dan di luar aspek promosi, atau lainnya, Acep percaya, ada lagu Iwan Fals di album ini yang akan menjadi hits. Dia sendiri amat menyukai lagu Iwan Fals terutama lagu Suhu, di album ini. Karena menurutnya, lagu tersebut kaya dengan filosofi kehidupan, yang perlu “keseimbangan” untuk mengarunginya. Oi Jadi ‘Penyambung Lidah’ Yang agak berbeda dengan yang lainnya, dalam kampanyenya Iwan Fals juga tampak didukung oleh Oi. Ini yang membuat agak berbeda. Dia juga berharap agar Oi mengkomunikasikannya ke masyarakat, Yang dilakukan oleh musisi lainya, akan lebih efektif jika didukung oleh media. Namun, apa yang dilakukan oleh Iwan Fals, tetap akan lebih efektif, karena di setiap kampung bisa ditemui anggota Oi. “Dengan catatan, kalangan Oi hingga tingkat terbawah aktif dan ‘gerak’ ikut mengkampanyekan seperti yang dilakukan Bang Iwan,” urai penelur karya Jalan Menuju Rumahmu (kumpulan sajak, 2004) ini. Peran Oi untuk memasyarakatkan pesan pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh Iwan Fals sangatlah penting. Karena bisa juga dianggap bahwa Oi kepanjangan tangan/suara dari Iwan Fals. Karya-karya Iwan Fals juga mengandung ajaran yang jika direnungi oleh siapapun bermanfaat bagi kehidupan, karena yang ditanamkan adalah nilai-nilai, hal ini yang menurutnya mesti ditangkap pendengarnya. Tugas seorang seniman, sebetulnya sudah akan selesai dengan sendirinya, melalui sebuah karya yang sudah diciptakannya. Namun mengingat pentingnya pesan dibalik karya, idealnya memang butuh ‘tangan lain’, yang merupakan “kepanjangan tangan”, untuk implementasi. Tugas ini ada di pundak Oi.

Sumber: http://www.iwanfals.co.id/news

OI MENANAM ROADSHOW 6 KOTA

Posted in IWAN FALS on 2010/08/02 by chikal setiawan

ROADSHOW 6 KOTA – CIREBON

Oleh: Andri Oktavia

Roadshow “KESEIMBANGAN – Oi, Menanam! bersama Iwan Fals & Band”, di enam kota Pulau Jawa dimulai pada Senin (28/6). Keseluruhan rombongan berjumlah 50 orang, temasuk musisi, kru, perwakilan dari BPP Oi, reporter RRI, serta iwanfals.co.id. Rombongan menggunakan tiga kendaraan, yaitu bus panggung, bus pariwisata, dan kendaraan pribadi Iwan Fals dan keluarga. Namun sebelumnya, tim advance telah lebih dahulu berangkat untuk mempersiapkan seluruh keperluan di kota pertama yang akan dikunjungi: Cirebon, bersamaan dengan tim produksi yang membawa sound system dan barang-barang produksi. Bus bertolak meninggalkan Leuwinanggung pada pukul 11. Sementara di perjalanan semua tampak fresh. Rombongan sempat berhenti sejenak di Cikampek. Iwan Fals sejurus kemudian tampak naik ke bus rombongan meninggalkan bus panggung yang ditumpanginya. Apa gerangan? Hari itu tak terduga, salah seorang kru, Jay, begitu dia biasa disapa, berulang tahun.

Hadiahnya, sebuah roti buaya yang diberikan langsung oleh Iwan Fals kepadanya. Roti buaya tersebut tampaknya bermakna mendalam, karena di Tanah Betawi, roti buaya merupakan pelengkap pada pesta pernikahan atau lamaran. Namun, mengenai makna hadirnya roti buaya hari itu diatas bus? Mungkin Jay yang lebih pantas menjawabnya. Usai bersalam-salaman dan mengucap panjang umur, rombongan kembali tancap gas. Namun tak terasa, liku jalan, goyangan permukaan jalan yang kadang bergelombang bikin penat juga.

Sekitar tiga jam sudah rombongan berjalan, seputar wilayah Kandangan Indramayu, Iwan Fals tampak mengomandoi untuk ngopi bareng, di salah satu kedai kopi. Iwan tampak menikmati betul, istirahat sembari ngopi di tepi jalan sekitar pematang. Beberapa kru, diantaranya Dicky dan Sumanto malah menyempatkan diri memancing di pematang sawah. Sekitar 30 menit, rombongan beristirahat di kedai yang lokasinya persis di depan Kantor Polisi Indramayu, tim memutuskan jalan lagi. Sebelumnya Iwan sempat berfoto bersama dengan para polisi yang kebetulan ada di kedai tersebut. Rombongan Iwan Fals yang tiba pada pukul 17.30 sore hari di Kota Udang tersebut, pada malam harinya pukul 19.30 langsung sibuk. Iwan Fals langsung mengikuti wawancara eksklusif dengan salah satu radio swasta Cirebon. Selama lebih kurang 30 menit, di acara tersebut, Iwan banyak menjelaskan tentang album barunya, Keseimbangan. Sampai beberapa pertanyaan lainnya terutama terkait gelaran roadshow yang diikutinya. Iwan menilai, perkara lingkungan kini sudah menjadi penting dan memerlukan “kerja tim”, yang keuntungannya bisa dinikmati oleh orang di seluruh dunia. Menghidupkan “daya hidup” lewat pelestarian lingkungan jauh lebih penting ketimbang lainnya. “Kalau urusan mati, kita pasti mati. Sementara jauh lebih hebat mempersiapkan kehidupan,” urai Iwan. Pentingnya pelestarian lingkungan tersebut, yang membawanya jauh-jauh meninggalkan rumah menuju Cirebon. Hal ini karena menjadi pesan paling penting bagi kehidupan sekarang dan mendatang. Pada kesempatan tersebut, Iwan berharap, radio sebagai salah satu media informasi yang efektif, dapat meningkatkan intensitas penyiaran pada hal-hal yang bersifat seni, tradisi dan budaya. “Rasanya banyak kesenian Cirebon yang membedakannya dengan daerah lain, atau malah dengan bangsa lain namun tak diperhatikan,”tambahnya. Jika saja radio yang notabene corong informasi yang bisa diterima publik mampu mengambil peran tersebut, maka dia meyakini minat generasi muda untuk mendalami budayanya juga akan meningkat. Iwan beranggapan penting, untuk kembali mengangkat persoalan budaya dan tradisi, mengingat banyak budaya Indonesia, yang justru diakui oleh bangsa lain. Hal tersebut menurut Iwan sebagai konsekuensi logis dari tidak “terurusnya” seni dan tradisi lokal di daerah, sehingga malah “diurus” oleh bangsa lain. Menurut Iwan Fals, Cirebon yang memiliki tradisi Cirebonan, Sintren, Gembyung, Mocopatan, dan sebagainya, selayaknya memelihara kesenian dan tradisi tersebut. Iwan berpesan baik kepada Oi Cirebon, maupun anak-anak muda Cirebon pada umumnya, segera mengambil langkah dan upaya penyelamatan terhadap seni dan tradisi. “Tidak usah saling menunggu, penting mengambil tindakan cepat terkait hal ini,”urainya. Menjaga seni dan tradisi daerah bagi seorang Iwan Fals juga jadi hal penting dan mengemuka pada bincang-bincang tersebut. Sebab menurutnya, seni dan tradisi daerah juga menjadi inspirasi bagi karya-karya para musisi di tanah air, termasuk dirinya. Iwan bahkan berharap kepada para pencintanya, untuk memanfaatkan karya-karyanya yang akrab di telinga mereka, mengkolaborasikannya dengan musik tradisi daerah, sebagai upaya menjaga kelestarian budaya Cirebon. “Saya senang jika lagu Bento atau karya-karya saya yang lainnya, dikolaborasikan dengan musik daerah,” urai Iwan. Usai mengikuti wawancara dengan radio, rombongan segera mengarah ke diskusi yang digelar di Gedung Kesenian Cirebon. Acara sendiri dimulai pukul 8 malam.

Tak kurang 300 orang yang umumnya anggota dan pengurus Oi Cirebon, hadir di acara tersebut. Tampak pula para mantan pengurus Oi, seperti Chaerudin, Luthfi, serta Abot. Acara menampilkan pemaparan para narasumber yang diantaranya tampak hadir Mursyid (Bidang Pembangunan) BPPK Jabar, (Bidang Kesejahteraan Sosial) BPPK Cirebon, Iwan Fals, serta Ahmad Subhanudin Alwi (budayawan Cirebon). Diskusi yang mengambil tema “Rawat Adat Tradisi, Ruwat Bumi, Menyalami Alam, Menyelami Kebudayaan“ tersebut, berlangsung meriah dan hangat. Pemaparan yang disampaikan oleh para narasumber, serta sesi tanya-jawab yang diberikan oleh beberapa orang penanya berjalan tertib. Dikemukakan bagaimana seharusnya pengawasan pemerintah Cirebon terhadap ulah para penambang di salah satu kawasan (Ajimut -red), terutama para penambang bahan tambang galian, golongan C. Para penambang menurut peserta masih dengan tenang melakukan aktivitasnya, meski sudah dilarang oleh pemerintah daerah Cirebon. Demikian halnya dengan keluhan penebangan pohon-pohon produktif untuk penghijauan kota, di kawasan ramai pusat kota Cirebon, yang letaknya tak jauh dari RS Ciremai, menurut para penanya disamping tak jelas untuk alasan apa. Penebangan tersebut menggambarkan ambivalensi sikap dari pemerintah daerah Cirebon, dibanding semangat Go Green yang sedang digaungkan saat ini. Bahkan, upaya pemerintah daerah Cirebon untuk meraih Adipura juga disoroti oleh para penanya dengan sinisme. Bagi mereka, apa yang diperbuat untuk Adipura tersebut tak lebih sekedar retorika, mengingat tanpa ada penanganan yang jelas, beberapa lokasi bahkan di pusat kota, dengan mudah ditemui sampah mengonggok. Kendati tampak sepaham, Iwan Fals menyikapi semangat pelestaraian lingkungan, sampai perbaikan lingkungan dengan arif. Iwan menyatakan, sepantasnya aspirasi dari generasi muda Oi, disuarakan dengan militan namun disertai dengan cinta-kasih. Karena baginya, itulah inti dari kehidupan. Emosi dan energi kemarahan yang berlebih, menurut Iwan jika tidak dikelola dengan baik malah berimbas negatif bagi kesehatan generasi muda Oi. “Mesti dengan cinta kasih, namun Oi tetap harus militan menyuarakan pesan pelestaraian lingkungan termasuk penyelamatan budaya dan tradisi Cirebon,” tambahnya. Iwan juga berpesan kepada generasi muda Oi, untuk merawat apa yang dilakukan terutama pada program “Oi, Menanam!” dapat berkelanjutan, termasuk merawat pohon-pohon yang sudah ditanam. Bahkan, lebih jauh Iwan mengajak para fans fanatiknya tersebut untuk memberi “nyawa” pada Adipura Cirebon. “Mari kita menghidupkan Adipura, lewat kerja nyata,” urainya. Alwi yang pada kesempatan tersebut menyatakan Iwan Fals sebagai Wali-nya musisi Indonesia juga berharap agar kedepannya, perhatian pemerintah Kota Cirebon terhadap budaya lokal dapat meningkat. Lain Iwan Fals, lain pula dengan Karma Sulaeman. Menurut Karma, selama ini dia mengalami kesulitan untuk mengambil peran lebih besar lagi, terkait penyelamatan budaya Cirebon. ”Kami selaku BPPK kekurangan wewenang untuk melakukan hal tersebut,” urainya. Namun pihaknya selama ini tidak tinggal diam “mengawal” perbaikan pertumbuhan tradisi dan budaya Cirebon, dengan berbagai keterbatasan yang dimilikinya. Bahkan, kepada iwanfals.co.id, pihaknya mengaku sudah berupaya menggelar event-event budaya yang ditujukan membangkitkan minat masyarakat dan generasi Cirebon mencintai budayanya. Kedepannya, pihaknya bahkan sudah mensinergikan kerja BPPK yang terkait budaya terhadap sebuah kesenian rakyat Cirebon, agar masyarakat mau “menyewa” kesenian tersebut sehingga efek ekonominya bisa dirasakan oleh para musisi tradisi tersebut. Rencananya program tersebut akan diberlakukan secara bergilir kepada masyarakat Cirebon yang membutuhkan kehadiran tersebut. Model giliran tersebut akan dilakukan selama setahun. ”Kesenian tersebut diprogramkan hampir setiap hari ‘bermain’. Sehingga pemasukan bagi musisinya juga terus ada,” urainya. Roadshow ‘KESEIMBANGAN – Oi, Menanam! bersama Iwan Fals & Band’ di Kota Cirebon pada keesokan harinya (29/6) berlangsung meriah dan semarak. Acara yang gelarannya diisi dengan pentas tradisi Cirebon, bazaar, penanaman, hingga pentas Iwan Fals & Band tersebut “mengalahkan” hujan lebat yang menyiram arena pentas pada sore harinya. Oi Angkat Tradisi Cirebon Beberapa kesenian rakyat Cirebon sempat dipentaskan, diantaranya pergelaran Seni Tari Topeng yang dibawakan oleh Sanggar Sekar Pandan Keraton Kanoman Cirebon, yang disajikan lengkap dengan bodoran-nya. Selanjutnya juga dipentaskan kesenian Sintren, dan Tari Topeng Beling (Tari Kreasi, perpaduan Tari Topeng dan Debus -red). Yang melegakan sekaligus patut diapresiasi, pergelaran seni rakyat tradisional Cirebon tersebut, sebagian pementasannya diisi oleh BPK Oi Cirebon. Setelah pergelaran acara seni tersebut, “jeda waktu” diisi dengan sambutan dari para tokoh pemerintahan Cirebon, serta Iwan Fals. Kesemuanya merasa senang denagan adanya program penanaman, terutama karena sepaham bahwa pohon merupakan ujung tombak penyediaan oksigen yang amat dibutuhkan bagi kehidupan kini dan masa mendatang. Iwan bersama Rosana (istri) dan keluarga, sebelumnya sempat berkunjung, sekaligus menjemput Sultan Kanoman Cirebon XII (Sultan Raja Emirudin) di Keraton Kanoman, hingga menuju Alun-Alun Kanoman, guna mengikuti acara penanaman 2000 pohon sawo kecik secara simbolis. Sementara pohon sawo kecik lainnya tersebut akan ditanam di beberapa lokasi kota Cirebon, yang terutama akan dilakukan oleh para BPK Oi Cirebon. Acara simbolis penanaman pohon sawokecik yang ditanam persis di depan Keraton Kanoman Cirebon tersebut, keseluruhannya menyediakan lima liang tanam. Masing-masing penanamannya dilakukan oleh Sultan Raja Emirudin, Iwan Fals, Ano Sutrisno (Ketua BKPP), Bontot (Ketua BPK Oi Cirebon), serta AKBP Ir Ari Laksamana Wijaya (Kapolres Cirebon). Antusiasme masyarakat Cirebon, tampak membanjiri kawasan Alun-Alun Kanoman semenjak pagi hari. Saat acara digelar mereka tampak berebutan, sekaligus berdesakan melihat dari dekat “legenda hidup”, Iwan Fals. Usai acara simbolis penanaman, juga digelar pementasan musik. Beberapa band pengisi acara sempat tampil, diantaranya Band Semirang, yang para personilnya berasal dari BPK Oi Cirebon. Band Semirang menampilkan baluran musik tradisi dipadu dengan alat musik modern. Demikian pula dengan penampilan Digo Cs, yang membawakan beberapa buah lagu termasuk lagu Hio. Sementara itu, aktivis Oi yang ditemui iwanfals.co.id mengaku bahwa dukungan dan fasilitasi gelaran acara hari itu dapat berjalan lancar, tak lepas dari dukungan pihak Keraton Kanoman Cirebon. Bahkan untuk pengamanan jalannya acara, juga tampak para Hulu Balang Keraton yang aktif membantu gelaran tersebut. ”Tanpa bantuan hulu balang Keraton untuk pengamanan, keteteran juga kita,” urai seorang pengurus Oi. Pada sesi jumpa pers, Iwan menyatakan upaya yang dilakukannya merupakan upaya dari seorang anak bangsa yang mencintai negerinya. Dia merindukan tanah yang hijau dan oksigen untuk anak-anaknya kelak. Apalagi tambahnya,dia pernah berbincang dengan mantan Menteri Perhutanan (MS Kaban) yang dikatakannya sebagai perbincangan lima tahun yang lalu. “Usia hutan Indonesia jika kondisinya seperti saat ini, akan habis sekitar 15 tahun ke depan,” urainya mengutip MS Kaban. Khusus permasalahan perusakan alam termasuk hutan yang terjadi di Cirebon, hal tersebut menjadi tanggung jawab bersama. Hanya, peran pemerintah memang diperlukan lebih besar dari stakeholder lainnya. Termasuk mesti “tebal kuping”, jangan malah “tipis kuping”, kendati memang seperti menjadi hukum alam, dimanapun pemerintah memang akan selalu disalahkan. Yang jelas menurut Iwan Fals, upaya melestarikan alam diibaratkannya sebagai “kerja tim”, kerja bersama, sama halnya dengan upaya pelestarian seni dan budaya bangsa, juga merupakan kerja tim. Penghijauan Budaya Cirebon Uniknya, bagi masyarakat Cirebon penghijauan atau urusan menanam bukan barang baru. Ratu Raja Arimbi (kalangan dalam Keraton) menyatakan kepada iwanfals.co.id, disamping senang dan gembira, dengan adanya kunjungan roadshow Iwan Fals, dia juga merasa memiliki harapan positif, terutama karena yang dilakukan akan berkontribusi positif bagi lingkungan dan kehidupan manusia di masa mendatang. Dijelaskan lebih jauh, Cirebon juga memiliki “kearifan budaya lokal”, terkait penghijauan. Sudah semenjak beratus tahun silam, masyarakat Cirebon memiliki tradisi maupun etika dalam menanam atau memotong tanaman. Ketentuan mengenai penghormatan terhadap tanaman, yang didalamnya termasuk etika terhadap tumbuhan tersebut, berlangsung secara turun temurun. Etika tersebut tertulis semacam “primbon”. Ratusan tahun silam, “primbon” tersebut disusun, disadur, dan dibukukan sebagai sangu bagi generasi mendatang oleh Pangeran Arifin (Kakek Ratu Raja Arimbi). Ketentuannya masih banyak digunakan oleh kalangan Keraton atau masyarakat Cirebon hingga kini. “Primbon” tanaman tersebut diantaranya berisi etika terhadap tanaman, waktu yang pas untuk menanam, disesuaikan dengan musim agar tanaman tumbuh maksimal, bahkan ketentuan tersebut mengatur hingga perlakuan terhadap jenis-jenis tamanannya. “Jadi memang tidak asal menebang, demikian juga dengan penanaman,” tambahnya. Hujan Sambut Konser Pada sore harinya, pentas Iwan Fals & Band digelar di Alun-Alun Kanoman. Siraman hujan yang mengguyur tak henti hingga mendekati paruh waktu acara, jadi cerita menarik untuk disimak. Kesibukan kru pendukung konser jadi berlipat, Mame’ (FOH sound engineer) terlihat sempat berlarian ke arah panggung memastikan peralatan suara bekerja dengan baik. Begitupun dengan Ayub (monitor sound engineer), serta beberapa kru lain yang ikut mengamankan agar air hujan yang masuk ke panggung tak berpengaruh pada peralatan elektronik yang digunakan. Berkali, demi keamanan dari terjangan air hujan, tirai penutup muka panggung diturunkan begitupun sebaliknya digulung, mengikuti intensitas hujan yang berubah-ubah, ketika konser berlangsung. Tirai plastik transparan tersebut digunakan untuk menutupi panggung, dari terjangan air hujan yang jatuh bak ditumpahkan dari langit. Penonton awalnya tampak menahan diri, namun usai Iwan Fals menanggalkan bajunya dan bertelanjang dada, para penonton mulai menyerbu alun-alun, mereka mulai tertarik mengikuti pentas, mengingat hujan juga mulai tampak reda, meski genangan air di lokasi pentas sudah menyambut kedatangan mereka. Tembang-tembang seperti Hio, Hutanku, Malahayati, Kuda Coklat, Tanam Siram Tanam, Bento, Jendral Tua, Ya Allah Kami, Aku Menyayangimu, ^O^, Sepakbola, Mereka Ada di Jalan, dan lain-lain, dilantunkan Iwan Fals & Band sore itu. Jelas tampak kerinduan fans Iwan Fals untuk hadir dan mengikuti jalannya konser hingga tuntas. Beberapa kelompok fans datang tidak hanya dari wilayah kota Cirebon, mereka bahkan ada yang tinggal di luar kota Cirebon, hingga Indramayu. Menurut beberapa fans Iwan Fals yang hadir, kepada iwanfals.co.id, rata-rata mereka menyatakan kegembiraannya atas terselenggaranya rangkaian acara roadshow ini, karena bisa mengobati kerinduan mereka terhadap Iwan Fals. Disamping itu, menurut Akas (19) asal Kampus Pengampon-Cirebon, disamping mengobati kerinduan fans, dia jadi merasa termotivasi untuk melindungi dan merawat alam yang selama ini selalu dieksploitasi, hanya demi kepentingan manusia tanpa mempertimbangkan aspek kelestariannya. Tidak hanya Akas, Taufik (18) pemuda dari Cirebon lainnya mengaku puas dengan gelaran sore hari tersebut. Baginya disamping ada motivasi untuk menjaga kelestarian alam usai menyimak konser, sepantasnya para anak muda aktif melindungi lingkungan yang kian merosot daya dukungnya kini. Selanjutnya, Ucup (27) yang tampak sebagai pentolan fans Iwan Fals asal Indramayu menilai positif atas gelaran pentas dan acara penanaman yang digelar, apalagi pentas berjalan lancar tanpa adanya keributan yang berarti. Dia berpesan, disamping agar Iwan Fals tetap kritis, juga berharap agar acara serupa bisa digelar di kota Indramayu, karena cukup lama menurutnya Iwan Fals & Band belum mengunjungi kota mereka.

Sumber: http://www.iwanfals.co.id

IWAN FALS KONSER SE-JAWA

Posted in IWAN FALS on 2010/07/01 by chikal setiawan

PRODUSEN Sepatu olahraga merek League dan Iwan Fals menggelar konser music keliling di enam kota di Pulau Jawa. Konser dilakukan untuk mengkampanyekan gerakan menanam pohon dan menggugah kesadaran masyarakat. Konser yang dimulai di Alun-alun kanoman, Cirebon Jawa Barat itu mengambil tema Konser Keseimbangan Bumi League Bumi Kita. Setelah di Cirebon, konser akan dilaksanakan di Jombang dan Blitar (Jawa Timur), Solo dan Cilacap (Jawa Tengah) dan berakhir di Tasikmalaya (Jawa Barat) pada tanggal 11 Juli 2010. “Disetiap kota, Iwan Fals akan menyanyikan lagu bertema lingkungan hidup. Iwan Fals dan Tim juga akan melakukan gerakan nyata dengan menanam pohon bersama pengurus dan anggota Orang Indonesia (Oi),” kata Marketing Communication Manager sepatu league, Lina Heryanto, kemarin. League juga melakukan bazaar sepatu disetiap kota. Untuk mendukung kegiatan ini, perusahaan membawa stan keliling dari Jakarta dengan desain khusus ramah lingkungan.

MENGUAK KEGAGALAN ITALIA DI PIALA DUNIA AFRIKA SELATAN 2010

Posted in sport on 2010/06/29 by chikal setiawan

TIDAK ada Tifosi yang tak kecewa melihat Italia tersingkir dari Piala Dunia 2010, Saya adalah salah satunya. Nyaris satu minggu telah berlalu semenjak Fabio Cannavaro dan Kawan-kawan dipecundangi tim kemarin sore sekelas Slovakia 2-3 dalam laga pamungkas penyisihan Grup F, Kamis (24/6). Namun, memori buruk itu belum mau pergi dari ingatan saya.

Meski tak menjagokan Italia dari awal turnamen, tidak pernah setitikpun terlintas dalam benak saya mereka akan tersingkir dengan statusjuru kunci, plus tak pernah menang. Plus bermain tanpa motivasi, plus miskin kreativitas dilini tengah, sebelum masuknya playmaker sekelas Andrea Pirlo dengan nomor punggung 21.

Melihat nomor punggung itu, sesuatu menggelitik pikiran saya> Mengapa bukan Pirlo yang mengenakan nomor keramat 10 itu? Mengapa nomor legendaris itu justru diberikan kepada Antonio Dinatale, pemain yang tak masuk winning team 2006 serta bermain buruk di uero 2008?

Adalah Roberto Donadoni, pelatih Italia yang tak lagi mengindahkan pengguna nomor 10 ketika menangani Italia di Uero 2008. Padahal selama ini, jersey dengan nomor punggung 10 bagi Italia merupakan nomor suci yang biasanya diberikan kepada pemain kreatif di lini depan.


Legenda Gli Azzurri yang telah mengenakan nomor kebesaran tersebut diantaranya Gianni Rivera, Omar Sivori, dan Roberto Baggio. Dua nama terakhir yang paling diingat ketika mengenakan nomor 10 adalah Alesandro Del Piero serta Francesco Totti.

Piala Dunia Prancis 1998 merupakan kali pertama Del Piero menyandang nomor punggung 10 menggantikan Roberto Baggio. Torehan terbaik kapten Juventus ini ketika mengenakan nomor 10 adalah dalam Uero 2000. Bersama Totti, pemain yang memulai debutnya di level Internasional pada 1995 ini membawa Italia sebagai Runner Up setelah kalah adu penalty di babak final oleh Les Blues.

Nomor ini beralih ke Totti semenjak Piala Dunia Korea-Jepang 2002, Sedangkan Alesandro Del Piero harus puas mengenakan kostum nomor Tujuh. Ketika Piala Dunia di gelar di Jerman tahun 2006, Totti akhirnya sukses mengantar Italia mengangkat Trofi juara Dunia untuk ke empat kalinya.

Sejak kejayaan 2006, baik karier Del Piero maupun Totti di Timnas Italia ibarat bintang yang kian redup. Del Piero sempat bermain di Uero 2008, kebanyakan sebagai pemain pengganti. Namun, pria kelahiran 9 November 1974 ini tetap menyam[paikan hasratnya untuk berseragam”Tim Biru” hingga usia 40 tahun. Sementara itu, sang il capitano AS Roma memutuskan pension 2007, tapi kembali ingin membela Timnas jika dipanggil Lippi berlaga di Piala Dunia 2010.

Meski di cap “Pasukan Uzur” toh nama kedua bintang tua ini tak ada dalam daftar 23 pemain yang berangkat ke Afrika Selatan. Nama kedua bintang tua itu pula yang kemudian banyak dihubungkan pasca kegagalan total Italia mempertahankan gelar juara tahun ini.

Diego Armando Maradona, misalnya” Pelatih Argentina ini dengan terang terangan menyebut ketidakhadiran kedua pemain tersebut merupakan kerugian besar bagi Italia. Pasalnya, tak ada Aura bintang yang bisa menghadirkan semangat motivasi bertanding di dalam Tim.

Tak ada satu orangpun yang menyangka bahwa juara bertahanItalia tersingkir di putaran pertama. Menurut saya, mereka kehilangan figure pemain seperti Alesandro Del Piero dan Francesco Totti,” tutur juru taktik nyentrik ini.

Jika ada pemain yang paling kangen dengan kehadiran dua pemain ini di Timnas, dialah Gianluigi Buffon. Fortiere andalan Juventus initak kuasa menyebut nama Alesandro Del Piero dan Francesco Totti sesaat setelah di pastikan angkat koper lebih awal. Namun ditengah pusaran kritik, kipper berusia 32 tahun itu tetap mengungkapkan optimisme atas masa depan Italia.

Kami kehilangan pemain seperti Alesandro Del Piero dan Francesco Totti. Namun dalam tiga bulan, kami akan menemukan pengganti mereka,” tandas Buffon.

Life Must Go On, kegagalan biarlah menjadi kenangan pahit dan pembelajaran yang menyakitkan. Kini, merupakantugas Cesare Prandelli (Penerus Lippi yang pension) untuk mencari pemain bernomor punggung 10 alias punggawa suci yang memiliki mental juara ala sepak bola Italia.

Dikutip dari Media Indonesia
Dari Asni Harismi

SEJARAH JUVENTUS

Posted in JUVENTUS on 2010/06/26 by chikal setiawan

1897 AWAL MULA

Dari Bangku Cadangan Pemain Setiap legenda mempunyai cerita dimana pada suatu hari yang cerah, tepatnya 1 November 1897, sekelompok pemuda dari daerah Liceo D’Azeglio yang tengah duduk di bangku pemain di Corso Re Umberto memutuskan untuk membentuk tim olah raga dengan berfokus kepada permainan sepakbola. Mereka ini hanyalah sekelompok anak-anak yang saling berteman dan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan bersama dan bersenang-senang serta melakukan berbagai hal positif. Lalu, mereka merencanakan untuk bermain sepakbola di sebuah taman besar bernama Piazza d’Armi, dimana tempat ini biasa digunakan untuk lari dan berkuda. Selain itu, karena tempatnya yang cukup luas, tidak sulit bagi mereka untuk menemukan tempat bermain sepakbola di sana.

Itulah kira-kira gambaran kisah yang diceritakan oleh salah satu pendiri klub, Enrico Canfari: “Kami dulu menganggap perlu untuk bentuk sebuah tim dan kami memutuskan hal itu saat musim salju di tahun 1897.”Itulah kira-kira kisah awal terbentuknya Juventus, walau kisahnya sedikit kurang jelas, mungkin dikarenakan markas Canfari bersaudara di 42 Corso Re Umberto, tempat awal pertemuan memang sangat gelap.;. Usia mereka rata-rata 15 tahunan, yang tertua berumur 17 dan lainnya di bawah 15 tahun. Setelah itu, hal yang mungkin tidak jadi masalah sekarang ini tapi merupakan hal yang terberat bagi pemuda-pemuda tersebut saat itu ialah:mencari markas baru! Canfari bersaudara memutuskan untuk mencarinya sendiri dan akhirnya mereka menemukan salah satu tempat; sebuah bangunan yang memiliki halaman yang dikelilingi tembok, mempunyai 4 ruangan, sebuah kanopi dan juga loteng dan keran air minum.

Canfari, Ketua Pertama

Selanjutnya, Canfari menceritakan tentang bagaimana terpilihnya nama klub, segera setelah mereka menemukan markas baru. Akhirnya, tibalah pertemuan untuk menentukan nama klub dimana terjadi perdebatan sengit di antara mereka. Di satu sisi, pembenci nama latin, di sisi lain penyuka nama klasik dan sisanya netral. Lalu, diputuskanlah tiga nama untuk dipilih; “Societa Via Port”, “Societa sportive Massimo D’Azeglio “, dan “Sport Club Juventus”.Nama terakhir belakangan dipilih tanpa banyak keberatan dan akhirnya resmilah nama klub mereka menjadi “Sport Club Juventus”.

Eugenio Canfari, kakak dari Enrico Canfari yang mengisahkan kepada kita asal-usul klub di atas. Setelah itu, markas klub berpindah tempat di Via Piazzi 4, distrik Crocetta, sebuah bangunan dengan 3 ruangan.

1898 – 1905 DARI MULAI TERBENTUK HINGGA SCUDETTO PERTAMA

Seragam Merah Jambu Juventus akhirnya resmi terbentuk. Sekali lagi, Enrico Canfari menceritakan kenangannya saat memainkan pertandingan pertamanya. Torino FC, klub sekota mengundang mereka melakukan pertandingan persahabatan. Awalnya, mereka tidak mengira sebuah klub terkenal mengajak mereka bertanding, namun pertandingan akhirnya dilaksanakan. Hasilnya bisa ditebak, tim Juve kalah telak! Namun permainan individual – karena mereka fokus berlatih dengan bola secara individu – mereka dipuji lawan. Segera setelah melalui pertandingan pertama, juga telah menemukan susunan sebelas pemain tetap, mereka mulai mulai rutin bertanding sampai pada suatu waktu mereka membentuk sebuah turnamen untuk membuktikan kapasitas mereka di Turin. Akan tetapi, masalahnya mereka saat itu belum mempunyai seragam klub. Selain itu, sulit untuk memilih bahan yang akan dipakai, apakah terbuat dari katun, flannel, atau wol. Sampai pada akhirnya, mereka memilih memakai kostum dari bahan katun tipis dan halus berwarna merah jambu yang mereka kenakan hingga tahun 1902, kostum yang terlupakan seiring berjalannya waktu.

Di tahun 1899, klub berganti nama menjadi Juventus Football Club. Mulai tahun 1900, mereka ambil bagian dari liga professional. Pertandingan resmi pertama mereka adalah saat kalah dari FC Torino pada tanggal 11 Maret. Di tahun 1901, mereka berhasil mencapai semifinal dan di tahun 1903 dan 1904, mereka kalah dari Genoa di final.

Juara Italia

Tahun 1905 adalah momen ajaib bagi tim putih-hitam-warna dari seragam klub yang mengadopsi warna Klub Inggris, Nottingham, yang popular sampai sekarang. Durante berada di posisi penjaga gawang; Armano dan Mazzia di posisi bek sayap; Walty, Goccione, dan Diment sebagai bek tengah; Barberis, Varetti, Forlano, Squire, dan Donna berada di baris penyerangan. Setelah menjuarai grup Piedmont, mereka kandaskan Milan dua kali dan menahan seri Genoa, yang hanya bermain imbang dengan Milan, untuk menjadi juara Italia dan berada di atas tim-tim dari daerah Liguria. Pada waktu itu istilah scudetto belum diperkenalkan, namun Federasi Sepakbola Italia memberi mereka pelat juara.

Alfred Dick adalah pimpinan klub saat itu sekaligus sebagai penyandang dana. Secara keseluruhan tim menjadi lebih kuat, sebagian besar akibat pengaruh pemain asing yang bekerja di pabrik tekstil miliknya. Tim ini hampir saja memenangi title kedua di tahun 1906, namun mereka tidak bersedia tampil di final melawan Milan sebagai bentuk protes mereka karena pertandingan tersebut dilakukan di Milan bukan di tempat netral seperti keinginan mereka. Selain itu, banyaknya pemain asing di tim membuat suasana kurang harmonis dan kepemimpinan Dick mulai dipertanyakan hingga ia memutuskan untuk hijrah ke Torino serta membawa beberapa pemain yang menjadi teman dekat dirinya.

1906 – 1923 SEBELUM DAN SESUDAH MASA PERANG DUNIA I

Tahun-tahun sulit

Setelah merengkuh gelar pertama, dimulailah masa-masa sulit bagi klub. Chairman Dick meninggalkan posisinya diikuti para pemain asing mereka yang memaksa klub merevisi target. Saat itu, keadaan klub sangat buruk dan mereka juga kedatangan lawan tangguh baru yaitu tim Pro Vercelli dan Casale. Kedua klub tersebut menjadi lawan menakutkan dan saling bersaing merebut posisi teratas. Musim 1913/1914 adalah musim terakhir sebelum masa Perang Dunia I. Musim selanjutnya lebih buruk dimana pada musim itu kompetisi ditunda pada 23 Mei 1915 karena Italia ikut ambil bagian dalam perang.

Majalah “Hurra Juventus” diterbitkan

Beberapa pemain dan official juga terjun dalam perang antar Negara itu dan kebanyakan dari mereka gugur atau menghilang. Untuk tetap mengetauhi keberadaan mereka, dibuatlah majalah “Hurra Juventus” yang ditulis oleh seorang editor, Corradino Corradini. Sampul majalah memperlihatkan moto: “Kemenangan akan menjadi milik yang terkuat dan percaya akan kekuatannya.

” Perang berakhir pada 11 November 1918 dan klub kehilangan beberapa pilar penting dalam perang itu namun keinginan untuk menang masih tetap hidup. Pada 12 Oktober 1912, klub kembali ke lapangan pertandingan untuk mengikuti kompetisi liga. Saat itu, Juventus diperkuat sang kiper, Giacone-yang tidak lama kemudian dipanggil masuk ke timnas Italia-kiper legendaris yang merupakan pemain Juventus pertama dalam sejarah yang dipanggil timnas Italia. Selain kiper, ada dua full back, Novo dan Bruna yang mempelopori duet bek tangguh dan diikuti oleh duet lainnya mulai dari Rosetta-Caligaris sampai Foni-Rava. Selain mereka, kekuatan tim juga bergantung kepada determinasi yang diperlihatkan Bona dan Giriodi. Semua pemain tersebut memberi kekuatan pada tim untuk meraih hasil maksimal, seperti kemenangan atas Casale pada 7 Maret 1920. Selain itu, mereka juga berhasil meraih hasil maksimal saat mengalahkan Genoa pada babak final Grup Utara, pada 16 Mei yang ditandai dengan hattrick dari Bona walau saat itu mereka tidak berhasil menjuarai Liga yang jatuh ke tangan Internazionale.

Debut Combi

Selanjutnya, orang-orang mulai membicarakan sepakbola sebagai fenomena baru olah raga. Para pendukung antusias mendukung klub walau hasil pertandingan tidak sesuai keinginan mereka. Di tahun 1921, klub tereliminasi pada fase pertama grup bahkan pada 1922 dan 1933, klub berada pada posisi klasemen yang buruk di Grup Utara. Namun semua itu perlahan-lahan mulai berubah. Adalah Marchi II, seorang mantan pemain yang pensiun dan menjadi pelatih karena alasan kesehatan, menemukan sesuatu yang hebat. Hal itu terjadi saat ia menyaksikan sebuah pertandingan junior dan terkesima dengan penampilan seorang kiper. Namanya: Giampiero Combi! Segera setelah itu, ia direkrut dan pada umur 18 tahun di tahun 1923, ia telah berhasil masuk sebagai tim inti.

1923 – 1929 AWAL TAHUN ’20-AN DAN GELAR KEDUA

Presiden klub Edoardo Agnelli

Pada 24 Juli 1923 Edoardo Agnelli, anak dari pendiri FIAT, terpilih sebagai presiden klub. Pada masa itu, klub mempunyai lapangan sepakbola pribadi selama kurun waktu setahun yang terletak di Corso Marsiglia, lengkap dengan tempat duduk terbuat dari batu bata. Tim menjadi lebih kuat dari sebelumnya dimana tim kedatangan bek hebat, Viri Rosetta dari Pro Vercelli. Tim terdiri dari kiper Combi, winger Munerati, Gabbi dan Bigatto, dan seorang penyerang tengah lincah Pastore (yang akhirnya beralih profesi menjadi aktor). Sementara itu, klub pertama kali dalam sejarah ditangani seorang manajer yaitu Jeno Karoly yang berasal dari Hungaria.

Scudetto Kedua

Manajer Karoly boleh saja sebagai dalang dari kesuksesan klub, namun aktor penting dibalik itu semua ada pada diri seorang pemain Hungaria, Hirzer. Selain itu, dalam perebutan title melawan Bologna, Juve harus memainkan partai ulang setelah di dua partai final sebelumnya kedua tim bermain seri. Pada 2 Agustus bertempat di Milan, Juve akhirnya berhasil memenangi gelar setelah menglahkan Bologna 2-1. Namun kegembiraan tidak berlangsung lama karena beberapa hari sebelumnya, Karoly, sang manajer meninggal dunia secara mengejutkan karena serangan jantung.

Dari Hirzer ke Orsi

Musim selanjutnya berjalan hampir mirip dengan musim sebelumnya. Setelah beberapa kali memetik kemenangan, namun akibat penampilan buruk di semifinal group, Juve terpaksa merelakan posisi pertama kepada Torino. Selain itu, Juve juga kehilangan sang aktor, Hirzer, akibat terganjal peraturan liga. Masuknya Cavenini III, yang sebelumnya cemerlang bersama Inter tidak banyak membantu karena usianya yang sudah uzur. Walau penampilan mereka tidak bisa dibilang jelek, Juve tetap saja tidak mampu menyaingi keperkasaan Bologna dan Inter Milan di 2 musim berikutnya.

Pada akhir tahun 20-an, Liga Serie A berubah format menjadi 1 grup. Ini membuat sepakbola menjadi semakin kompetitif dan dampaknya bagi Juve sangat signifikan. Mereka melihat ini sebagai peluang untuk kembali ke persaingan juara. Untuk itu, mereka menambah beberapa amunisi baru seperti, Caligaris, Cesarini, dan Raimundo Orsi. Nama terakhir merupakan pemain kelahiran Argentian namun mempunyai darah Italia dan ia terkenal setelah bermain bagus bersama timnas di ajang Olimpiade.

1930 – 1935 LIMA TITEL BERUNTUN (1930 – 1935)

Bergabungnya Ferrari, Vecchina dan Varglien II

Dalam rentang periode antara 1930-1935, sepakbola Italia menjadi saksi lahirnya sebuah klub yang mampu memenangi 5 gelar scudetto berturut-turut: Juventus. Tim ini menjadi legenda se-antero Italia dengan sebutan “Italy’s girlfriend”. Di bawah kepemimpinan Agnelli dan wakilnya, Baron Giovanni Mazzonis di Pralafera, Juve menjelma menjadi klub populer. Perubahan format kompetisi menjadi 1 grup (Liga Serie A) membawa perubahan signifikan bagi sepakbola Italia, pun bagi Juve. Dengan skuad yang terdiri dari beberapa pemain hebat seperti; Mumo Orsi, Cesarini, Varglien, Giovanni Ferrari, Vecchina dan trio legendaries Combi-Rosetta-Caligaris, Juve menjadi tim solid yang siap menyaingi keperkasaan Ambrosiana Inter (nama lama Inter Milan).

Di musim beikutnya, Juve melesat sendirian memimpin klasemen. Salah satu kejutan terbesar ialah saat mereka kalah 0-5 dari Roma pada 15 Maret 1931. Namun, tim segera melupakan kekalahan tersebut dan berhasil bangkit berhasil meraih titel juara setelah sebelumnya mengalahkan Inter di Turin.

Monti: sang penguasa pertahanan

Musim selanjutnya, tim di bawah asuhan manajer Carcano hanya perlu sedikit perubahan karena tim yang sudah ada tetap solid. Di lain pihak, Juve berhasil mendatangkan pemain anyar berposisi bek sayap: Luisito Monti. Dengan karakter pekerja keras dan tangguh, Monti menjelma menjadi salah satu bek tertangguh di Serie A musim ini. Di sisi lain, Juve menghadapi perlawanan ketat dari tim lain yang menjadikan mereka tim yang harus dikalahkan. Perlahan tapi pasti, mereka mulai menemukan bentuk permainan terbaik dan berhasil menduduki posisi pertama klasemen. Sementara itu, dalam pertandingan penting melawan Inter pada 17 Januari 1932, Oris dkk. berhasil memukul telak lawannya 6-2 dilanjutkan dengan membantai Roma 7-1 pada 6 Maret 1932. dan, pada 1 Mei , kemenangan 3-2 atas Bologna membawa Juve merebut scudetto 2 musim berturut-turut dan Orsi menjadi top skorer Liga dengan 20 golnya.

Musim berikutnya, Juve merekrut bek Bertolini dan pemain sayap Sernagiotto. Namun, pemain yang paling menyita perhatian muncul dari tim junior mereka: Felice Placido “Farfallino” Borel. Penyerang ini selalu membuat gol-gol penting bagi timnya dan di musim ini Juve berhasil finish di posisi pertama dengan 54 poin. Borel sendiri bermain fantastis dengan rekor 29 gol dalam 28 penampilan yang belum dapat disamakan hingga saat ini.

Stadion Baru dan gelar lanjutan

Musim 1933/1934, Juve sekali lagi sukses merebut scudettonya yang ke-empat secara beruntun dengan kontribusi Borel yang mencetak 31 gol dan 4 poin di atas Inter. Gelar di musim ini juga terasa lebih bermakna karena pesaing utama, Inter, merupakan tim terkuat saat itu termasuk bagi Juve yang tidak bisa mengalahkan mereka dalam duel langsung. Sementara itu, pada Februari 1934, Juve mempunyai stadion baru: New Comunale Stadium. Terakhir, di musim 1934/1935, Juve merebut gelar scudettonya yang kelima beruntun bersamaan dengan Italia yang menjadi juara Piala Jules Rimet. Gelar terakhir dalam 5 tahun ini sayangnya tidak bisa dinikmati Combi yang telah gantung sepatu.

1935 – 1949 SEBELUM DAN SESUDAH PERANG DUNIA II

Musim 1937/1938, Juve bersama trio pertahanan mereka; Amoretti-Foni-Rava berjuang merebut titel dari Inter namun mereka akhirnya harus puas menjadi runner-up. Di musim ini mereka sukses menjuarai Piala Italia pertama mereka setelah di final mengalahkan Torino.

Debut Parola

Selanjutnya, setelah musim berikutnya bermain buruk dan hanya finish di posisi 8, Juve berhasil memperbaiki posisi menjadi ketiga di musim selanjutnya. Salah satu hal yang penting di musim ini adalah debut dari salah seorang pemain muda mereka yang berposisi bek: Carlo Parola. Setelah berada di posisi 6 musim 1940/1941, mereka merebut Piala Italia kedua mereka di musim berikutnya. Di periode ini, Italia ikut Perang Dunia II dan ini membuat jalannya Liga menjadi terhambat.

Liga pada masa Perang

Sepakbola Italia terus berlangsung saat masa perang berjalan. Pada 1944, Juve ikut serta dalam sebuah turnamen lokal, yang akhirnya urung diselesaikan. Pada 14 Oktober, Liga kembali bergulir dan ditandai dengan derby Torino v Juventus. Torino yang saat itu mendapat sebutan “Grande Torino” kalah 2-1 dari Juventus. Namun di akhir musim justru Torino berhasil juara. Pada jeda musim panas, sebuah peristiwa penting terjadi di Juve pada 22 July 1945, Giannin Agnelli mengambil alih posisi presiden klub, meneruskan tradisi keluarga Agnelli. Dalam kepempinannya, Agnelli mendatangkan Giampiero Boniperti dalam jajaran staffnya. Ditambah amunisi baru seperti, Muccinelli dan tombak asal Denmark John Hansen.

1949 – 1957 GELAR PERTAMA BONIPERTI

Gelar juara telah diukir

Musim panas 1949, tragedy menimpa Torino. Para anggota tim mereka tewas dalam kecelakaan pesawat yang dikenal dengan “tragedy Superga”. Hal ini membuat Juventus mengambil alih kekuasaan liga. Dengan kedatangan skuad baru seperti, kiper Giovanni Viola, bek Bertucelli,Piccini, dan penyerang Vivolo, mereka mencoba merebut juara liga. Setelah merengkuh serangkaian kemenangan, pada 5 februari 1950 mereka menderita kekalahan telak 7-1 dari AC Milan di depan public sendiri. Namun, Juve berhasil bangkit dan berhasil memenangi gelar liga ke 8 mereka 4 minggu sebelum musim usai dengan torehan 100 gol/musim dan kemasukan 43; penyerang Hansen menjadi top skorer dengan 28 gol.

Martino pergi, Juve lakukan tur ke Brazil

Tahun berikutnya keadaan sedikit memburuk dengan hengkangnya sayap mereka, Martino ke Argentina. Lalu, perjalanan mereka di liga domestik tidak mulus dan banyak membuang poin di pertandingan mudah. Bulan Juni, mereka melakukan tur uji coba ke Brazil dan mencapai final sebelum kalah dari Palmeiras di Maracana.

Gelar di tahun 1952 bersama pemain Hungaria Sarosi

Juve mengganti manajer mereka dengan pria Hungaria, Sarosi. Di tahun ini, Juve berhasil memenangi scudetto ke 9 mereka dengan koleksi 60 poin, 98 gol dan 34 kemasukan. Dua musim berikutnya skuad bertambah kuat namun mereka harus merelakan elar liga kepada Inter karena banyaknya pemain yang cedera dan kondisi tim yang tidak kondusif.

Puppo dan para pemain muda

Gianni Agnelli meninggalkan klub pada 18 September 1954. Tahun ini periode gelap Juve dimulai dengan hanya mampu finish di posisi 7. Musim berikutnya, di bawah arahan manajer Puppo yang mengandalkan skuad muda Juve mulai mencoba bangkit. Setelah serangkaian kekalahan karena skuad yang belum matang, pada November 1956 kabar baik berembus dengan masuknya Umberto Agnelli sebagai komisioner klub. Skuad menjadi kuat dengan kedatangan beberapa pemain hebat seperti Omar Sivori dan John Charles.

1957 – 1961 CHARLES AND SIVORI

Sivori dan Charles (1957 – 1961)

Kedatangan kedua pemain di atas menjadikan Juve semakin solid di bawah arahan manajer Ljubisa Brocic. Musim 1957-58 Juve meraih gelar juara ke-10 dengan kontribusi Sivori dan Charles. Charles juga dinobatkan sebagai top skorer dengan 28 gol. Musim berikutnya berjalan sebaliknya. Juve bermain inkonsisten dan hanya mampu finish di posisi 4, walau berhasil meraih gelar Piala Italia.

Kembalinya Cesarini

Renato Cesarini yang pernah menangani klub pada musim 1959-1960 kembali ke klub. Dan hasilnya bisa ditebak, Juve merebut kembali scudetto ke-11 mereka dengan 55 poin. Sivori kembali hebat dengan raihan 27 gol.

Musim 1960-1961 penuh dengan kejutan. Juve kedatangan lawan berat, Inter di bawah asuhan pelatih legendaries Helenio Herrera. Paruh pertama musim merupakan kabar buruk bagi Juve. Namun di paruh kedua mereka membuat kejutan dengan berhasil mempertipis jarak menjadi 1 poin dengan pimpinan klasemen,Inter. Di pertandingan penentu, Juve mengalahkan Inter dalam perebutan scudetto. Juve juara untuk ke-12 kalinya.

1961 – 1969 TAHUN “MOVIMIENTO” (MOVEMENT/PERGERAKAN)

Perpisahan Boniperti dan lahirnya formasi 4-4-2

Musim ini jadi musim terakhir Boniperti. Juve mencoba peruntungan di kejuaraan Eropa namun terhenti oleh Real Madrid. Umberto Agnelli tinggalkan klub dan digantikan oleh seorang insinyur bernama Vittore Catella. Agustus 1962, Amaral dari Brazil menjadi manajer dan Juve bermain dengan formasi anyar 4-4-2. Namun di liga, mereka terpuruk di urutan kedua di bawah Inter.

Sejarah

1897  AWAL MULA
Dari Bangku Cadangan Pemain

Setiap legenda mempunyai cerita dimana pada suatu hari yang cerah, tepatnya 1 November 1897, sekelompok pemuda dari daerah Liceo D’Azeglio yang tengah duduk di bangku pemain di Corso Re Umberto memutuskan untuk membentuk tim olah raga dengan berfokus kepada permainan sepakbola. Mereka ini hanyalah sekelompok anak-anak yang saling berteman dan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan bersama dan bersenang-senang serta melakukan berbagai hal positif. Lalu, mereka merencanakan untuk bermain sepakbola di sebuah taman besar bernama Piazza d’Armi, dimana tempat ini biasa digunakan untuk lari dan berkuda. Selain itu, karena tempatnya yang cukup luas, tidak sulit bagi mereka untuk menemukan tempat bermain sepakbola di sana.

Itulah kira-kira gambaran kisah yang diceritakan oleh salah satu pendiri klub, Enrico Canfari: “Kami dulu menganggap perlu untuk bentuk sebuah tim dan kami memutuskan hal itu saat musim salju di tahun 1897.” Itulah kira-kira kisah awal terbentuknya Juventus, walau kisahnya sedikit kurang jelas, mungkin dikarenakan markas Canfari bersaudara di 42 Corso Re Umberto, tempat awal pertemuan memang sangat gelap.;. Usia mereka rata-rata 15 tahunan, yang tertua berumur 17 dan lainnya di bawah 15 tahun. Setelah itu, hal yang mungkin tidak jadi masalah sekarang ini tapi merupakan hal yang terberat bagi pemuda-pemuda tersebut saat itu ialah:mencari markas baru! Canfari bersaudara memutuskan untuk mencarinya sendiri dan akhirnya mereka menemukan salah satu tempat; sebuah bangunan yang memiliki halaman yang dikelilingi tembok, mempunyai 4 ruangan, sebuah kanopi dan juga loteng dan keran air minum.
Canfari, Ketua Pertama

Selanjutnya, Canfari menceritakan tentang bagaimana terpilihnya nama klub, segera setelah mereka menemukan markas baru. Akhirnya, tibalah pertemuan untuk menentukan nama klub dimana terjadi perdebatan sengit di antara mereka. Di satu sisi, pembenci nama latin, di sisi lain penyuka nama klasik dan sisanya netral. Lalu, diputuskanlah tiga nama untuk dipilih; “Societa Via Port”, “Societa sportive Massimo D’Azeglio “, dan “Sport Club Juventus”. Nama terakhir belakangan dipilih tanpa banyak keberatan dan akhirnya resmilah nama klub mereka menjadi “Sport Club Juventus”.

Eugenio Canfari, kakak dari Enrico Canfari yang mengisahkan kepada kita asal-usul klub di atas. Setelah itu, markas klub berpindah tempat di Via Piazzi 4, distrik Crocetta, sebuah bangunan dengan 3 ruangan.
1898 – 1905  DARI MULAI TERBENTUK HINGGA SCUDETTO PERTAMA

Seragam Merah Jambu

Juventus akhirnya resmi terbentuk. Sekali lagi, Enrico Canfari menceritakan kenangannya saat memainkan pertandingan pertamanya. Torino FC, klub sekota mengundang mereka melakukan pertandingan persahabatan. Awalnya, mereka tidak mengira sebuah klub terkenal mengajak mereka bertanding, namun pertandingan akhirnya dilaksanakan. Hasilnya bisa ditebak, tim Juve kalah telak! Namun permainan individual – karena mereka fokus berlatih dengan bola secara individu – mereka dipuji lawan. Segera setelah melalui pertandingan pertama, juga telah menemukan susunan sebelas pemain tetap, mereka mulai mulai rutin bertanding sampai pada suatu waktu mereka membentuk sebuah turnamen untuk membuktikan kapasitas mereka di Turin. Akan tetapi, masalahnya mereka saat itu belum mempunyai seragam klub. Selain itu, sulit untuk memilih bahan yang akan dipakai, apakah terbuat dari katun, flannel, atau wol. Sampai pada akhirnya, mereka memilih memakai kostum dari bahan katun tipis dan halus berwarna merah jambu yang mereka kenakan hingga tahun 1902, kostum yang terlupakan seiring berjalannya waktu.

Di tahun 1899, klub berganti nama menjadi Juventus Football Club. Mulai tahun 1900, mereka ambil bagian dari liga professional. Pertandingan resmi pertama mereka adalah saat kalah dari FC Torino pada tanggal 11 Maret. Di tahun 1901, mereka berhasil mencapai semifinal dan di tahun 1903 dan 1904, mereka kalah dari Genoa di final.
Juara Italia

Tahun 1905 adalah momen ajaib bagi tim putih-hitam-warna dari seragam klub yang mengadopsi warna Klub Inggris, Nottingham, yang popular sampai sekarang. Durante berada di posisi penjaga gawang; Armano dan Mazzia di posisi bek sayap; Walty, Goccione, dan Diment sebagai bek tengah; Barberis, Varetti, Forlano, Squire, dan Donna berada di baris penyerangan. Setelah menjuarai grup Piedmont, mereka kandaskan Milan dua kali dan menahan seri Genoa, yang hanya bermain imbang dengan Milan, untuk menjadi juara Italia dan berada di atas tim-tim dari daerah Liguria. Pada waktu itu istilah scudetto belum diperkenalkan, namun Federasi Sepakbola Italia memberi mereka pelat juara.

Alfred Dick adalah pimpinan klub saat itu sekaligus sebagai penyandang dana. Secara keseluruhan tim menjadi lebih kuat, sebagian besar akibat pengaruh pemain asing yang bekerja di pabrik tekstil miliknya. Tim ini hampir saja memenangi title kedua di tahun 1906, namun mereka tidak bersedia tampil di final melawan Milan sebagai bentuk protes mereka karena pertandingan tersebut dilakukan di Milan bukan di tempat netral seperti keinginan mereka. Selain itu, banyaknya pemain asing di tim membuat suasana kurang harmonis dan kepemimpinan Dick mulai dipertanyakan hingga ia memutuskan untuk hijrah ke Torino serta membawa beberapa pemain yang menjadi teman dekat dirinya.
1906 – 1923  SEBELUM DAN SESUDAH MASA PERANG DUNIA I

Tahun-tahun sulit

Setelah merengkuh gelar pertama, dimulailah masa-masa sulit bagi klub. Chairman Dick meninggalkan posisinya diikuti para pemain asing mereka yang memaksa klub merevisi target. Saat itu, keadaan klub sangat buruk dan mereka juga kedatangan lawan tangguh baru yaitu tim Pro Vercelli dan Casale. Kedua klub tersebut menjadi lawan menakutkan dan saling bersaing merebut posisi teratas. Musim 1913/1914 adalah musim terakhir sebelum masa Perang Dunia I. Musim selanjutnya lebih buruk dimana pada musim itu kompetisi ditunda pada 23 Mei 1915 karena Italia ikut ambil bagian dalam perang.


Majalah “Hurra Juventus” diterbitkan

Beberapa pemain dan official juga terjun dalam perang antar Negara itu dan kebanyakan dari mereka gugur atau menghilang. Untuk tetap mengetauhi keberadaan mereka, dibuatlah majalah “Hurra Juventus” yang ditulis oleh seorang editor, Corradino Corradini. Sampul majalah memperlihatkan moto: “Kemenangan akan menjadi milik yang terkuat dan percaya akan kekuatannya.”

Perang berakhir pada 11 November 1918 dan klub kehilangan beberapa pilar penting dalam perang itu namun keinginan untuk menang masih tetap hidup. Pada 12 Oktober 1912, klub kembali ke lapangan pertandingan untuk mengikuti kompetisi liga. Saat itu, Juventus diperkuat sang kiper, Giacone-yang tidak lama kemudian dipanggil masuk ke timnas Italia-kiper legendaris yang merupakan pemain Juventus pertama dalam sejarah yang dipanggil timnas Italia. Selain kiper, ada dua full back, Novo dan Bruna yang mempelopori duet bek tangguh dan diikuti oleh duet lainnya mulai dari Rosetta-Caligaris sampai Foni-Rava. Selain mereka, kekuatan tim juga bergantung kepada determinasi yang diperlihatkan Bona dan Giriodi. Semua pemain tersebut memberi kekuatan pada tim untuk meraih hasil maksimal, seperti kemenangan atas Casale pada 7 Maret 1920. Selain itu, mereka juga berhasil meraih hasil maksimal saat mengalahkan Genoa pada babak final Grup Utara, pada 16 Mei yang ditandai dengan hattrick dari Bona walau saat itu mereka tidak berhasil menjuarai Liga yang jatuh ke tangan Internazionale.
Debut Combi

Selanjutnya, orang-orang mulai membicarakan sepakbola sebagai fenomena baru olah raga. Para pendukung antusias mendukung klub walau hasil pertandingan tidak sesuai keinginan mereka. Di tahun 1921, klub  tereliminasi pada fase pertama grup bahkan pada 1922 dan 1933, klub berada pada posisi klasemen yang buruk di Grup Utara. Namun semua itu perlahan-lahan mulai berubah. Adalah Marchi II, seorang mantan pemain yang pensiun dan menjadi pelatih karena alasan kesehatan, menemukan sesuatu yang hebat. Hal itu terjadi saat ia menyaksikan sebuah pertandingan junior dan terkesima dengan penampilan seorang kiper. Namanya: Giampiero Combi! Segera setelah itu, ia direkrut dan pada umur 18 tahun di tahun 1923, ia telah berhasil masuk sebagai tim inti.
1923 – 1929  AWAL TAHUN ’20-AN DAN GELAR KEDUA

Presiden klub Edoardo Agnelli

Pada 24 Juli 1923 Edoardo Agnelli, anak dari pendiri FIAT, terpilih sebagai presiden klub. Pada masa itu, klub mempunyai lapangan sepakbola pribadi selama kurun waktu setahun yang terletak di Corso Marsiglia, lengkap dengan tempat duduk terbuat dari batu bata. Tim menjadi lebih kuat dari sebelumnya dimana tim kedatangan bek hebat, Viri Rosetta dari Pro Vercelli. Tim terdiri dari kiper Combi, winger Munerati, Gabbi dan Bigatto, dan seorang penyerang tengah lincah Pastore (yang akhirnya beralih profesi menjadi aktor). Sementara itu, klub pertama kali dalam sejarah ditangani seorang manajer yaitu Jeno Karoly yang berasal dari Hungaria.
Scudetto Kedua

Manajer Karoly boleh saja sebagai dalang dari kesuksesan klub, namun aktor penting dibalik itu semua ada pada diri seorang pemain Hungaria, Hirzer.  Selain itu, dalam perebutan title melawan Bologna, Juve harus memainkan partai ulang setelah di dua partai final sebelumnya kedua tim bermain seri. Pada 2 Agustus bertempat di Milan, Juve akhirnya berhasil memenangi gelar setelah menglahkan Bologna 2-1. Namun kegembiraan tidak berlangsung lama karena beberapa hari sebelumnya, Karoly, sang manajer meninggal dunia secara mengejutkan karena serangan jantung.


Dari Hirzer ke Orsi

Musim selanjutnya berjalan hampir mirip dengan musim sebelumnya. Setelah beberapa kali memetik kemenangan, namun akibat penampilan buruk di semifinal group, Juve terpaksa merelakan posisi pertama kepada Torino. Selain itu, Juve juga kehilangan sang aktor, Hirzer, akibat terganjal peraturan liga. Masuknya Cavenini III, yang sebelumnya cemerlang bersama Inter tidak banyak membantu karena usianya yang sudah uzur. Walau penampilan mereka tidak bisa dibilang jelek, Juve tetap saja tidak mampu menyaingi keperkasaan Bologna dan Inter Milan di 2 musim berikutnya.

Pada akhir tahun 20-an, Liga Serie A berubah format menjadi 1 grup. Ini membuat sepakbola menjadi semakin kompetitif dan dampaknya bagi Juve sangat signifikan. Mereka melihat ini sebagai peluang untuk kembali ke persaingan juara. Untuk itu, mereka menambah beberapa amunisi baru seperti, Caligaris, Cesarini, dan Raimundo Orsi. Nama terakhir merupakan pemain kelahiran Argentian namun mempunyai darah Italia dan ia terkenal setelah bermain bagus bersama timnas di ajang Olimpiade.
1930 – 1935  LIMA TITEL BERUNTUN (1930 – 1935)

Bergabungnya Ferrari, Vecchina dan Varglien II

Dalam rentang periode antara 1930-1935, sepakbola Italia menjadi saksi lahirnya sebuah klub yang mampu memenangi 5 gelar scudetto berturut-turut: Juventus. Tim ini menjadi legenda se-antero Italia dengan sebutan “Italy’s girlfriend”. Di bawah kepemimpinan Agnelli dan wakilnya, Baron Giovanni Mazzonis di Pralafera, Juve menjelma menjadi klub populer. Perubahan format kompetisi menjadi 1 grup (Liga Serie A) membawa perubahan signifikan bagi sepakbola Italia, pun bagi Juve. Dengan skuad yang terdiri dari beberapa pemain hebat seperti; Mumo Orsi, Cesarini, Varglien, Giovanni Ferrari, Vecchina dan trio legendaries Combi-Rosetta-Caligaris, Juve menjadi tim solid yang siap menyaingi keperkasaan Ambrosiana Inter (nama lama Inter Milan).

Di musim beikutnya, Juve melesat sendirian memimpin klasemen. Salah satu kejutan terbesar ialah saat mereka kalah 0-5 dari Roma pada 15 Maret 1931. Namun, tim segera melupakan kekalahan tersebut dan berhasil bangkit berhasil meraih titel juara setelah sebelumnya mengalahkan Inter di Turin.
Monti: sang penguasa pertahanan

Musim selanjutnya, tim di bawah asuhan manajer Carcano hanya perlu sedikit perubahan karena tim yang sudah ada tetap solid. Di lain pihak, Juve berhasil mendatangkan pemain anyar berposisi bek sayap: Luisito Monti. Dengan karakter pekerja keras dan tangguh, Monti menjelma menjadi salah satu bek tertangguh di Serie A musim ini. Di sisi lain, Juve menghadapi perlawanan ketat dari tim lain yang menjadikan mereka tim yang harus dikalahkan. Perlahan tapi pasti, mereka mulai menemukan bentuk permainan terbaik dan berhasil menduduki posisi pertama klasemen. Sementara itu, dalam pertandingan penting melawan Inter pada 17 Januari 1932, Oris dkk. berhasil memukul telak lawannya 6-2 dilanjutkan dengan membantai Roma 7-1 pada 6 Maret 1932. dan, pada 1 Mei , kemenangan 3-2 atas Bologna membawa Juve merebut scudetto 2 musim berturut-turut dan Orsi menjadi top skorer Liga dengan 20 golnya.

Musim berikutnya, Juve merekrut bek Bertolini dan pemain sayap Sernagiotto. Namun, pemain yang paling menyita perhatian muncul dari tim junior mereka: Felice Placido “Farfallino” Borel. Penyerang ini selalu membuat gol-gol penting bagi timnya dan di musim ini Juve berhasil finish di posisi pertama dengan 54 poin. Borel sendiri bermain fantastis dengan rekor 29 gol dalam 28 penampilan yang belum dapat disamakan hingga saat ini.
Stadion Baru dan gelar lanjutan

Musim 1933/1934, Juve sekali lagi sukses merebut scudettonya yang ke-empat secara beruntun dengan kontribusi Borel yang mencetak 31 gol dan 4 poin di atas Inter. Gelar di musim ini juga terasa lebih bermakna karena pesaing utama, Inter, merupakan tim terkuat saat itu termasuk bagi Juve yang tidak bisa mengalahkan mereka dalam duel langsung. Sementara itu, pada Februari 1934, Juve mempunyai stadion baru: New Comunale Stadium.

Terakhir, di musim 1934/1935, Juve merebut gelar scudettonya yang kelima beruntun bersamaan dengan Italia yang menjadi juara Piala Jules Rimet. Gelar terakhir dalam 5 tahun ini sayangnya tidak bisa dinikmati Combi yang telah gantung sepatu.
1935 – 1949  SEBELUM DAN SESUDAH PERANG DUNIA II

Musim 1937/1938, Juve bersama trio pertahanan mereka; Amoretti-Foni-Rava berjuang merebut titel dari Inter namun mereka akhirnya harus puas menjadi runner-up. Di musim ini mereka sukses menjuarai Piala Italia pertama mereka setelah di final mengalahkan Torino.
Debut Parola

Selanjutnya, setelah musim berikutnya bermain buruk dan hanya finish di posisi 8, Juve berhasil memperbaiki posisi menjadi ketiga di musim selanjutnya. Salah satu hal yang penting di musim ini adalah debut dari salah seorang pemain muda mereka yang berposisi bek: Carlo Parola. Setelah berada di posisi 6 musim 1940/1941, mereka merebut Piala Italia kedua mereka di musim berikutnya. Di periode ini, Italia ikut Perang Dunia II dan ini membuat jalannya Liga menjadi terhambat.
Liga pada masa Perang

Sepakbola Italia terus berlangsung saat masa perang berjalan. Pada 1944, Juve ikut serta dalam sebuah turnamen lokal, yang akhirnya urung diselesaikan. Pada 14 Oktober, Liga kembali bergulir dan ditandai dengan derby Torino v Juventus. Torino yang saat itu mendapat sebutan “Grande Torino” kalah 2-1 dari Juventus. Namun di akhir musim justru Torino berhasil juara. Pada jeda musim panas, sebuah peristiwa penting terjadi di Juve pada 22 July 1945, Giannin Agnelli mengambil alih posisi presiden klub, meneruskan tradisi keluarga Agnelli. Dalam kepempinannya, Agnelli mendatangkan Giampiero Boniperti dalam jajaran staffnya. Ditambah amunisi baru seperti, Muccinelli dan tombak asal Denmark John Hansen.
1949 – 1957  GELAR PERTAMA BONIPERTI

Gelar juara telah diukir

Musim panas 1949, tragedy menimpa Torino. Para anggota tim mereka tewas dalam kecelakaan pesawat yang dikenal dengan “tragedy Superga”. Hal ini membuat Juventus mengambil alih kekuasaan liga. Dengan kedatangan skuad baru seperti, kiper Giovanni Viola, bek Bertucelli,Piccini, dan penyerang Vivolo, mereka mencoba merebut juara liga. Setelah merengkuh serangkaian kemenangan, pada 5 februari 1950 mereka menderita kekalahan telak 7-1 dari AC Milan di depan public sendiri. Namun, Juve berhasil bangkit dan berhasil memenangi gelar liga ke 8 mereka  4 minggu sebelum musim usai dengan torehan 100 gol/musim dan kemasukan 43; penyerang Hansen menjadi top skorer dengan 28 gol.
Martino pergi, Juve lakukan tur ke Brazil

Tahun berikutnya keadaan sedikit memburuk dengan hengkangnya sayap mereka, Martino ke Argentina. Lalu, perjalanan mereka di liga domestik tidak mulus dan banyak membuang poin di pertandingan mudah. Bulan Juni, mereka melakukan tur uji coba ke Brazil dan mencapai final sebelum kalah dari Palmeiras di Maracana.
Gelar di tahun 1952 bersama pemain Hungaria Sarosi

Juve mengganti manajer mereka dengan pria Hungaria, Sarosi. Di tahun ini, Juve berhasil memenangi scudetto ke 9 mereka dengan koleksi 60 poin, 98 gol dan 34 kemasukan. Dua musim berikutnya skuad bertambah kuat namun mereka harus merelakan elar liga kepada Inter karena banyaknya pemain yang cedera dan kondisi tim yang tidak kondusif.
Puppo dan para pemain muda

Gianni Agnelli meninggalkan klub pada 18 September 1954. Tahun ini periode gelap Juve dimulai dengan hanya mampu finish di posisi 7. Musim berikutnya, di bawah arahan manajer Puppo yang mengandalkan skuad muda Juve mulai mencoba bangkit. Setelah serangkaian kekalahan karena skuad yang belum matang, pada November 1956 kabar baik berembus dengan masuknya Umberto Agnelli sebagai komisioner klub. Skuad menjadi kuat dengan kedatangan beberapa pemain hebat seperti Omar Sivori dan John Charles.
1957 – 1961  CHARLES AND SIVORI

Sivori dan Charles (1957 – 1961)

Kedatangan kedua pemain di atas menjadikan Juve semakin solid di bawah arahan manajer Ljubisa Brocic. Musim 1957-58 Juve meraih gelar juara ke-10 dengan kontribusi Sivori dan Charles. Charles juga dinobatkan sebagai top skorer dengan 28 gol. Musim berikutnya berjalan sebaliknya. Juve bermain inkonsisten dan hanya mampu finish di posisi 4, walau berhasil meraih gelar Piala Italia.
Kembalinya Cesarini

Renato Cesarini yang pernah menangani klub  pada musim 1959-1960 kembali ke klub. Dan hasilnya bisa ditebak, Juve merebut kembali scudetto ke-11 mereka dengan 55 poin. Sivori kembali hebat dengan raihan 27 gol.

Musim 1960-1961 penuh dengan kejutan. Juve kedatangan lawan berat, Inter di bawah asuhan pelatih legendaries Helenio Herrera. Paruh pertama musim merupakan kabar buruk bagi Juve. Namun di paruh kedua mereka membuat kejutan dengan berhasil mempertipis jarak menjadi 1 poin dengan pimpinan klasemen,Inter. Di pertandingan penentu, Juve mengalahkan Inter dalam perebutan scudetto. Juve juara untuk ke-12 kalinya.
1961 – 1969  TAHUN “MOVIMIENTO” (MOVEMENT/PERGERAKAN)

Perpisahan Boniperti dan lahirnya formasi 4-4-2

Musim ini jadi musim terakhir Boniperti. Juve mencoba peruntungan di kejuaraan Eropa namun terhenti oleh Real Madrid. Umberto Agnelli tinggalkan klub dan digantikan oleh seorang insinyur bernama Vittore Catella. Agustus 1962, Amaral dari Brazil menjadi manajer dan Juve bermain dengan formasi anyar 4-4-2. Namun di liga, mereka terpuruk di urutan kedua di bawah Inter.
Piala Alps dan perpisahan Sivori

Musim panas 1963, Juve merebut Piala Alps, gelar internsional pertama mereka, di Swiss. Amaral hengkang digantikan oleh Eraldo Monzeglio dan pada 1964 diganti lagi oleh orang Paraguay, Heriberto Herrera. Ia menerpkan latihan keras dan suatu pola baru yang yakni moviento (pergerakan tanpa bola). Mereka berhasil merebut Piala Italia. Musim selanjutnya, Sivori pindah ke Napoli dan Juve berjuang di papan atas namun mengakhiri kompetisi di posisi kelima.

Musim 1966, Juve merebut gelar ke-13 mereka di saat-saat akhir dengan menyalip Inter Milan. Mereka juga bermain di kompetisi Eropa namun kembali gagal.
1969 – 1976  AWAL TAHUN 70-AN

Awal tahun 70-an

1969: pelatih Heriberto Herrera digantikan Luis Carniglia dan beberapa pemain baru, Marchetti, Morini, Furino, Roberto Vieri dan Lamberto Leonardi, direkrut. Tim berjuang dari awal untuk beradaptasi dengan taktik baru. Setelah beberapa lama, terjadi perubahan besar di tim, Boniperti naik sebagai Direktur Pelaksana dan Italo Alodi sebagai Direktur Umum sementara Ercole Rabitti menggantikan Carniglia. Tim mulai beranjak naik memperbaiki posisi dan berusaha mengejar Cagliari dengan berhasil menorehkan 8 kemenangan beruntun. Namun hal itu sudah terlambat karena Cagliari dengan andalannya Gigi Riva hanya butuh hasil seri saat melawan Juve untuk meraih titel dan mereka berhasil melakukannya.

Pada musim selanjutnya, tim dirombak. Haller dan Salvadore menjadi satu-satunya pemain yang dipertahankan dan Juve merekrut beberapa pemain muda seperti, Spinosi, Capello dan Landini dari Roma. Sementara itu, Franco Causio dan Roberto Bettega pulang dari masa pinjamannya di Palermo dan Varese. Armando Picchi didaulat sebagai manajer tim namun tidak lama kemudian ia mengundurkan diri karena sakit.

Paruh pertama musim, Juve belum stabil dalam permainan dan di paruh kedua mereka berhasil kembali ke performa terbaik terutama saat mencapai final Fairs Cup (cikal bakal Piala UEFA) namun kalah dari Leeds United. Saat itu, Juve ditangani manajer Vycpalek. Musim 1971/72, pekan ke-4, Juve kalahkan AC Milan 4-1 di San Siro ditandai permainan apik Bettega dan Causio. Namun beberapa saat kemudian, mesin gol Bettega harus istirahat karena sakit dan posisi pertama klasemen milik Juve menjadi terancam. Untungnya mereka berhasil konsisten dan merebut scudetto ke-14 mereka.

Musim selanjutnya mereka kedatangan kiper legendaries Dino Zoff dan Jose Altafini dari Napoli. Di musim ini, Juve dihadapkan pada jadwal pada Liga dan kompetisi Eropa. Setelah berjuang samai menit akhir, Juve berhasil menyalip AC Milan, yang secara mengejutkan kalah dipertandingan terakhir mereka, dan merebut scudetto ke-15. Namun, di kompetisi Eropa, mereka kalah dari Ajax yang domotori Johan Crujff di Final Piala Champions di Belgrade.
Kembalinya Parola

Musim 1973/74: Juve mengawali musm dengan buruk, dan ditambah tereliminasi di kompetii Eropa walau telah merekrut Claudio Gentile dari Varese. Di akhir musim, Juve finish kedua di bawah Lazio. Akan tetapi di tahun berikutnya, Juve kembali ke puncak. Setelah kembalinya eks pemain mereka Carletto Parola sebagai manajer ditambah pemain baru, Damiani dan Scirea, Juve merebut scudetto pada 18 Mei saat menhancurkan Vicenza 5-0. di musim 1975/76, keadaan sama persis: Juve memimpin dan tim lain berusaha mengejar, diantaranya Torino. Setelah musim berjalan mendekati akhir, Juve kehilangan konsentrasi dan terpaksa merelakan gelar kepada Torino.
1976 – 1982  GELAR TRAPATTONI

Rekor Gelar

1976-77. Torino sebagai juara bertahan mendapat lawan sepadan dari Juventus yang hampir seluruh timnya dirombak. Trappattoni masih menjadi manajer klub dengan Boninsegna dan Benetti sebagai pemain baru menggantikan Anastasi dan Capello. Juventus memulai musim dengan baik namun Torino berhasil menyalip pada saat keduanya betemu di derby. Akan tetapi, pada pekan 12, Juventus berhasil menyamakan poin dengan Torino. Keduanya bertarung ketat hingga akhir musim. Pada pekan ke 26, poin kedua tim sama dan pekan berikutnya Juventus berhasil unggul satu poin dan mempertahankannya sampai akhir musim. Pada akhir musim, melalui gol Bettega dan Boninsegna saat melawan Sampdoria membuat Juventus merebut scudetto dengan 50 poin unggul 1 poin atas Torino. Beberapa hari sebelumnya, Juventus baru saja memenangi Piala UEFA pertama mereka dengan mengalahkan Bilbao.
1978, masih pertama

Musim berikutnya, 1977-1978, Juventus yang ikut serta kembali di kejuaraan Eropa, mendatangkan beberapa muka baru seperti, Virdis, Fanna, dan Verza. Juventus bermain konsisten dan hanya Vicenza yang menguntit mereka. Paruh pertama musim, Juve unggul 2 poin dari Torino, 3 poin dari Vicenza, dan 4 poin dari AC Milan. Setelah itu mereka bermain dengan baik dan bermain seri saat derby, menahan 2-2 Inter Milan setelah tertinggal 2-0 pada 8 April. Akhirnya, hasil imbang dengan Roma satu pekan sebelum akhir musim membawa mereka merengkuh scudetto ke 18 mereka.
Dua tahun masa transisi

Musim panas musim 1978, Juventus kehilangan kesempatan untuk merekrut Paolo Rossi, salah satu pemain terbaik Piala Dunia asal Argentina, dari Vicenza. Musim ini tidak seperti musim sebelumnya dimana mereka memulai musim dengan buruk baik di liga maupun di kejuaraan Eropa. Juventus berhasil mencuri 3 poin dari AC Milan dengan kemenangan 1-0 namun sesudahnya mereka kembali bermain tidak konsisten dan akhirnya menyerahkan gelar juara ke tangan AC Milan. Pada musim selanjutnya, Juventus merekrut Bodini, Tavola, Prandelli, dan Marocchino dari Atalanta. Paruh pertama musim, Juve berada di papan tengah namun berhasil mengejar Inter dengan empat kemenangan beruntun. Akan tetapi, Inter akhirnya sulit dikejar dan sekali lagi gelar juara lepas dari genggaman.  1980-1981, Juventus mulai membangun kekuatan di awal bulan Desember dengan menahan seri Roma 0-0. Pekan ke-20, Roma berhasil menguntit Juve di posisi puncak dan Napoli juga mengejar.

Pada 10 Mei, Juve dan Roma bermain seri dalam pertandingan yang sarat kontroversi, dan setelahnya Juve berhasil menang atas Napoli dan Fiorentina sekaligus merebut gelar di detik-detik terakhir.1981-82, salah satu musim terbaik Juve. Dimulai dengan enam kemenangan beruntun, Juve mulai meninggalkan jauh lawan-lawannya. Namun, akibat serangkaian hasil buruk mereka mulai kedodoran. Pada akhirnya, Juve dan Fiorentina yang mempunyai poin sama hingga sampai pekan terakhir mereka harus memainkan partai penentu. Di pertandingan itu, Juve berhasil menang atas Catanzaro melalui penalty Liam Brady sedang Fiorentina ditahan seri Cagliari. Dengan hasil ini, Juve kembali merebut scudetto.
1982 – 1986  ERA PLATINI

Kekecewaan di Athena

Setelah 6 pemainnya ikut andil dalam timnas Italia yang menjuarai Piala Dunia 1982, ditambah dengan kedatangan mega bintang Prancis Michele Platini, Juventus kembali difavoritkan di musim 1982-83. Namun Juventus yang juga disibukkan dengan jadwal kejuaraan Eropa memulai kompetisi dengan lambat. Hal itu ditunjukkan dengan menelan kekalahan dari Sampdoria di pertain pembuka musim serta menag dengan tidak meyakinkan atas Fiorentina dan Torino. Sementara di Eropa, mereka berhasil menyingkirkan Hvidovre (Denmark) dan Standard Liege (Belgia) di penyisihan. Akan tetapi, Juventus kembali ke trek juara di musim dingin bersamaan keberhasilan mereka menembus perempat final Liga Champions. Selanjutnya, kemenangan atas Roma melalui 2 gol dari  Platini dan Brio membuat jarak keduanya berselisih 3 poin dengan Roma di posisi puncak. Namun, karena konsentrasi Juve terpecah antara Serie A dan Liga Champions akhirnya tidak berhasil mengejar AS Roma yang menjadi juara. Juventus seharusnya bisa menumpahkan kekecewaannya di Liga saat mereka bertemu Hamburg di final Liga Champions tapi hal itu tidak terjadi. Berada di posisi kedua di kompetisi domestic dan Eropa, Juventus akhirnya berhasil merebut gelar penghibur saat menjuarai Piala Italia dan Piala Interkontinental.
1984- Sejarah gelar ganda

Musim panas 1983, Juve kehilangan dua pilar inti mereka. Dino Zoff gantung sepatu di usia 41 tahun sedangkan Bettega beralih ke Kanada untuk mengakhiri karirnya di sana. Pemain lain seperti Fanna, Galderisi, Morocchino dan Virdis juga meninggalkan klub. Juve merekrut kiper baru dari Avellino: Stefano Tacconi dan Beniamino Vinola dari klub yang sama. Sementara Nico Penzo menjadi pendampong Rossi di lini depan. Juve pada saat itu berkonsentrasi penuh di dua kompetisi, Liga dan Piala Winner. Hasilnya, melalui penampilan yang konsisten sepanjang musim, Juve merengkuh gelar liga satu minggu sebelum kompetisi usai. Dan gelar ini ditambah gelar lainnya di Piala Winner saat mereka mengalahkan Porto 2-1 di Basel pada 16 Mei 1984. Dua gelar ini sangat bersejarah dan merupakan prestasi bagi kapten klub Scirea dan kawan-kawan.
Raja di kompetisi Eropa

1984-85. Juve kedatangan banyak muka baru diwakili Briaschi dan Favero. Namun permainan mereka menjadi inkonsisten. Kekalahan dari Inter pada 11 November membuat mereka memutuskan untuk berkonsentrasi di Eropa. Pada bulan Januari, Juve merengkuh gelar Piala Super Eropa setelah mengandaskan Liverpool 2-0. Di Liga Champions, Juve berhasil melaju sampai final. Kembali ke liga, kemenangan Juve atas Inter dan Torino membuat Verona, tim kejutan musim itu, menjuarai liga. Dan akhirnya pada 29 Mei 1985, bertempat di Bruxelles, Juve mementaskan partai final Liga Champions. Setelah sebelumnya diwarnai tragedi berdarah antar supporter, Juve akhirnya berhasil meraih trofi Eropa melalui penalty Michael Platini di malam yang penuh dengan tragedi.

1985-86. Juve memulai musim dengan sempurna melalui 8 kemengan beruntun. Hasil ini membuat persiapan mereka di Piala Interkontinental pada 8 Desember di Tokyo, Jepang menjadi maksimal sekaligus merebut gelar di sana. Di liga, Juve bersaing ketat dengan Roma hingga poin keduanya sama di sisa 2 pekan terakhir. Namun kejutan terjadi saat Roma menelan kekalahan dari tim yang sudah terdegradasi, Lecce sementara Juve menang atas AC Milan. Pekan terakhir tidak merubah apapun dan Juve merebut gelar juara liga dengan Platini menjadi top skorer klub dengan 12 gol.
1986 – 1990  JUVENTUS ARAHAN ZOFF: RATU PIALA

Musim terakhir Platini

1986-87. Trapattoni meninggalkan Juventus dan bergabung ke Inter setelah melatih selama 10 tahun. Posisinya digantikan oleh Rino Marchesi. Dampaknya, beberapa perubahan terjadi di skuad Juve; Vignola kembali dari masa pinjaman, bek Solda direkrut dari Atalanta dan bocah 17 tahun Renato Buso didatangkan dari tim junior klub. Sementara ikon klub, Platini yang kelelahan sehabis membela negaranya di Piala Dunia Meksiko menandatangani kontrak 1 tahun dan akan pensiun saat kontraknya berakhir pada akhir musim. Di liga, Juve memulainya dengan 3 kemenangan dan hasil seri lawan AC Milan. Sementara di Liga Champions, setelah melewati hadangan klub medioker Valur, Juve bertemu lawan super berat, Real Madrid yang dihuni oleh bintang-bintang seperti Butragueno, Sanchis dan Gordillo. Juve pun akhirnya menyerah melalui adu penalti. Kembali ke liga, Juve masih terkena dampak tereliminasi di kejuaraan Eropa dan menelan kekalahan dari Napoli yang saat itu diperkuat megabintang Diego Maradona. Hasil ini menjadi factor penentu karena saat keduanya kembali bertemu di San Paolo, Juve kembali kalah dan gelar Scudetto direbut Napoli yang merupakan gelar pertama bagi mereka. Musim itu, Juventus finish di posisi kedua.
Dari Rush hingga  kembalinya Zoff.

1987-88. Setelah kehilangan Platini, Juve juga kehilangan Lionel Manfredonia yang kontraknya tidak diperpanjang serta Aldo Serena yang kembali ke klub lamanya, Inter. Sementara itu, pemain baru banyak berdatangan seperti Alessio dan Bruno dari Como, Tricella dan De Agostini dari Verona, dan Magrin dari Atalanta serta yang paling utama: Penyerang tengah Wales Ian Rush dari Liverpool.

Akan tetapi, musim ini merupakan kekecewaan bagi Juventus. Setelah tereliminasi dari UEFA Cup di musim gugur, Juventus tersendat di liga. Akhirnya, dengan susah payah mereka berhail merebut tiket ke Eropa setelah menang adu penalti di play-off lawan Torino.

1988. Dino Zoff meninggalkan posnya di timnas Olimpiade Italia dan bergabung sebagai manajer baru Juventus. Sementara, Ian Rush, Vignola, Alessio dan Bonini dijual ke klub lain. Posisi mereka digantikan pemain baru seperti Rui Barros asal Portugal, Altobelli, pemain muda menjanjikan Marocchi, dan pemain Rusia pertama di Italia, Alexandr Zavarov. Musim dimulai, Juve langsung melesat sebelum akhirnya takluk dari Napoli 5-3. untuk beberapa saat, Juve membuntuti dengan ketat posisi puncak dan akhirnya kehilangan konsentrasi. Hal itu karena mereka harus membaginya dengan perjuangan mereka di Piala UEFA saat bertemu sesame Italia, Napoli di perempat final. Hasilnya, mereka tersingkir di babak perpanjangan waktu dan harus puas di posisi 4 klasemen liga.
Gol-gol Schillaci

1989-90. Juve merekrut pemain baru diantaranya: pemain timnas Rusia, Alejnikov, penyerang Schillaci dan Casiraghi, mantan bek timnas Dario Bonetti dan gelandang Fortunato. Sementara, Laudrup, Mauro, Magrin dan Favero dilego. Pemain baru yang menjadi perhatian adalah Schillaci. Atas kontribusinya, Juve melesat memimpin klasemen liga sebelum mereka kalah dari AC Milan. Walau berhail bangkit dengan menaklukkan Inter dan membalas AC Milan 3-0, pada akhir kompetisi mereka hanya mampu finis ketiga di belakang Napoli dan AC Milan. Namun keadaan berbalik 180 derajat di kompetisi Eropa. Tim arahan Zoff ini berhasil sampai ke final UEFA Cup untuk bersua tim sesame Italia, Fiorentin dalam all Italian final. Hasil akhir, Juve merebut gelar Piala UEFA kedua mereka dan menambahnya dengan gelar juara Piala Italia setelah mengalahkan AC Milan di final pada25 April melalui gol Galia.
1991 – 1994  AWAL TAHUN 90-AN

Maifredi yang meragukan

Piala Dunia yang berlangsung di Italia memunculkan nama bintang Juventus, Toto Schillaci sebagai pahlawan. Juve sendiri memulai musim kompetisi dengan menderita kekalahan telak dari Napoli 5-1 pada ajang Piala Super Italia. Pada musim ini, terjadi beberapa perubahan dimana Luca Cordero di Montezemolo ditunjuk sebagai wakil presiden. Juve mempunyai manajer baru bernama Gigi Maifredi dan skuad kedatangan pemain seperti Roberto Baggio, Thomas Haessler asal Jerman, bek Brazil Julio Cesar, Di Canio, Luppi dan De Marchi serta pemain muda potensial Corini dan Orlando.

Di musim ini, AC Milan menjadi klub yang menghentikan ambisi Juve menjadi juara. Di sisa akhir musim, mereka kalah dari Sampdoria di Marassi dan untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka gagal lolos ke Eropa setelah hanya mampu bertengger di posisi ketujuh klasemen. Sementara di Piala Winner, Juventus terhenti di semifinal dari tangan Barcelona.
Kembalinya Trapattoni dan direkrutnya Kohler

Musim panas 1991 menjadi saksi kembalinya Giampiero Boniperti sebagai presiden Juventus. Sementara Trapattoni kembali menjadi manajer dan membawa beberapa perubahan di tim dengan keluarnya Haessler dan Fortunato. Sementara Juve membeli pemain asal Jerman Juergen Kohler dan Steffan Reuter selain Carrera, Conte, dan kiper muda Peruzzi. Dengan lini pertahanan yang kembali solid, Trap berhasil membawa Juve memuncaki klasemen liga. Selanjutnya, mereka bermain konsisten dan berhasil menahan imbang AC Milan. Akan tetapi, petaka dating saat mereka kalah dari Sampdoria dan meraih rentetan dua hasil imbang. Hal ini membuat AC Milan menyalip mereka dan menjauh. Juve finis di posisi kedua klasemen. Hal yang sama terjadi di Piala Italia dimana setelah berhasil menyingkirkan AC Milan di semifinal, mereka kalah dari Parma di final.
Piala UEFA, Vialli dan Roberto Baggio

Juve memulai musim ’92-’93 dengan target sama di musim sebelumnya. Nama besar seperti Schillacci, Tacconi dan Julio Cesar keluar dari tim. Sementara, Gianluca Vialli datang dari Sampdoria bersamaan dengan Moeller, Platt, dan Ravanelli serta Dino Baggio. Peruzzi dipromosikan sebagai kiper utama dan pemain berpengalaman Rampulla sebagai kiper cadangan. Namun, Juve tetap kehilangan konsistensi seperti musim lalu. AC Milan berhasil merebut banyak poin dan Juve tidak mampu mengejar mereka. Juve akhirnya berkonsentrasi penuh di Piala UEFA. Hasilnya tidak pun mengecewakan. Mereka melaju sampai final setelah sebelumnya mengalahkan PSG yang diperkuat George Weah. Di final yang memainkan system Home and Away, mereka tidak menemui kesulitan melawan klub Jerman, Borussia Dortmund dan trofi ketiga Piala UEFA masuk ke lemari klub. Sementara di liga, Juve finis di posisi empat dibelakang Inter dan Parma serta AC Milan yang menjadi juara.

Musim 1993-94, Juve memulainya dengan baik dan berhasil menundukkan Sampdoria yang diprkuat Ruud Gullit serta memenangi derby dengan Torino 3-2. Juve makin mantap mengejar posisi puncak melalui gol-gol Roberto Baggio, Moeller dan Ravanelli. Namun, setelah permainan  spektakuler di paruh partama liga, Juve ditaklukkan pemuncak klasemen AC Milan dan hasil ini membuat mereka gagal menyalip dan melepas gelar juara ke klub kota Milan tersebut. Akan tetapi, di bagian akhir musim, pemuda 19 tahun milik Juve bernama Alessandro Del Piero memainkan partai debut di tim utama dan mencetak gol perdananya saat melawan Genoa. Hasil manis didapat Juve di akhir-akhir kompetisi dengan mengalahkan Inter 1-0 dan Lazio 6-1 untuk memastikan posisi runner-up.
1995 – 1998  KEMENANGAN LIPPI

1995, Debut Lippi

Musim panas 1994, Marcelo Lippi ditunjuk sebagai manajer baru Juventus. Ferrara, Paulo Sousa dan Deschamps merupakan wajah baru tim sedangkan Del Piero dipromosikan dari tim junior. Musim dimulai dengan cukup baik, dimulai dengan hasil imbang dan 2 kemenangan atas Bari dan Napoli. Lalu kemenangan dalam pertandingan yang cukup alot melawan Sampdoria lewat gol tunggal Di Livio. Juve mengakhiri paruh pertama musim dengan memimpin klasemen. Di paruh kedua, keadaan menjadi lebih baik bagi tim, dengan kemenangan tandang atas Sampdoria dan AC Milan, Juve terlihat akan memenangi liga dengan mudah. Namun, hal itu menjadi berantakan akibat tiga kekalahan beruntun yang membuat Parma berhasil menguntit ketat. Walau begitu, Juve berhasil lolos dari kejaran Parma saat keduanya bertemu di Delle Alpi dan Juventus meraih kemenangan mutlak 4-0 sekaligus memastikan gelar juara. Parma terbukti menjadi lawan tangguh saat itu dimana keduanya kembali bertemu di final Piala UEFA. Saat itu giliran Juventus yang harus menyerah. Juventus membalas di Piala Italia saat Vialli dkk. mengalahkan Parma di pertemuan mereka yang ke-2 di final.

Musim berikutnya, Juventus harus kehilangan Kohler yang kembali ke Jerman dan menggantikannya dengan bek berumur namun penuh pengalaman, Vierchowood. Kali ini mereka berkonsentrasi di kompetis domestik dan Eropa. Hal ini membuat perjalanan mereka di liga agak tersendat. Dan, setelah imbang 1-1 dengan AC Milan, mereka memutuskan untuk berkonsentrasi penuh di Liga Champions. Setelah menyingkirkan Madrid di perempatfinal dan Nantes di semifinal, mereka berjumpa Ajax pada 22 Mei 1996. Di pertandingan  tersebut, kedua tim yang bermain imbang 1-1 selama 120 menit, hasil akhir harus ditentukan dengan duel adu penalty. Juventus menang 4-2 dan berhasil mengangkat trofi Liga Champions yang mereka idamkan. Setelahnya, mereka berhasil menambah trofi setelah merebut Piala Super Italia di bulan Januari, saat mengandaskan Parma 1-0 di Delle Alpi.
1997, Dari Boksic ke Vieri

Musim panas 1996 membawa beberapa perubahan bagi Juventus. Vialli dan Ravanelli pergi, dan Boksic, Vieri dan Amoruso menggantikan posisi mereka. 2 pembelian penting ada di posisi bek dan gelandang serang melalui Montero dan Zidane. Di musim ini, Juve berhasil meraih Piala Interkontinental di Tokyo, setelah gol tunggal Del Piero berhasil menyudahi perlawanan wakil Argentina, River Plate. Trofi bertambah setelah Juve meraih Piala Super Eropa saat membungkam wakil Prancis, Paris St. Germain. Kembali ke liga, dengan diwarnai kemengana sensasional 6-1 atas AC Milan, mereka kembali meraih scudetto setelah hasil imbang lawan Parma di Delle Alpi. Sayangnya, hasil ini tidak diikuti di Liga Champions dimana mereka kalah di final yang berlangsung di Munich oleh wakil Jerman Borussia Dortmund yang diperkuat mantan pemain mereka, Moeller dan Paulo Sousa.
1998, Del Piero dan Inzaghi: lumbung gol Juve

Pippo Inzaghi dan Edgar Davids merupakan pemain anyar Juventus di musim ’97-’98. Rival terberat mereka saat itu ialah Inter Milan yang diperkuat pemain terbaik dunia, Ronaldo. Hasil penentu terjadi saat lima kemenangan beruntun, dan hasil positif lawan AC Milan (4-1) dan gol semata wayang Del Piero dari titik putih saat lawan Inter membuat mereka secara matematis memenangi scudetto dua pekan sebelum musim berakhir. Sementara kejadian musim lalu terulang di Liga Champions saat mereka takluk dengan skor tipis 0-1 dari Real Madrid.
1999 – 2001  MASA KEPEMIMPINAN ANCELOTTI

Dari Lippi ke Ancelotti

Musim1998-1999: Juventus tidak banyak berubah namun para rival mereka, Inter dan AC Milan serta Lazio memperkuat skuadnya. Setelah memenangi dua pertandingan pertama, mereka kalah dari Parma namun berhasil bangkit dengan menglahkan Inter untuk kembalim memimpin klasemen. Pada 8 November saat bersua Udinese, Juve yang unggul 2-0 harus rela kehilangan 3 poin di menit-meint akhir. Situasi bertambah parah karena kapten tim, Del Piero cedera parah dan harus absen di sepanjang musim. Hasilnya bisa ditabak, permainan tim anjlok dan Juve hanya bisa berkutat di papan tengah walau saat itu sempat membeli Juan Esnaider dan Thierry Henry yang masih belia. Dan, hanya 2 kemenangan atas Lazio dan Fiorentina yang membuat posisi mereka aman di papan tengah. Di sisi lain, Juve harus rela bermain di Piala InterToto akibat kalah di play-oof lawan Udinese. Di akhir musim yang buruk ini, Lippi mengundurkan diri dan diganti Carlo Ancelotti yang sebelumnya sukses bersama Parma.

Selanjutnya di musim panas 1999, Juve memulai petualangan di bawah arahan Ancelotti di Piala InterToto. Beberapa nama baru direkrut: kiper asal Belanda, Van Der Sar, sayap belia Zambrotta, pemain Nigeria Oliseh dan bomber Serbia Darko Kovacevic. Seterusnya, setelah start di awal musim yang baik, Juve berhasil meneruskan performanya dengan mengandaskan Roma dan Inter Milan dan berhasil memimpin klasemen. Di lain pihak, Lazio menjadi rival terberat saat itu. Saat keduanya bertemu di Delle Alpi, pada 1 April 2000, mereka kalah dan terus kehilangan poin setelahnya. Akibatnya, posisi puncak diambil alih Lazio. Di pekan terakhir, Juve bertandang ke Perugia. Di pertandingan yang diwarnai hujan lebat, Juve harus menyerah dan membiarkan Lazio menyalip mereka ke tangga scudetto.

Musim berikutnya tidak jauh berbeda. Dengan Ancelotti masih memberi arahan dari bangku cadangan, Juve membeli penyerang asal Prancis David Trezeguet dari Monaco. Kompetisi saat itu didominasi oleh tim asal Roma lainnya, AS Roma. Juventus bermain inkonsisten dan meraih terlalu banyak hasil imbang. Akibatnya, Juve tidak berhasil mengejar Roma. Di saat keduanya berjumpa pada 6 Mei, Juve yang telah unggul 2-0 berhasil dikejar dan hasil akhir menjadi imbang 2-2. Sesudahnya, walau berhasil memenangi 5 pertandingan terakhir, Juventus tetap tidak bisa mengejar dan Roma menjadi juara dengan 75 poin, unggul 2 poin atas mereka. Sementara bomber anyar Juve, Trezeguet menjadi satu-satunya hal positif dengan berhasil mencetak 14 gol di sisa 6 pertandingan terakhir.
2002 – 2003  MEMASUKI MILLENIUM BARU

2002, Juve  salip Inter Milan di detik-detik terakhir untuk meraih scudetto

Musim panas 2001: Juve merombak tim dengan Marcello Lippi kembali menangani tim. Buffon, Thuram, Nedved dan Salas merupakan pembelian terpenting saat itu. Namun, mereka harus kehilangan sang maestro, Zidane yang pindah ke Real Madrid.

Juventus memulai musim dengan 3 kemenangan namun terpeleset saat lawan Roma dan ditahan Torino 3-3. Setelah mengalami naik turun dan pada akhirnya tibalah saat penentuan. Di akhir musim, dua kemenangan atas Piacenza dan Brescia membuat jarak mereka dengan pimpinan klasemen Inter hanya tinggal 1 poin. Di pekan terakhir, Inter bertandang ke Lazio sedangkan Juve bertamu ke Udinese dan Roma, yang secara matematis masih bisa juara ditantang Torino di Delle Alpi. Hasilnya sungguh di luar dugaan: Juve tancap gas dan menutup pertandingan di lima belas menit awal, sedangkan Inter berjuang mengejar ketertinggalan atas Lazio namun hasil akhir tak berubah. Inter takluk dari Lazio dan Juve menjadi juara di detik-detik terakhir sekaligus menorehkan sejarah di scudetto ke-26 mereka.
2003, Nedved sang pemimpin

September 2002, juara bertahan Juventus memulai musim dengan beberapa perubahan. Mereka membeli Di Vaio di saat akhir penutupan transfer. Inter dan AC Milan memulai lebih baik namun pada bulan November mereka berhasil disalip. Juventus babat AC Milan 2-1 dan hancurkan Torino 4-0. Di penghujung musim, Juve menang atas Parma sedang Inter takluk dari Chievo dan Milan ditahan Lazio. Juve semakin dekat ke gelar juara saat mereka menang 3-1 atas Como dan 3-0 atas Inter arahan Cuper. Akhirnya, gelar juara itu diraih juga pada 10 Mei setelah hasil seri 2-2 dengan Perugia, 2 pekan sebelum musim berakhir, cukup membuat mereka merengkuh scudetto ke-27 mereka. Sementara itu, Juve hampir saja mencetak sejarah double winner saat berhasil menaklukkan Real Madrid untuk melaju ke final Liga Champions melawan AC Milan dalam All Italian Final. Sayangnya, tim asuhan Lippi tersebut kalah beruntung melalui adu penalty di final yang dilangsungkan di Old Trafford, Manchester itu.
Presiden Chiusano Wafat 

Pada 15 Juli 2003, Juve membeli hak dari Stadion Delle Alpi untuk 99 tahun mendatang dari Dewan Kota Turin sehingga mereka berhak membangun stadion pribadi. Pada bulan Agustus, mereka berangkat ke USA untuk memainkan partai Piala Super Italia lawan AC Milan. Skor 0-0 setelah 90 menit, 1-1 setelah perpanjangan waktu, namun kali ini Juve memenangi duel adu penalty. Akan tetapi, kegembiraan klub tidak berlangsung lama. Sebuah kabar mengejutkan datang: Presiden klub Vittorio Caissotti di Chiusano meninggal dunia. Ia lalu digantikan oleh Franzo Grande Stevens, Wakil presiden dari FIAT. Setelah merengkuh Piala Italia, musim liga dimulai dengan buruk. Setelah bermain baik di paruh pertama musim, mereka tertinggal di belakang AC Milan dan AS Roma. Juventus juga kehilangan konsentrasi di Liga Champions, yakni tersingkir dari tim asal Spanyol Deportivo La Coruna dan juga gagal di final Piala Italia setelah kalah lawan Lazio. Di sisi lain, setelah kehilangan Chiusano, Juve juga kehilangan seorang figur penting klub: mantan presiden Umberto Agnelli meninggal pada 27 Mei 2004 akibat kanker paru-paru.
2004 – 2006  DUA GELAR TAMBAHAN

Emerson, Cannavaro dan Ibrahimovic

Musim panas 2004, Lippi pergi dan digantikan oleh Fabio Capello. Juve banyak merekrut pemain baru mulai dari Emerson (Roma), Cannavaro (Inter), Blasi (Parma) dan pemain Prancis Zebina (Roma) serta yang terpenting ialah bomber Swedia Ibrahimovic (Ajax). Juve memulai kompetisi dengan baik; Brescia ditaklukkan, Atalanta dan Sampdoria tidak berkutik dan satu hasil seri sebelum rentetan kemenangan. Di akhir November, Juve kehilangan 3 poin saat Inter berhasil mengejar ketertinggalan 0-2 menjadi 2-2 dan juga saat ditahan tim sekota Inter, AC Milan pada 18 Desember. Namun terlepas dari hasil ini, laju Juventus tak terhentikan. Kemenangan tandang atas AS Roma mendekatkan mereka ke gelar juara. Tapi Juve tersendat setelah kalah dari Inter di kandang dan pertandingan lawan AC Milan pada 8 Mei menjadi penentu gelar juara. Juventus menang melalui gol Trezeguet sekaligus merebut scudetto dengan unggul 7 poin atas posisi kedua, AC Milan dan 14 poin atas posisi ketiga, Inter Milan.
9 kemenangan beruntun

Setelah menambah amunisi dengan mendatangkan Mutu dan Chiellini serta Vieira, Juve memulai musim 2005-2006 dengan performa lebih baik. Mereka berhasil membukukan 9 kemenangan beruntun sebelum berakhir di tangan AC Milan. Segera setelahnya, para pemain Juve menunjukkan performa apik di awal musim dengan menundukkan Roma 4-1 dan Fiorentina 2-1 sekaligus meninggalkan para pesaing terdekatnya. Pada   Februari 2006, Juventus yang saat itu berada di posisi pertama memenangi pertandingan super penting lawan Inter. Mereka hanya butuh hasil imbang lawan AC Milan di pertandingan berikutnya untuk memastikan gelar juara.

Sementara itu di Liga Champions, mereka harus takluk di perempatfinal dari tangan Arsenal (finalis saat itu) 0-2 dan 0-0. Di sisi lain, pada sisa akhir musim, Juventus dinyatakan terlibat dalam sebuah investigasi yang melibatkan petinggi mereka, Luciano Moggi dan Antonio Giraudo. Hal ini terbukti dari terungkapnya beberapa percakapan telepon oleh kedua orang tersebut kepada petinggi Federasi Sepakbola Italia. Skandal ini terungkap media dan segera public mengenalnya dengan nama skandal Calciopolli. Sementara itu, Moggi mengundurkan diri dari klub sehari setelah liga berakhir diikuti dengan Giraudo beberapa hari kemudian. Hal ini membuat perubahan besar-besaran di jajaran manajemen klub. Giovanni Cobolli Gigli terpilih sebagai presiden klub, dan Jean-Claude Blanc menjabat rangkap sebagai Direktur Pelaksana dan Direktur Umum. Skandal Calciopolli terus terkuak dan Juventus didakwa turun kasta ke “divisi lebih rendah dari Serie B”. Juve juga kehilangan gelar scudetto musim 2004-2005 dan 2005-2006. Dan, setelah melalui beberapa proses investigasi, Juve akhirnya terdegradasi ke Serie B dengan pengurangan 30 poin di awal musim, yang mana dikurangi menjadi 17 dan, setelah mendapat rekomendasi Komite Olimpiade Nasional, berkurang menjadi “hanya 9 poin” untuk musim 2006-2007.
2006 – 2007  KEMBALI KE JALUR JUARA

Kedatangan Didier Deschamps

10 Juli 2006: Juventus yang harus bermain di Serie B akibat skandal Calciopolli mendapat seorang manajer baru sekaligus mantan pemain mereka, Didier Deschamps. Beberapa pemain banyak yang hengkang namun tak sedikit yan bertahan seperti: Buffon, Del Piero, Trezeguet, Nedved dan Camoranesi. Pelatih Prancis ini juga mempunyai stok pemain muda yang mumpuni dalam diri Paro, Marchisio, Palladino dan Giovinco.

Juventus memulai petualangan pertama mereka di Serie B dengan hasil yang kurang mulus. Hal itu disebabkan lantaran mereka buta akan kekuatan lawan, pun dengan pengurangan 17 poin di awal kompetisi. Baru pada pekan ketiga semua hal itu berubah dimana mereka berturut-turut mengalahkan Crotone, Modena, Piacenza, Treviso, Triestina, Frosinone dan Brescia. Hasil ini membuat mereka beranjak ke posisi teratas dan semakin mendekati zona promosi ke Serie A.

Akan tetapi, sebuah tragedi naas terjadi saat mereka tengah meretas jalan kembali ke Serie A. Pada 15 Desember 2006, tepat sebelum pertandingan antara Juve melawan Cesena, 2 pemain muda mereka yaitu gelandang Alessio Ferramosca dan kiper Riccardo Neri mengalami kecelakaan saat tenggelam di danau buatan tempat latihan klub, dan membuat mereka meninggal seketika. Dengan kesedihan mendalam atas kejadian ini, Juve kembali ke lapangan dan berhasil meraih kemenangan atas Bologna yang didedikasikan kepada kedua pemuda tersebut.

Di bagian akhir musim, Juve mulai nyaman memimpin klasemen. Selain itu, dua rival terberat mereka Napoli dan Genoa mereka taklukkan masing-masing 2-0 dan 3-1. Dan, pada 19 Mei 2007, kemenangan besar atas Arezzo membuat mereka secara matematis promosi ke Serie A dan diikuti dengan kemenangan kandang atas Mantova yang membuat mereka memastikan menjadi juara Serie B. Di lain pihak, Deschamps memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya dengan Juventus. Giancarlo Corradini dipilih menangani tim sampai akhir musim dan pada 4 Juni, Juventus mengumumkan bahwa mereka telah mendapatkan manajer baru: Claudio Ranieri.
2007 – 2008  KEMBALI KE PAPAN ATAS

Kedatangan Ranieri

Musim panas 2007: Claudio Ranieri terpilih sebagai manajer baru Juve yang beru saja kembali ke Serie A dan bertugas membawa kembali klub ke kasta teratas liga secepatnya. Sementera dalam hal skuad terdapat banyak nama baru. Di pertahanan ada nama Criscito, Andrade, Grygera, Molinaro, sementara Tiago, Almiron, Nocerino, Salihamidzic mengisi lini tengah dan penyerang haus gol, Vicenzo Iaquinta. Juve memulai musim dengan menghancurkan Livorno 5-1 dan menunjukkan kepada lawan determinasi dan ketajaman lini depan mereka. Sepekan setelahnya, determinasi kembali ditunjukkan Juve saat menaklukan Cagliari 3-2. Namun setelahnya, mereka terpeleset setelah kalah di kandang sendiri dari Udinese melalui gol tunggal Di Natale. Akan tetapi, kekalahan tersebut tidak menggoyahkan mental Juve dan di pekan selanjutnya mereka sukses menahan favorit juara AS Roma 2-2 dan membantai Reggina 4-0. setelahnya lebih manis, mereka memenangi derby pertama musim itu melalui gol tunggal Trezeguet.
Menahan  sang pimpinan klasemen

Laju kemenangan Juve terhenti pada 27 Oktober, yaitu saat kalah dari Napoli. Namun kekalahan tersebut dinilai lebih berbau kontroversial karena keputusan wasit yang tidak memberi penalti. Sesudahnya, Del Piero dkk. dengan cepat bangkit dan membungkam Empoli 3-0 dan, dengan permainan yang brillian, menahan laju kemenangan beruntun sang juara bertahan Inter Milan 1-1.
2008, start lambat Juve

Pada awal 2008, Juve mulai kehilangan poin penting saat melawan Catania, Sampdoria dan Cagliari. Namun akhirnya kembali meraih kemenangan atas Udinese dan AS Roma. Di transfer paruh musim, Juve merekrut Sissoko dari Liverpool untuk menambah daya gebrak lini tengah mereka. Masuknya pemain ini membuat Juve berhasil mempersempit jarak hanya menjadi satu poin dengan posisi kedua, AS Roma. Namun, di Reggio Calabria, sebuah keputusan controversial wasit lagi-lagi membuat mereka takluk dari Reggina 1-2. Hasil ini membuat mental tim jatuh dan hasil imbang di derby dan takluk dari Fiorentina di kandang sendiri membuat posisi mereka untuk ke Liga Champions musim depan terancam. Akan tetapi, memasuki bulan Maret, situasi berubah positif. Diawali kemenangan atas Genoa, lalu Napoli, dan bahkan mereka berhasil mengalahkan pimpinan klasemen Inter Milan 2-1 dengan penampilan yang luar biasa.

Di akhir musim, Juve meraih hasil beragam. Kalah dari Palermo (diantaranya ditentukan oleh peforma bagus dari pemain masa depan Juve, Amauri), lalu menang atas AC Milan yang saat itu baru saja menjuarai Piala Dunia Antar Klub. Setelahnya, tiga kemenangan atas Parma, Atalanta dan Lazio mengamankan tempat ketiga buat mereka. Sementara kapten Juve, Del Piero ditahbiskan menjadi top skorer dengan 21 gol, satu gol lebih banyak dari tandemnya, David Trezeguet.

Nike Bet Click Balocco

Musim panas 1963, Juve merebut Piala Alps, gelar internsional pertama mereka, di Swiss. Amaral hengkang digantikan oleh Eraldo Monzeglio dan pada 1964 diganti lagi oleh orang Paraguay, Heriberto Herrera. Ia menerpkan latihan keras dan suatu pola baru yang yakni moviento (pergerakan tanpa bola). Mereka berhasil merebut Piala Italia. Musim selanjutnya, Sivori pindah ke Napoli dan Juve berjuang di papan atas namun mengakhiri kompetisi di posisi kelima. Musim 1966, Juve merebut gelar ke-13 mereka di saat-saat akhir dengan menyalip Inter Milan. Mereka juga bermain di kompetisi Eropa namun kembali gagal. 1969 – 1976 AWAL TAHUN 70-AN Awal tahun 70-an 1969: pelatih Heriberto Herrera digantikan Luis Carniglia dan beberapa pemain baru, Marchetti, Morini, Furino, Roberto Vieri dan Lamberto Leonardi, direkrut. Tim berjuang dari awal untuk beradaptasi dengan taktik baru. Setelah beberapa lama, terjadi perubahan besar di tim, Boniperti naik sebagai Direktur Pelaksana dan Italo Alodi sebagai Direktur Umum sementara Ercole Rabitti menggantikan Carniglia. Tim mulai beranjak naik memperbaiki posisi dan berusaha mengejar Cagliari dengan berhasil menorehkan 8 kemenangan beruntun. Namun hal itu sudah terlambat karena Cagliari dengan andalannya Gigi Riva hanya butuh hasil seri saat melawan Juve untuk meraih titel dan mereka berhasil melakukannya. Pada musim selanjutnya, tim dirombak. Haller dan Salvadore menjadi satu-satunya pemain yang dipertahankan dan Juve merekrut beberapa pemain muda seperti, Spinosi, Capello dan Landini dari Roma. Sementara itu, Franco Causio dan Roberto Bettega pulang dari masa pinjamannya di Palermo dan Varese. Armando Picchi didaulat sebagai manajer tim namun tidak lama kemudian ia mengundurkan diri karena sakit. Paruh pertama musim, Juve belum stabil dalam permainan dan di paruh kedua mereka berhasil kembali ke performa terbaik terutama saat mencapai final Fairs Cup (cikal bakal Piala UEFA) namun kalah dari Leeds United. Saat itu, Juve ditangani manajer Vycpalek. Musim 1971/72, pekan ke-4, Juve kalahkan AC Milan 4-1 di San Siro ditandai permainan apik Bettega dan Causio. Namun beberapa saat kemudian, mesin gol Bettega harus istirahat karena sakit dan posisi pertama klasemen milik Juve menjadi terancam. Untungnya mereka berhasil konsisten dan merebut scudetto ke-14 mereka. Musim selanjutnya mereka kedatangan kiper legendaries Dino Zoff dan Jose Altafini dari Napoli. Di musim ini, Juve dihadapkan pada jadwal pada Liga dan kompetisi Eropa. Setelah berjuang samai menit akhir, Juve berhasil menyalip AC Milan, yang secara mengejutkan kalah dipertandingan terakhir mereka, dan merebut scudetto ke-15. Namun, di kompetisi Eropa, mereka kalah dari Ajax yang domotori Johan Crujff di Final Piala Champions di Belgrade. Kembalinya Parola Musim 1973/74: Juve mengawali musm dengan buruk, dan ditambah tereliminasi di kompetii Eropa walau telah merekrut Claudio Gentile dari Varese. Di akhir musim, Juve finish kedua di bawah Lazio. Akan tetapi di tahun berikutnya, Juve kembali ke puncak. Setelah kembalinya eks pemain mereka Carletto Parola sebagai manajer ditambah pemain baru, Damiani dan Scirea, Juve merebut scudetto pada 18 Mei saat menhancurkan Vicenza 5-0. di musim 1975/76, keadaan sama persis: Juve memimpin dan tim lain berusaha mengejar, diantaranya Torino. Setelah musim berjalan mendekati akhir, Juve kehilangan konsentrasi dan terpaksa merelakan gelar kepada Torino. 1976 – 1982 GELAR TRAPATTONI Rekor Gelar 1976-77. Torino sebagai juara bertahan mendapat lawan sepadan dari Juventus yang hampir seluruh timnya dirombak. Trappattoni masih menjadi manajer klub dengan Boninsegna dan Benetti sebagai pemain baru menggantikan Anastasi dan Capello. Juventus memulai musim dengan baik namun Torino berhasil menyalip pada saat keduanya betemu di derby. Akan tetapi, pada pekan 12, Juventus berhasil menyamakan poin dengan Torino. Keduanya bertarung ketat hingga akhir musim. Pada pekan ke 26, poin kedua tim sama dan pekan berikutnya Juventus berhasil unggul satu poin dan mempertahankannya sampai akhir musim. Pada akhir musim, melalui gol Bettega dan Boninsegna saat melawan Sampdoria membuat Juventus merebut scudetto dengan 50 poin unggul 1 poin atas Torino. Beberapa hari sebelumnya, Juventus baru saja memenangi Piala UEFA pertama mereka dengan mengalahkan Bilbao. 1978, masih pertama Musim berikutnya, 1977-1978, Juventus yang ikut serta kembali di kejuaraan Eropa, mendatangkan beberapa muka baru seperti, Virdis, Fanna, dan Verza. Juventus bermain konsisten dan hanya Vicenza yang menguntit mereka. Paruh pertama musim, Juve unggul 2 poin dari Torino, 3 poin dari Vicenza, dan 4 poin dari AC Milan. Setelah itu mereka bermain dengan baik dan bermain seri saat derby, menahan 2-2 Inter Milan setelah tertinggal 2-0 pada 8 April. Akhirnya, hasil imbang dengan Roma satu pekan sebelum akhir musim membawa mereka merengkuh scudetto ke 18 mereka. Dua tahun masa transisi Musim panas musim 1978, Juventus kehilangan kesempatan untuk merekrut Paolo Rossi, salah satu pemain terbaik Piala Dunia asal Argentina, dari Vicenza. Musim ini tidak seperti musim sebelumnya dimana mereka memulai musim dengan buruk baik di liga maupun di kejuaraan Eropa. Juventus berhasil mencuri 3 poin dari AC Milan dengan kemenangan 1-0 namun sesudahnya mereka kembali bermain tidak konsisten dan akhirnya menyerahkan gelar juara ke tangan AC Milan. Pada musim selanjutnya, Juventus merekrut Bodini, Tavola, Prandelli, dan Marocchino dari Atalanta. Paruh pertama musim, Juve berada di papan tengah namun berhasil mengejar Inter dengan empat kemenangan beruntun. Akan tetapi, Inter akhirnya sulit dikejar dan sekali lagi gelar juara lepas dari genggaman. 1980-1981, Juventus mulai membangun kekuatan di awal bulan Desember dengan menahan seri Roma 0-0. Pekan ke-20, Roma berhasil menguntit Juve di posisi puncak dan Napoli juga mengejar. Pada 10 Mei, Juve dan Roma bermain seri dalam pertandingan yang sarat kontroversi, dan setelahnya Juve berhasil menang atas Napoli dan Fiorentina sekaligus merebut gelar di detik-detik terakhir.1981-82, salah satu musim terbaik Juve. Dimulai dengan enam kemenangan beruntun, Juve mulai meninggalkan jauh lawan-lawannya. Namun, akibat serangkaian hasil buruk mereka mulai kedodoran. Pada akhirnya, Juve dan Fiorentina yang mempunyai poin sama hingga sampai pekan terakhir mereka harus memainkan partai penentu. Di pertandingan itu, Juve berhasil menang atas Catanzaro melalui penalty Liam Brady sedang Fiorentina ditahan seri Cagliari. Dengan hasil ini, Juve kembali merebut scudetto. 1982 – 1986 ERA PLATINI Kekecewaan di Athena Setelah 6 pemainnya ikut andil dalam timnas Italia yang menjuarai Piala Dunia 1982, ditambah dengan kedatangan mega bintang Prancis Michele Platini, Juventus kembali difavoritkan di musim 1982-83. Namun Juventus yang juga disibukkan dengan jadwal kejuaraan Eropa memulai kompetisi dengan lambat. Hal itu ditunjukkan dengan menelan kekalahan dari Sampdoria di pertain pembuka musim serta menag dengan tidak meyakinkan atas Fiorentina dan Torino. Sementara di Eropa, mereka berhasil menyingkirkan Hvidovre (Denmark) dan Standard Liege (Belgia) di penyisihan. Akan tetapi, Juventus kembali ke trek juara di musim dingin bersamaan keberhasilan mereka menembus perempat final Liga Champions. Selanjutnya, kemenangan atas Roma melalui 2 gol dari Platini dan Brio membuat jarak keduanya berselisih 3 poin dengan Roma di posisi puncak. Namun, karena konsentrasi Juve terpecah antara Serie A dan Liga Champions akhirnya tidak berhasil mengejar AS Roma yang menjadi juara. Juventus seharusnya bisa menumpahkan kekecewaannya di Liga saat mereka bertemu Hamburg di final Liga Champions tapi hal itu tidak terjadi. Berada di posisi kedua di kompetisi domestic dan Eropa, Juventus akhirnya berhasil merebut gelar penghibur saat menjuarai Piala Italia dan Piala Interkontinental. 1984- Sejarah gelar ganda Musim panas 1983, Juve kehilangan dua pilar inti mereka. Dino Zoff gantung sepatu di usia 41 tahun sedangkan Bettega beralih ke Kanada untuk mengakhiri karirnya di sana. Pemain lain seperti Fanna, Galderisi, Morocchino dan Virdis juga meninggalkan klub. Juve merekrut kiper baru dari Avellino: Stefano Tacconi dan Beniamino Vinola dari klub yang sama. Sementara Nico Penzo menjadi pendampong Rossi di lini depan. Juve pada saat itu berkonsentrasi penuh di dua kompetisi, Liga dan Piala Winner. Hasilnya, melalui penampilan yang konsisten sepanjang musim, Juve merengkuh gelar liga satu minggu sebelum kompetisi usai. Dan gelar ini ditambah gelar lainnya di Piala Winner saat mereka mengalahkan Porto 2-1 di Basel pada 16 Mei 1984. Dua gelar ini sangat bersejarah dan merupakan prestasi bagi kapten klub Scirea dan kawan-kawan. Raja di kompetisi Eropa 1984-85. Juve kedatangan banyak muka baru diwakili Briaschi dan Favero. Namun permainan mereka menjadi inkonsisten. Kekalahan dari Inter pada 11 November membuat mereka memutuskan untuk berkonsentrasi di Eropa. Pada bulan Januari, Juve merengkuh gelar Piala Super Eropa setelah mengandaskan Liverpool 2-0. Di Liga Champions, Juve berhasil melaju sampai final. Kembali ke liga, kemenangan Juve atas Inter dan Torino membuat Verona, tim kejutan musim itu, menjuarai liga. Dan akhirnya pada 29 Mei 1985, bertempat di Bruxelles, Juve mementaskan partai final Liga Champions. Setelah sebelumnya diwarnai tragedi berdarah antar supporter, Juve akhirnya berhasil meraih trofi Eropa melalui penalty Michael Platini di malam yang penuh dengan tragedi. 1985-86. Juve memulai musim dengan sempurna melalui 8 kemengan beruntun. Hasil ini membuat persiapan mereka di Piala Interkontinental pada 8 Desember di Tokyo, Jepang menjadi maksimal sekaligus merebut gelar di sana. Di liga, Juve bersaing ketat dengan Roma hingga poin keduanya sama di sisa 2 pekan terakhir. Namun kejutan terjadi saat Roma menelan kekalahan dari tim yang sudah terdegradasi, Lecce sementara Juve menang atas AC Milan. Pekan terakhir tidak merubah apapun dan Juve merebut gelar juara liga dengan Platini menjadi top skorer klub dengan 12 gol. 1986 – 1990 JUVENTUS ARAHAN ZOFF: RATU PIALA Musim terakhir Platini 1986-87. Trapattoni meninggalkan Juventus dan bergabung ke Inter setelah melatih selama 10 tahun. Posisinya digantikan oleh Rino Marchesi. Dampaknya, beberapa perubahan terjadi di skuad Juve; Vignola kembali dari masa pinjaman, bek Solda direkrut dari Atalanta dan bocah 17 tahun Renato Buso didatangkan dari tim junior klub. Sementara ikon klub, Platini yang kelelahan sehabis membela negaranya di Piala Dunia Meksiko menandatangani kontrak 1 tahun dan akan pensiun saat kontraknya berakhir pada akhir musim. Di liga, Juve memulainya dengan 3 kemenangan dan hasil seri lawan AC Milan. Sementara di Liga Champions, setelah melewati hadangan klub medioker Valur, Juve bertemu lawan super berat, Real Madrid yang dihuni oleh bintang-bintang seperti Butragueno, Sanchis dan Gordillo. Juve pun akhirnya menyerah melalui adu penalti. Kembali ke liga, Juve masih terkena dampak tereliminasi di kejuaraan Eropa dan menelan kekalahan dari Napoli yang saat itu diperkuat megabintang Diego Maradona. Hasil ini menjadi factor penentu karena saat keduanya kembali bertemu di San Paolo, Juve kembali kalah dan gelar Scudetto direbut Napoli yang merupakan gelar pertama bagi mereka. Musim itu, Juventus finish di posisi kedua. Dari Rush hingga kembalinya Zoff. 1987-88. Setelah kehilangan Platini, Juve juga kehilangan Lionel Manfredonia yang kontraknya tidak diperpanjang serta Aldo Serena yang kembali ke klub lamanya, Inter. Sementara itu, pemain baru banyak berdatangan seperti Alessio dan Bruno dari Como, Tricella dan De Agostini dari Verona, dan Magrin dari Atalanta serta yang paling utama: Penyerang tengah Wales Ian Rush dari Liverpool. Akan tetapi, musim ini merupakan kekecewaan bagi Juventus. Setelah tereliminasi dari UEFA Cup di musim gugur, Juventus tersendat di liga. Akhirnya, dengan susah payah mereka berhail merebut tiket ke Eropa setelah menang adu penalti di play-off lawan Torino. 1988. Dino Zoff meninggalkan posnya di timnas Olimpiade Italia dan bergabung sebagai manajer baru Juventus. Sementara, Ian Rush, Vignola, Alessio dan Bonini dijual ke klub lain. Posisi mereka digantikan pemain baru seperti Rui Barros asal Portugal, Altobelli, pemain muda menjanjikan Marocchi, dan pemain Rusia pertama di Italia, Alexandr Zavarov. Musim dimulai, Juve langsung melesat sebelum akhirnya takluk dari Napoli 5-3. untuk beberapa saat, Juve membuntuti dengan ketat posisi puncak dan akhirnya kehilangan konsentrasi. Hal itu karena mereka harus membaginya dengan perjuangan mereka di Piala UEFA saat bertemu sesame Italia, Napoli di perempat final. Hasilnya, mereka tersingkir di babak perpanjangan waktu dan harus puas di posisi 4 klasemen liga. Gol-gol Schillaci 1989-90. Juve merekrut pemain baru diantaranya: pemain timnas Rusia, Alejnikov, penyerang Schillaci dan Casiraghi, mantan bek timnas Dario Bonetti dan gelandang Fortunato. Sementara, Laudrup, Mauro, Magrin dan Favero dilego. Pemain baru yang menjadi perhatian adalah Schillaci. Atas kontribusinya, Juve melesat memimpin klasemen liga sebelum mereka kalah dari AC Milan. Walau berhail bangkit dengan menaklukkan Inter dan membalas AC Milan 3-0, pada akhir kompetisi mereka hanya mampu finis ketiga di belakang Napoli dan AC Milan. Namun keadaan berbalik 180 derajat di kompetisi Eropa. Tim arahan Zoff ini berhasil sampai ke final UEFA Cup untuk bersua tim sesame Italia, Fiorentin dalam all Italian final. Hasil akhir, Juve merebut gelar Piala UEFA kedua mereka dan menambahnya dengan gelar juara Piala Italia setelah mengalahkan AC Milan di final pada25 April melalui gol Galia. 1991 – 1994 AWAL TAHUN 90-AN Maifredi yang meragukan Piala Dunia yang berlangsung di Italia memunculkan nama bintang Juventus, Toto Schillaci sebagai pahlawan. Juve sendiri memulai musim kompetisi dengan menderita kekalahan telak dari Napoli 5-1 pada ajang Piala Super Italia. Pada musim ini, terjadi beberapa perubahan dimana Luca Cordero di Montezemolo ditunjuk sebagai wakil presiden. Juve mempunyai manajer baru bernama Gigi Maifredi dan skuad kedatangan pemain seperti Roberto Baggio, Thomas Haessler asal Jerman, bek Brazil Julio Cesar, Di Canio, Luppi dan De Marchi serta pemain muda potensial Corini dan Orlando. Di musim ini, AC Milan menjadi klub yang menghentikan ambisi Juve menjadi juara. Di sisa akhir musim, mereka kalah dari Sampdoria di Marassi dan untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka gagal lolos ke Eropa setelah hanya mampu bertengger di posisi ketujuh klasemen. Sementara di Piala Winner, Juventus terhenti di semifinal dari tangan Barcelona. Kembalinya Trapattoni dan direkrutnya Kohler Musim panas 1991 menjadi saksi kembalinya Giampiero Boniperti sebagai presiden Juventus. Sementara Trapattoni kembali menjadi manajer dan membawa beberapa perubahan di tim dengan keluarnya Haessler dan Fortunato. Sementara Juve membeli pemain asal Jerman Juergen Kohler dan Steffan Reuter selain Carrera, Conte, dan kiper muda Peruzzi. Dengan lini pertahanan yang kembali solid, Trap berhasil membawa Juve memuncaki klasemen liga. Selanjutnya, mereka bermain konsisten dan berhasil menahan imbang AC Milan. Akan tetapi, petaka dating saat mereka kalah dari Sampdoria dan meraih rentetan dua hasil imbang. Hal ini membuat AC Milan menyalip mereka dan menjauh. Juve finis di posisi kedua klasemen. Hal yang sama terjadi di Piala Italia dimana setelah berhasil menyingkirkan AC Milan di semifinal, mereka kalah dari Parma di final. Piala UEFA, Vialli dan Roberto Baggio Juve memulai musim ’92-’93 dengan target sama di musim sebelumnya. Nama besar seperti Schillacci, Tacconi dan Julio Cesar keluar dari tim. Sementara, Gianluca Vialli datang dari Sampdoria bersamaan dengan Moeller, Platt, dan Ravanelli serta Dino Baggio. Peruzzi dipromosikan sebagai kiper utama dan pemain berpengalaman Rampulla sebagai kiper cadangan. Namun, Juve tetap kehilangan konsistensi seperti musim lalu. AC Milan berhasil merebut banyak poin dan Juve tidak mampu mengejar mereka. Juve akhirnya berkonsentrasi penuh di Piala UEFA. Hasilnya tidak pun mengecewakan. Mereka melaju sampai final setelah sebelumnya mengalahkan PSG yang diperkuat George Weah. Di final yang memainkan system Home and Away, mereka tidak menemui kesulitan melawan klub Jerman, Borussia Dortmund dan trofi ketiga Piala UEFA masuk ke lemari klub. Sementara di liga, Juve finis di posisi empat dibelakang Inter dan Parma serta AC Milan yang menjadi juara. Musim 1993-94, Juve memulainya dengan baik dan berhasil menundukkan Sampdoria yang diprkuat Ruud Gullit serta memenangi derby dengan Torino 3-2. Juve makin mantap mengejar posisi puncak melalui gol-gol Roberto Baggio, Moeller dan Ravanelli. Namun, setelah permainan spektakuler di paruh partama liga, Juve ditaklukkan pemuncak klasemen AC Milan dan hasil ini membuat mereka gagal menyalip dan melepas gelar juara ke klub kota Milan tersebut. Akan tetapi, di bagian akhir musim, pemuda 19 tahun milik Juve bernama Alessandro Del Piero memainkan partai debut di tim utama dan mencetak gol perdananya saat melawan Genoa. Hasil manis didapat Juve di akhir-akhir kompetisi dengan mengalahkan Inter 1-0 dan Lazio 6-1 untuk memastikan posisi runner-up. 1995 – 1998 KEMENANGAN LIPPI 1995, Debut Lippi Musim panas 1994, Marcelo Lippi ditunjuk sebagai manajer baru Juventus. Ferrara, Paulo Sousa dan Deschamps merupakan wajah baru tim sedangkan Del Piero dipromosikan dari tim junior. Musim dimulai dengan cukup baik, dimulai dengan hasil imbang dan 2 kemenangan atas Bari dan Napoli. Lalu kemenangan dalam pertandingan yang cukup alot melawan Sampdoria lewat gol tunggal Di Livio. Juve mengakhiri paruh pertama musim dengan memimpin klasemen. Di paruh kedua, keadaan menjadi lebih baik bagi tim, dengan kemenangan tandang atas Sampdoria dan AC Milan, Juve terlihat akan memenangi liga dengan mudah. Namun, hal itu menjadi berantakan akibat tiga kekalahan beruntun yang membuat Parma berhasil menguntit ketat. Walau begitu, Juve berhasil lolos dari kejaran Parma saat keduanya bertemu di Delle Alpi dan Juventus meraih kemenangan mutlak 4-0 sekaligus memastikan gelar juara. Parma terbukti menjadi lawan tangguh saat itu dimana keduanya kembali bertemu di final Piala UEFA. Saat itu giliran Juventus yang harus menyerah. Juventus membalas di Piala Italia saat Vialli dkk. mengalahkan Parma di pertemuan mereka yang ke-2 di final. Musim berikutnya, Juventus harus kehilangan Kohler yang kembali ke Jerman dan menggantikannya dengan bek berumur namun penuh pengalaman, Vierchowood. Kali ini mereka berkonsentrasi di kompetis domestik dan Eropa. Hal ini membuat perjalanan mereka di liga agak tersendat. Dan, setelah imbang 1-1 dengan AC Milan, mereka memutuskan untuk berkonsentrasi penuh di Liga Champions. Setelah menyingkirkan Madrid di perempatfinal dan Nantes di semifinal, mereka berjumpa Ajax pada 22 Mei 1996. Di pertandingan tersebut, kedua tim yang bermain imbang 1-1 selama 120 menit, hasil akhir harus ditentukan dengan duel adu penalty. Juventus menang 4-2 dan berhasil mengangkat trofi Liga Champions yang mereka idamkan. Setelahnya, mereka berhasil menambah trofi setelah merebut Piala Super Italia di bulan Januari, saat mengandaskan Parma 1-0 di Delle Alpi. 1997, Dari Boksic ke Vieri Musim panas 1996 membawa beberapa perubahan bagi Juventus. Vialli dan Ravanelli pergi, dan Boksic, Vieri dan Amoruso menggantikan posisi mereka. 2 pembelian penting ada di posisi bek dan gelandang serang melalui Montero dan Zidane. Di musim ini, Juve berhasil meraih Piala Interkontinental di Tokyo, setelah gol tunggal Del Piero berhasil menyudahi perlawanan wakil Argentina, River Plate. Trofi bertambah setelah Juve meraih Piala Super Eropa saat membungkam wakil Prancis, Paris St. Germain. Kembali ke liga, dengan diwarnai kemengana sensasional 6-1 atas AC Milan, mereka kembali meraih scudetto setelah hasil imbang lawan Parma di Delle Alpi. Sayangnya, hasil ini tidak diikuti di Liga Champions dimana mereka kalah di final yang berlangsung di Munich oleh wakil Jerman Borussia Dortmund yang diperkuat mantan pemain mereka, Moeller dan Paulo Sousa. 1998, Del Piero dan Inzaghi: lumbung gol Juve Pippo Inzaghi dan Edgar Davids merupakan pemain anyar Juventus di musim ’97-’98. Rival terberat mereka saat itu ialah Inter Milan yang diperkuat pemain terbaik dunia, Ronaldo. Hasil penentu terjadi saat lima kemenangan beruntun, dan hasil positif lawan AC Milan (4-1) dan gol semata wayang Del Piero dari titik putih saat lawan Inter membuat mereka secara matematis memenangi scudetto dua pekan sebelum musim berakhir. Sementara kejadian musim lalu terulang di Liga Champions saat mereka takluk dengan skor tipis 0-1 dari Real Madrid. 1999 – 2001 MASA KEPEMIMPINAN ANCELOTTI Dari Lippi ke Ancelotti Musim1998-1999: Juventus tidak banyak berubah namun para rival mereka, Inter dan AC Milan serta Lazio memperkuat skuadnya. Setelah memenangi dua pertandingan pertama, mereka kalah dari Parma namun berhasil bangkit dengan menglahkan Inter untuk kembalim memimpin klasemen. Pada 8 November saat bersua Udinese, Juve yang unggul 2-0 harus rela kehilangan 3 poin di menit-meint akhir. Situasi bertambah parah karena kapten tim, Del Piero cedera parah dan harus absen di sepanjang musim. Hasilnya bisa ditabak, permainan tim anjlok dan Juve hanya bisa berkutat di papan tengah walau saat itu sempat membeli Juan Esnaider dan Thierry Henry yang masih belia. Dan, hanya 2 kemenangan atas Lazio dan Fiorentina yang membuat posisi mereka aman di papan tengah. Di sisi lain, Juve harus rela bermain di Piala InterToto akibat kalah di play-oof lawan Udinese. Di akhir musim yang buruk ini, Lippi mengundurkan diri dan diganti Carlo Ancelotti yang sebelumnya sukses bersama Parma. Selanjutnya di musim panas 1999, Juve memulai petualangan di bawah arahan Ancelotti di Piala InterToto. Beberapa nama baru direkrut: kiper asal Belanda, Van Der Sar, sayap belia Zambrotta, pemain Nigeria Oliseh dan bomber Serbia Darko Kovacevic. Seterusnya, setelah start di awal musim yang baik, Juve berhasil meneruskan performanya dengan mengandaskan Roma dan Inter Milan dan berhasil memimpin klasemen. Di lain pihak, Lazio menjadi rival terberat saat itu. Saat keduanya bertemu di Delle Alpi, pada 1 April 2000, mereka kalah dan terus kehilangan poin setelahnya. Akibatnya, posisi puncak diambil alih Lazio. Di pekan terakhir, Juve bertandang ke Perugia. Di pertandingan yang diwarnai hujan lebat, Juve harus menyerah dan membiarkan Lazio menyalip mereka ke tangga scudetto. Musim berikutnya tidak jauh berbeda. Dengan Ancelotti masih memberi arahan dari bangku cadangan, Juve membeli penyerang asal Prancis David Trezeguet dari Monaco. Kompetisi saat itu didominasi oleh tim asal Roma lainnya, AS Roma. Juventus bermain inkonsisten dan meraih terlalu banyak hasil imbang. Akibatnya, Juve tidak berhasil mengejar Roma. Di saat keduanya berjumpa pada 6 Mei, Juve yang telah unggul 2-0 berhasil dikejar dan hasil akhir menjadi imbang 2-2. Sesudahnya, walau berhasil memenangi 5 pertandingan terakhir, Juventus tetap tidak bisa mengejar dan Roma menjadi juara dengan 75 poin, unggul 2 poin atas mereka. Sementara bomber anyar Juve, Trezeguet menjadi satu-satunya hal positif dengan berhasil mencetak 14 gol di sisa 6 pertandingan terakhir. 2002 – 2003 MEMASUKI MILLENIUM BARU 2002, Juve salip Inter Milan di detik-detik terakhir untuk meraih scudetto Musim panas 2001: Juve merombak tim dengan Marcello Lippi kembali menangani tim. Buffon, Thuram, Nedved dan Salas merupakan pembelian terpenting saat itu. Namun, mereka harus kehilangan sang maestro, Zidane yang pindah ke Real Madrid. Juventus memulai musim dengan 3 kemenangan namun terpeleset saat lawan Roma dan ditahan Torino 3-3. Setelah mengalami naik turun dan pada akhirnya tibalah saat penentuan. Di akhir musim, dua kemenangan atas Piacenza dan Brescia membuat jarak mereka dengan pimpinan klasemen Inter hanya tinggal 1 poin. Di pekan terakhir, Inter bertandang ke Lazio sedangkan Juve bertamu ke Udinese dan Roma, yang secara matematis masih bisa juara ditantang Torino di Delle Alpi. Hasilnya sungguh di luar dugaan: Juve tancap gas dan menutup pertandingan di lima belas menit awal, sedangkan Inter berjuang mengejar ketertinggalan atas Lazio namun hasil akhir tak berubah. Inter takluk dari Lazio dan Juve menjadi juara di detik-detik terakhir sekaligus menorehkan sejarah di scudetto ke-26 mereka. 2003, Nedved sang pemimpin September 2002, juara bertahan Juventus memulai musim dengan beberapa perubahan. Mereka membeli Di Vaio di saat akhir penutupan transfer. Inter dan AC Milan memulai lebih baik namun pada bulan November mereka berhasil disalip. Juventus babat AC Milan 2-1 dan hancurkan Torino 4-0. Di penghujung musim, Juve menang atas Parma sedang Inter takluk dari Chievo dan Milan ditahan Lazio. Juve semakin dekat ke gelar juara saat mereka menang 3-1 atas Como dan 3-0 atas Inter arahan Cuper. Akhirnya, gelar juara itu diraih juga pada 10 Mei setelah hasil seri 2-2 dengan Perugia, 2 pekan sebelum musim berakhir, cukup membuat mereka merengkuh scudetto ke-27 mereka. Sementara itu, Juve hampir saja mencetak sejarah double winner saat berhasil menaklukkan Real Madrid untuk melaju ke final Liga Champions melawan AC Milan dalam All Italian Final. Sayangnya, tim asuhan Lippi tersebut kalah beruntung melalui adu penalty di final yang dilangsungkan di Old Trafford, Manchester itu. Presiden Chiusano Wafat Pada 15 Juli 2003, Juve membeli hak dari Stadion Delle Alpi untuk 99 tahun mendatang dari Dewan Kota Turin sehingga mereka berhak membangun stadion pribadi. Pada bulan Agustus, mereka berangkat ke USA untuk memainkan partai Piala Super Italia lawan AC Milan. Skor 0-0 setelah 90 menit, 1-1 setelah perpanjangan waktu, namun kali ini Juve memenangi duel adu penalty. Akan tetapi, kegembiraan klub tidak berlangsung lama. Sebuah kabar mengejutkan datang: Presiden klub Vittorio Caissotti di Chiusano meninggal dunia. Ia lalu digantikan oleh Franzo Grande Stevens, Wakil presiden dari FIAT. Setelah merengkuh Piala Italia, musim liga dimulai dengan buruk. Setelah bermain baik di paruh pertama musim, mereka tertinggal di belakang AC Milan dan AS Roma. Juventus juga kehilangan konsentrasi di Liga Champions, yakni tersingkir dari tim asal Spanyol Deportivo La Coruna dan juga gagal di final Piala Italia setelah kalah lawan Lazio. Di sisi lain, setelah kehilangan Chiusano, Juve juga kehilangan seorang figur penting klub: mantan presiden Umberto Agnelli meninggal pada 27 Mei 2004 akibat kanker paru-paru. 2004 – 2006 DUA GELAR TAMBAHAN Emerson, Cannavaro dan Ibrahimovic Musim panas 2004, Lippi pergi dan digantikan oleh Fabio Capello. Juve banyak merekrut pemain baru mulai dari Emerson (Roma), Cannavaro (Inter), Blasi (Parma) dan pemain Prancis Zebina (Roma) serta yang terpenting ialah bomber Swedia Ibrahimovic (Ajax). Juve memulai kompetisi dengan baik; Brescia ditaklukkan, Atalanta dan Sampdoria tidak berkutik dan satu hasil seri sebelum rentetan kemenangan. Di akhir November, Juve kehilangan 3 poin saat Inter berhasil mengejar ketertinggalan 0-2 menjadi 2-2 dan juga saat ditahan tim sekota Inter, AC Milan pada 18 Desember. Namun terlepas dari hasil ini, laju Juventus tak terhentikan. Kemenangan tandang atas AS Roma mendekatkan mereka ke gelar juara. Tapi Juve tersendat setelah kalah dari Inter di kandang dan pertandingan lawan AC Milan pada 8 Mei menjadi penentu gelar juara. Juventus menang melalui gol Trezeguet sekaligus merebut scudetto dengan unggul 7 poin atas posisi kedua, AC Milan dan 14 poin atas posisi ketiga, Inter Milan. 9 kemenangan beruntun Setelah menambah amunisi dengan mendatangkan Mutu dan Chiellini serta Vieira, Juve memulai musim 2005-2006 dengan performa lebih baik. Mereka berhasil membukukan 9 kemenangan beruntun sebelum berakhir di tangan AC Milan. Segera setelahnya, para pemain Juve menunjukkan performa apik di awal musim dengan menundukkan Roma 4-1 dan Fiorentina 2-1 sekaligus meninggalkan para pesaing terdekatnya. Pada Februari 2006, Juventus yang saat itu berada di posisi pertama memenangi pertandingan super penting lawan Inter. Mereka hanya butuh hasil imbang lawan AC Milan di pertandingan berikutnya untuk memastikan gelar juara. Sementara itu di Liga Champions, mereka harus takluk di perempatfinal dari tangan Arsenal (finalis saat itu) 0-2 dan 0-0. Di sisi lain, pada sisa akhir musim, Juventus dinyatakan terlibat dalam sebuah investigasi yang melibatkan petinggi mereka, Luciano Moggi dan Antonio Giraudo. Hal ini terbukti dari terungkapnya beberapa percakapan telepon oleh kedua orang tersebut kepada petinggi Federasi Sepakbola Italia. Skandal ini terungkap media dan segera public mengenalnya dengan nama skandal Calciopolli. Sementara itu, Moggi mengundurkan diri dari klub sehari setelah liga berakhir diikuti dengan Giraudo beberapa hari kemudian. Hal ini membuat perubahan besar-besaran di jajaran manajemen klub. Giovanni Cobolli Gigli terpilih sebagai presiden klub, dan Jean-Claude Blanc menjabat rangkap sebagai Direktur Pelaksana dan Direktur Umum. Skandal Calciopolli terus terkuak dan Juventus didakwa turun kasta ke “divisi lebih rendah dari Serie B”. Juve juga kehilangan gelar scudetto musim 2004-2005 dan 2005-2006. Dan, setelah melalui beberapa proses investigasi, Juve akhirnya terdegradasi ke Serie B dengan pengurangan 30 poin di awal musim, yang mana dikurangi menjadi 17 dan, setelah mendapat rekomendasi Komite Olimpiade Nasional, berkurang menjadi “hanya 9 poin” untuk musim 2006-2007. 2006 – 2007 KEMBALI KE JALUR JUARA Kedatangan Didier Deschamps 10 Juli 2006: Juventus yang harus bermain di Serie B akibat skandal Calciopolli mendapat seorang manajer baru sekaligus mantan pemain mereka, Didier Deschamps. Beberapa pemain banyak yang hengkang namun tak sedikit yan bertahan seperti: Buffon, Del Piero, Trezeguet, Nedved dan Camoranesi. Pelatih Prancis ini juga mempunyai stok pemain muda yang mumpuni dalam diri Paro, Marchisio, Palladino dan Giovinco. Juventus memulai petualangan pertama mereka di Serie B dengan hasil yang kurang mulus. Hal itu disebabkan lantaran mereka buta akan kekuatan lawan, pun dengan pengurangan 17 poin di awal kompetisi. Baru pada pekan ketiga semua hal itu berubah dimana mereka berturut-turut mengalahkan Crotone, Modena, Piacenza, Treviso, Triestina, Frosinone dan Brescia. Hasil ini membuat mereka beranjak ke posisi teratas dan semakin mendekati zona promosi ke Serie A. Akan tetapi, sebuah tragedi naas terjadi saat mereka tengah meretas jalan kembali ke Serie A. Pada 15 Desember 2006, tepat sebelum pertandingan antara Juve melawan Cesena, 2 pemain muda mereka yaitu gelandang Alessio Ferramosca dan kiper Riccardo Neri mengalami kecelakaan saat tenggelam di danau buatan tempat latihan klub, dan membuat mereka meninggal seketika. Dengan kesedihan mendalam atas kejadian ini, Juve kembali ke lapangan dan berhasil meraih kemenangan atas Bologna yang didedikasikan kepada kedua pemuda tersebut. Di bagian akhir musim, Juve mulai nyaman memimpin klasemen. Selain itu, dua rival terberat mereka Napoli dan Genoa mereka taklukkan masing-masing 2-0 dan 3-1. Dan, pada 19 Mei 2007, kemenangan besar atas Arezzo membuat mereka secara matematis promosi ke Serie A dan diikuti dengan kemenangan kandang atas Mantova yang membuat mereka memastikan menjadi juara Serie B. Di lain pihak, Deschamps memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya dengan Juventus. Giancarlo Corradini dipilih menangani tim sampai akhir musim dan pada 4 Juni, Juventus mengumumkan bahwa mereka telah mendapatkan manajer baru: Claudio Ranieri. 2007 – 2008 KEMBALI KE PAPAN ATAS Kedatangan Ranieri Musim panas 2007: Claudio Ranieri terpilih sebagai manajer baru Juve yang beru saja kembali ke Serie A dan bertugas membawa kembali klub ke kasta teratas liga secepatnya. Sementera dalam hal skuad terdapat banyak nama baru. Di pertahanan ada nama Criscito, Andrade, Grygera, Molinaro, sementara Tiago, Almiron, Nocerino, Salihamidzic mengisi lini tengah dan penyerang haus gol, Vicenzo Iaquinta. Juve memulai musim dengan menghancurkan Livorno 5-1 dan menunjukkan kepada lawan determinasi dan ketajaman lini depan mereka. Sepekan setelahnya, determinasi kembali ditunjukkan Juve saat menaklukan Cagliari 3-2. Namun setelahnya, mereka terpeleset setelah kalah di kandang sendiri dari Udinese melalui gol tunggal Di Natale. Akan tetapi, kekalahan tersebut tidak menggoyahkan mental Juve dan di pekan selanjutnya mereka sukses menahan favorit juara AS Roma 2-2 dan membantai Reggina 4-0. setelahnya lebih manis, mereka memenangi derby pertama musim itu melalui gol tunggal Trezeguet. Menahan sang pimpinan klasemen Laju kemenangan Juve terhenti pada 27 Oktober, yaitu saat kalah dari Napoli. Namun kekalahan tersebut dinilai lebih berbau kontroversial karena keputusan wasit yang tidak memberi penalti. Sesudahnya, Del Piero dkk. dengan cepat bangkit dan membungkam Empoli 3-0 dan, dengan permainan yang brillian, menahan laju kemenangan beruntun sang juara bertahan Inter Milan 1-1. 2008, start lambat Juve Pada awal 2008, Juve mulai kehilangan poin penting saat melawan Catania, Sampdoria dan Cagliari. Namun akhirnya kembali meraih kemenangan atas Udinese dan AS Roma. Di transfer paruh musim, Juve merekrut Sissoko dari Liverpool untuk menambah daya gebrak lini tengah mereka. Masuknya pemain ini membuat Juve berhasil mempersempit jarak hanya menjadi satu poin dengan posisi kedua, AS Roma. Namun, di Reggio Calabria, sebuah keputusan controversial wasit lagi-lagi membuat mereka takluk dari Reggina 1-2. Hasil ini membuat mental tim jatuh dan hasil imbang di derby dan takluk dari Fiorentina di kandang sendiri membuat posisi mereka untuk ke Liga Champions musim depan terancam. Akan tetapi, memasuki bulan Maret, situasi berubah positif. Diawali kemenangan atas Genoa, lalu Napoli, dan bahkan mereka berhasil mengalahkan pimpinan klasemen Inter Milan 2-1 dengan penampilan yang luar biasa. Di akhir musim, Juve meraih hasil beragam. Kalah dari Palermo (diantaranya ditentukan oleh peforma bagus dari pemain masa depan Juve, Amauri), lalu menang atas AC Milan yang saat itu baru saja menjuarai Piala Dunia Antar Klub. Setelahnya, tiga kemenangan atas Parma, Atalanta dan Lazio mengamankan tempat ketiga buat mereka. Sementara kapten Juve, Del Piero ditahbiskan menjadi top skorer dengan 21 gol, satu gol lebih banyak dari tandemnya, David Trezeguet. 201008251217100.Press-Room.jpg lbl_trophy.gif 200908061314100.lbl_stock.gif 200908061318020.lbl_sponsor.gif Copyright ©2009 Juventus Football CLub Indonesia – All right reserved Nike Bet Click Balocco

Pengalaman Haji Iwan Fals & Rosana (Istri)

Posted in IWAN FALS on 2010/05/18 by chikal setiawan

Kini, gelar pelantun Bento, bertambah sudah, menjadi Haji. Setelah selama satu bulan menjalankan ibadah haji bersama istri tercinta Rosana (Yos), memang tidak ada yang terlihat berbeda dengan penampilan Iwan Fals. Namun, jika diperhatikan secara seksama akan terlihat perbedaan. Diantaranya yaitu saat ini ia sering menggosok giginya dengan siwak dan dilehernya kini digelantungi oleh tasbih.

Rupanya, pengalaman selama satu bulan di Tanah Suci membawa hal yang positif untuk sang legenda. Kepada iwanfals.co.id, Iwan menuturkan pengalamannya selama di Tanah Suci bersama Yos. Kata-kata pertama yang keluar dari mulut Iwan saat ditanya pengalamannya menjalankan ibadah haji ialah kaget. Kenapa begitu?

Menurutnya saat pertama kali melihat Ka’bah, ia merasakan Ka’bah itu seperti masuk kedalam dadanya dan sempat membuat nafasnya tersenggal. Menurutnya itu pengalaman yang tidak dapat ia lupakan sampai kapanpun. “Saya begitu melihat Ka’bah pertama kali seperti masuk ke dalam dada. Saya sempat kaget,” ujarnya.

Saya kira kejadian itu hanya terjadi pada diri saya saja ternyata juga terjadi pada orang lain. Padahal ini bukan yang pertama saya melihat Ka’bah. Sebelumnya saya pernah tinggal di Arab selama 9 bulan tapi waktu itu saya tidak mengalami hal seperti itu. ”Mungkin juga waktu itu saya masih anak-anak jadi perasaannya berbeda,” tambahnya.

Sebelum berangkat ke tanah suci, bapak dari Galang (Alm.), Cikal, dan Raya ini memang sudah meniatkan akan berdoa demi kemakmuran bangsa Indonesia. Dan niat itu benar-benar dilaksanakannya setibanya di tanah suci. “Selain mendoakan bangsa ini, saya juga mendoakan Oi, dan banyak hal lagi yang saya minta disana. Mumpung lagi di tanah suci, saya doa sebanyak-banyaknya,” tambahnya.

Banyak cerita aneh dari orang-orang yang pernah menunaikan ibadah haji di tanah suci. Namun, hal tersebut tidak terjadi selama Iwan dan Yos berada di tanah suci. “Selama menjalankan ibadah haji tidak ada hal yang aneh yang saya temui semuanya biasa saja. Hanya pada saat tawaf, ada dua orang nenek-nenek yang jalannya saja sudah susah, tapi mereka sanggup menjalankan ibadah tawaf sampai selesai,” ujarnya.

Yang aneh justru Arab yang jarang sekali di guyur hujan, justru pada tahun ini hujan turun di Arab. Bahkan dikabarkan banyak orang meninggal karena banjir akibat hujan deras yang turun di Arab. Namun, semua itu tidak dialami baik oleh Iwan maupun Yos. Menurut Iwan, justru turunnya hujan disambutnya dengan rasa syukur.

“Waktu disana memang lagi hujan tapi saya bersyukur karena dengan adanya hujan jadi tidak ada debu. Saya disana tidak mendengar kalau banyak yang meninggal karena banjir. Saya justru dikasih kabar dari Jakarta. Soalnya yang saya lihat memang ada banjir tapi tidak parah. Karena disana jarang terjadi hujan, jadi saluran airnya tidak berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Selama menjalankan ibadah Iwan tidak pernah lepas menjaga istrinya yang kondisinya memang tidak sesehat dirinya. “Saya kan menemani istri saya naik haji, jadi waktu tawaf saya ngejagain istri saya agar tidak terhimpit jamaah lain yang badannya besar-besar. Alhamdulillah Yos bisa menjalankan semua ibadah selama di tanah suci,”ungkapnya.

Meski begitu, kesehatan Iwan sempat terganggu karena terkena flu. Namun, semuanya tidak menjadi halangan untuk Iwan dan Yos untuk menjalankan rangkaian ibadah haji. “Saya sempat flu. Tapi yos lebih dulu sembuh. Dan disana fisik Yos sangat kuat dibandingkan dengan di Jakarta. Mungkin karena dia benar-benar niat dan tulus dalam menjalankan ibadah haji jadi diberikan kekuatan oleh Allah,” ujarnya.

Di Tanah Suci, Iwan bersyukur dapat sholat tepat di depan makam Nabi Muhammad SAW. Bahkan secara diam-diam ia berhasil mengabadikannya lewat kamera HP. Namun, ia tidak bisa memegang bahkan mencium Ka’bah. Sebenarnya bukan karena ia tidak sanggup. Tapi, hal tersebut memang sengaja ia tidak lakukan karena ia tidak tega jika harus menyakiti orang lain saat ingin mendekat ke Ka’bah.

“Saya tidak sempat mencium ka’bah. Karena untuk mencium ka’bah benar-benar perlu perjuangan. Kita harus mau menginjak-nginjak orang bahkan berdesak-desakan. Saya pikir untuk apa berbuat sesuatu yang baik tapi harus menyakiti orang lain. Apalagi di Tanah Suci. Jadi saya memang tidak sempat memegang Ka’bah,” katanya.

Selain itu, bermacam-macam orang yang hadir untuk menunaikan ibadah haji tidak luput dari perhatian Iwan. Terlebih cara beribadahnya yang beraneka ragam. Namun perbedaan tersebut tidak menjadi masalah bagi masyarakat yang ada disana. Justru perbedaan tersebut membuat Iwan berfikir kalau Islam itu sangat beragam.

“Saya memperhatikan cara beribadah orang-orang yang melakukan ibadah haji. Dari cara sholatnya saja berbeda-beda. Ada yang tangannya tidak bersedakep, ada yang bersedakepnya di kiri, ada yang sama dengan kita. Lalu ada pada saat tahiyat akhir, jari telunjuknya digoyang-goyangkan. Pokoknya caranya macam-macam deh. Tapi, semua itu tidak ada yang mempermasalahkan saya pikir ini Islam yang benar. Karena, sepengetahuan saya, cara-cara tersebut ada cerita sendiri-sendiri. Tapi, kenapa di Indonesia dipermasalahkan ya?” ungkapnya.

Ia pun berharap, masyarakat Indonesia banyak belajar untuk lebih menghargai perbedaan dalam menjalankan ibadah menurut kepercayaannya masing-masing. Karena menurutnya, Islam itu memang beragam dan sangat banyak alirannya.

Gitar Kecil Setia Menemani
Jika penggemar setia Iwan Fals, baik Oi maupun Fals Mania perhatikan, pada konser bulanan “Pohon Untuk Kehidupan” yang digelar sebelum kebarangkatan Iwan ke Tanah Suci, saat duet bersama diva dangdut Ikke Nurjanah, Iwan menggunakan gitar kecil buntung ala si raja dangdut Rhoma Irama. Gitar tersebut rupanya turut menemani Iwan dalam menunaikan ibadah haji.

Gitar kecil tersebut memang dipesan khusus Iwan agar dapat menemaninya saat menunaikan ibadah haji selama satu bulan penuh. Dipilihnya ukuran kecil alasannya sangat sederhana, yaitu agar dapat masuk ke dalam koper, sehingga tidak banyak orang yang mengetahuinya.

“Saya membawa gitar kecil. Tapi tidak semua orang tahu kalau saya membawa gitar, hanya ustadz saya, dan beberapa orang teman sekamar yang tahu. Dan saya hanya memainkan gitar saat istirahat dan tidak sedang beribadah,” tambahnya.

Saat bercerita tentang gitar kecil yang menemaninya, Iwan teringat kenangan saat ia tinggal di Arab selama sembilan bulan. Waktu itu usianya masih kanak-kanak, dan ia merasa tidak betah tinggal di Arab. Ia pun teringat kalau saat itu ia berdoa di depan Ka’bah agar dapat memiliki gitar dan berharap dapat menjadi penyanyi.

Mungkin karena doanya sangat tulus, Allah mendengarkan dan mengabulkan doanya. Alhasil kini Iwan-pun saat ini berhasil menjadi penyanyi nomor satu di Indonesia. “Ya, dulu saya pernah berdoa di depan Ka’bah ingin menjadi penyanyi dan saya pulang ke Indonesia membawa gitar. Sekarang saya kembali lagi membawa gitar, sekaligus laporan sama Allah kalau saya sudah menjadi penyanyi dan mudah-mudahan menjadi penyanyi yang benar,” ungkapnya.

Selain itu, alasan lainnya adalah gitar yang ia bawa bukan sekedar untuk dimainkan atau mengisi waktu luang ditengah-tengah ibadah haji. Karena, gitar yang dibawanya semata-mata hanya untuk meregangkan otot-otot jarinya agar tidak kaku. Sehingga setelah selesai menjalankan ibadah haji dan kembali ke Indonesia, ia tetap dapat menjalankan aktifitasnya sebagai pemusik.

“Saya membawa gitar kesana karena saya merasa kalau selama sebulan tidak memainkan gitar, bisa kaku semua jari-jari saya. Lagi pula saya juga harus menghapalkan lagu-lagu untuk album baru dan acara PanggungKita waktu itu. Tapi pada waktu ibadah saya tidak memainkan gitar, wah, bisa kaku semua jari-jari saya,” ujarnya seraya mengakhiri cerita pengalaman saat Ibadah Haji.

Oleh: Andri Oktavia

IWAN FALS TERANCAM DENDA RP. 5 M

Posted in IWAN FALS, Uncategorized on 2010/04/21 by chikal setiawan

Penynyai Virgiawan Listanto alias Iwan Fals diadukan ke polisi oleh rekannya sendiri, Toto Dwiarso Goenarto. Iwan dianggap melakukan tindakan pidana dan melanggar hal cipta yang diatur dalam pasal 2 Ayat 1 atau pasal 49 Ayat 2 Undang-undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.

Jika terbukti melanggar dan perkara hukumnya sampai ke Pengadilan, Iwan terancam hukuman tujuh tahun penjara dan denda sebesar Rp. 5 Milyar. “

Hari ini (kemaren) kami melaporkan dugaan pelanggran hak cipta. Yang kami laporkan adalah’ “Iwan Fals,” kata Jon Matias, pengacara Toto Dwiarso, seusai melaporkan Iwan di SPK Polda Metro Jaya, Selasa (20/4/2010).

Laporan Toto Dwiarso atas Iwan itu tercatat dengan nomor LP/1229/IV/2010/Dit Reskrim Sus. Menurut Jon, selain membuat laporan ke polisi, Toto juga akan menggugat Iwan Fals di Pengadilan Niaga.

Jon menjelaskan, masalah ini bermula saat iwan Fals manggung di TV One pada tanggal 16 Oktober 2009. Saat itu Iwan Fals menyanyikan lagu berjudul ,”BENCANA ALAM”. Menurut Jon, lagu yang di rekam tahun 1979 atas nama kelompok Amburadul tersebut ditulis dan diciptakan oleh kliennya, Toto Dwiarso.

Namun, ketika Iwan Fals manggung di Televisi itu nama pencipta lagu yang tertulis dilayar kaca adalah nama Iwan Fals, bukan nama Toto.

Ini sangat mengganggu saya. Sebelumnya, beberapa kali dia (Iwan Fals) menyanyikan lagu itu dan memang tidak ada masalah,”kata Toto. Ia mengaku dirugikan secara materi karena pencipta lagumempunyai nilai ekonomis berupa royalti.

BELUM DENGAR
Sementara itu Iwan Fals belum mendengar berita tentang pelaporan atas dirinya tersebut. Sejak Minggu (18/04/2010), Iwan Fals melakukan Tur sekaligus perjalanan Spiritual ke sejumlah pesantren di Jawa tengah. Juga sekalian mempromosikan album baru’nya. “Mas Iwan belum mendengar laporan itu,” kata Titin, asisten Iwan Fals, ketika dihubungi melalui telepon semalem.

Ia mengungkapkan, Pihak Iwan Fals pernah mengundang Toto untuk membicarakan penyelesaian kasus tersebut. “Namun, Toto tidak pernah memenuhi undangan Iwan Fals. Kapan ketemunya? kalau diundang (Toto) tidak pernah datang, dan hanya mewakilkan pengacara saja.” kata Titim. Sebagai seniman Legendaris, lanjut Titin,Iwan Fals tidak pernah mengaku karya yang diciptakan orang lain. “Mas Iwan kaget, kenapa lagu itu ditulis ciptaannya Iwan Fals. Dia tidak pernah ngaku-ngakulagu itu kok.”ujar Titin yang menduga kesalahan tersebut ada di pihak Televisi.

*diambil dari koran warta kota 21/04/2010

Tabir kehidupan

Posted in ungkapanku on 2010/04/18 by chikal setiawan

Perlahan tabir mulai terkuak pasti.
Semakin sini semakin aku mengerti akan makna hidup yang sesungguhnya.
Hidup adalah suatu perjalanan panjang dikala kita berada di satu sisi kehidupan. Namun akan terasa cepet berlalu dikala ada disatu sisi kehidupan yang lainnya.

Semakin kupahami arti hidup semakin ku merasa ketir menghadapi kenyataan yang ada. semakin risih semakin ku tak yakin ku bisa menghadapi masa depan yang suram ini.

Wajar aku merasa pesimis demikian, karena orang lain tak mungkin tahu apa yang sebenarnya aku rasa. Yang tahu kehidupanku ya cuma aku sendiri yang tahu dan yang merasakannya.

Aku tak perlu nasehat, aku tak perlu motivasimu, aku tak perlu apa2 dari kalian. Yang aku inginkan hanya ingin menjadi diriku sendiri.

KISAH CINTA IWAN FALS DENGAN ROSSANA

Posted in IWAN FALS, Uncategorized on 2010/03/23 by chikal setiawan

chikalsetiawan.files.wordpress.com/2010/03/iwan-dan-rossana.jpg”> “Gue Seneng Sama Elo! Coba Pacaran, Yuk!”

Musik adalah hidup Iwan Fals. Lewat musik, lelaki bernama asli Virgiawan Listianto itu bertemu belahan jiwanya, Rosanna atau yang akrab disapa Yos.

IWAN bukan orang yang pandai bercerita, terutama mengenai peristiwa yang sudah puluhan tahun lalu terjadi. Meski sekelumit kisahnya masih melekat dalam pikiran, Iwan tak mampu mengurai secara detail cerita cintanya bersama Yos.“Soalnya sudah lama banget. Saya sudah lupa detail ceritanya,” kata Iwan, membuka perbincangan di rumahnya yang luas di Desa Leuwinanggung, Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

Menerawang ke masa lalu, ayah tiga anak itu coba mengulang memori pertemuan pertamanya dengan Yos di kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ), yang terjadi 27 tahun silam. Kala itu, Iwan sedang mengikuti Festival Musik Humor yang diselenggarakan mahasiswa IKJ. Ia tampil solo memainkan gitar dan harmonika. Sementara Yos, yang mahasiswi jurusan Seni Rupa di kampus tersebut, adalah salah seorang panitia festival.

“Saya masih ingat, waktu itu Yos pakai topi kayak Pak Tino Sidin. Dia kan anak Seni Rupa. Topinya juga banyak benderanya,” kenang Iwan, seraya tersenyum. Penampilan Yos yang trendi dan cenderung maskulin menggetarkan dawai hati Iwan. Iwan yang saat itu masih menyandang predikat siswa kelas tiga SMAN 26 Jakarta mengaku tertarik melihat sosok wanita kelahiran 1960 itu.

“Senang aja lihat dia kayak laki-laki. Ditambah lagi, sejak pertama bertemu, dia sudah memberi perhatian pada saya,” ujar Iwan tanpa bermaksud menyombongkan diri. Sementara itu, diam-diam Yos pun memerhatikan sosok pemuda yang telah tercuri hatinya oleh penampilannya yang maskulin. Belakangan Yos tahu, ketertarikannya itu lebih didasari oleh minatnya terhadap lagu-lagu Iwan.

Sejak dulu, Iwan dikenal sebagai musikus pengusung tembang-tembang country dan balada. Pada acara festival itu pula, lelaki kelahiran Jakarta, 3 September 1961 itu sempat memberi Yos sekeping kaset yang berisi demo suaranya. Baru tiga tahun kemudian, suara emas Iwan itu direkam dalam tiga album sekaligus, yakni Serenade Kembang Pete, Frustrasi, dan Sarjana Muda.

Walaupun gadis yang disukainya adalah seorang mahasiswi, Iwan tidak merasa minder. Benih-benih asmara yang mulai muncul, ia biarkan bersemi hingga tumbuh menjadi seuntai cinta.“Masalah cinta kan enggak ada batas usianya. Kita ketemu, terus dianya kelihatan memberi perhatian, saya langsung penalti saja; coba pacaran yuk! Ternyata bisa berjalan tiga tahun. Cuma, kalau ditanya detail proses pacarannya bagaimana, saya lupa. Sudah lama banget kan tuh,” kata Iwan, yang mengaku deg-degan jika harus menggenggam tangan Yos.

Masa pacaran tiga tahun berjalan bukan tanpa hambatan. Di antara waktu tersebut, Yos rupanya sempat kepincut pria lain. Iwan mengetahui hal itu. Namun, putra pasangan Haryoso dan Lies ini tak pernah menyurutkan cintanya pada Yos. Di sisi lain, Iwan juga tahu Yos masih menaruh minat padanya. Sampai akhirnya Iwan nekat melamar Yos yang kala itu sudah memiliki kekasih baru.

“Saya merasa terhormat ketika saya ajak dia menikah, dia mau, padahal kan Yos sudah punya pacar. Saya bilang: ‘aku cuma bisa ngamen nih. Enggak ada cara lain untuk hidup, berani enggak?’ Eh, dia bilang berani. Hal itulah yang kemudian saya jadikan amanat buat saya menjaga hubungan kami.”

Iwan mengingat jawaban ‘ya’ dari Yos sebagai hal paling indah dari masa mudanya. “Soalnya, pasti berat untuk Yos memutuskan satu di antara dua lelaki. Saya sih maju terus walaupun dia sudah punya pacar. Rezeki enggak ke mana. Semua kan tergantung Yos. Saya hanya mengungkapkan perasaan saya saja. Saya cinta dia, saya ungkapkan. Saya bilang, ‘gue seneng sama elo!’ Gitu aja,” cerita Iwan, yang tak ingat lagi tanggal pernikahannya.

Buat Iwan, Yos bisa dibilang cinta pertamanya. Di masa mudanya, Iwan hampir tak punya pengalaman pacaran dengan gadis lain selain istrinya sekarang. Maka itu, ketika ditanya alasan dia memilih Yos, lelaki yang gemar olahraga karate itu tak mampu menjawab.

“Saya enggak tahu kelebihan Yos dibanding perempuan lain. Saya kan enggak pernah tahu (perempuan) yang lain. Mungkin karena nafsu saya terpenuhi di Yos. Pikiran saya, perasaan saya, negatif-positif saya, semua terpenuhi di dia,” kata Iwan. Kini, Iwan dan Yos sudah melalui 25 tahun usia pernikahan mereka. Iwan mengaku, cintanya pada sang istri masih sama seperti ketika keduanya pacaran.

“Saya baru merasakan, ternyata kita ini hidup. Banyak keajaiban yang terjadi setiap hari. Saya sendiri takjub, kok bisa ya tahan 25 tahun di saat pasangan lain baru tiga tahun kimpoi, cerai. Saya bersyukur juga karena memang pernikahan ini indah. Kalau enggak indah, ngapain nikah.”

“Saya selalu bilang ke Yos, sekarang saya menyayangi kamu. Besok enggak tahu. Enggak berani janji dong saya. Eh, ternyata besok tuh sampai 25 tahun,” kata Iwan lagi.

Cinta Makin Kuat Setelah Cobaan Itu Datang
Pernikahan Iwan dan Yos berjalan mulus nyaris tanpa persoalan berarti. Kebutuhan keluarga tercukupi, anak-anak pun tumbuh sehat sejahtera. Sampai akhirnya musibah datang pada 1997.
TAHUN itu, Galang Rambu Anarki, putra sulung Iwan dan Yos, meninggal dunia. Langit seakan runtuh. Galang yang disebut-sebut sebagai pangeran penerus jejak sang ayah, sangat cepat diambil Tuhan. Saat mengembuskan napas terakhirnya, personel band Bunga itu baru berusia 15 tahun.
Tahun pertama kepergian Galang, kesedihan pun menggelayuti hati pasangan itu. Tak jarang, Galang datang menghiasi mimpi Yos. Bahkan, sampai Yos ngelindur. “Itulah cobaan paling berat dalam hidup kami. Untungnya saya selalu kembali lagi ke agama. Saya atasi kesedihan ini dengan lebih mendekatkan diri pada Tuhan,” kata Yos.

Jika rindu kepada Galang melanda, Yos hanya bisa menumpahkan air mata. “Iwan sih enggak ngomong atau menasihati apa pun pada saya. Karena kita berdua hobi baca, untuk menenteramkan hati, biasanya kita sama-sama baca buku saja. Kalau tiba-tiba saya tidur, ngelindur soal Galang, paling Iwan memeluk saya. Enggak ngomong apa-apa, karena kalau bicara kan kadang-kadang malah salah,” tutur Yos.

Tak lama setelah Galang meninggal, berturut-turut Iwan juga kehilangan ayah serta seorang saudaranya. Rasa kehilangan itu datang bertubi-tubi dan dirasakan sangat berat baginya. “Tapi, saya sadar, semua manusia pasti akan kehilangan orang yang mereka sayangi,” kata Iwan.

Tak ingin berduka terus-menerus, Iwan dan Yos melanjutkan kembali kehidupan mereka.
Sampai akhirnya, Raya Rambu Rabbani lahir pada 2003, pada saat anak kedua mereka, Annisa Cikal Rambu Basae, berumur 18 tahun. Raya-lah yang kemudian menjadi pelipur lara Iwan dan Yos.
“Sejak enggak ada Galang, saya merasa lebih dekat dengan Iwan. Sangat berkesan. Sama berkesannya dengan kelahiran Raya. Saya merasa, kehadiran saya di dunia jadi lebih bermanfaat. Kalau tadinya hanya ngurusin Iwan terus, sekarang saya harus merawat Raya juga,” ujar Yos.
“Cikal sekarang sudah besar, sudah kuliah. Sesekali dia suka pulang malam. Iwan suka senewen, padahal saya pasti bilang kepada dia kalau Cikal akan pulang telat ke rumah. Saya lihat Iwan makin bertanggung jawab sebagai suami, ayah, dan manusia,” lanjut Yos.
Perubahan kecil juga dirasakan Iwan sejak kepergian Galang. “Belakangan saya merasa lebih tegas. Namun, soal agama, Yos lebih kuat. Dia selalu siap memenuhi semua kewajibannya. Di sisi lain, saya juga berusaha memberi apa yang saya punya untuk dia,” Iwan menyambung ucapan sang istri. Seperempat abad hidup bersama membuat Yos semakin bisa memahami Iwan meskipun dulu dan sekarang Iwan tidak terlalu banyak berubah.

“Iwan tetap Iwan yang saya kenal. Secara fisik dia berubah, tapi itu kan pasti dialami semua orang. Tambah umur, dia justru semakin matang dan sabar menghadapi persoalan apa pun. Musibah dalam keluarga selalu kami kembalikan pada nilai-nilai agama. Itu yang membuat kita yakin, yang terbaik adalah menghadapi semua persoalan,” tutur Yos.
“Akhir-akhir ini kita malah sering punya persamaan feeling. Di awal pernikahan dulu, seringnya enggak nyambung, salah duga, beda tebakan. Sekarang mulai ada persamaan. Apalagi, setelah Galang pergi,” timpal Iwan. Tahun ini usia Iwan akan mencapai 44 tahun. Meski demikian, ketua umum organisasi massa Orang Indonesia (OI) itu masih merasa muda. Detik demi detik perubahan fisik manusia, ia nikmati sebagai sebuah keindahan.
“Justru saya semakin penasaran. Di usia segini, saya suka loyo. Nah, setelah fase loyo, apa lagi nih? Ternyata, perhatian Yos juga enggak berubah. Dia makin bisa bikin saya penasaran,” kata Iwan, tanpa memerinci hal-hal yang membuatnya penasaran itu. “Saya bergairah terus sama Yos. Mudah-mudahan dia juga begitu. Saya selalu merasa baru menikah walaupun sudah lama. Senang aja jadinya. Kayak pacaran terus,” kata Iwan lagi.
Meski berani mengungkapkan perasaannya pada Yos, namun dalam sikap, Iwan tidak seromantis tembang-tembang cintanya. Makan malam berdua di bawah temaran cahaya lilin, misalnya, tak pernah sekalipun mereka lakukan. Cinta di hati keduanya hanya terpupuk lewat perhatian serta kepercayaan yang tinggi terhadap pasangan.
“Cinta kami tumbuh begitu saja sih. Alhamdulillahnya lagi, saya tidak mengalami persoalan ekonomi. Terkadang cinta kan juga butuh uang. Rumah tangga pun begitu. Rezeki kami ada saja, sehingga kami enggak bingung mencari kebutuhan sehari-hari,” tutur Iwan, yang menyerahkan semua urusan rumah tangganya kepada Yos.
Di samping persamaan, Yos dan Iwan juga memiliki perbedaan tabiat. Iwan yang terkesan temperamental dan meledak-ledak dalam membuat lirik lagu, ternyata cukup lembut pembawaannya. Bahkan tak jarang, ia bersikap manja pada sang istri. “Dulu kalau saya nyuapin Galang dan Cikal, dia enggak ketinggalan minta disuapin. Pokoknya, dia tuh termasuk suami yang selalu minta dilayani. Iwan juga lembut. Kalau kita lagi marahan, yang ngebanting pintu, istilahnya, itu saya. Iwan justru diam kalau lagi marah,” kata Yos.

Saling Menghormati jika Pasangan Cemburu

Hidup bersama seorang superstar seperti Iwan bukan hal mudah. Terlebih ketika fenomena groupies, kelompok penggemar fanatik, wanita kian menjamur. Kecemburuan Yos bertambah kala melihat fans wanita Iwan yang agresif.

IWAN pun sesungguhnya termasuk pria pencemburu. Ia tak berusaha menampik perasaan itu dengan berpura-pura cuek terhadap pasangan. Cemburu, bilang cemburu. Meski kemudian ia harus bertengkar hebat dengan istrinya. “Saya cemburuan, Yos juga cemburuan. Tapi, saya bisa menghormati kecemburuan dia. Ternyata asyik juga kok cemburu. Ada rasa deg-degan-nya, he, he, he …,” ujar Iwan.

Iwan bukan tak menyadari fans wanitanya banyak dan bahkan ada yang menuntut lebih darinya. Namun, sejauh ini ia mengaku masih bisa mengendalikan emosi. Sesekali pernah juga tebersit keinginan penyuka olahraga karate itu berpoligami. Sayang, Yos tidak mengizinkan.
“Kadang-kadang terpikir juga sih. Apalagi kalau lihat perempuan cantik, muda, wah …. Kemarin saya baru bilang, Yos boleh enggak ngelirik-lirik perempuan? Ternyata enggak boleh sama dia,” kelakar Iwan. Ungkapan jujur Iwan untuk membagi hatinya dengan perempuan lain boleh jadi hanya sebuah canda sebab semakin hari, cintanya pada Yos justru dirasa kian bertambah. Iwan sadar, kecantikan wanita bukan segala-galanya.

“Kecantikan bukan dilihat dari fisik saja kok. Kalau ukurannya hanya itu, berapa banyak perempuan yang cantik? Kecantikan ternyata ada di balik kerutan, dari tulang yang mulai sakit, atau pada situasi menjelang menopause. Itu juga kan keajaiban dan harus disyukuri. Apa yang saya dapat dari Yos sudah lebih dari cukup,” kata musikus yang menghabiskan masa sekolahnya di Bandung, Jawa Barat.

Tak ada dalil khusus yang diterapkan Iwan, menjaga bunga cintanya pada sang istri tetap mekar sepanjang masa. Seperti lirik-lirik lagunya, Iwan lebih suka membiarkan semua mengalir bagai air, tanpa ada janji-janji yang muluk. “Tinggal bagaimana kita menyirami benih-benih yang sudah Tuhan kasih. Ini ladang kita, bisa enggak kita rawat? Rasa bosan pasti ada dan saya yakin Yos pun bosan sama saya. Tapi, kita terima saja kebosanan itu sebagai rahmat. Kalau mengutip ucapan Aa Gym, jadikan keluarga sebagai ladang amal kita,” kata Iwan bijak.

Di usianya yang semakin senja, Iwan justru terlihat semakin tampan. Penilaian ini banyak dikemukakan oleh para penggemarnya. Menanggapi hal tersebut, Yos hanya bisa mengucap syukur. Begitu pun ketika fans wanita Iwan berlaku sedikit mesra pada sang musikus.

“Dibilang terusik, pasti terusik. Tapi, enggak apa-apalah. Alhamdulillah saja karena berarti saya masih dikasih kesempatan bersama Iwan dan dia tidak tergoda,” ucap wanita berjilbab itu. Yos berharap, cobaan berupa orang ketiga yang berpotensi merusak rumah tangga mereka tidak akan terjadi. Untungnya lagi, Yos kini juga bertindak sebagai manajer Iwan. Jadi, ke mana pun sang suami pergi, Yos pasti ikut mendampingi.

“Dengan mendampingi dia dalam tim manajemen, saya jadi lebih mengerti. Kalau dulu kan saya di rumah, enggak ikut Iwan. Saya selalu punya pikiran sendiri, ‘wah lagi ngapain ya dia?’ Berhubung sekarang saya manajernya, ke mana pun Iwan pergi, saya ikut. Kalau ada fans perempuan melukin dia, saya bisa lihat dengan mata kepala sendiri. Saya lihat bagaimana reaksinya. Kalau Iwan kecentilan, pulangnya langsung saya labrak. Tapi, kalau Iwan dalam posisi enggak bisa menolak, saya tetap mengerti kok,” tutur Yos.

Yos percaya Iwan setia padanya. Begitu pun sebaliknya, sebab pasangan yang menikah di Garut, Jawa Barat, ini mengaku, sama-sama takut pada Tuhan. “Kita kan punya salat lima waktu. Pada saat zuhur, kita melakukan sesuatu yang tidak baik, ada kesempatan di waktu ashar untuk mengucap istighfar, dan memohon petunjuk bagaimana sebaiknya saya bersikap setelah ini,” kata Yos, yang mengaku sangat terbuka pada Iwan.

Di mata Yos, Iwan bukan suami yang mampu bersikap romantis, seperti cerita dalam film ataupun sinetron. Romantis versi Iwan lebih merujuk pada perhatian superekstra terhadap pasangan. “Buat saya, Iwan sangat romantis, tapi enggak seperti di buku atau film. Misalnya dia lagi melakukan tur musik. Di sela-sela jadwalnya, dia masih suka mengingatkan saya agar menjaga kesehatan. ‘Lo jangan sakit ya’. Untuk saya, itu romantis banget,” urai Yos.

Menyikapi masa puber kedua Iwan, Yos juga punya resep jitu. “Kuncinya, jangan tinggalkan salat. Kalau puber, pasti dia ngomongin perempuan lain dong. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa menunjukkan kalau saya enggak suka. Tapi, enggak pakai ngomel-ngomel lo,” kata Yos, yang berusia satu tahun lebih tua dari suaminya.

Iwan kemudian menimpali ucapan sang istri dengan sebuah harapan yang tanpa diembel-embeli angan setinggi langit. “Mudah-mudahan keluarga kita tetap utuh. Ya…, enggak tahu juga sih. Cinta itu kan misteri. Kebetulan keyakinan saya Islam, di mana ruang-ruang untuk berpoligami itu terbuka cukup lebar. Tapi, kalau Yos enggak mengizinkan, kan enggak bisa,” katanya.

oleh: bobies.multiply.com

Album Iwan Fals 2010 ” KESEIMBANGAN”

Posted in IWAN FALS, Uncategorized on 2010/03/21 by chikal setiawan

Saya tidak bisa banyak berkata-kata setelah mendengar lagu-lagu dalam CD album terbaru Iwan Fals Keseimbangan yang launching pada 20 Februari 2010 di rumahnya desa Leuwinanggung Depok. Beberapa kali memutar dua belas lagu yang ada saya cukup berkomentar bahwa album ini kaya dengan musik. Tentu saja tetap diimbangi dengan materi lagu yang berkualitas dengan lirik-lirik yang sebagian kritis, namun lebih didominasi dengan lagu-lagu yang memberi pesan untuk kelestarian alam.

Album Keseimbangan ini sebenarnya memuat sepuluh lagu ‘lama’ dan dua lagu baru. Lagu lama yang saya maksud adalah lagu-lagu uncommercial Iwan Fals yang rekaman livenya banyak dimiliki penggemar. Namun lagu-lagu itu semua dikemas dalam racikan baru, fresh, clingg.. Dua lagu baru yang tidak pernah saya dengar sebelumnya adalah lagu Ya Allah Kami dan lagu berjudul unik, ^O^ yang disini mbak Yos (istri Iwan) ikut menjadi backing vocal.

Pada paragraf awal saya katakan album ini kaya dengan musik, mungkin karena ada Totok Tewel sebagai lead guitar yang membuat musiknya terasa berbingkai rock?. Namun tentu saja semua pemain band berperan besar dalam hidupnya lagu-lagu dalam album ini yaitu mas Heirrie (bass – yang juga melakukan mixing), mas Edi (keyboard) serta mas Deni (drum). Tapi aah.. saya bukan pengamat musik, hanya penikmat biasa saja yang cuma bisa mengatakan sebuah lagu enak atau tidak berdasar selera pribadi dan kadar sensitif gendang telinga saya.

Yaaaah, daripada berpanjang lebar.. ngomong ini dan itu yang kalau ndak sengaja salah ketik bisa-bisa menyinggung perasaan beberapa orang (hehehe)… lebih baik dengarkan sendiri lagu-lagu di album Keseimbangan ini, dan sampaikan atau simpan komentarmu.

Perhatian: dibawah ini rekomendasi saya PRIBADI lho ya, bukan titipan atau atas nama Iwan Fals, Tiga Rambu, manajemen atau tukang parkir di pasar hehe, lha wong saya ndak ada sangkut pautnya dengan mereka. Saya cuma penggemar biasa boss.. penggemar yang menikmati musik berkualitas dan lirik lagu yang inspiratif.. hehe..

Rekomendasi saya pribadi tentang album ini… Silahkan dibeli, lumayan bagus dan ndak begitu mengecewakan (itupun kalau punya uang, kalau belum ada uangnya, jangan nyolong.. dosa! mending pinjem kaset/cd punya temen). Album ini recomended untuk didengarkan dirumah, dimobil atau bahkan di warung-warung. Juga sangat recomended dimiliki untuk langsung disimpan tanpa dibuka plastik segelnya sebagai koleksi. Mengapa? karena desain cover album ini keren. Konsep cover yang belum pernah ada pada album-album Iwan Fals sebelumnya.

Tapi untuk sekarang album ini tidak dijual di toko kaset/cd. Album ini cuma bisa dibeli di kantor PT.Tiga Rambu yaitu di Leuwinanggung (rumah Iwan Fals), atau beli secara online melalui situs resmi Iwan Fals (iwanfals.co.id). Kenapa begitu? Karena Iwan Fals sekarang memilih jalur indie untuk distribusi album terbarunya. Iwan Fals mempunyai label sendiri yaitu Fals Record.

Musik bagus.. asik.. ajiiib, lirik oke, cover keren….. Benar-benar seimbang…. (meski kata beberapa kawan harganya ndak seimbang dengan kantong mereka :P)

Ini dia list lagu dalam album Iwan Fals KESEIMBANGAN

1. Suhu (lirik Subur Raharja)
2. Ya Allah Kami
3. Hutanku (lirik MS Kaban)
4. Pohon Untuk Kehidupan (lirik Muh. Ma’mun)
5. Tanam Siram Tanam
6. Ayolah Mulai
7. Aku Menyayangimu (lirik KH Mustofa Bisri)
8. ^O^
9. Sepak Bola
10. Kuda Coklatku
11. Jendral Tua
12. Malahayati (Lirik Endang Murdopo)

Sebagian besar lirik lagunya sudah pernah saya post di blog ini jauh sebelum album Keseimbangan rilis.

Tambahan: Mohon maaf saya tidak post liputan konser Launching Album Keseimbangan yang diselenggarakan pada 20 Februari 2010 mulai jam 19.30 WIB, meskipun saya bisa hadir disana. Toh di TV juga disiarkan meski tidak utuh :)

Sahabat semuanya, terima kasih sudah rutin mengunjungi blog ini dan mengapresiasinya. Terima kasih untuk mas Iwan, mbak Yos, mbak Titin, Cikal, mbak Kresnowati, Silla, Ferry, mas Manto, Firman dan keluarga besar Tiga Rambu lainnya. Serta tidak lupa spesial buat pemain band mas Heirrie Buchaeri, mas Edi Daromi, mas Deny Kurniawan, mas Toto Tewel… wis ah, pokoknya semuanya. Saya mau istirahat dulu, capek.. hehehe… Oke kawan-kawan, sampai ketemu lagi di post berikutnya yang entah kapan.. itupun kalau ndak males.. :P (Syafiq Baktir)

Konser Launching Album Baru Iwan Fals: ‘Keseimbangan’

Posted in IWAN FALS on 2010/03/14 by chikal setiawan

Oleh: Andri Oktavia dan Djoko Prayogi

Setelah konser bulanan berakhir, Sabtu 20-02-2010, PanggungKita kembali diramaikan dengan kehadiran para fans Iwan Fals. Kehadiran para penggemar fanatik yang lebih dari 1000 orang tersebut karena ingin menyaksikan penampilan Iwan Fals & Band.

Konser kali ini bertema Keseimbangan. Keseimbangan sendiri merupakan tema payung Konser Bulanan Iwan Fals & Band sepanjang tahun 2009. Selain itu, ‘Keseimbangan’ merupakan judul album terbaru Iwan Fals, yang sudah lebih dari 2 tahun tidak mengeluarkan album.

Untuk itu, konser ini bukan hanya merupakan konser penutup dari rangkaian Konser Bulanan Iwan Fals & Band, tapi lebih merupakan konser peluncuran album Iwan Fals ”Keseimbangan” telah resmi diedarkan.

Waktu pergelaran konser juga berbeda. Jika biasanya konser-konser bulanan digelar sore hari, konser kali ini justru digelar pada malam hari, dan disiarkan langsung oleh tvOne.

Tepat pukul 19.30, acara dimulai, dengan naiknya Iwan Fals beserta para awak band yang dihuni oleh Totok ”Edan” Tewel (lead guitar), Heirrie Buchaery (bass), Deni Kurniawan (drum), dan Edi Darome (keyboard). Tanpa basa-basi, lagu Kuda Lumping langsung dimainkan. Sontak saja penonton langsung membuat koor membawakan bait demi bait lagu tersebut sambil berjingkrak-jingkrak.

Setelah lagu Kuda Lumping selesai, Iwan baru menyapa penonton dan penonton pun langsung membalas sapaan Iwan dengan senang. Setelah itu, berturut-turut Iwan menyanyikan lagu-lagu pembuka seperti Libur Kecil Kaum Kusam, Pinggiran Kota Besar, Mata Indah Bola Pingpong, Satu Satu, Bunga Trotoar, dan Asik Nggak Asik.

Seperti biasanya, konser Iwan selalu dihadiri oleh bintang tamu. Pada konser kali ini Roy Jeconiah (Boomerang) dan Lusy Rahmawati dipilih sebagai bintang tamu. Roy Jeconiah bersama Iwan berduet membawakan lagu Pinggiran Kota Besar, dan Lusy berduet bersama Iwan membawakan lagu Satu Satu. Selain itu juga, konser ini dipandul oleh MC Shanty dan Vincent.

Penonton di rumah yang menyaksikan langsung dari tvOne tidak bisa melihat penampilan Roy membawakan lagu yang penah menjadi hits sekitar tahun 80-an, yang ia ciptakan bersama Boomerang, berjudul Kisah. Rupanya lagu tersebut juga tidak asing lagi di telinga para penggemar Iwan Fals, dan disambut dengan koor oleh penonton yang hadir.

Setelah 7 lagu pembuka selesai dibawakan, barulah saat-saat yang dinantikan penonton hadir. Setelah berganti kostum, Iwan Fals & Band kembali masuk. Iwan pun langsung membawakan lagu dari album terbarunya yang berjudul Aku Menyayangimu. Lirik lagu ini diciptakan oleh KH Mustofa Bisri.

Meski lagu ini belum beredar di pasaran, tapi hampir semua penonton yang hadir ikut menyanyikan lagu tersebut. Hal tersebut, dikarenakan di beberapa kesempatan Iwan sering membawakan lagu ini, sehingga tidak asing lagi bagi penggemar fanatik Iwan.

Setelah itu di pertunjukkan off-air, Edi Darome menampilkan keahliannya dengan solo keyboard. Setelah itu Iwan kembali tampil di panggung, membawakan lagu Jendral Tua.

Setelah lagu Jendral Tua, Heirrie Buchaery bersama Deni, berkolaborasi. Suara cabikan bass dari Herry dan suara gebukan drum Deni, saling bersahutan. Setelah itu Iwan melanjutkan dengan membawakan lagu Kuda Coklatku.

Sehabis lagu Kuda Coklatku, giliran sang maestro gitar Totok ”Edan” Tewel yang menghibur penonton. Dengan raungan gitar plus distorsinya, membuat penonton tercengang. Namun, ditengah-tengah raungan tersebut berubah menjadi suara petikan gitar yang lembut.

Rupanya, Totok membawakan melodi lagu Pak Tua yang ditenarkan oleh Elpamas. Yang membuat lucu, pada saat penonton secara bersamaan menyanyikan lagu tersebut, tiba-tiba Iwan muncul diatas panggung, dan berjalan ala kakek-kakek. Lagi-lagi penonton dibuat tertawa dengan tingkah polah Iwan Fals & Band.

Setelah itu, berturut-turut lagu Suhu (lirik oleh Suhu Subur Rahardja), Pohon Untuk Kehidupan (lirik oleh Muh. Ma’mun), dan Hutanku (lirik oleh MS Kaban), Ayolah Mulai, Ya Allah Kami, Malahayati (lirik oleh Endang Moerdopo), ^O^, Sepakbola, dan Tanam Siram Tanam dibawakan Iwan Fals & Band. Namun, penonton di rumah hanya bisa menyaksikan penampilan Iwan hanya sampai pada lagu Pohon Untuk Kehidupan saja.

Sebelum lagu Tanam Siram Tanam dilantunkan, Shanty bersama Vincent pamit undur dan mengatakan kepada penonton ini adalah lagu terakhir. Namun, setelah lagu usai, Iwan yang sudah ingin menaruh gitarnya, justru dihalangi dengan Shanty dan Vincent.

Shanty dan Vincent memberi tahu kepada Iwan kalau dalam launching album ini akan ada kejutan. Iwan sendiri terlihat bingung sambil bertanya-tanya, kejutan apa yang akan diberikan. Shanty pun memberi komando kepada para penonton untuk meneriakkan kata Jabo. Sawung Jabo hadir pada malam itu sebagai undangan. Penonton pun kompak meneriakkan “Jabo..Jabo..Jabo…”

Tidak beberapa lama, dari samping panggung masuklah sosok pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sawung Jabo. Hal itu sontak membuat Iwan Kaget. Diatas panggung Iwan terlihat berbicara dengan Jabo. Akhirnya Iwan membuka kata-kata menanyakan kepada penonton lagu apa yang ingin dibawakan.

Akhirnya sebagian penonton meneriakkan Hio, tanpa panjang lebar lagi, Iwan Fals & Band plus Sawung Jabo pun memainkan lagu Hio. Penonton tiba-tiba serempak berlompat mengikuti irama lagu, antusias mendengarkan lagu tersebut dibawakan. Sambil berjikrak-jingkrak mereka pun menyanyikan lagu Hio.

Setelah berakhir, suasana kembali memanas. Pasalnya, Iwan sepertinya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dapat tampil satu panggung kembali dengan Jabo. Tanpa dikomandoi ia pun langsung membawakan lagu Bento.

Di dua lagu terakhir ini, bukan hanya penonton saja, yang berada di depan panggung saja yang merasa panas. Pasalnya, dereten tamu undangan yang ada di bangku VIP turut panas. Apalagi pimpinan dari Falcon, HB Naveen, tidak henti-hentinya menggoyangkan kepala, saat lagu Hio dan Bento berkumandang. Apalagi Totok Tewel sangat atraktif memainkan gitarnya. Dan diakhir lagu ia langsung melempar gitarnya.

Akhirnya waktu telah menunjukkan pukul 22.45 WIB dan acara pun berakhir sudah. Meskipun sebagian penonton masih tetap meminta untuk tambah lagu, namun Iwan Fals & Band plus Jabo tetap mengakhiri konser. Sambil membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan kepada penonton yang hadir.

Ini sebenarnya adalah bersejarah bagi Iwan Fals. Karena, ini adalah konser launching album dimana Iwan Fals pertama kali meluncurkan album secara independen. Dan selain itu, album ini tidak dijual di pasar bebas, hanya melalui pemesanan di website resmi Iwan Fals (www.iwanfals.co.id) dan datang langsung ke Tiga Rambu saja.

Namun, Rosana yang memegang manajemen Iwan Fals melalui PT Tiga Rambu menyatakan, “Pada pertengahan bulan Maret 2010, Insya Allah album Iwan bisa didapatkan di dealer-dealer TVS seluruh Indonesia.”

Selain itu, Rosana atau yang akrab dipanggil Yos ini berpesan agar jangan membeli album bajakan. Karena, di dalam kaset yang asli ada sebuah kertas yang berisi informasi tentang Komunitas Tiga Rambu, dimana sebagai anggotanya akan mendapatkan fasilitas-fasilitas yang menarik.

Usai gelaran konser launching album KESEIMBANGAN, iwanfals.co.id menemui beberapa fans Iwan Fals. Umumnya mereka mengaku puas dengan gelaran konser malam itu, terlebih oleh kehadiran para bintang tamu, terutama Sawung Jabo.

Disamping itu, beberapa fans seperti Jason, fans Iwan asal Jakarta menyatakan memiliki kesan dengan lagu Ayolah Mulai, sebab menurutnya lagu tersebut terkesan memberi semangat pada masyarakat untuk menghadapi bahaya nyata, rusaknya alam.

Dia juga mengaku tidak masalah dan bahkan menyampaikan apresiasinya atas launching album yang tak satupun menyelipkan lagu bertema cinta. Baginya kendati tidak menyatakan cinta, Iwan menurutnya, sudah memaknai cinta secara universal. Dan bahkan, seluruh lagu Iwan Fals diyakininya tercipta atas dorongan perasaan cinta terhadap masyarakat. Dia juga berharap agar Iwan Fals terus bersemangat dan berkarya, agar bisa terus eksis.

Tak berbeda jauh dengan Jason, Ari Fans Iwan Fals lainnya menyatakan, apa yang dilakukan Iwan Fals malam itu sungguh memuaskan hati para fansnya, karena baik materi lagu dan pertunjukkan seluruh kru di konser, dinilainya luar biasa.

Dia yang mengaku baru saja membeli album baru Iwan, merasa terkejut, karena album tersebut paling ditunggu oleh para fans. Kesan mendalamnya, ada pada lagu Ya Allah Kami, karena baginya lagu tersebut amat mewakili kondisi masyarakat sekarang ini, yang kehilangan pegangan.

ANTARA IWAN FALS DAN KANG OZON

Posted in IWAN FALS on 2010/02/11 by chikal setiawan

Siapa yang tak tahu kang Ozon?. Penggemar Iwan Fals kebanyakan sudah tidak asing dengan nama ini. Meski tidak mengenal dekat, paling tidak mereka akrab dengan sosoknya. Lelaki asal Bandung ini hampir setiap bulan menyambangi desa Leuwinanggung – Depok untuk menyaksikan konser bulanan Iwan Fals di Panggung Kita. Sosok Ozon mudah dikenali karena hampir seluruh tubuhnya dihiasi tato gambar wajah Iwan Fals. Jika penonton lain seperti berlomba menggunakan kaos dengan gambar Iwan Fals, Ozon tinggal membuka bajunya maka nampaklah berbagai gambar wajah Iwan Fals yang ditato di tubuhnya.

Iwanfalsmania.blogspot.com sempat berbincang-bincang dengan bapak 4 puteri ini saat konser bulanan Iwan Fals pada pertengahan Nopember 2009. Ozon yang bernama asli Muhammad Sodikin ini lahir 41 tahun yang lalu. Ikhwal nama Ozon ia dapatkan pada tahun 2000 ketika diadakan silaturahmi antara Oi Bandung dengan Iwan Fals di daerah Rancaupus Bandung. Awalnya ia memakai nama Dezon alias Dede Joni yang merupakan panggilannya dari kecil. Cuma ketika Iwan Fals memanggilnya dengan sebutan “Zon”, maka sampai sekarang nama Dezon ia ganti menjadi Ozon.

Tahun 1982, ketika duduk di bangku SMP, Ozon mulai menyukai lagu – lagu Iwan Fals. Namun pertama kali bertatap muka langsung dengan Iwan Fals terjadi pada bulan April 1999 di Leuwinanggung. Memang butuh rentang waktu yang sangat panjang untuk mewujudkan impiannya itu. Momen terindah dari sekian banyak perjumpaannya dengan Iwan Fals adalah ketika pada acara Munas Oi di Kediri awal November 2009. Ia menghabiskan sepanjang malam mengobrol dengan idolanya tersebut. Iwan Fals pun mengenal dengan baik kang Ozon. Bulan Mei 2009 ketika tour TVS keliling Jawa Barat tiba di Bandung, Iwan Fals dan crew bahkan sempat bertandang ke rumah Ozon di daerah Moch.Toha Bandung. Kontan kehadiran Iwan Fals di rumahnya membuat geger para tetangganya.

Mengenai tato di tubuhnya, bermula pada tahun 2006 dari satu gambar tato di lengan kirinya tapi gagal dan akhirnya ia hapus. Lalu ketika ada temannya yang bernama Willy Cikal menyanggupi untuk mentato tubuh Ozon, maka ia merelakan tubuhnya menjadi ajang kanvas hidup. Walau awalnya mendapat tentangan dari keluarganya, tapi kini tak kurang sudah 28 gambar wajah Iwan Fals bersemayam ditubuhnya. Ia takkan berhenti mentato tubuhnya hingga genap berjumlah 61 gambar wajah Iwan. Ketika ditanya mengapa harus 61 gambar?. Ozon menjawab dengan enteng, “biar sama dengan tahun kelahirannya Iwan Fals..”.

Dari ratusan lagu Iwan Fals, Ozon yang mempunyai usaha menjual merchandise Iwan Fals ini sangat menyukai lagu Untuk Bram dari album Cikal. Sedang untuk lagu yang tidak disenanginya adalah lagu Mabuk Cinta yang terdapat di album 50:50.

Ozon yang sekarang menjabat ketua Oi Bandung Raya ini mempunyai harapan kepada Iwan Fals yaitu agar Iwan terus berkarya mewarnai Indonesia yang mulai hilang ke-Indonesia-annya.

Diantara berjuta fans Iwan Fals tentu masih banyak orang seperti Ozon yang mengekspresikan kekagumannya terhadap sang idola dengan berbagai cara. Orang-orang seperti Ozon ini membuktikan begitu dahsyat pengaruh lagu-lagu Iwan Fals dalam kehidupan mereka. Bagaimanapun keberadaan penggemar seperti ini telah memberi warna tersendiri dalam perjalanan musik Iwan Fals, dan merekalah salah satu unsur yang membuat nama Iwan Fals semakin besar. Salut ! (obrolan Ozon dengan Fendi Kurniawan, dipost oleh Syafiq Baktir untuk iwanfalsmania.blogspot.com)

DEWA DARI LEUWINANGGUNG

Posted in IWAN FALS on 2010/02/04 by chikal setiawan

LEUWINANGGUNG adalah sebuah desa yang mirip kebanyakan dusun Pulau Jawa. Di sana ada rumah, sekolah,  masjid, klinik, pohon dan bambu, madrasah ibtidaiyah, serta kantor lurah. Tetapi Leuwinanggung tak sama  dengan desa-desa lain di Pulau Jawa karena di sana berumahlah seorang dewa …. namanya Iwan Fals.

Dewa ini tinggal di sebuah rumah besar. Tanahnya 6.000 meter persegi. Bagian terbesar dipakai untuk sebuah  toko, pendopo, sebuah panggung terbuka, maupun kantor organisasi para penggemar si dewa bernama Oi.  Kediaman pribadi dewa ini dilengkapi studio musik, garasi mobil (termasuk bus), rumah tinggal, serta kebun  dengan rumput tercukur rapi.

Suatu sore September lalu, Iwan Fals menceritakan perkenalannya dengan Leuwinanggung pada saya. “Tahun  1982 saya cari tanah di sini, maksudnya untuk investasi saja,” katanya. Dia membeli tanah dari rezeki penjualan  kaset Sarjana Muda yang diluncurkan 1981 dan terjual 300 ribu buah. Kisah berikutnya, dia sekali-sekali datang  dari Jakarta bersama istrinya, mantan model Yos Rosana, menengok tanah mereka serta membawa pulang  buah-buahan dari kebun.

Leuwinanggung menarik karena warganya rukun. Kalau ada acara perkawinan, jaipongan, atau kematian, semuanya kumpul. “Bila ada kematian, pengunjung yang datang justru dibayar. Diberi uang. Mereka bahkan sampai ngutang. Dalam hati saya pikir, ‘Gagah amat.’ Saya merasa kecil sekali. Kayak jawara gitu. Ada kegagahan di sini. Kalau mereka datang kenduri, duduk, pandangan ke depan, nggak ditegur ya diam saja. Kalau ada makan ya nggak rakus. Saya kan dulu nggak tahu. Ada makanan ya saya makan,” kata Iwan.

Kalau sedang tak sibuk, Iwan ikut salawatan tiap malam Jumat. “Bahasanya campur Arab, Sunda, Jawa. Ada 20 nomor salawatan lama yang saya kumpulkan.” Salawatan untuk sebuah desa macam Leuwinanggung, yang tanahnya, kapling demi kapling dibeli orang Jakarta, dan anak-anak mudanya mulai kekurangan pekerjaan, bisa jadi kekuatan untuk desa ini. “Kekuatan secara batin, secara spiritual,” kata Iwan.

Leuwinanggung sendiri terletak di daerah Bogor. Penduduk di sana sehari-hari bicara bahasa Sunda kasar. Orang butuh sekitar satu jam naik taksi dari Jakarta ke Leuwinanggung. Daerahnya terpencil. Selewat magrib, jalanan Leuwinanggung sepi dan jarang ada kendaraan. Ketika 16 Agustus lalu saya kemalaman di Leuwinanggung, lewat tengah malam saya jalan kaki empat kilometer untuk mendapatkan tukang ojek.

Ketika itu sekitar 600 penggemar Fals dan penduduk Leuwinanggung merayakan Agustusan bersama. Di sanalah saya menemukan banyak iwan fals. Mereka bergaya ala Fals dengan rambut gondrong, jins belel, memberi salam dan berteriak “Oi.” Suaranya dibuat dalam, agak serak. Di panggung, lagu-lagu Fals dibawakan bergantian, dari yang mirip aransemen aslinya, sehingga mendapat tepuk tangan, sampai yang ditertawakan penonton—dapat tepuk tangan juga.

Yang ditertawakan termasuk seorang pemuda 30-an tahun. Topinya merah, rambutnya gondrong sepundak, kulitnya gelap, giginya putih bersih, dan namanya Fajar Wijaya. Fajar seorang pengamen kelahiran Yogyakarta tapi lebih sering mengamen di Cilegon. “Saya terharu, menjerit, merasa ada panggilan hati. Dapat bimbingan dari lagunya itu,” katanya, mengacu lagu Di Mata Air Tak Ada Air Mata.

“Saya merasa kok ada hikmah tersendiri buat hidup saya. Saya merantau. (Lagu) ini nasihat dalam perjalanan hidup saya. Saya merenungkan jati diri saya,” kata Fajar, tersenyum sembari menarik-narik baju luriknya yang lusuh.

Iwan Fals memang bukan dewa dalam pengertian mitologi Yunani. Mungkin kedewaan Fals lebih dekat dengan fenomena musik 1960-an ketika dinding-dinding kota London dicorat-coret dengan kalimat, “Clapton is god (Clapton seorang dewa).” Mereka yang anonim itu memuja Eric Clapton, gitaris blues Yardbirds yang muncul di Inggris pada 1963. Majalah Rolling Stone menyebut Clapton menonjol karena konsisten menjaga standar mutu karyanya.

Orang yang malam Agustusan itu tak kalah sibuknya dengan Fajar adalah Slamet Setyabudi, koordinator keamanan Oi, yang sehari-hari bekerja sebagai tentara dengan pangkat sersan dua dari Pasukan Pengawal Presiden. Slamet badannya tegap, orangnya ramah. Dia anggota Grup C, yang bertugas mengawal tamu-tamu negara. Dia pernah mengawal Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dan Presiden Timor Lorosa’e Xanana Gusmao. “Habis dinas saya ke sini,” katanya.

Slamet sesekali membawa rekan-rekannya ke Leuwinanggung untuk bantu keamanan. “Tentara yang penggemar Mas Iwan ini sebenarnya banyak,” katanya. Saya sempat berpikir nakal. Negara Indonesia membayari ratusan tentara untuk mengawal presiden dan wakil presiden. Mereka menerima gaji, sering pergi ke luar negeri, menerima pelatihan, mendapat seragam keren. Tentara yang sama mengawal Iwan Fals dengan gratis!

Malam itu lebih dari selusin pengurus Oi bercerita tentang Fals pada saya. Mereka cerita para penggemar yang terperangah ketika pertama kali menemui Fals. Banyak yang “gila” dengan memeluk, mencium tangan, dan menangisi Fals. Ada yang datang dari Flores, Riau, Jambi, dan sebagainya.

Malam itu saya berharap melihat ritual tersebut. Ratusan penggemar berharap sang dewa muncul. Namun Iwan tetap tinggal di rumah. Dia “meriang, kecapekan” dan dicurigai kena tipus. Dewa ini ternyata manusia biasa yang bisa sakit.

MALAM itu juga ada Muhamad Ma’mun. Seorang lelaki yang menarik. Penampilannya kalem, rambutnya panjang, dan terkadang dipanggil “Romo.” Ma’mun dulu pernah kerja di perusahaan properti tapi sekarang wiraswasta, memborong pekerjaan bangunan rumah. Ma’mun termasuk kenalan dekat Iwan Fals. Dia mengenal keluarga Fals sejak 1985 ketika mulai mondok di sebuah rumah di Jalan Barkah, daerah Manggarai di pusat Jakarta. Rumah itu milik Lies Suudiyah, seorang pekerja sosial dan ibunda Iwan.

Fals waktu itu sudah berkeluarga dan tinggal di Condet. “Panggilan rumahnya Tanto,” kata Ma’mun. Nama lengkapnya Virgiawan Listanto. “Galang masih kecil, belum sekolah, mungkin empat atau lima tahun. Cikal baru bisa jalan,” kata Ma’mun, mengacu pada anak Iwan: Galang Rambu Anarki dan Anisa Cikal Rambu Basae.

Entah kenapa keduanya cocok. Ma’mun usianya tiga tahun lebih tua dari Iwan. Ma’mun kelahiran Solo 1958 sedang Iwan Jakarta 1961. Mungkin mereka punya karakter dasar yang sama. Keduanya orang yang tak ragu mempertanyakan apapun. Saya terkesan dengan kerendahan hati mereka. Ketika mondok, Ma’mun bekerja sebagai pegawai PT Pembangunan Jaya sementara Iwan sudah mulai dikenal sebagai penyanyi. Persahabatan mereka berlanjut hingga sekarang. Ma’mun termasuk orang yang diminta Iwan jadi pengurus Yayasan Orang Indonesia—yayasan sosial yang dibentuk dan diketuai Iwan sendiri.

Pengalaman berkesan Ma’mun terjadi ketika mereka lagi membaca harian sore Sinar Harapan yang memuat foto anggota-anggota parlemen ketiduran saat sidang. “Wah, ini perlu disentil To,” kata Ma’mun.

Iwan menyanding gitar dan Ma’mun membawa pena. Mereka bekerja mencari lirik dan musik. Semalaman mereka bekerja. Hasilnya, lagu Surat Untuk Wakil Rakyat yang dimasukkan dalam album Wakil Rakyat (1987). Ma’mun bangga dengan karya bersama ini apalagi ketika mahasiswa menjadikan lagu itu “lagu wajib” demonstrasi. Hingga kini Ma’mun rutin mendapatkan kiriman uang royalti dari Musica—produser dan distributor sebagian besar album Fals.

Ma’mun menilai temannya itu sebagai salah satu penyanyi kritik sosial terkemuka di Indonesia. Iwan menggunakan bahasa Indonesia, untuk bercerita tentang anak maling yang jadi maling, sunatan massal, pelacur, korupsi, nasib guru, dan sebagainya. Majalah Time Mei lalu menyebutnya “pahlawan Asia”—sejajar dengan Jackie Chan, Xanana Gusmao, dan Aung San Suu Kyi.

Kalau artis lain menjaga penampilan mereka lewat make up menyala, potongan rambut aneh, kostum unik, atau operasi plastik untuk memperindah diri, Iwan Fals tampil biasa. Beberapa kali saya menyaksikan Iwan memakai kaos Shanghai, kaos katun tipis dan lembut, yang harganya Rp 10 ribu selembar, saat konser. Orang toh tetap histeris melihatnya. Iwan mungkin punya kharisma.

Amir Husin Daulay, seorang aktivis mahasiswa 1980-an dari Yayasan Pijar, menyebut Fals “nabi buat para pengikutnya.” Pada 1983, Daulay mengundang Fals mengamen ke kampus Akademi Ilmu Statistik. Iwan datang bersama Yos, membawa gitar, menyanyikan empat lagu, dan mendapat honor Rp 400 ribu. Pengalaman mengamen, yang dilakukannya bertahun-tahun, melatih Iwan menghadapi massa, dari pentas ke pentas, sehingga tahu bagaimana mengatur dirinya sendiri, bagaimana mengatur suara, mana yang disukai, mana yang tak disukai.

Persahabatan Ma’mun dan Iwan meningkat seiring karier mereka berdua. Antara Sarjana Muda hingga album Antara Aku, Kau, dan Bekas Pacarmu pada 1989, Iwan menghasilkan 13 album bersama Musica. Artinya, hampir satu album tiap enam bulan. Ini luar biasa.

Pada 1989 Iwan menerbitkan album Mata Dewa bersama Arena Indonesia Production (Airo). Mereka berniat mengadakan tur 100 kota. Konser perdana 26 Februari 1989 di Jakarta berjalan baik tapi buntutnya sebelas kendaraan bermotor dirusak. Mengapa kerusuhan terjadi? Sampai hari ini belum ada penjelasan rinci. Apa polisi kurang profesional? Atau Arena Indonesia Production kurang siap? Atau Fals mengeluarkan kalimat-kalimat yang memprovokasi massa?

Tapi tur jalan terus ke Pulau Sumatra. Sore hari 9 Maret 1989, Ma’mun dan Iwan Fals berada di sebuah hotel di Palembang. Keesokannya, Iwan bakal tampil di konser Mata Dewa. Sehabis makan malam, Ma’mun dan Iwan masuk kamar. Di depan cermin, mereka bicara soal persiapan konser.

“Gayane ngene yo? (Gayanya gini ya?)” tanya Iwan, sambil memegang gitar akustik.

“Ojo ndingkluk. Rodo ndegek (Jangan menunduk. Agak membusung),” kata Ma’mun. Iwan pun mengubah gayanya memegang gitar.

“Nek penyanyi rock ngene lho! (Kalau penyanyi rock begini lho!)” kata Ma’mun, mengambil gitar dan memberi contoh.

Mereka diskusi sebelum tidur. Keesokan harinya, Sofyan Ali, promotor Arena Indonesia Production, memberi kabar buruk. Polisi Palembang memberitahu ada radiogram dari markas polisi Jakarta. Mereka melarang Fals melanjutkan tur guna menghindari kekacauan. Padahal alat-alat sudah siap, panggung sudah siap. Rencana pertunjukan Palembang, Padang, Jambi, Medan, dan Banda Aceh dilarang. Iwan menangis. “Buat Iwan panggung adalah kehidupannya. Dia jadi hidup kalau di panggung,” kata Ma’mun.

Ironisnya, polisi melarang ketika belum ada penelitian tuntas mengapa keributan Jakarta terjadi. Di mana-mana kumpulan massa punya potensi ribut, dari massa sepak bola hingga musik. Ini tak berarti orang dilarang main bola atau nonton musik bukan? Bagaimana kebudayaan manusia akan maju kalau khawatir ribut? Bukankah polisi dibayar, bahkan negara diadakan, agar kebudayaan bisa maju, agar demokrasi bisa berkembang?

Lebih susah lagi. Di Indonesia, banyak orang malas berpikir, banyak wartawan malas melakukan reportase, dan lebih banyak lagi orang yang suka mengembangkan teori “pihak ketiga.” Di mana-mana ada teori ini. Buruh dilarang demonstrasi karena ditunggangi “pihak ketiga.” Mahasiswa bikin rusuh karena “pihak ketiga.” Saya mempelajari laporan berbagai suratkabar Indonesia dan melihat ada tiga teori “pihak ketiga” di balik pembredelan Mata Dewa.

“Pihak ketiga” pertama adalah “mafia Glodok” yang meminjam tangan polisi untuk mematahkan gaya distribusi kaset ala Sofyan Ali. “Mafia Glodok” adalah sebutan untuk industri rekaman yang berpusat di Glodok, Jakarta. Mereka kebanyakan dikelola pengusaha Indonesia etnik Tionghoa dan dianggap kurang menghargai seni, kurang menghargai musisi, tapi menguasai distribusi kaset. Spekulasi ini datang karena Iwan Fals pindah dari Musica ke tempat Sofyan Ali.

“Pihak ketiga” kedua adalah “industri rokok tertentu” yang meminjam tangan polisi guna menjegal pemasaran rokok Djarum—sponsor utama Mata Dewa. “Pihak ketiga” ketiga adalah pejabat-pejabat “tertentu” yang tak senang dengan kritik sosial Fals.

Tak ada bukti kuat untuk mendukung ketiga teori itu. Tapi cukup banyak alasan mengatakan ketiganya spekulatif. Iwan tak sepenuhnya pindah dari Musica karena ia juga mengerjakan lagu Kemesraan bersama artis Musica. “Saya merasa bersyukur punya partner Musica,” kata Iwan pada saya. Bisnis musik juga kecil sekali dibanding bisnis rokok. Raksasa industri rokok Djarum (Kudus), Sampoerna (Surabaya), Gudang Garam (Kediri), dan BAT (Jakarta) memang bersaing tapi juga bergabung dalam suatu kartel. Promosi lewat Fals memang penting tapi hanya sebagian kecil dari promosi Djarum. Keuntungan Djarum tahun lalu saja sebesar Rp 2,08 triliun atau hampir dua kali lipat omzet semua industri rekaman Indonesia. Siapa pejabat yang tak suka Fals? Setiawan Djody, rekanan bisnis Sofyan Ali dan salah satu pemegang saham PT Airo Swadaya Stupa, juga dekat dengan kalangan pejabat. Mengapa tak ada yang bicara dengan Djody?

Di Palembang tak ada verifikasi dan tawar-menawar. Kekuatan negara Orde Baru sangat kuat. Jangankan Iwan Fals. Protes dari hampir semua organisasi nirlaba di Indonesia, terhadap penggenangan desa-desa calon waduk Kedung Ombo bulan sebelumnya, juga diabaikan rezim Soeharto. Bank Dunia, yang mendanai Kedung Ombo, tak berbuat banyak melihat puluhan ribu petani mengungsi menyelamatkan harta dan nyawa. Iwan melawan. Dia jalan sendirian ke Padang, Jambi, dan lainnya, untuk memberitahu publik dia tak bisa memenuhi janji karena dilarang polisi. Ma’mun pulang ke Jakarta membawa pulang peralatan dengan delapan truk. “Pakaian saya bawa, kopernya saya bawa pulang. Dia cuma bawa pakaian satu.”

Di Jakarta, pelarangan itu juga memprihatinkan musisi lain. Sawung Jabo, musikus dari komunitas Sirkus Barock, menelepon Iwan untuk menyatakan simpati. Iwan pernah ikut pementasan Sirkus Barock pada 1986.

“Saya lupa persisnya. Suatu malam Iwan datang ke rumah saya di Pasar Minggu, yang notabene rumah tempat kami sering ngumpul. Iwan menawarkan untuk membuat album,” kata Jabo.

“Pada awalnya Iwan, kalau tidak salah mengusulkan nama Septiktank, tapi saya dan beberapa kawan menolaknya. Lalu kita mengusulkan nama yang kami pilih lewat lotere. Setelah diundi terpilihlah nama Swami, yang kebetulan nama itu usulan saya.” Ini plesetan dari kata “suami” karena mereka semua sudah beristeri.

Rata-rata awak Swami pernah terlibat Sirkus Barock. Baik pemain flute Naniel, pemain gitar bass Nanoe, pemain piano Tatas, apalagi drummer Inisisri yang banyak memberi warna musik Sirkus Barock. Hanya Jockie Suryoprayogo dan Totok Tewel agak baru di Sirkus Barock.

Mereka pun bekerja. Lagu paling spektakular berjudul Bento. Iwan sempat mengajak Ma’mun pergi ke studio tempat mixing dan minta komentar tentang Bento. Ma’mun berkomentar, “Wah, ini kayak virus. Ini cepet nyebarnya.”

“Iki piye Mas? (Ini bagaimana Mas?)” tanya Iwan.

“Apik. Virus kabeh (Bagus. Virus semua).”

Iwan dan kawan-kawan senang. Mereka makan nasi bungkus sembari mengobrol hingga pagi.

Bento diciptakan Iwan dan Naniel. Liriknya tentang seorang pengusaha serakah dan korup. Bisnisnya “menjagal apa saja” asal dia senang dan persetan orang susah. “Bento” sendiri artinya “goblok” dalam dialek Jawa Timuran. Ketika mengarang Bento, Iwan sempat memperhatikan seorang pengusaha, yang kaya dan kejam, punya rumah real estate. Karakter Bento dibuatnya dari pengusaha ini. “Tapi saya nggak perlu sebut (namanya). Saya nggak kenal pribadi, kenal jarak jauh,” katanya pada saya.

namaku Bento, rumah real estate
mobilku banyak, harta melimpah
orang memanggilku bos eksekutif
tokoh papan atas, atas segalanya, asyik

Sawung Jabo membantu aransemen lagu tersebut, “Saya memasukkan unsur tema lead accoustic,” katanya. Ketika beredar ke pasar, Swami memang ibarat virus. Lagu Bongkar juga jadi salah satu hit. Mula-mula media sempat bertanya-tanya apakah TVRI bersedia menyiarkan Swami. TVRI waktu itu satu-satunya stasiun televisi di Indonesia. TVRI sepenuhnya dikuasai rezim Soeharto. Ternyata tanpa ada keistimewaan, Bongkar muncul pada 13 Maret 1990. Ini mengejutkan banyak wartawan musik. Sekali lagi teori “pihak ketiga” tidak laku.

PADA Maret 1990 rombongan Swami datang ke Salatiga: Sawung Jabo, Iwan Fals, Naniel, Nanoe, Inisisri, penyair W.S. Rendra, pengusaha Setiawan Djody, dan sebagainya. Salatiga sebuah kota kecil di tengah Pulau Jawa yang pada 1980-an secara politik cukup dinamis.

Media banyak memperhatikan kedatangan mereka. Bagaimana tidak? Djody miliuner kapal tanker yang dekat dengan keluarga Soeharto. Rendra seorang penyair, mungkin yang terbaik di Indonesia, yang beberapa kali masuk tahanan Orde Baru. Jabo pemusik yang sering bikin eksperimen bermutu. Iwan sendiri dianggap makin memberontak sejak Palembang. Sebuah kolaborasi unik.

Orang yang berperan mendatangkan Swami ke Salatiga adalah Endi Agus Riyono A.S. atau biasa disingkat Endi Aras—seorang mantan aktivis mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga dan wartawan majalah Film di Jakarta. Endi orangnya ramah, rambut bergelombang sebahu, murah senyum, pandai bergaul, suka musik, dan suka ikut kepanduan. Juli lalu ketika saya mewawancarai Endi, penampilannya tak banyak berubah, walau perutnya agak buncit, sudah berkeluarga, serta memiliki perusahaan sendiri Matamata Communications yang bergerak di bidang public relation dan event organizer.

Endi bertemu Iwan pada 1985 ketika ia diutus rekan-rekannya menghubungi Iwan agar menyanyi dan ceramah di kampus Satya Wacana. “Aku disuruh cari ke Jakarta,” kata Endi. Mulanya Endi cari di Musica tapi tak ada dan ketemunya di Condet. Iwan keberatan datang ke Salatiga, “Aku nggak bisa ngomong,” kata Iwan.

Iwan merekomendasikan penyanyi balada lain. Endi penasaran. Endi pengagum Fals dan punya koleksi lengkap album Fals. Endi pun menulis surat kepada Iwan dan dibalas pakai tulisan tangan. “Apa yang diomongin sama yang dipikir, lebih cepat yang dipikirin,” kata Endi, menerangkan keengganan Iwan tampil pada fora akademik.

Kejadian itu membuka perkawanan Endi dan Iwan. Pada 1989 Endi bekerja di majalah Film. Sebagai wartawan ia menulis soal Iwan. Ini praktik biasa di kalangan wartawan musik Indonesia—menjalin pertemanan dengan sumber-sumber mereka. Endi dan Iwan sering telepon-teleponan. “Ndi kamu ke sini,” ujar Iwan. Bila Endi dolan ke tempat Iwan, mereka bisa mengobrol dari siang sampai malam. Mereka juga sering naik mobil, mengobrol, mengelilingi jalan tol. “Iwan itu senang kalau ada teman ngobrol,” kata Endi.

Endi membawakan buku-buku untuk Iwan. Misalnya Catatan Harian Seorang Demonstran tentang Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa 1960-an yang ikut mengatur demonstrasi anti-Presiden Soekarno, yang meninggal keracunan gas di Gunung Semeru pada 1969.

Endi juga memberikan selebaran-selebaran gelap. Iwan tertarik karena ia simpati pada orang tertindas. Pada 1980-an ketidakpuasan warga Indonesia terhadap rezim Soeharto makin tinggi. Anak-anak Soeharto beranjak dewasa dan terlibat dalam bisnis, dari monopoli cengkeh hingga jalan tol. Militer juga makin kuat mengontrol kehidupan warga walau di sana-sini ada gesekan internal antara militer hijau (muslim) dan militer merah putih (nasionalis).

Di Salatiga Endi sering menginap di kantor Yayasan Geni—sebuah organisasi nirlaba yang banyak terlibat gerakan protes. Satya Wacana 1980-an juga kampus yang memberikan tempat untuk pemikiran kritis, antara lain karena pengaruh dosen-dosen liberal macam Arief Budiman, seorang doktor lulusan Universitas Harvard, kakak kandung Soe Hok Gie, yang getol bicara Marxisme, negara, masyarakat, demokrasi, dan acapkali diwawancarai media. “Iwan ngefans sama Arief Budiman,” kata Endi.

Budiman dekat dengan mahasiswa, antara lain dengan Stanley, panggilan seorang aktivis mahasiwa yang nama lengkapnya Yosep Adi Prasetyo. Stanley kawan dekat Endi. Budiman sering mengajak Stanley, Endi, dan mahasiswa lain ikut diskusi. Dari Stanley pula Endi menerima selebaran gelap dan buku. Endi menyampaikannya pada Fals.

Ketika Swami mengeluarkan album, Endi menawari Swami pergi ke Salatiga. Pucuk dicinta ulam tiba. “Biaya dari Djody semua, panitia hanya ngurus tempat. Kita agendakan ngobrol-ngobrol di rumah Arief Budiman,” kata Endi.

Mereka datang lebih awal dan mengadakan dua diskusi. Diskusi agak besaran diadakan di sebuah guest house milik Satya Wacana, sebuah rumah kolonial peninggalan Belanda, yang luas dan megah. Rumah itu dipakai Djody dan peragawati Regina Sandi Harun, istri muda Djody. Diskusi agak kecil diadakan di rumah Budiman sembari makan malam. Rumah ini terletak dekat sungai, dibangun dengan konsep terbuka, menggunakan bambu, dan dijaga beberapa ekor angsa. Budiman mengundang cendekiawan setempat, antara lain pendeta Broto Semedi, Stanley, dan beberapa mahasiswa lain untuk diskusi dengan rombongan Jakarta. Saya kebetulan ikut diundang.

Kami bicara santai, bersila, duduk dengan tikar. Arief Budiman memancing Iwan Fals untuk masuk ke dunia aktivis. “Seniman harus tahu politik,” katanya. Budiman cerita soal Victor Jara dari Chile, pendukung Presiden Salvador Allende, yang terbunuh ketika Jenderal Augusto Pinochet mengudeta pemerintahan sosialis Allende pada 1973. Budiman mengerti Chile dengan baik karena tesisnya di Universitas Harvard tentang kegagalan Allende memakai sosialisme. Victor Jara seorang pemusik popular mirip Fals. Lagu-lagu Jara penuh kritik sosial. Jara juga main gitar akustik. Jara mati bersama dengan Allende.

Saya punya kesan Iwan enggan atau malu menanggapi Budiman. Iwan lebih banyak diam. W.S. Rendra, teman lama Budiman, lebih banyak bicara dengan gayanya yang teatrikal. Rendra khusus memperkenalkan kami kepada Djody yang disebutnya sebagai seorang pengusaha-cum-seniman. Rendra mendominasi pembicaraan malam itu dengan sekali-sekali ditanggapi Djody, dan Sawung Jabo. Leila Ch. Budiman, istri Arief, jatuh hati pada Iwan yang disebutnya “anak manis.”

Salah satu isu sampingan yang mereka diskusikan adalah kejengkelan Rendra dan kawan-kawan terhadap industri rokok. Mereka jengkel pada industri ini—yang sering jadi sponsor utama konser-konser musik—karena seenaknya menempelkan pesan sponsor di panggung. Logo rokok dipasang di pusat panggung. Mereka memaki-maki industri rokok karena mengganggu estetika. Mereka mengatakan sulit untuk tak menerima sponsor rokok karena kontribusi mereka besar tapi jangan begitu caranya.

Ironisnya, mereka kurang tertarik mendiskusikan dampak rokok pada anak-anak muda penggemar mereka. Mungkin karena mereka sendiri perokok berat. Iwan juga perokok. Suratkabar-suratkabar setempat memberitakan protes ini. Diam-diam beberapa mahasiswa melihat para tamu Jakarta ini, bukan saja mengisap rokok, tapi juga ganja.

Saya tak mau menghakimi. Beberapa teman saya juga menggunakan ganja dan biasa-biasa saja. Saya kira isu ganja bukan soal benar atau salah. Ganja mirip dengan rokok. Ia tak mematikan. Ganja berbeda dengan obat-obatan kimiawi macam narkotik, esctasy, atau putauw yang bisa berakibat fatal kalau kelebihan.

Iwan mengakui memakai ganja sejak Palembang. “Habis gimana? Murah, bisa beli di mana-mana, enak?” Jabo tak mau berkomentar soal ganja. Dalam lingkungan Swami, mengisap ganja mendapat semacam legitimasi karena dianggap biasa. Djody dan Rendra juga saya lihat mencoba daun ganja yang dilinting kecil.

“Tadinya mau kayak (penyanyi reggae) Bob Marley, punya kebun ganja sendiri. Nyanyi, ganja, nyanyi, ganja. Tapi kan dilarang hukum, (dilarang) agama. Dalam hidup ini, orang yang nggak mabuk lebih banyak dari yang mabuk,” kata Iwan.

Kresnowati, seorang mahasiswa Satya Wacana dan kenalan Endi, ikut jadi panitia. Wati tak melihat ganja tapi terkejut menyaksikan awak Swami, termasuk Iwan, menggoda dan menjahili mahasiswi. “Ya … kok gini?” pikirnya.

Wati menghibur diri dengan berpendapat Iwan laki-laki biasa. “Manusia biasa yang punya talenta luar biasa.”

Menurut kawan-kawannya, periode ini cukup liar untuk Iwan Fals. Yos Rosana memutuskan pakai jilbab. “Dia bilang panggilan sebagai seorang muslim. Dia ingin memberikan contoh pada Iwan dan anak-anak untuk lebih ingat agama,” kata Fidiana, istri pemain kibor Iwang Noorsaid, pasangan yang berteman dengan keluarga Iwan. Yos juga agak khawatir pada pengaruh W.S. Rendra, orang yang dianggap guru oleh Iwan, tapi punya reputasi agak longgar dalam urusan perempuan. Rendra menikah tiga kali. Djody juga baru menikahi Sandi Harun. “Iwan kan good looking!” kata Wati.

Malam yang dinanti-nantikan pun datang. Swami main di Lapangan Pancasila Salatiga. Malam itu saya ikut menonton dan ikut bernyanyi, “Bento, bento, bento.” Saya merasakan adanya semangat perlawanan di sana dan bersyukur Indonesia punya musisi macam mereka. Endi mungkin warga Salatiga yang paling bahagia malam itu.

SAMBUTAN hangat membuat Swami plus Setiawan Djody tertarik maju lagi. Mereka mendirikan kelompok baru dengan nama Kantata Takwa. Perbedaan personalia Swami dan Kantata Takwa terletak pada W.S. Rendra dan Djody.

Djody jadi bos sekaligus pemain. Rendra memakai syair-syairnya, termasuk puisi “Kesaksian” yang terkenal itu, untuk dilagukan Kantata Takwa. “Rendra tidak sekadar membuat lirik, tapi lebih dari itu. Kadang dia sebagai alat kontrol pada proses kreatif kami. Rendra pulalah yang memberikan judul ‘Kantata Takwa.’ Rendra ikut memberi warna dan bentuk yang jelas pada Kantata Takwa. Terutama pada saat pementasannya,” kata Sawung Jabo.

Djody mengeluarkan uang tapi agak tersinggung kalau dianggap keberadaannya semata-mata karena duit. Pada 1990, Djody pernah mempersilakan saya datang ke rumahnya di daerah Kebagusan, Jakarta Timur, melihat latihan Kantata Takwa. Djody cerita masa lalunya di Solo ketika jadi gitaris sebuah kelompok musik rock. Orangnya flamboyan, rambutnya tersisir rapi, kulitnya bersih, pakaiannya bagus. Rumahnya besar sekali. Besar sekali. Ruang keluarga, yang menghadap kolam renang, diubah jadi tempat latihan band. Di sana ada lukisan Djody besar sekali. Saya menduga karya maestro Basuki Abdullah.

Djody cerita bisnisnya dengan Sigit Harjojudanto, putra sulung Soeharto, maupun Eka Widjaja dari kelompok Sinar Mas. Dia juga cerita pergaulannya dengan Jenderal Benny Moerdani, mungkin orang terkuat kedua di Indonesia sesudah Presiden Soeharto waktu itu. Moerdani dinilainya pintar dan tahu seni. Tak ada rasa takut dalam cerita Djody. Dia cerita isu yang agak pribadi tentang Moerdani. Bisnis adalah bisnis. Seni adalah seni. Djody mencintai keduanya.

Namun tak semua orang suka dengan kolaborasi ini. Beberapa penggemar Fals dan wartawan musik menilai periode ini keiwanfalsan Iwan menurun. Ada yang menilai Iwan lebih vulgar. Teori “pihak ketiga” lagi-lagi dipakai. Ada yang menyalahkan Sawung Jabo. Dulu lirik Iwan lebih puitis. “Setelah gabung dengan Jabo lebih keras, Jabo kan suka main hantam?” kata fotografer Idon Haryana, menirukan analisis wartawan tabloid Detak A.S. Laksana. Banyak juga yang curiga pada W.S. Rendra. Lebih banyak lagi yang curiga pada Djody.

Muhamad Ma’mun mengatakan, “Secara eksplisit saya sampaikan, ‘Saya nggak suka sama Mas Djody.’ Saya sampaikan pada Iwan. Sampai beberapa tahun, saya masih ngomong nggak suka. Saya nggak pernah sekali pun ketemu Djody. Diajak ketemu Djody tapi nggak mau.”

Menurut Sawung Jabo, kalau Djody diragukan integritasnya, Iwan pun tak mau membela atau menjelaskan, karena dia sendiri “tidak tahu.” “Intinya kami bersama telah berbuat sesuatu, silahkan masyarakat menilainya sendiri. Apakah yang kita kerjakan bersama itu ada gunanya atau tidak?”

Ma’mun menganggap musik Kantata Takwa, yang memakai koor, synthesizer, dan kecanggihan lain, tak cocok untuk Iwan. “Ini bukan kemajuan. Yang dikenal orang di gang-gang, di pasar-pasar, ya lagu-lagu yang dulu. Karya besar nggak harus yang susah dibawakannya.”

Ma’mun mengacu pada lagu-lagu Koes Plus dan The Beatles. Dia menyebut lagu Imagine karya John Lennon. Aransemennya sederhana tapi nilainya tinggi. Ma’mun berpendapat karya-karya abadi aransemennya sederhana dan mudah dimainkan orang.

Rekaman album Kantata Takwa jalan lancar. Menurut Jabo, Rendra terlibat mulai dari gagasan awal. “Saya baru terlibat masuk di pertengahan proses pembuatan materi lagu, sebelum dimulainya proses rekaman di Gin Studio.” Lagu andalan mereka berjudul Kantata Takwa yang dibuka dengan dzikir. Albumnya diedarkan awal 1990. Sampulnya bergambar Djody, Rendra, Iwan, Jabo, dan Jockie Suryoprayogo. Ada satu kalimat berbunyi, “Setiawan Djody mempersembahkan Kantata Takwa.” Ini menimbulkan kesan album ini “hanya” persembahan Djody—bukan Rendra, bukan Iwan, bukan Jabo, bukan Suryoprayogo. Saya kira pilihan ini kurang bijak.

Pertunjukan Kantata Takwa di stadiun Senayan pada 23 Juni 1990 termasuk salah satu konser musik terbesar yang pernah diadakan di Jakarta. Media memberi perkiraan yang berbeda-beda. Ada yang memperkirakan penontonnya 100 ribu orang tapi ada juga yang 150 ribu. Sulit untuk tahu mana yang lebih akurat karena metode perhitungannya tak jelas. Kapasitas stadiun Senayan sendiri sekitar 90 ribu.

Tapi berapa pun jumlahnya, penontonnya memang banyak sekali. Mereka memakai lampu laser, bom asap, sound system raksasa, panggung spektakular. Atmakusumah Astraatmadja, mantan redaktur pelaksana harian Indonesia Raya dan kini ketua Dewan Pers, termasuk salah satu penonton. Putra sulungnya seorang pemanjat tebing, yang ikut dalam tim yang bertugas menyelamatkan pemain Kantata Takwa bila terjadi kerusuhan. Mereka memasang tali-temali dan bisa meluncur ke tengah panggung bila ada keributan.

Astraatmadja gelisah melihat massa sebanyak itu. Lelaki tua, yang mendampingi empat remaja ini, masuk ke Senayan dengan bantuan polisi. “Itu sebuah perlawanan kultural, bukan saja oleh Iwan dan kawan-kawan, tapi juga para penonton,” kata Astraatmadja. Dia menilai perlu keberanian luar biasa untuk menyanyikan Bento.

Setiawan Djody, si pengusaha kapal tanker, tampil main gitar listrik, seraya memekik-mekik. “Saya heran kok berani-beraninya Setiawan Djody itu,” kata Astraatmadja.

Endi Aras mengatakan Djody membiayai semuanya Rp 1 miliar lebih. Ma’mun menanggapinya dengan lebih hati-hati. Iwan dianggap bergaul dengan orang-orang yang terlalu liberal untuk ukuran keluarganya. Selesai Kantata Takwa, Iwan melanjutkan Swami II yang beredar 1991. Album ini kurang sukses. Sambutan jauh lebih kecil dari Swami. “Saya sudah bilang pada Iwan, ‘Jangan kamu ulangi lagi,’” kata Ma’mun.

Endi Aras mulai masuk lingkaran kecil Iwan Fals pada 1994 ketika ia diminta jadi manajer Iwan. Tanggung jawab Endi serabutan dan dasarnya pertemanan. Kalau ada permintaan konser, Endi yang berhubungan dengan panitia, mengurus pembayaran, menyewa alat, dan sebagainya. Honor Iwan sekali pertunjukan Rp 6 juta. Endi tak menerima bayaran rutin. Kalau ada pekerjaan dia diberi “uang transport.”

Endi juga jadi manajer produksi album Hijau. Di sini Iwan memakai dua pemain kibor: Iwang Noorsaid dan Bagoes A.A. Mereka banyak diskusi agar album ini secara artistik bagus. Lagu-lagu tak diberi judul. Hanya Lagu 1, Lagu 2, Lagu 3, Lagu 4. Endi dan pemusik lain kurang setuju tapi semuanya kalah argumentasi dengan Iwan. “Biar agak lain saja,” kata Iwan.

Endi tambah stres karena produser Handoko dari Harpa Record dan Adi Nugroho dari Prosound bersaing membeli master album Hijau. Mereka tawar-menawar. Endi lapor ke Iwan soal tawar-menawar ini. Iwan malah tersinggung albumnya ditawar-tawar. “Wah Ndi, masternya dibakar saja,” kata Iwan. Gantian Endi yang jengkel karena merasa kurang dihargai. Endi dua hari sekali menemui Iwan, yang sudah pindah ke Cipanas, dua jam naik mobil dari Jakarta. Mereka akhirnya menerima harga Prosound Rp 365 juta termasuk sampul dan video clip. Endi mendapat Rp 10 juta dari anggaran Rp 65 juta untuk biaya produksi.

Sampul kaset dibikin disainer Dick Doang dominan hijau dengan menggunakan foto beberapa anak kecil bermain lompat-lompatan. Iwan tak mau namanya ditonjolkan. Dia tak mau sampul ada fotonya. Menurut Endi, Iwan berpendapat status mereka sama, delapan orang pemusik. Iwan mau nama Iwang Noorsaid, Bagoes A.A., Cok Rampal, Jalu, Ari Ayunir, Heiri Buchaeri, Jerry Soedianto, dan Iwan Fals dicetak semuanya pada sampul. Dick Doang, juga seorang penggemar Iwan, setuju usul itu. Konsekuensinya, nama-nama musisi dicetak dengan font kecil. Endi kurang setuju dan khawatir kasetnya kurang laku.

Saya tanya pada Endi, kalau Iwan mau setara, bagaimana pembagian honornya? Endi tersenyum dan bilang Iwan “curang” karena honor musisi Rp 300 juta dibagi dua: 40 persen Iwan dan 60 persen tujuh musisi sisanya. Artinya, Iwan dapat Rp 120 juta sedang lainnya rata-rata dapat Rp 25 juta.

Selama mengerjakan Hijau, Iwan berhenti mengganja, berhenti merokok, dan mulai salat. Hari-hari di Cipanas dipakai untuk “rehabilitasi.” Iwan tahu membuatnya tak bisa “panjang nyanyiannya.” Tubuhnya bentol-bentol, emosinya labil. Endi mengatakan ini periode “komunitas bersih” karena beberapa pemain, termasuk Noorsaid dan Heiri Buchaeri, rajin salat dan hidupnya sederhana. Kresnowati mengatakan ada juga musisi Hijau yang “pemakai berat ganja.”

Perubahan Iwan juga mengubah Karno, asistennya yang setia, yang biasa membantu Iwan untuk urusan pribadi, mulai mengatur instrumen musik hingga menyiapkan lintingan ganja. “Karno lebih seniman dari Iwan. Dia nggak menikah, mungkin karena nggak dapat-dapat, dan penggemar Iwan,” kata Wati.

Hijau diluncurkan 1992. Tak terlalu meledak di pasar. Endi kecewa, merasa kurang dihargai. Endi mundur dari pekerjaannya. “Endi punya kekaguman yang sangat pada Iwan. Tapi juga kekecewaan. Ngatur dia itu ruwet,” kata Kresnowati.

KETIKA Galang lahir pada 1 Januari 1982 si bapak, yang perasaannya campur-aduk karena pertama kali merasakan diri jadi ayah—merasa harus bertanggung jawab, merasa mencintai, heran, bahagia, bangga punya keturunan dan sebagainya—menciptakan lagu berjudul Galang Rambu Anarki. Lagunya cukup terkenal dan masuk album Opini (1982).

Galang tumbuh jadi anak cerdas. Endi Aras sering main tembak-tembakan dengan Galang. Muhamad Ma’mun punya karakter rekaan yang sering diceritakannya pada Galang. Namanya “Gringgrong”—seorang jagoan “kayak Tarzan” yang bisa mengalahkan harimau, naik kuda, dan mengalahkan musuh. Tiap kali Ma’mun datang menginap, cerita Gringgong ditagih Galang. Di Condet hanya ada dua kamar, “Kalau saya nginep, Galang tidur sama bapaknya,” kata Ma’mun.

Ketika beranjak remaja, Ma’mun melihat Galang badannya bagus, berbentuk. Galang bukan tipe anak hura-hura. Kalau minta uang paling buat bayar taksi pergi ke sekolah. “Untuk beli-beli dia nggak punya uang,” kata Iwan. Galang juga besar tekadnya. Suatu saat Galang, yang belum bisa menyetir mobil dan tak punya surat izin mengemudi, ingin bisa mengendarai mobil. Solusinya? Galang mengendarai mobil sekaligus dari Jakarta ke Pulau Bali!

Tapi kekerasan Galang suatu hari membuat Iwan angkat tangan. Dia datang ke Ma’mun, “Mas gimana nih, Galang nggak mau sekolah lagi?”

“Terus maunya apa?”

“Embuh, main musik atau buka bengkel.”

Galang memutuskan keluar dari SMP Pembangunan Jaya di Bintaro, yang terletak dekat rumah dan termasuk salah satu sekolah mahal di Jakarta. Iwan sering pindah rumah dan waktu itu tinggal di Bintaro. Hingga Leuwinanggung ia sudah pindah rumah 12 kali. Usia Galang 14 tahun dan sedang memproduksi rekamannya yang pertama bersama kelompok Bunga. Iwan tak bisa berbuat banyak dan membiarkan Galang putus sekolah.

Galang pernah juga kabur meninggalkan rumah. Dalam pelarian, menurut Iwan, Galang melihat poster dan foto papanya di mana-mana. “Dia merasa diawasi,” kata Iwan. Galang merasa tak bisa lari dan kembali ke rumah.

Suatu saat Iwan curiga. Iwan bertanya, “Lang, lu pakai ya?”

“Mau apa tahu Pa?” kata Galang, ditirukan Iwan.

Iwan menganggap dirinya sudah insyaf. Kok Galang yang memakai? Iwan merasa Galang meniru papanya. Mula-mula rokok lalu obat. Endi Aras mengatakan Iwan agak teledor kalau menyimpan ganja atau merokok.

Galang menerangkan dia hanya mencoba. Rasanya pusing serta teler. “Ya udah, kalau sudah tahu ya udah,” kata Iwan.

Kebetulan Galang punya pacar, seorang cewek gaul bernama Inne Febrianti, yang juga keberatan Galang memakai obat-obatan. Inne mendorong Galang tak memakai obat-obatan.

“Dia bukan pemakai. Dia sangat cinta pada keluarganya. Kontrol diri sangat kuat,” kata Iwan.

Kamis malam 24 April 1997 sekitar pukul 11:00 malam Galang pulang ke rumah, setelah latihan main band. Dia makan lalu pamit pada papanya mau tidur. Mamanya lagi tak enak badan. Iwan masih mendengar Galang telepon-teleponan.

Subuh sekitar 4:30 Kelly Bayu Saputra, sepupu Galang yang tinggal di sana, mau mengambil sisir di kamar Galang. Kelly memanggil Galang tapi tak bangun. Kelly mendekati Galang dan menggoyang-goyangkan badannya. Lemas. Kelly kaget. Dia mengetuk kamar Yos. Yos bangun dan menemukan Galang badannya dingin. “Saya turun ke bawah, panggil Iwan,” kata Yos.

Keluarga heboh. Iwan terpukul sekali. Pagi itu saudara-saudaranya datang. Mereka menghubungi semua kerabat dan teman. Leo Listianto, adik Iwan, menelepon Ma’mun di Karawaci. “Saya masih tidur, antara percaya, tidak percaya,” kata Ma’mun.

Sepuluh menit kemudian, Ma’mun ditelepon Dyah Retno Wulan, adiknya Leo, biasa dipanggil Lala, juga memberitahu Galang meninggal. “Saya bengong,” kata Ma’mun. Dia segera menuju Bintaro.

Fidiana menerima telepon dari Ari Ayunir. Fidiana membangunkan Iwang Noorsaid, suaminya, “Wang, ini ada berita duka … Galang meninggal.” Mereka agak tak percaya karena beberapa hari sebelumnya pasangan ini bertamu ke Bintaro dan melihat Galang mondar-mandir. Mereka mencoba telepon ke Bintaro tapi nada sibuk. Mereka menelepon Herri Buchaeri, Endi Aras, dan beberapa rekan lain sebelum naik mobil ke Bintaro.

Endi Aras mengatakan, “Pagi-pagi aku dapat kabar. Iwang Noorsaid yang telepon.” Endi sampai di Bintaro sekitar pukul 5:30. “Aku ikut memandikan (jasad Galang),” kata Endi.

Ketika Iwan memandikan jasad anaknya, dia berujar berkali-kali, “Galang, kamu sudah selesai, Papa yang belum … Lang, kamu sudah selesai, Papa yang belum ..…” Kalimat itu diucapkan Iwan berkali-kali.

Ma’mun dirangkul Iwan. “Jagain Mas, jagain anak-anak Mas,” kata Iwan, seakan-akan hendak mengatakan ia sendiri kurang menjaga anaknya dengan baik.

“Yos histeris, menangis ketika saya peluk. ‘Aduh, anak saya sudah meninggal mendahului saya,’” kata Fidiana. Iwan tak banyak bicara, menunduk, menangis, dan hanya bilang “terima kasih” kepada tamu-tamu. “Kepada kita dia nggak ngomong sama sekali,” kata Fidiana.

Galang dimakamkan di mana? Ada usul pemakaman Tanah Kusir dekat Bintaro. Iwan emosional, ingin memakamkan Galang di rumahnya. Bagaimana aturannya? Iwan pun memutuskan menelepon kyai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dari Nahdlatul Ulama. Saat itu Gus Dur belum jadi presiden Indonesia. Iwan menganggap Gus Dur “guru mengaji” yang terbuka, tempat orang bertanya. Gus Dur mengerti hukum Islam maupun hukum pemerintahan.

Gus Dur dalam telepon menjelaskan dalam aturan Islam diperbolehkan memakamkan jenazah di rumah. Pemakaman bergantung wasiat almarhum atau keinginan keluarga. Tapi di Jakarta tak bisa memakamkan orang di rumah sendiri karena keterbatasan lahan. “Di Jakarta nggak boleh … kalau Bogor boleh.”

Kata “Bogor” itu mengingatkan Iwan pada Leuwinanggung. Keluarga pun memutuskan Galang dimakamkan di Leuwinanggung.

Menurut Harun Zakaria, seorang tetangga Iwan di Leuwinanggung, yang juga menjaga kebun Iwan, dia dihubungi Lies Suudiyah, ibunda Iwan. “Bu Lies datang ke sini. Dia bilang, ‘Cucunda meninggal. Tolong di sini kuburannya,” kata Harun.

Jenazah disemayamkan dulu di masjid Bintaro. Sekitar 2.000 jamaah salat Jumat di masjid itu ikut menyembahyangkan Galang. Banyak seniman, tetangga, kenalan Iwan, dan Yos datang menyampaikan duka. Setiawan Djody, W.S. Rendra, Ayu Ayunir, Jalu, Totok Tewel, Jockie Suryoprayogo, juga tampak di sana. Spekulasi wartawan maupun pengunjung memunculkan gosip bahwa dada Galang kelihatan biru. Galang digosipkan overdosis. Ini merambat ke mana-mana karena tubuh Galang kurus ceking.

Orang sebenarnya tak tahu persis penyebab kematian Galang karena tak ada otopsi terhadap jenazahnya. Kawan-kawan Iwan memilih diam. Mereka merasa tak nyaman mengecek spekulasi overdosis kepada orangtua yang berduka. Kresnowati pernah diberitahu Yos bahwa penyebab kematian Galang penyakit asma. Fidiana mengatakan beberapa hari sebelum kematian, Yos mengatakan Galang lagi sakit-sakitan. Iwan mengatakan pada saya, fisik Galang “agak lemah” dan “Galang lemah di pencernaan.”

Namun Iwan dan Ma’mun menyangkal spekulasi overdosis. Galang memang mencoba obat-obatan tapi tak serius. Iwan mengatakan dua bulan sebelum meninggal, Galang “sudah bersih.” Iwan percaya anaknya punya kontrol diri.

Menurut teman-temannya, Yos menilai petualangan Galang merupakan protes terhadap Iwan. Galang butuh perhatian papanya tapi Iwan terlalu sibuk. Yos di mata mereka lebih tabah menghadapi kematian Galang. Iwan lebih terpukul dan menyesal. “Setelah Galang meninggal, dia sudah nggak nggelek-nggelek. Salatnya sudah rajin,” kata Endi Aras.

September lalu di keheningan Leuwinanggung, saya tanyakan pada Iwan bagaimana perasaannya sekarang, lima tahun setelah kematian Galang.

Dia menggeser posisi duduknya dan mengatakan, “Sampai sekarang masih ngimpi, terutama zaman manis-manisnya ketika Galang masih kecil.”

Iwan mengatakan kalau bercermin pada masa-masa ketika Galang masih ada, dia melihat kekurangan-kekurangannya sebagai suami maupun ayah. “(Kematian Galang) membuat saya menghargai fungsi bapak, fungsi suami. Kalau saya dulu bisa lebih bersahabat, jadi gurunya, jadi lawannya, mungkin akan lain ceritanya.”

“Tapi ini semua nggak bisa dibalik.”

Diambil hikmahnya, Iwan bercerita bahwa kematian Galang jadi “api” buat dirinya dalam bermusik.

“Dia pilih musik, bahkan dia keluar sekolah. Dia mau menikah waktu itu. Dia percaya musik bisa menghidupi istrinya. Masakan saya nggak berani … rasanya di sini senep (sesak) … hoooaah … dari sini senep … apalagi kalau kenangan-kenangan itu datang,” kata Iwan. Dia tiba-tiba berteriak, “Hoooooooaaaaah ….”

Saya mengalihkan pandangan mata saya dari mata Iwan. Dia menelungkupkan kedua tangannya di dada. Kami diam sejenak. Saya minta maaf karena mengingatkannya pada kematian Galang. Iwan bilang tak apa-apa. “Kadang-kadang kalau lagi sedih … senep. Tapi kalau lagi senang ya lupa lagi.”

ROLLY Muarif termasuk satu dari sekian orang yang sering menemani Iwan Fals pasca-kematian Galang. Rolly adalah seorang musikus kelahiran Gorontalo, pernah menghibur penumpang kapal Kambuna jurusan Manado-Jakarta. Kalau menganggur, Rolly menjaga toko spare part di Kranggan, dekat Leuwinanggung.

Iwan sering mengundang Rolly ke Leuwinanggung. Iwan suka melukis dan mengobrol dekat makam Galang. “Sering curhat sama saya soal Galang karena cuma ada saya doang,” kata Rolly. Dia juga menemani Iwan main catur dan mengobrol hingga subuh. Suatu saat Iwan bilang, “Kalau untuk anak (kehilangan) ke orang tua, bisa dimaklumi, tapi kalau orang tua ke anak, itu berat.”

“Saya memahami saja,” kata Rolly pada saya.

Iwan banyak melukis, kadang-kadang di rumah Leuwinanggung, lukisannya dipajang, dilihat dari jauh. Rekaman album baru ditunda sejak kematian Galang. “Saya disuruh memandang, kadang dibalik,” kata Harun Zakaria, tetangga Iwan, yang juga sering mengobrol pasca-kematian Galang. Iwan juga memenuhi undangan dari masyarakat Leuwinanggung, acara jaipongan, kematian, pengajian, kenduri, perkawinan, salawatan. “Ke mana-mana ajak saya,” kata Harun.

Iwan juga bermain sepak bola dan membayar seorang pelatih untuk melatih anak-anak Leuwinanggung. Harun cerita Iwan menyumbang renovasi mushola dekat rumah mereka, “Karpetnya disumbang Kak Iwan.” Iwan juga melatih karate. Dia membuka dojo dan pesertanya sampai 200 orang. “Saya latih sendiri,” katanya.

Ketika krisis moneter menghantam ekonomi Indonesia, Iwan Fals sempat mencoba bikin lagu untuk menggugah semangat orang berusaha. Karya ini terhenti ketika demonstrasi-demonstrasi anti-Soeharto makin keras. Pada Mei 1998, Soeharto mundur dari kekuasaannya dan Indonesia memasuki era demokratisasi. Perubahan besar-besaran di ambang pintu. Iwan pun melihat saatnya ia mengambil langkah baru.

Iwan Fals melihat banyak penggemarnya kurang punya dasar ekonomi yang kuat. Iwan ingin “memberdayakan” mereka. Iwan pun mendirikan Yayasan Orang Indonesia dan minta Ma’mun jadi wakil ketua, Endi sekretaris, Yos bendahara, dan dia sendiri ketua.

Ini ternyata tak cukup. Iwan ingin melibatkan para penggemarnya langsung. Ide ini dibicarakan dengan Ma’mun, Yos, dan Endi. Hasilnya, mereka sepakat mengundang para penggemar Fals, lewat ke Leuwinanggung selama tiga hari pada pertengahan Agustus 1999.

Kresnowati diminta mengorganisasikan pertemuan itu. Lapangan belakang rumah Iwan ditutup pasir, dibangun tenda besar 600 meter persegi untuk tidur, dibelikan nasi bungkus, dan dicarikan sponsor perusahaan air mineral. Iwan minta tukang membangun 20 kamar mandi.

Ternyata sambutannya besar. Penggemar Iwan dari banyak golongan datang. Ada pencuri, ada bandar narkotik, karyawan biasa, bapak yang sepuh, perempuan tomboy, juga wanita berjilbab. Ada juga yang penampilannya “punk rock abis” dan bikin Wati deg-degan. “Di luar pagar juga banyak yang menunggu mau masuk. Maunya ketemu Iwan, berfoto bersama,” kata Wati.

Ketika diskusi, kualitas mereka kelihatan beragam. Ada yang berapi-api tapi banyak yang asal omong. Antusiasme ini mengejutkan karena Iwan lama tak muncul ke publik. Album terakhirnya keluar 1993.

Wati juga geli melihat tato pada penggemar Fals. Banyak yang punggungnya digambari Iwan. Ada pula tato jidat, daerah antara alis mata, ditato kata “Fals.” Dari Bandung sekelompok penggemar menato kata “Fals” di antara jempol dan jari telunjuk. “Kalau Fals pasti Iwan Fals. Kalau Iwan kan banyak,” kata Ainun Rofiq, manajer restoran cepat saji McDonald yang jadi bendahara Oi.

Semalam sebelum pertemuan, Iwan, Yos, Ma’mun, Endi, dan Wati diskusi. Intinya, mereka mau serahkan kepengurusan Oi kepada orang-orang baru itu atau mereka pegang sendiri? Mereka sepakat dipegang sendiri dulu. Kalau sudah jalan diserahkan pada orang banyak.

“Saya nggak mau kalau ketua. Konsekuensinya berat. Endi juga nggak mau. Sampai pulang nggak jelas. Ma’mun nggak mau juga. Ma’mun ingin Iwan jadi ketua. Endi nggak mau (alasannya) ini khan fans club. Endi keukeuh (harus) Wati,” kata Kresnowati.

Keesokan hari Kresnowati terpilih sebagai ketua Oi. Menurut Digo Zulkifli, penggemar asal Bandung, pada pertemuan tiga hari itu mereka diskusi: mau jadi fans club atau organisasi massa. “Kalau jadi fans club, idolanya sendiri, si bosnya (Iwan Fals) nggak enak.” Mereka memutuskan jadi organisasi massa.

Wati pada tahun pertama lebih meletakkan dasar administrasi. Mereka bikin kartu anggota, membuka cabang, dan membuat arsip. “Nggak mudah mengatur 10.000-an orang di seluruh Indonesia.” Kini Oi diketuai Heri Yunarsa, seorang pegawai negeri dari Serang.

Hambatan banyak. Wati melihat orientasi penggemar Fals masih kabur antara organisasi massa dan klub. Banyak yang masuk Oi untuk “cium tangan” Iwan. “Kayak ketemu raja … apalagi daerah lho … kita jadi bingung ngeliatnya,” kata Wati. Masalah dana juga hambatan. Iwan mungkin orang kaya tapi mendanai organisasi butuh uang besar sekali.

Entah apa yang akan terjadi kalau Iwan suatu saat jadi kurang populer atau makin mengendurkan musiknya? Bagaimana bila Iwan meninggal? Sejauh mana Oi bisa bertahan kalau didasarkan ikatan emosional pada lagu-lagu lama Iwan Fals? Bagaimana mengubah loyalitas individu jadi loyalitas organisasi? Bagaimana Oi bisa “memberdayakan” anggotanya?

Saya ingat Elvis Presley, bintang musik pop Amerika 1960-an, yang mengatakan, “Music is like religion: when you experience them both, it should move you.” Menurut Sun Record, album Presley terjual lebih dari satu milyar selama masa hidupnya (Love Me Tender, It’s Now Or Never atau Are You Lonesome Tonight).

Musik Fals juga menggerakkan banyak orang di Indonesia. Fals dianggap mampu merekam semangat perlawanan orang-orang yang dipinggirkan pada masa Orde Baru. Ketika Presley meninggal, lagu-lagunya malah jadi abadi. Makam dan rumahnya ramai dikunjungi orang. Lagu-lagunya terus direkam ulang dan jadi tambang emas untuk ahli warisnya. Akankah Fals mengikuti jejak Presley? Apakah musik Fals sudah mirip pengalaman beragama?

Iwan sudah pernah memikirkan ini. “Ada saya atau tak ada saya, saya hadir di Oi,” kata Digo Zulkifli menirukan Fals.

Oi kini punya perwakilan di berbagai kota Indonesia. Ini organisasi unik tanpa preseden. Kantor-kantor perwakilannya juga unik. Di Cilegon ia nongkrong di kantor pemerintahan kabupaten. Di Tangerang berkantor di tukang jagal. Banyak juga yang berada di gang-gang sempit. Agus Suprapto dari Oi Yogyakarta mengatakan mereka mendapat bantuan dari Sultan Hamengku Buwono X.

Gema Fals juga tembus hingga Timor Lorosa’e. Hugo Fernandes, redaktur majalah Talitakum, memberitahu saya bahwa panitia kemerdekaan Timor Lorosa’e mengundang Iwan Fals ke Dili ketika negara itu hendak menyatakan merdeka 20 Mei lalu. “Semua orang Dili tunggu Iwan Fals mau datang. Orang kecewa karena Iwan tidak datang. Di Dili, dia itu kayak dewa.”

Tampaknya negara kecil yang punya luka tersendiri karena pendudukan Indonesia ini—sering dikatakan sepertiga penduduknya mati karena terbunuh atau kelaparan akibat 22 tahun pendudukan tentara Indonesia—punya banyak orang yang justru merasa ketertindasan mereka diwakili dan disuarakan Iwan Fals.

SESUDAH lama tak berkarya, Iwan Fals mengalami hambatan bikin album baru. Effendy Widjaja, salah seorang direktur Musica, membantu Fals mengatasinya. “A Pen yang mendobrak. Saya harus bikin lagu katanya. ‘Jangan loyo dong!’ Dia mrepet (mengomel),” kata Iwan.

“Akhirnya saya bangkit, minjam duit. Dia pilih dari 300 lagu, dia tandai. Dia pandai, pilihannya saya lihat masih dalam bingkai saya.”

A Pen, nama panggilan Effendy, berunding dengan kakaknya, Sendjaja Widjaja atau A Ciu, presiden direktur Musica, dan Iwan pun diberi pinjaman uang. Mereka tak menyebut berapa pinjamannya. Musica hanya bersedia menjawab pertanyaan saya secara tertulis.

Saya memperkirakan pinjaman ini diperlukan Iwan dan Yos, selaku pemimpin Manajemen Iwan Fals, untuk membiayai “jadwal-jadwal” pemakaian studio untuk latihan, rekaman, dan sebagainya. Kalau biaya sewa studio dihitung Rp 500 ribu sekali pakai, Iwan mengatakan pada saya, ia memakai 720 kali jadwal untuk membuat album yang dinamai Suara Hati. Artinya, Iwan membutuhkan sekitar Rp 360 juta untuk membiayai jadwal rekamannya. Manajemen Iwan Fals memakai pinjaman Musica itu untuk membangun sebuah studio. Iwan lantas menyewa studio itu kepada Manajemen Iwan Fals. Agak rumit memang. Iwan berhitung bisnis dengan istrinya sendiri.

Bagaimana membayar Musica? Iwan menerangkan bahwa royalti sebuah kaset Rp 2.000. Kalau Suara Hati laku, katakanlah 150 ribu, berarti ia mendapat Rp 300 juta. Royalti ini dipakai membayar piutang Musica. “Dari segi ekonomi saya rugi. Saya nggak dapat apa-apa dari Musica. Saya hanya mengharapkan dari royalti … kaset itu seumur hidup ya,” katanya.

Iwan memanfaatkan teman-teman lama—Inisisri, Nanoe, Iwang Noorsaid, dan Maman Piul (pemain biola)—untuk mengerjakan Suara Hati. Kesulitan terbesar muncul dari komputer. Iwan menggunakan komputer mutakhir Apple Macintosh G4 dalam studio barunya. “Saya nggak pakai operator karena nggak bisa bayar,” kata Iwan. “Saya juga mau belajar komputer.” Iwan tak memahami kerja Macintosh dengan rapi. Dampaknya, ada rekaman-rekaman yang hilang.

Khusus memilih pemain gitar prosesnya berbeda. Suatu hari Endi Aras mengajak Digo Zulkifli, gitaris asal Bandung yang juga penggemar Fals, berkunjung ke Leuwinanggung. Digo membantu Endi di Matamata Communications sesudah kenal saat pembentukan Oi. Hari itu Digo menemui Iwan di studio. Kebetulan Iwan lagi butuh orang mengisi gitar listrik. Di studio, menurut Digo, ia ditanya Iwan, “Digo kamu main elektrik?”

“Ya”

“Coba deh ini di album baru.”

“Saya minta waktu dan ruangnya saja,” kata Digo.

Iwan mempersilakan tapi mengingatkan Digo bahwa proposal Digo belum tentu diterima. Digo bersedia. Digo menduga Manajemen Iwan Fals masih mempertimbangkan gitaris kawakan Ian Antono, I Gede Dewa Bujana, dan Totok Tewel untuk mengisi gitar. Ketiga gitaris itu kenal Iwan. Ian Antono juga menata musik album Mata Dewa. Pilihan ternyata jatuh pada Digo Zulkifli.

Digo pun ikut rekaman bersama Inisisri, Nanoe, Noorsaid, dan Iwan. Ketika rekaman rusak, Iwan merasa sungkan minta kembali Nanoe, Noorsaid, dan Inisisri. “Nggak enak,” katanya. Digo dengan mudah dimintanya ikut rekaman ulang. Iwan pun membentuk band baru untuk mengisi sebagian rekaman yang hilang. Iwan mengajak Edi Edot (bass), Ayub Suparman (kibor), dan Danny Kurniawan (drum).

Belakangan ternyata ada rekaman lama yang ditemukan lagi. Dalam album Suara Hati, lagu Hadapi Saja muncul dua kali. Dua lagu, dua band, satu penyanyi, satu album. Kontribusi Noorsaid ada pada lima dari 12 lagu di sana.

Endi Aras melihat adanya dua band ini dengan kritis. “Iwan gampang meninggalkan kawan-kawannya. Grup yang sekarang ini dari penggemar dia semua. Itu dari Oi semua,” kata Endi, seakan-akan hendak mengatakan Fals sekarang dikelilingi orang yang relatif kurang setara kemampuannya dengan Iwan. Tak ada lagi Sawung Jabo, Inisisri, Ian Antono atau Jalu, Cok Rampal, Ari Ayunir, Heiri Buchaeri, Iwang Noorsaid. Nanoe bahkan meninggal ketika Suara Hati belum sempat diluncurkan.

Padahal tantangan Iwan makin besar. Naik ke puncak tangga sangat sulit tapi mempertahankannya lebih sulit lagi. Umur juga bertambah. Iwan juga harus mengikuti selera penggemar yang lebih muda. “Kalau Iwan mau panjang, orang-orangnya harus profesional. Posisi manajer di situ bisa lemah karena istri sendiri. Iwan nggak bisa di-manage karena egonya sangat besar. Yos bingung juga,” kata Endi.

Suara Hati diluncurkan awal tahun ini. Tempo menyebut album ini lagu-lagunya bagus tapi aransemennya lemah. Hai memuji setinggi langit. Sambutan publik cukup baik. Keberadaan Oi tampaknya membantu pemasaran kaset Fals. Anggota-anggota Oi adalah penggemar fanatik Iwan. Manajemen Iwan Fals menyambung peluncuran album itu dengan konser Satu Hati Satu Rasa sekitar 40 kota, antara Maret hingga Agustus lalu.

Suasana Indonesia berbeda sekali antara konser Satu Hati Satu Rasa dan Mata Dewa. Pada 1989 hambatan Mata Dewa terletak pada polisi. Konsernya dilarang di Palembang. Kini demokratisasi mulai terasa di berbagai institusi negara, termasuk polisi, sehingga tur Satu Hati Satu Rasa tahun ini berjalan lancar. Tak ada larangan walau Manajemen Iwan Fals sempat memundurkan beberapa jadwal konser karena ada sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Agustus lalu. Alasannya, tenaga polisi dikerahkan mengatasi massa politik.

Iwan Fals bukan saja tampil di kota besar macam Jakarta dan Surabaya, tapi juga kota menengah macam Cilegon, Sukabumi, Kuningan, Bandar Lampung, Magelang, Mataram, dan sebagainya. Dari laporan suratkabar, jumlah penonton berkisar 5.000 hingga 15.000 orang. Tak sebesar konser Kantata Takwa dengan 100 ribu penonton tapi harus diingat bahwa konser kali ini jumlah kotanya benar-benar banyak.

Menurut Sendjaja Widjaja, hingga 25 Agustus lalu kaset Suara Hati sudah terjual 160 ribu. Ini lumayan untuk ukuran Musica walau belum selaris band remaja Sheila on 7 dari PT Sony Music Indonesia yang penjualan album tunggalnya bisa tembus satu juta keping.

Menurut Sendjaja, penjualan album Fals paling laris adalah Tembang Cinta (1993) sebanyak 535 ribu dan Best of the Best Iwan Fals sebanyak 466 ribu. Keduanya album kompilasi atau campuran. Best of the Best diedarkan tahun 2000 dan sampai sekarang masih termasuk album-album terlaris Musica.

Endi Aras mengatakan lagu Hadapi Saja disukai Iwan. Album ini mengingatkan pendengar pada kematian Galang Rambu Anarki. Ini juga mengingatkan saya pada penghormatan Eric Clapton kepada anaknya, Conor, dengan lagu Tears in Heaven. Conor masih berumur 4,5 tahun ketika jatuh dari lantai 56 apartemen Clapton di New York pada 1991. Clapton juga tertekan karena kematian Conor.

Aransemen Hadapi Saja meyayat hati. Permainan biolanya mengalun. Liriknya juga kuat. Saya kira kematian anak-anak mereka jadi dorongan besar bagi Clapton dan Fals untuk menciptakan karya yang ekspresif.

relakan yang terjadi dia takkan kembali
ia sudah jadi milik-Nya bukan milik kita lagi
tak perlu menangis
tak perlu bersedih
tak perlu sedu sedan itu
hadapi saja
hilang memang hilang
wajahnya terus terbayang
jumpa di mimpi
kau ajak aku untuk menari, bernyanyi
bersama bidadari, malaikat, dan penghuni surga

Endi Aras juga cerita proses pembuatan lagu 15 Juli 1996. Pada 15 Juli 1996 Endi menemani Iwan Fals pergi ke tempat Megawati Soekarnoputri, ketua Partai Demokrasi Indonesia, yang kedudukannya sedang digoyang tukang pukul dan centeng Soeharto. Iwan tak bertemu Megawati, hanya lihat dari jauh, tapi simpatinya muncul. Dua minggu setelah kedatangan Iwan, para tukang pukul itu menyerbu markas Megawati, menggusur para pendukung Megawati dengan kekerasan, dan memicu pergolakan Jakarta yang dikenang sebagai Peristiwa 27 Juli 1996.

Tapi kritik dari masalah rokok masih muncul. Kritik ini kali ini bukan datang dari Rendra, namun dari Santi W.E. Soekanto, wartawan The Jakarta Post, yang menulis bahwa sponsor utama Iwan Fals adalah rokok A Mild dari Sampoerna. “Inilah hal yang sama sekali tak dibutuhkan Indonesia: pahlawan yang memperkenalkan ‘pintu masuk’ pemakaian narkotika dan obat-obatan keras.”

Soekanto mengutip data World Health Organization yang mengatakan ada 1,1 miliar perokok di dunia. Jumlah ini akan meningkat hingga 1,6 miliar pada 2025. Di negara-negara kaya, jumlah perokok menurun, tapi jumlahnya meningkat di negara-negara miskin. Indonesia negara miskin bukan?

Departemen Kesehatan melaporkan 6,5 juta orang Indonesia tiap tahun terkena penyakit akibat kebiasaan merokok dan 57 ribu di antaranya meninggal dunia (kebanyakan laki-laki). Kebiasaan merokok membuat pemerintah kehilangan banyak sumber daya karena membiayai kerusakan-kerusakan akibat rokok.

Di negara-negara kaya kampanye antirokok berjalan kencang. Federation of Football Association (FIFA) November lalu menandatangani perjanjian dengan WHO melarang sponsor rokok di lapangan sepak bola. FIFA sengaja menyamakan pembukaan Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang 31 Mei lalu dengan hari antirokok sedunia. MTV mendukung kampanye antirokok dengan memasang iklan para penyanyi yang menganjurkan remaja tak merokok. Di Amerika Serikat para penyanyi besar mendukung kampanye antirokok.

Industri rokok melawan kampanye ini lewat iklan dan promosi besar-besaran, terutama di negara-negara berkembang, baik lewat sponsor olahraga maupun musik. Iklan mereka menipu para remaja dengan kesan palsu bahwa rokok membuat mereka terlihat gagah dan dewasa. Rokok diidentikkan dengan olahragawan dan musisi ternama.

Ini dilawan. WHO di Indonesia memilih juara tenis Angelique Widjaja, binaragawan Ade Rai, dan peragawati Tracy Trinita untuk mendukung kampanye antirokok. “Sayangnya, tak terlalu banyak anak muda yang melihat Angie, Ade, atau Tracy. Para aktivis antirokok memerlukan senjata yang lebih besar. Seseorang dengan kaliber Iwan Fals,” kata Santi Soekanto.

Kolom ini mengingatkan saya pada diskusi Salatiga 12 tahun lalu. Dalam 12 tahun ini Iwan melihat Galang ikut-ikutan papanya merokok lantas mencoba obat-obatan hingga meninggal. Kehidupan pribadi Iwan memang berubah banyak. Titin Fatimah, sekretaris Manajemen Iwan Fals, mengatakan pada saya ketika ia mulai bekerja tiga tahun lalu, Iwan Fals sudah tak merokok.

“Suatu kenyataan hanya rokok yang bisa mengeluarkan dana cukup besar untuk pertunjukan musik. Dulu kalau pertunjukan indoor, banyak penonton yang tak bisa nonton. Kami memutuskan outdoor dan biaya produksinya besar. Hanya rokok yang bisa membiayainya,” kata Yos Rosana.

Fals sempat bilang dia mungkin bisa merokok lagi dengan tur sponsor rokok. Yos mengatakan lebih baik tidak tur bila Iwan Fals kembali merokok. “Mendingan nggak usah main,” kata Yos. “Saya juga nggak suka rokok itu. Saya tahu itu ndak baik. Ini buah simalakama,” kata Yos.

Henny Susanto dari Sampoerna, menerangkan kepada saya bahwa A Mild menghormati kontrak itu. Mereka mensponsori Iwan Fals karena penggemar Fals “sangat sesuai” dengan pangsa pasar A Mild.

Penjelasan Titin, Yos, dan Henny Susanto senada dengan materi diskusi Salatiga. Rokok dianggap menganggu estetika tapi bukan kesehatan. Saya sulit menyalahkan Iwan kalau ia belum berani menolak sponsor rokok karena kontribusinya sangat besar. Tanpa rokok mungkin tak ada konser.

Apa yang didapat Sampoerna? Henny Susanto menjawab, “Kesempatan untuk berkomunikasi dengan target market, baik yang datang ke pertunjukan maupun yang sekedar melihat publikasi yang kita lakukan.”

Kalau saya boleh menterjemahkan kata-kata Henny Susanto, A Mild merasa gembira dengan kerja sama ini. Para penggemar Iwan Fals, katakanlah orang semacam Fajar Wijaya, si pengamen bertopi merah itu, adalah pangsa pasar A Mild. Sedih juga mengetahui Iwan Fals ikut mendorong anak-anak muda merokok.

Kehidupan bukan sesuatu yang sederhana. Kehidupan sering penuh kompromi. Senja September itu, ketika saya meninggalkan Leuwinanggung, pikiran saya penuh dengan gejolak tentang Iwan Fals. Dia dipuja, disukai, dan dianggap manusia super, tapi ia juga mungkin kesulitan memenuhi harapan orang banyak yang menganggapnya bisa mewakili dan menolong mereka.

*diambil dari iwanfalsmania.blogspot.com

Iwan Fals on Kick Andy

Posted in Uncategorized on 2010/01/31 by chikal setiawan

Perlu waktu dua tahun bagi seorang Andy F. Noya untuk mengundang Iwan Fals menjadi bintang tamu pada acara talk show yang dipandunya di Metro TV yaitu Kick Andy. Akhirnya penantian panjang Andy berakhir juga ketika Rabu malam, 27 Jan 2010, Iwan Fals bersedia menjadi bintang tamu di Kick Andy. Selama ini Iwan Fals jarang sekali tampil di TV pada acara talk show sekelas Kick Andy.

Dengan berjaket hitam dan bercelana jeans, Iwan Fals mengakui sulit untuk hadir di Kick Andy karena selain waktunya yang mepet juga ngeri menjawab pertanyaan – pertanyaan Andy Noya yang tanpa kompromi. Iwanfalsmania.blogspot.com beruntung dapat kesempatan untuk hadir langsung pada syuting acara tersebut.

Tidak terlalu banyak hal baru yang ditanyakan Andy kepada Iwan Fals, paling tidak diantara rekan – rekan Oi dan Falsmania sudah sering mengetahui pertanyaan dan jawaban yang terlontar di acara itu. Seperti masalah intrograsi di Pekanbaru, pelarangan tur 100 kota, sejarah lagu hits, asal muasal nama FALS dibelakang nama Iwan, kisah asmaranya dengan Rosana, dan tentang keluarga.

Tapi diantara pertanyaan – pertanyaan tersebut, Andy (yang dulunya adalah adik kelas Iwan Fals waktu kuliah dan sama-sama drop out), mempunyai keberanian lebih untuk melontarkan pertanyaan yang bagi kebanyakan orang “tabu” ditanyakan kepada Iwan Fals. Akibatnya Iwan Fals seperti membuka “luka lamanya” dan tampak air mata yang tertahan di raut wajahnya. Iwan Fals makin terlihat terpojok dengan rangkaian pertanyaan itu.

Bintang tamu yang dihadirkan oleh Kick Andy adalah teman – teman Iwan Fals saat masih di Grup Babadotan, yaitu Gumgum dan Egi. Babadotan adalah band ‘pertama’ Iwan Fals. Agak kaget juga mengetahui Egi sekarang berprofesi sebagai pemain sinetron sedang Gumgum seorang pemain musik country yang handal. Keharuan nampak diwajah Iwan Fals terutama ketika Kick Andy menghadirkan Gumgum, rasa kangen yang begitu memuncak mengalir diantara mereka karena Iwan Fals dengan Gumgum sudah 30 tahun tidak pernah bertemu. Lalu mereka bernostalgia dengan membawakan lagu mereka yang berjudul “Si Penggembala Sapi”. Lagu berirama country tersebut merupakan lagu andalan Group Babadotan karena berhasil menjuarai Kontes Lagu di Universitas Trisakti.

Selain itu dihadirkan pula Pak Engkus, dulunya adalah montir yang merangkap sebagai “manager” Iwan Fals ketika awal ia meniti karir di Bandung lewat panggung – panggung kawinan dan sunatan. Dari Pak Engkus pula nama FALS disematkan kepada Iwan Fals.

Di acara tersebut Iwan Fals juga membawakan 5 buah lagunya yaitu: Bongkar, Oemar Bakrie, Suhu, Aku Menyayangimu dan Hio secara akustik. Dan pada akhir acara, Andy memberi sebuah kenang-kenangan kepada Iwan Fals. Syuting ini dihadiri oleh kawan-kawan Oi, Falsmania, mahasiswa UII serta beberapa undangan.

Nah, penasaran dengan jawaban Iwan Fals dan teman – teman dekatnya?. Saksikan Acara Kick Andy di Metro TV setiap Jum’at pukul 21.30. Khusus edisi Iwan Fals ini rencananya akan ditayangkan tanggal 5 Februari atau 12 Februari 2010 jam 21.30 WIB. Bisa dikatakan Kick Andy dengan bintang tamu Iwan Fals ini adalah salah satu edisi yang terbaik. Nah kita tunggu saja.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.